
"Zahra, apa kamu membenci seseorang yang telah membuat Ayah kandung kamu meninggal?" tanya Rendra tiba-tiba.
Seketika Zahra merenggangkan pelukannya dan menatap Rendra. "Kenapa Mas tiba-tiba tanya itu?"
Rendra terdiam dan menatap Zahra sesaat lalu dia memejamkan matanya lagi. "Tidak apa-apa, aku hanya kepikiran saja tentang hal itu. Kamu tidur lagi sudah tengah malam."
Pertanyaan itu justru berhasil membuat mata Zahra sulit terpejam. Dia kembali memeluk Rendra, entah Rendra benar tertidur atau tidak yang jelas tidak ada pergerakan lagi dari Rendra.
Apa Mas Rendra tahu sesuatu? Sedari tadi gelagatnya sangat aneh.
Zahra menghela napas kecil kemudian dia berusaha memejamkan matanya lagi, meski rasa kantuk itu menguar entah kemana.
...***...
"Mas, mau ikut ke pondok?" tanya Zahra pagi hari itu. Dia sedang berkaca membenarkan hijabnya.
Rendra masih saja menatap layar ponselnya tanpa menjawab pertanyaan Zahra. Sepertinya dia tidak mendengar pertanyaan itu.
Zahra kini berjalan mendekati Rendra, lalu duduk di sampingnya. "Mas..."
Seketika Rendra tersadar dari lamunannya. "Iya." Dia menatap Zahra yang sekarang sudah duduk di sampingnya.
"Mas, mikirin apa? Mas merasa gak nyaman di sini? Ya udah ayo kita pulang sekarang."
Seketika Rendra tersenyum dan mengusap pipi Zahra. "Tidak apa-apa. Besok pagi saja kita pulang. Kamu mau ke pondok sekarang?"
Zahra terdiam beberapa saat. Dia mengamati raut wajah Rendra. Ada satu kegusaran yang sangat terlihat. Entah itu tentang apa, Zahra masih belum mengetahui yang sebenarnya. "Iya, Mas Rendra mau ikut?" tanya Zahra lagi.
"Iya, sebentar aku pakai kemeja lengan panjang dulu," jawab Rendra pada akhirnya. Rendra berdiri lalu mengambil kemejanya dan memakainya tanpa melepas kaos lengan pendeknya.
Setelah itu, mereka keluar dari kamar. "Kita langsung ke pondok saja, sepertinya Abi sudah ke sana." kata Zahra.
Rendra hanya menganggukkan kepalanya. Mereka kini berjalan beriringan menyusuri jalan menuju pondok pesantren. Mereka masuk ke dalam sebuah gang, dimana dulu saat awal mereka berdua bertemu.
Zahra tersenyum kecil saat mengingat peristiwa itu. "Awal pertama kita berjumpa dulu di tempat ini. Mas Rendra masih ingat?"
"Iya," jawab Rendra singkat.
Hal itu membuat Zahra menatap wajah datar Rendra.
Sebenarnya apa yang disembunyikan Mas Rendra?
Zahra kini terdiam. Hatinya gelisah. Sebenarnya apa yang telah terjadi? Dia takut Rendra berubah.
Sampai di pondok pesantren, Ustaz dan Ustazah yang mengajar di tempat itu bergantian memberi selamat pada mereka berdua. Begitu juga dengan para santri, mereka ikut berbahagia mendengar kabar pernikahan Zahra.
Zahra kini mengobrol dengan ustazah dan pengurus lain, sedangkan Rendra kini hanya duduk sendiri di taman sambil memikirkan solusi yang tepat untuk masalahnya.
Sepertinya aku harus jujur dengan Zahra. Aku gak mungkin menyebunyikan masalah ini terlalu lama. Tapi aku takut, Zahra tidak bisa terima kenyataan ini dan dia akan pergi meninggalkan aku.
"Melamun aja, Bang?"
Tepukan di bahu Rendra membuatnya terkejut. Dia kini menoleh dan menatap Anaz yang sudah duduk di sampingnya. "Selamat, akhirnya Bang Rendra menikah dengan Mbak Zahra." Mereka saling berjabat tangan dan tersenyum.
"Iya, terima kasih."
"Sejak pertama lihat Abang, saya yakin Abang memang jodoh Mbak Zahra."
Rendra hanya tersenyum. Dia sendiri juga tidak menyangka bisa menikah dengan Zahra. Dua orang yang memiliki latar belakang yang berbeda, dan sekarang perbedaan itu semakin terasa saat Rendra mengetahui kenyataan memilukan itu.
"Abang lagi ada masalah?" tanya Anaz. Dia seolah bisa membaca isi hati Rendra.
Rendra hanya tersenyum kecil. "Namanya orang hidup pasti punya masalah."
"Inti dari masalah Abang sebenarnya adalah kejujuran." kata Anaz. Dia seperti seorang peramal yang bisa menerawang pikiran Rendra.
Rendra menatap Anaz tak percaya. "Bagaimana kamu tahu masalah aku?"
Anaz hanya tersenyum. "Itulah kelebihan saya. Saya permisi dulu." kemudian Anaz berdiri dan meninggalkan Rendra.
"Mas," Zahra menghampiri Rendra dan duduk di sampingnya.
"Iya, kenapa?" Rendra kini menatap Zahra.
Zahra nampak berpikir. "Kita pulang saja ya. Sepertinya Mas Rendra tidak nyaman berada di sini."
"Gak papa. Asal sama kamu dimanapun aku berada pasti nyaman."
"Tapi kenapa Mas Rendra diam saja? Tidak seperti biasanya. Apa Mas Rendra marah sama aku?"
Rendra menggelengkan kepalanya. "Ya sudah kita pulang ya. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu."
Zahra menganggukkan kepalanya. Mereka akhirnya berdiri dan berpamitan terlebih dahulu pada Abah Husein. Setelah itu, mereka pulang ke rumah sambil berjalan kaki melewati gang.
"Zahra, maaf aku sudah beberapa kali tidak mendengar kamu bicara." kata Rendra, dia kini menggandeng kecil tangan Zahra.
"Iya, tidak apa-apa."
Setelah sampai di rumah, Zahra memasukkan barang-barangnya. Setelah selesai berkemas, mereka berpamitan pada Umi Laila. "Umi, Zahra pulang dulu ya."
"Zahra, mengapa buru-buru? Katanya besok pagi baru pulang."
"Iya, soalnya ada pekerjaan yang harus Zahra selesaikan. Maaf umi. Nanti Zahra pasti akan menginap di sini lagi." Zahra memeluk uminya sesaat.
"Ya sudah hati-hati ya. Jangan lupa selalu kasih kabar pada umi."
"Iya umi." Kemudian Zahra mencium punggung tangan uminya yang diikuti oleh Rendra.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
Kemudian Umi Laila mengantar mereka sampai teras rumah.
Mereka berdua kini masuk ke dalam mobil dan beberapa saat kemudian, mobil mereka segera melaju meninggalkan rumah Zahra.
Tak ada pembicaraan di antara mereka selama perjalanan. Hanya Zahra yang sesekali menguap panjang.
Setelah satu jam berlalu, kini mereka sampai di depan rumah Rendra. Mereka segera turun dan masuk ke dalam rumah.
Rendra masih berkutat dengan pikirannya sendiri. Bagaimana caranya dia jujur pada Zahra?
Sampai di dalam kamar, Rendra kini membuka tirai dan berdiri memandang langit yang cerah dan membiru itu.
Sesekali Zahra hanya melirik Rendra. Dia kini melepas hijab dan berganti pakaian dengan yang lebih nyaman.
Nyali Rendra seolah menciut ketika harus berhadapan dengan Zahra.
"Zahra..." Panggil Rendra pada akhirnya.
Zahra kini berdiri di samping Rendra. "Mas, kalau memang ada masalah serius jujur sama aku."
"Aku takut kamu marah."
"Takut aku marah?" Zahra mengernyitkan dahinya. Masalah apa hingga bisa membuatnya marah?
Rendra memutar tubuhnya dan menghadap Zahra. "Iya, karena setelah kamu tahu kenyataannya, kamu pasti kecewa sama aku. Kamu pasti benci sama aku."
Zahra semakin menatap Rendra. "Kenapa? Masalah apa? Mas, aku gak mungkin marah jika bukan karena masalah yang serius." tanyanya dengan bibir bergetar.
Rendra menarik napas dalam. Dia kumpulkan seluruh keberaniannya. "Sebenarnya, yang menabrak Ayah kandung kamu adalah Papa..."
💕💕💕
.
Like dan komen ya...