When Mafia Fall In Love

When Mafia Fall In Love
BAB 56



"Astaga, mood ibu hamil berantakan sekali. Ya Allah sabar, lain kali aku harus hati-hati kalau bicara."


Rendra menyusul langkah Zahra dan menahan tangannya. "Sayang, maaf jangan marah. Oke, aku buatkan. Tunggu sebentar." Lalu dia membungkuk dan mencium perut Zahra. "Sabar ya sayang. Ayah akan berusaha."


Seketika senyum di bibir Zahra mengembang. Dia kembali duduk di dekat meja dapur.


Rendra masih saja memutar tutorial di youtube. Kali ini dia fokus, mau memasak saja rasanya seperti akan mengeksekusi musuhnya.


Dia mengambil dua siung kecil bawang merah, satu bawang putih, dan daun bawang sesuai arahan di video. Hanya mengupas dua bawang merah saja sudah membuat matanya perih.


Selama ini aku hanya bisa makan aja, ternyata seperti ini susahnya orang masak. Ya Allah Nak. Baru dua bulan berada dalam perut kamu sudah memberi pelajaran berharga buat Ayah.


Rendra mengusap matanya sesaat setelah mengiris duo bawang dan daun bawang itu. Irisannya kasar, tidak tipis dan rapi. Kemudian dia mengambil mangkok lalu memecah tiga telur, kemudian dia campur dengan bumbu, tak lupa sedikit garam. Penyedap rasa dia skip karena Zahra sedang hamil.


Lalu Rendra mulai mengocok telur itu dengan whisk kecil. Dia mengocok dengan sekuat tenaga hingga adonan telur itu sedikit tumpah ke meja.


"Mas, kalau ngocok pelan-pelan biar gak keluar." kata Zahra sambil tertawa melihat Rendra.


"Iya, kamu benar. Kalau ngocok jangan cepat-cepat biar gak cepat keluar."


"Mas, ih, omongin telur kok malah ke sana."


Rendra hanya tertawa, dia kini mengusap pelipisnya yang berkeringat. Benar-benar sangat menegangkan.


Kemudian Rendra mengambil teflon dan menuang sedikit minyak. Dia menyalakan kompor, setelah teflon panas dia masukkan adonan telur itu. Ya, tentu saja itu semua sesuai tutorial di youtube.


Kini Rendra bingung cara membaliknya..


Aduh, gimana cara baliknya.


Rendra berusaha membalik telor itu, akhirnya berhasil meskipun sudah hampir gosong.


"Yah, gosong." Rendra mematikan kompornya. "Harusnya api kompornya aku kecilin."


Dia memotong telur itu lalu mengambil piring dan memindahnya ke atas piring.


Zahra berdiri dan melihat hasil masakan Rendra dengan senyum yang mengembang.


"Aku buatin lagi ya. Ini gosong." Rendra tersenyum malu dengan hasil masakan perdananya itu.


"Gak terlalu Mas, cuma hitam dikit. Gak papa." Zahra mengambil piring itu lalu membawanya ke meja makan.


Rendra tidak yakin rasa dari eksekusinya itu. Pasti tidak enak. Tapi anehnya Zahra justru memakannya dengan lahap.


"Memang enak?" tanya Rendra. Dia hanya menatap Zahra yang sedang makan dengan lahap.


"Mau cobain?" Kemudian Zahra menyuapi Rendra.


Rendra ragu memakan masakannya sendiri. Setelah secuil telur dadar itu masuk ke dalam mulutnya, dia mengernyitkan dahinya. "Asin. Sayang, jangan dimakan. Makanan asin gak bagus untuk ibu hamil."


"Gak asin, hanya kebanyakan garam dikit, besok kalau masak kurangi garamnya ya." kata Zahra sambil melanjutkan makannya.


Besok? Rendra hanya menopang kepalanya di atas meja. Itu tandanya dia harus memasak lagi. "Memang besok mau aku masakin lagi?"


"Iya Mas, tapi jangan telur dadar. Yang lainnya aja." kata Zahra dengan santai.


Bagi Rendra buat telur dadar saja susahnya minta ampun apalagi yang lainnya.


Rendra hanya terdiam. Menu apalagi yang bisa dengan mudah dia kerjakan dan tentunya sehat untuk ibu hamil? Ini PR yang sangat sulit dia kerjakan.


Tiga telur dadar itu pun habis tak tersisa. Hal itu membuat sualas senyum terukir di bibir Rendra. Baiklah, dia akan mulai belajar memasak yang terpenting Zahra makan dengan lahap dan nutrisi kedua calon buah hatinya terpenuhi.


"Jangan lupa vitaminnya diminum dulu. Kemudian istirahat, ini sudah malam." Rendra mengambilkan segelas air putih untuk Zahra.


Setelah selesai meminum vitaminnya, mereka berdua berjalan menuju kamar. Sejak saat itu, kamar mereka sudah berpindah di lantai bawah agar Zahra tidak kelelahan naik turun tangga.


Zahra melepas hijabnya lalu dia merebahkan dirinya di atas ranjang. Dia menatap langit-langit kamarnya sambil mengusap perutnya.


"Hai, my twins." Rendra mendekatkan dirinya dan mencium perut Zahra. "Sehat-sehat ya di dalam."


Zahra tersenyum saat Rendra menciumi perutnya berkali-kali. "Mas, aku nanti mau dipanggil ibu saja ya."


Rendra beralih ke samping Zahra dan memeluknya. "Ya, tidak apa-apa. Bagus sayang. Aku juga mau dipanggil Ayah saja."


Mereka sama-sama terdiam merasakan kehangatan pelukan itu.


"Mas, besok kita ke makam ibu sama ayah yuk." pinta Zahra.


"Iya, kamu mau mampir ke Abah Husein juga?" tanya Rendra.


Zahra menggelengkan kepalanya. "Menyimpan dendam memang tidak baik. Aku sudah memaafkan semua perkataan dan perbuatan Abi. Hanya saja, aku sudah tidak mau lagi menambah luka hati aku. Cukup waktu itu saja. Apa aku durhaka tidak memberi kabar bahagia pada mereka?"


Rendra tersenyum kecil. "Bahagia di kita belum tentu bahagia di mereka. Ada sebagian orang yang memang tidak suka melihat kebahagiaan orang lain. Tidak apa-apa. Yang terpenting kamu tidak pernah menyakiti hati mereka. Memang lebih baik seperti ini. Sekarang kamu juga tidak sendiri lagi. Ada aku, ada calon anak kita, dan juga keluarga besar pondok pesantren kita."


Zahra tersenyum. Dia kini menenggelamkan wajahnya di dada Rendra. "Hidup aku sekarang penuh warna. Makasih Mas Rendra."


"Sama-sama sayang." Rendra membelai lembut rambut panjang Zahra. "Nanti setelah kandungan kamu jalan empat bulan kita adakan tasyakuran di pondok ya."


"Iya Mas."


"Aku akan selalu menjaga kamu. Kamu juga harus bisa jaga diri. Tidak boleh terlalu capek karena dari beberapa artikel yang tadi aku baca, kehamilan kembar itu membuat ibu hamil cepat lelah dan memiliki resiko yang cukup besar semasa kehamilan, jadi harus selalu hati-hati."


Zahra menganggukkan kepalanya. Dia kini tersenyum sambil memejamkan matanya. Dia sudah tidak sabar menyambut kehadiran buah hatinya.


Begitu juga dengan Rendra. "Pasti rumah ini akan ramai kalau nanti anak kita sudah lahir. Ada dua bayi sekaligus. Gak sabar mau pamerkan pada Kevin."


Seketika Zahra mendongakkan kepalanya. "Kenapa begitu?"


"Iyalah, dia udah mau punya tiga anak. Sedangkan aku sekali jadi langsung dua. Sebagai seorang lelaki jelas bangga."


Zahra semakin dibuat Rendra tersenyum. "Ya Allah Mas, gak boleh gitu."


"Iya, iya, aku cuma bercanda. Kamu tidur aja udah malam." Rendra mencium hangat kening Zahra. "Karena usaha aku telah berhasil. Libur dulu usahanya karena awal kehamilan gak boleh terlalu sering."


Zahra hanya tersenyum. Dia kembali memejamkan matanya merasakan kenyamanan dari Rendra.


💕💕💕


.


Like dan komen ya...