
Setelah membersihkan make up nya dan berganti baju, Zahra kini duduk termenung di depan cermin. Terkadang dia sendiri juga merasa bingung, apakah dia salah dengan mudahnya memaafkan Pak Marko yang telah menabrak Ayahnya hingga meninggal?
Tapi semua itu sudah lama berlalu, Papa Marko juga sangat baik. Buat apa lagi dipermasalahkan? Aku yakin, Ayah juga sudah tenang di alam sana.
Beberapa saat kemudian, Rendra masuk ke dalam kamar Zahra lalu berlutut di samping Zahra. Dia usap pipi Zahra yang sedikit basah karena sisa air mata.
Mereka hanya saling menatap tanpa berkata apapun.
"Maaf." Hanya satu kata yang akhirnya terucap dari mulut Rendra.
Zahra menggelengkan kepalanya. "Mas Rendra tidak perlu meminta maaf. Ini sudah jalan takdirnya. Ini juga bukan salah Mas Rendra."
Kemudian Rendra berdiri dan memeluk Zahra. "Zahra, kalau Abah kamu masih kekeh ingin menghukum Papa. Kita semua bisa menerimanya."
"Memang Mas Rendra rela Papa masuk penjara?"
Rendra tak menjawab pertanyaan itu, hanya saja dia semakin mengeratkan pelukannya.
Zahra sangat mengerti bagaimana perasaan Rendra, tentu saja sebenarnya Rendra juga tidak rela jika Papanya di penjara. "Mas, kejadian itu sudah 25 tahun berlalu dan aku yakin waktu itu Papa juga tidak sengaja menabrak Ayah. Sudah tidak perlu dibahas lagi."
"Tapi Abah dan keluarga kamu?"
Zahra meregangkan pelukan Rendra. Dia kini mendongak dan menatap kedua netra Rendra. "Biarkan suasana tidak memanas dulu, nanti kita bicarakan baik-baik dengan Abi."
Rendra menghela napas panjang lalu dia menangkup kedua pipi Zahra. "Aku sangat beruntung memiliki kamu dalam hidupku. Kamu tidak hanya memberi cinta tapi kamu juga sudah membuat hidupku jauh lebih baik."
Zahra tersenyum kecil, dia juga merasa sangat beruntung memiliki Rendra.
"Karena tadi kita gagal berdansa, nanti malam aku punya kejutan buat kamu."
Zahra hanya mencibir. "Nanti malam? Kejutan apa? Kita bukan pengantin baru lagi."
Rendra mencubit hidung mancung Zahra. "Kenapa mikirnya jadi ke sana?"
"Habis Mas Rendra... Hmm..." Zahra hanya tersenyum malu.
Rendra mencium singkat kening Zahra lalu dia beralih melepas jas dan kemejanya karena badannya sudah terasa gerah.
"Kalau kamu lapar makan dulu. Suruh Bi Mina antar makanan kalau.malas turun ke bawah. Aku masih mau mandi dulu soalnya gerah sekali badan aku. Gak hanya badan yang panas tapi juga otak aku."
"Mas, memang beneran ada penyusup?"
"Iya, kamu tenang saja. Aku sudah urus dan meningkatkan keamanan di sini." Rendra mengusap puncak kepala Zahra sesaat lalu dia berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
...***...
Setelah selesai makan malam, Rendra menggandeng tangan Zahra agar mengikutinya ke suatu tempat.
"Mas, mau kemana?"
"Ke private room serbaguna." kata Rendra sambil tertawa.
Zahra hanya mengerutkan dahinya sambil mengikuti langkah Rendra. Saat dia sampai di ruangan itu, Zahra semakin tersenyum. Ruangan itu adalah salah satu ruangan yang penuh kenangan dan tidak mungkin Zahra lupakan. Di dalam ruangan itu, dulu Rendra melamarnya.
Tapi kali ini tempat itu sangat romantis dan sudah berhiaskan taburan bunga mawar merah. Ada empat kamera yang menyorot ke tengah ruangan. Saat mereka melangkah ke tengah ruangan, empat layar itu menampilkan rekaman mereka.
Zahra berputar dan menatap kagum.
"Wow."
Rendra berjalan menepi. Dia memutar sebuah musik romantis lalu mematikan lampu utama.
Hanya ada lampu temaram yang berputar menyorot mereka di tengah ruangan. Di tambah cahaya dari keempat layar itu.
"Serius? Dengan kaos dan celana biasa gini?" kata Zahra sambil menunjuk kaos oblong Rendra.
"So? Kamu kan juga pakai daster panjang aja."
Mereka berdua sama-sama tertawa. Rendra memang sengaja tidak menyuruh Zahra bermake up seperti dulu sebelum masuk ruangan itu. Kali ini, dia ingin menikmati momen indah yang apa adanya.
"Ada aja ide Mas Rendra."
"Karena aku ingin selalu membahagiakan kamu." Rendra menggenggam kedua tangan Zahra lalu mencium dalam keningnya.
Rasanya benar-benar berbeda saat dia terpantau dengan empat kamera.
"Mas, kameranya di balik aja. Aku malu."
"Gak ada yang lihat selain kita. Kenapa malu?" Rendra semakin menatap lekat kedua netra Zahra. Dia letakkan kedua tangan Zahra di bahunya lalu dia memeluk pinggang Zahra. "Ikuti gerakan aku."
"Mas, aku gak bisa dansa."
"Bisa."
Kedua kaki mereka mulai bergerak mengikuti alunan musik yang sangat romantis. Awalnya gerakan Zahra sangat kaku tapi setelah beberapa menit, Zahra mulai menikmati dansa itu. Dia kini menyandarkan kepalanya di dada Rendra. Detak jantung Rendra terdengar sangat kencang.
"Zahra, apapun yang terjadi, aku ingin tetap bersama kamu. Selamanya..."
Zahra kembali menegakkan kepalanya dan mendongak menatap Rendra. "Iya. Aku juga ingin selalu bersama Mas Rendra."
Kedua wajah yang saling bertatapan itu kini kian mendekat dan menghapus jarak di antara mereka. Mulai menyesapi manisnya madu yang sudah menjadi candu.
Kaki mereka sudah berhenti bergerak, saat Rendra semakin mengeratkan pelukannya.
Rendra melepas pagutannya saat napasnya terasa semakin berat.
"Sayang, ke kamar yuk?"
Zahra tersenyum dengan pipi yang merona. "Katanya mau dansa, baru juga 30 menit." Zahra menggoda Rendra dengan membentuk pola abstrak di dadanya.
"Hmmm, kita lakukan yang lain, atau mau di sini saja." Rendra melepas pelukannya lalu mengunci pintu terlebih dahulu setelah itu dia menarik sofa ke tengah ruangan.
"Eh, hmm, kita ke kamar aja Mas."
Rendra menarik tubuh Zahra hingga dia terduduk di pangkuannya. "Katanya cuma 30 menit di sini. Apa sekalian kita tidur di sini?" Lalu Rendra mendorong pelan tubuh Zahra hingga terbaring di atas sofa.
Zahra melirik ke sisi kirinya, ada kamera yang menyorotnya dengan jelas.
"Eh, Mas, itu kameranya. Matiin."
Rendra justru tersenyum dan menciumi Zahra. "Kamu tenang aja, itu hanya kamera biasa tanpa direkam."
"Tapi Mas, aku malu."
"Kenapa malu lihat diri sendiri." Rendra semakin menghimpit tubuh Zahra.
Kini sudah tidak ada lagi suara penolakan dari Zahra. Dia selalu terhipnotis dengan tatapan Rendra dan setiap sentuhannya.
💕💕💕
.
.
Like dan komen ya...