
Rendra berjalan mondar mandir sambil menunggu Zahra ditangani Dokter. Dia sangat cemas dan takut sesuatu yang buruk terjadi pada Zahra dan kedua buah hatinya.
"Rendra kamu tenang. Kita berdoa, semoga si kembar tidak apa-apa." kata Pak Marko yang kini menahan langkah Rendra agar berhenti mondar-mandir.
Rendra akhirnya duduk di sebelah Pak Marko. "Kejadian ini sudah direncanakan. Tiba-tiba ban mobil aku bocor, setelah itu dia mencari celah untuk mendorong Zahra. Bodohnya aku yang melepas tangan Zahra hingga kejadian itu terjadi." Rendra mengusap wajahnya. Dia sangat menyesal dengan kejadian itu.
Pak Marko menepuk bahu Rendra. "Apa kamu mau menyerang markas Elang Hitam lagi? Sekarang markas itu dipimpin Arsen."
"Sayangnya aku gak punya bukti. Aku gak bisa tiba-tiba menyerang begitu saja." Kemudian Rendra menyandarkan punggungnya. "Tapi jika terjadi apa-apa dengan Zahra dan kandungannya, aku akan benar-benar menghancurkan Elang Hitam."
Pak Marko menghela napas panjang saat dia mengenang masa lalunya. "Sebenarnya ini semua kesalahan Papa. Dulu Papa yang membentuk Elang Hitam. Papa tidak menyangka, Elang Hitam justru akhirnya jadi musuh terbesar kita. Mereka terus-terusan ingin mencelakai kamu sampai sekarang."
"Papa tenang saja. Suatu saat nanti, Elang Hitam itu akan hancur dengan sendirinya." Rendra menghela napas panjang lagi. Dia kembali berdoa dalam hatinya untuk Zahra dan kandungannya.
Beberapa saat kemudian, Dokter yang menangani Zahra keluar.
Rendra segera berdiri dan menghampirinya. "Dok, bagaimana keadaan istri saya?"
"Syukurlah, kandungannya baik-baik saja. Pendarahan juga sudah berhenti tapi harus benar-benar istirahat total selama tiga hari." jelas Dokter itu.
"Baik Dok. Apa saya bisa menemui istri saya?"
"Bisa, sudah kami pindah ke ruang rawat vip nomor 6."
Seketika Rendra berjalan cepat menuju ruangan itu. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu Zahra.
Setelah masuk ke dalam ruangan, hal pertama yang Rendra lakukan adalah mencium kening Zahra lalu memeluknya.
"Alhamdulillah, si kembar kita sehat. Mereka hebat, mereka kuat, seperti kamu."
Zahra tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Iya Mas, aku sudah takut setengah mati kehilangan mereka."
Satu tangan Rendra kini mengusap perut Zahra. "Aku juga. Mulai sekarang, aku akan benar-benar menjaga kamu. Untuk sementara kamu jangan dulu ke pondok. Aku takut mereka masih mengincar kamu."
Zahra hanya menganggukkan kepalanya dan mengikuti usapan tangan Rendra.
"Ya udah, kamu sekarang istirahat. Aku akan selalu temani kamu di sini."
Zahra menganggukkan kepalanya lagi.
Keadaan hening beberapa saat. Tapi Zahra tak bisa tidur, dia masih saja menatap langit-langit ruangannya.
"Zahra, maaf. Gara-gara aku, kamu dan si kembar hampir celaka."
Zahra kini beralih menatap Rendra. "Ini bukan salah Mas Rendra."
"Tapi musuh aku ada dimana-mana."
Zahra tersenyum lalu dia usap pipi Rendra. "Aku yakin semua ini pasti akan berlalu. Tetaplah menjadi Mas Rendra yang baik seperti sekarang."
Rendra kembali mencium kening Zahra lalu turun ke hidungnya dan singgah di bibirnya sesaat.
"Mas Rendra, tidur di atas sini ya. Aku gak bisa tidur tanpa pelukan Mas Rendra."
Rendra semakin tersenyum. Sejak hamil Zahra memang manja dan bawel.
"Oke." Rendra melepas sepatunya lalu naik ke atas brangkar. Dia miringkan tubuhnya agar pas di tempat yang sempit itu. "Udah, sekarang kamu tidur."
Rendra mengusap perut Zahra dengan lembut. "Sekarang rasanya gimana? Perut kamu masih sakit?"
Zahra menggelengkan kepalanya. "Udah gak Mas."
Kemudian tangan Rendra memeluk tubuh Zahra. Beberapa saat kemudian Zahra tertidur dalam pelukannya.
...***...
Hari-hari pun berlalu begitu cepat. Setiap hari Rendra selalu menemani Zahra. Dia juga membatasi kegiatan Zahra di pondok tanpa pengawasannya. Dia tingkatkan keamanan di rumahnya, pondok, dan juga wilayah perkebunan.
Produksi teh Rendra juga sudah mulai stabil. Tapi Rendra tak boleh lengah sedikitpun. Musuh itu akan datang kapan saja. Dia harus tetap berjaga dan waspada.
"Sayang, duduk dulu nanti kamu capek, sebentar lagi kita akan ke rumah untuk USG." Rendra menahan tangan Zahra yang sedari tadi berjalan mondar-mandir menata perlengkapan si kembar yang 2,5 bulan lagi akan terlahir di dunia. "Nanti biar ditata Bi Sri saja."
Zahra akhirnya duduk di samping Rendra. "Aku terlalu senang Mas. Aku udah gak sabar menyambut kehadiran mereka."
Kemudian Rendra mengusap perut Zahra yang sudah sangat besar dan selalu menendangnya heboh saat disentuh.
"Hai, jangan berantem di dalam, nanti perut Ibu sakit."
Zahra hanya tertawa melihat bentuk perutnya yang tak beraturan karena tendangan dari si kembar yang ada di perutnya.
"Alhamdulillah mereka sehat. Gak sabar mau lihat wajah mereka. Ayo Mas, kita berangkat USG sekarang."
Tangan Rendra melingkar di pinggang Zahra meski sekarang sudah tidak muat karena terhalang perut yang besar. "Iya, aku juga gak sabar. Kira-kira mirip aku atau kamu ya?"
Zahra memutar matanya lalu menggelengkan kepalanya. "Mirip aku atau Mas Rendra yang penting mereka terlahir ke dunia ini dengan sehat."
"Amin."
Kemudian mereka bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit.
Mereka kini masuk ke dalan mobil yang disopiri oleh anak buah Rendra karena Rendra ingin terus memeluk Zahra dan bermain dengan si kembar di dalam perut.
"Sayang, nanti kita tanya cara persalinan juga ya. Dokter menganjurkan kamu melahirkan secara normal atau tidak. Kita ikuti saran Dokter saja."
Zahra menganggukkan kepalanya.
"Apapun caranya nanti, semoga kamu dan kedua anak kita selamat, sehat, dan dilancarkan semuanya."
"Iya, amin Mas."
Setelah sampai di rumah sakit mereka segera menuju poli kandungan. Tanpa mengantri karena mereka sudah membuat janji terlebih dahulu.
Zahra dan Rendra tak hentinya tersenyum menatap kedua calon buah hatinya yang berada di dalam perut dengan USG 4 dimensi itu.
"Wah, cakep-cakep semua. Lihat hidungnya mancung. Meski mereka bukan kembar identik tapi sepertinya mereka sangat mirip. Lihat mereka bertengkar di dalam perut, saling menendang. Semua normal, kaki, tangan, mata, hidung, bibir. Berat badan juga bagus. Untuk proses kelahiran kami sarankan melalui operasi saja, karena melahirkan secara normal terlalu beresiko untuk kehamilan kembar."
Rendra menganggukkan kepalanya. "Baik Dokter. Kita akan mengikuti saran Dokter."
"Baik, apabila tidak ada keluhan kembali lagi ke sini bulan depan lalu kita atur jadwal operasi."
"Baik Dokter, terima kasih."
Setelah selesai melakukan seluruh pemeriksaan dan konsultasi, mereka keluar dari poli kandungan. Zahra masih saja tersenyum menatap foto hasil USG itu.
"Kak Zahra..."
Langkah mereka berhenti saat mendengar panggilan itu.
💕💕💕
.
Like dan komen ya ..