
"Sayang, gimana hasilnya?" tanya Rendra dengan antusias. Dia sangat penasaran.
Zahra hanya terdiam sambil menggenggam alat tes itu. Perlahan dia buka genggaman tangannya dan menunjukkan hasilnya.
"Garis dua." kata Zahra dengan mata berbinarnya.
Rendra mengernyitkan dahinya. "Garis dua artinya?" Entah karena terkejut sampai Rendra tidak bisa berpikir atau memang dia benar-benar tidak tahu.
"Positif Mas."
"Positif itu berarti hamil?"
Zahra menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Air mata haru bahkan telah membasahi pipinya.
"Alhamdulillah ya Allah..." Seketika Rendra berlutut dan mencium perut Zahra. "Besok kita lihat ya."
Zahra mengaggukkan kepalanya.
"Sayang, selamat datang di perut Ibu." Rendra menciumi perut Zahra berulang kali. Lalu dia berdiri dan memeluk Zahra dengan erat. Dia cium kening Zahra, lalu kedua pipi, dan terakhir berlabuh di bibir Zahra cukup lama. "Terima kasih."
"Sama-sama Mas. Alhamdulillah, Allah memberi kepercayaan lagi pada kita."
Kemudian mereka hanya terdiam dan saling menatap. Mereka masih memikirkan Azam. Allah seolah menggantinya dengan cepat setelah kehilangan Azam tapi bagaimanapun Azam tidak bisa terganti di hati mereka.
"Semoga Azam bisa merasakan kebahagiaan kita."
Zahra hanya menganggukkan kepalanya.
Perlahan Rendra membawa Zahra ke atas ranjang. Perasaannya bercampur aduk menjadi satu, antara bahagia sebentar lagi akan memiliki buah hati lagi dan sedih karena belum ada kabar dari Azam sama sekali.
Perasaan yang bercampur itu sepertinya butuh suatu sensasi agar beban itu luruh. Perlahan dia singkap rok panjang Zahra. Sudah satu bulan lebih dia tidak melihat kemolekan itu. Perut Zahra memang terlihat sudah sedikit membesar.
"Perut kamu memang sudah terlihat."
Zahra menganggukkan kepalanya. "Iya, aku juga baru sadar tadi. Kalau sudah terlambat dua bulan itu berarti sekarang sudah hampir tiga bulan. Alhamdulillah, aku tidak merasa apa-apa. Tidak merasa morning sickness. Semoga saja buah hati kita sehat di dalam sana."
"Iya, semoga semua sehat. Besok kita langsung USG ya."
Zahra menganggukkan kepalanya lalu dia memejamkan matanya saat merasakan sentuhan hangat dari Rendra. Memang sudah satu bulan lebih Zahra tidak merasakannya. Baru sedikit sentuhan saja sudah membuatnya terbuai.
"Mas," Zahra menatap sayu Rendra sambil menarik lengan Rendra agar mendekat. "Do it now."
Rendra speechless beberapa saat. Dia hanya menatap Zahra. Selama beberapa tahun menikah, baru kali ini Zahra memintanya.
Beberapa detik kemudian Rendra tersenyum. "Yas, baby." Kemudian dia melantunkan do'a pengantar hal menyenangkan itu.
Dia genggam kedua tangan Zahra saat dia mulai menghimpitnya. Mereka saling bertatapan penuh cinta merasakan dayungan indah yang melenakan.
...***...
"Selamat ya, calon buah hatinya sudah berusia 10 minggu. Lihat, ini jaringannya sudah terbentuk dengan sempurna. Detak jantungnya normal dan sehat."
Rendra dan Zahra saling berpegangan erat mendengar penjelasan dari Dokter.
"Riwayat sebelumnya kehamilan kembar ya, dan melahirkan secara secar."
"Iya Dok. Apa nanti saya bisa melahirkan secara normal?" tanya Zahra.
"Insya Allah bisa, karena ini bukan kehamilan kembar. Tetap dijaga pola makan dan kesehatannya. Ibu tidak ada keluhan?"
"Tidak ada Dok."
Setelah selesai melakukan pemeriksaan dan berkonsultasi, mereka berdua keluar dari rumah sakit.
"Sayang, kita mau kemana dulu?"
"Langsung ke rumah aja Mas. Aku mau nemenin Affan. Kita ke makam Ayah dan Ibu besok ya, sama Affan juga."
"Oke." Kemudian Rendra membukakan pintu mobil untuk Zahra.
Setelah Rendra duduk di kursi pengemudi, beberapa saat kemudian mobil itu melaju meninggalkan kawasan rumah sakit. Sesekali Rendra mengusap perut Zahra dengan sebelah tangannya.
"Kita sudah diberi kepercayaan lagi. Kali ini kita harus benar-benar bisa menjaganya." kata Rendra dengan pandangan yang masih fokus menatap jalanan.
"Iya Mas. Semoga kejadian itu tidak terulang lagi."
"Iya, amin."
Zahra masih saja tersenyum melihat hasil USG nya. "Semoga suatu saat nanti kita bisa berkumpul lagi ya dengan Azam. Setiap hari aku selalu mendoakannya."
"Iya, amin. Aku juga selalu berdoa untuk Azam."
Setelah itu, tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka. Beberapa saat kemudian terdengar suara ponsel Zahra berbunyi beberapa kali. Zahra segera mengambil ponselnya. Dia tersenyum menatap pesan dari grup whatsapp wali murid.
"Mas, mulai hari senin besok semua santri akan mulai aktif kembali. Mereka telah mempercayakan kembali putra dan putri mereka belajar di pondok pesantren. Mereka juga memohon maaf sudah berburuk sangka pada Mas Rendra. Besok mereka meminta izin untuk mengadakan pertemuan dengan Mas Rendra." terang Zahra membacakan isi dari pesan whatsapp itu.
Rendra tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. "Alhamdulillah..." Hanya ucapan syukur yang mampu dia katakan.
"Mas, Allah telah memberikan cobaan yang sangat berat. Tapi berkat kesabaran kita Allah telah menggantinya. Kita tidak tahu bagaimana nasib Azam selanjutnya. Mungkin kelak dia akan menjadi seseorang yang sangat hebat, tapi jika memang dia sudah tiada pasti kelak dia akan bahagia di surga."
Rendra mengusap puncak kepala Zahra sesaat. "Iya, kita doakan yang terbaik buat Azam."
Beberapa saat kemudian Rendra menghentikan mobilnya di depan rumahnya. Mereka segera masuk ke dalam rumah yang disambut antusias oleh Umi Laila. Sejak kepergian Azam, Umi Laila memang masih tinggal di rumah Rendra untuk menemani Zahra dan juga membantu merawat Affan.
"Umi." Zahra memeluk Umi Laila dengan air mata yang telah mengembun. "Alhamdulillah, umi akan mendapatkan seorang cucu lagi."
"Alhamdulillah, nak." Umi Laila mencium kedua pipi putrinya.
"Ibu.." Affan berjalan dan menarik rok panjang Zahra. Dia merentangkan tangannya minta dipeluk juga.
"Affan, sini sayang." Zahra menggendong Affan dan mendekapnya. "Affan mau punya adik lagi. Nanti Affan ada temannya main lagi."
"Dedek.."
"Iya dedek. Nanti bantu ibu jaga dedek ya..." Zahra berjalan ke kamarnya bersama Rendra.
"Affan, sama Ayah sini. Mulai sekarang Affan jangan terlalu sering gendong sama Ibu. Di perut Ibu sini ada dedek." Rendra duduk di tepi ranjang dan menurunkan Affan di atas ranjang. Setelah itu dia mengusap perut Zahra. "Di dalam sini ada dedek."
"Dedek sini." Affan ikut mengusap perut Zahra.
"Iya sayang. Sabar ya. Tujuh bulan lagi kita akan bertemu."
Affan tertawa sambil bertepuk tangan seolah dia benar-benar mengerti maksud ucapan Rendra.
"Lucu banget sih." Zahra mencubit gemas pipi chubby Affan. Andai saja Azam masih ada pasti dia lebih heboh dari Affan.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...