When Mafia Fall In Love

When Mafia Fall In Love
BAB 46



Rendra menarik napas dalam. Dia kumpulkan seluruh keberaniannya untuk mengatakan yang sesungguhnya. "Sebenarnya, yang menabrak Ayah kandung kamu adalah Papa."


Seketika Zahra melebarkan matanya menatap Rendra. "Tidak mungkin!" Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Iya, saat aku melihat foto mobil yang menabrak Ayah kamu, aku ingat jika mobil itu adalah mobil Papa yang selama ini tersimpan di gudang. Semalam aku sudah memastikannya sendiri dan memang benar Papa yang menabrak Ayah kamu." cerita Rendra. Dia tidak berani menatap wajah Zahra.


Lutut Zahra terasa melemas mendengar cerita Rendra. Mengapa semua menjadi seperti ini? Zahra tak berkata apapun. Perlahan dia duduk di tepi ranjang.


"Pasti sulit bagi kamu untuk menerima kenyataan ini. Tapi memang inilah yang terjadi." kata Rendra lagi.


Mata Zahra semakin berkaca-kaca. Mengapa semua ini terjadi di hidupnya? Mengapa harus Papanya Rendra yang menabrak Ayahnya. "Mengapa Papa kamu tidak membawa Ayah ke rumah sakit?" tanya Zahra dengan suara yang bergetar.


Perlahan Rendra berjalan mendekat lalu duduk di sampingnya. Meskipun dia kini duduk di samping Zahra tapi Zahra sama sekali tidak mau menatapnya. Begitu juga dengan Rendra, dia tidak sanggup menatap Zahra.


"Waktu itu Papa sangat buru-buru, karena rumah dan markas Papa dibakar dan dibom. Di rumah ada aku yang masih berumur 3 tahun, Alea, dan juga Mama. Papa terpaksa meninggalkan Ayah kamu demi menyelamatkan keluarganya. Tapi saat sampai di rumah Mama dan Alea menghilang, hanya ada aku yang sedang dibawa pengasuh. Aku baru menemukan Alea lagi tiga tahun yang lalu."


Setetes air mata kini meleleh di pipi Zahra. "Mengapa kasus itu ditutup?" tanya Zahra lagi.


Rendra menelan salivanya. Di bagian ini Papanya salah besar, bagaimanapun keadaannya, Papanya tidak boleh lepas dari sebuah hukuman. "Waktu itu Papa sibuk mencari Mama dan Alea. Papa juga sedang mengalami masalah yang besar dengan anak buahnya yang berkhianat."


Zahra mengusap air matanya asal. "Begitulah hukum di sini. Bisa dimanipulasi. Seseorang yang memiliki kedudukan dan uang bisa lepas dari hukuman dengan mudah."


"Zahra," Rendra menatap Zahra yang masih saja membuang wajahnya darinya. "Aku tahu kesalahan Papa sangat fatal dan mungkin gak bisa kamu maafkan. Papa siap menanggung semua tuntutan kamu sekarang." Meskipun sebenarnya Rendra sendiri sangat berat menerima jika Papanya harus dipenjara. "Papa akan menerima hukuman yang setimpal tanpa pembelaan lagi."


Tanpa berkata apa-apa, Zahra berdiri lalu dia berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Rendra hanya menghela napas panjang. Pasti setelah ini Zahra akan membenci dirinya dan juga keluarganya.


Rendra kembali berdiri di dekat jendela, beberapa saat kemudian Zahra keluar dari kamar mandi. Dia menggelar sajadahnya dan sholat, seorang diri. Biasanya Zahra akan menunggu Rendra menjadi imamnya tapi sekarang tidak.


Apakah aku tidak akan jadi imam Zahra lagi?


Rendra menghela napas panjang. Dia hanya berdiri mematung sampai Zahra selesai sholat.


Setelah selesai sholat dan membereskan mukenanya, Zahra langsung merebahkan dirinya di atas ranjang.


"Zahra, kamu makan dulu."


"Aku gak lapar. Biarkan aku sendiri!" Zahra memutar tubuhnya agar tidak melihat Rendra.


"Baik, aku akan beri kamu waktu untuk sendiri." Rendra berjalan keluar dari kamar kemudian dia tutup pintu kamar itu lagi.


Berulang kali Zahra mengusap air matanya agar berhenti menangis. Setengah hatinya berusaha ikhlas tapi setengah hatinya lagi masih belum bisa menerima kenyataan ini. Mengapa juga harus Papanya Rendra yang menabrak Ayahnya?


...***...


Sore hari itu, Zahra duduk di dangau dekat perkebunan teh. Hanya sendiri, dia masih butuh waktu sendiri untuk menerima semua ini.


Dia hirup dalam udara yang sejuk itu. Andai semua ini tidak terjadi di hidupnya. Andai juga dia tidak tahu semua ini pasti semua akan baik-baik saja.


"Nona sendiri saja?"


Pertanyaan itu membuat Zahra menoleh. Bella berdiri di dekatnya sambil tersenyum ceria.


"Hanya ingin menghirup udara segar saja." jawab Zahra.


"Boleh. Sini." Zahra menggeser dirinya dan memberikan ruang kosong untuk Bella.


Kemudian Bella duduk di sebelah Zahra. Dia juga memandang langit yang sudah berwarna jingga itu.


"Kalau sore kamu sering ke sini?" tanya Zahra.


Bella menganggukkan kepalanya. "Tidak setiap hari sih, hanya waktu cerah seperti ini saja. Saya suka melihat warna jingga di langit."


Zahra kembali menatap langit jingga itu. Memang sangat indah. Sayang keindahan itu hanya sesaat.


"Kenapa Nona Zahra tidak bersama Tuan Rendra?" tanya Bella, karena setelah mereka menikah, mereka pasti akan datang ke perkebunan berdua.


Zahra hanya tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku hanya ingin sendiri."


"Lagi berantem ya?"


Zahra menggelengkan kepalanya. "Tidak."


Bella tersenyum kecil. Umurnya memang masih 16 tahun tapi pengalaman hidupnya sangat banyak. Dia anak dari orang tua yang telah bercerai. Ayahnya pergi entah kemana. Ibunya susah payah membesarkannya seorang diri sejak bayi. Beruntungnya mereka memiliki bos yang sangat baik seperti Rendra.


"Terkadang lucu orang dewasa itu. Sudah terlihat kalau sedang marah tapi masih saja ditutupi."


Zahra tersenyum kecil mendengar kalimat Bella yang sangat mengena di hatinya. "Kalau seandainya seseorang melakukan kesalahan di masa lalu yang berakibat fatal, lalu baru ketahuan sekarang apa kamu mau memaafkan dan melupakan kesalahan orang itu? Aku sedang mencari jawaban itu."


Bella menghela napas panjang. "Masa lalu? Kalau saya sendiri sudah pasti akan melupakan masa lalu itu karena bagi saya yang terpenting adalah masa depan. Kita tidak boleh terpaku pada masa lalu."


Seketika Zahra menatap Bella yang berbicara jauh lebih dewasa dengan umurnya.


"Ayah saya telah pergi entah kemana sejak saya masih bayi. Dia menelantarkan saya dan ibu, tapi jika suatu saat nanti saya bertemu dengan Ayah, saya pasti akan memaafkannya. Karena waktu itu terus berjalan, tidak berhenti di satu sisi saja."


Memang benar, keadaan dan pengalaman hiduplah yang membuat seseorang itu menjadi lebih dewasa.


Seketika Zahra memeluk tubuh kecil Bella. "Terima kasih."


Bella bingung dengan ucapan terima kasih itu. "Buat apa Non?"


"Sudah memberi pencerahan buat aku."


Bella semakin tertawa. "Non Zahra jangan dengarkan bualan anak umur 16 tahun."


Zahra melepas pelukannya. "Tapi benar apa kata kamu. Suatu saat nanti kamu ingin menjadi Dokter kan?"


Dan lagi Bella tertawa dengan keras. "Non Zahra ternyata pandai bercanda. Orang pecicilan seperti saya mana bisa menjadi Dokter. Pasien saya semakin kena tekanan mental nanti."


Zahra ikut tertawa mendengar lelucon Bella. Andai saja hidupnya bisa setegar Bella, pasti dia bisa dengan mudah berlapang dada menerima masa lalu itu.


.


💕💕💕


.


Like dan komen ya..