
Setelah melakukan transplantasi itu, Zahra berangsur membaik. Wajahnya sudah mulai segar lagi, dia juga tidak mudah pingsan lagi. Karena setiap hari Rendra selalu menjaga pola makan Zahra.
Setiap hari, Zahra selalu dibuat tertawa oleh tingkah Rendra. Bahkan di masa pemulihan itu Rendra justru meminta Zahra mengajarinya mengaji, karena dia sudah berusaha belajar tapi masih saja belum hafal huruf hijaiyah itu.
"Kalau mau belajar itu mulai dari ummi jilid 1," kata Zahra.
"Ummi? Bukan iqra'?"
"Ya sama aja sih. Cuma kalau ummi lebih cepat tapi kalau Mas Rendra mau belajar pakai Iqra' ya gak papa."
Rendra justru mencubit hidung Zahra.
"Kok malah dicubit." Zahra berusaha menghindar tapi tetap saja hidung mancungnya masih kena cubitan Rendra.
"Pipinya udah segar kayak dulu lagi." kata Rendra sambil menatap wajah Zahra yang sudah kembali bersinar. Benar apa kata orang bahwa kebahagiaan itu adalah obat paling ampuh untuk menyembuhkan suatu penyakit.
"Udah dua minggu setelah transplantasi itu aku masih di rumah sakit, pulang yuk Mas ke perkebunan. Bosan di sini terus. Kasihan Mas Rendra setiap hari tidur di sofa, aku suruh tidur di rumahnya Dokter Hendra gak mau."
"Nunggu keputusan Dokter Hendra dulu. Kamu aja aku suruh dirawat di rumah Dokter Hendra gak mau. Masak iya, aku tidur sendiri di sana."
Zahra hanya tersenyum kecil. Dia tidak menyangka, setelah banyaknya cobaan dalam hidupnya kini dia akan hidup bahagia bersama Rendra. Seseorang yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Seseorang yang dia anggap buruk, ternyata sangat perhatian dan sayang dengannya.
"Panas sekali ya di kamar ini." Dokter Hendra masuk ke dalam ruangan Zahra sambil membawa sebuah map. "Besok Zahra sudah boleh pulang biar kamar ini jadi adem."
Rendra hanya tertawa. Setiap hari dia memang selalu mendengar dumelan sahabatnya itu.
"Tapi tetap, tidak boleh terlalu capek. Jangan mentang-mentang pengantin baru."
Rendra semakin tertawa sambil menjotos lengan Hendra. "Rese' banget." Tapi sedetik kemudian mereka saling berpelukan. "Makasih, kamu sudah melakukan yang terbaik untuk kesembuhan Zahra."
"Sama-sama. Itu sudah menjadi tugas aku." Hendra melepas pelukannya. "Kalau bisa tolong kamu carikan Dokter spesialis lagi untuk rumah sakit ini. Aku kan juga mau liburan buat refresh otak." Hendra kini duduk di sofa dan menyandarkan punggungnya.
"Liburan ke kebun aku aja. Di sana sejuk, banyak cewek-cewek juga."
Hendra hanya memutar bola matanya. Bukan solusi yang tepat. Dia juga ingin liburan ke luar negeri. Menikmati musim dingin atau musim panas di sana.
Zahra masih saja tersenyum melihat kedua sahabat itu masih saja perang pendapat.
"Gak ada yang sesuai kriteria aku."
"Kamu belum tahu aja, di kantor pabrik banyak wanita-wanita cantik."
Zahra semakin tertawa, karena dia tahu persis sebagian besar karyawan Rendra adalah ibu-ibu.
"Udahlah, ngobrol sama kamu makin pusing kepala aku." Dokter Hendra berdiri. "Nanti per dua minggu sekali aku akan memeriksa kondisi Zahra. Semoga saja semakin membaik."
"Iya, amin. Makasih Dokter."
...***...
Sepanjang perjalanan pulang, Zahra terus tersenyum. Akhirnya dia bisa menghirup udara segar lagi. Dia kini pulang ke rumah Rendra dan diantar oleh keluarganya juga di mobil yang berbeda.
"Sayang, sini." Rendra meraih tubuh Zahra dan menyandarkan kepala Zahra di bahunya.
Mendengar sebutan sayang saja membuat pipi Zahra memerah. "Jangan panggil sayang gitu, terasa aneh."
"Gak papa. Harus terbiasa."
Zahra kini memainkan jari-jari Rendra. "Setelah ini Mas Rendra gak akan main tembak-tembakan lagi kan?"
"Insya Allah, tidak lagi. Semua masalah aku sudah selesai dan mulai sekarang aku akan berusaha menghindari masalah-masalah besar karena aku ingin fokus jagain kamu." Satu tangan Rendra kini menggenggam erat tangan Zahra. "Nanti kamu bisa bantu urus pabrik teh dan perkebunan. Itu semua sekarang milik kamu."
Rendra tertawa mengingat dirinya dulu. Dulu dia memang suka menyamar menjadi orang yang tidak mampu karena dia bisa melihat bagaimana sikap asli seseorang padanya.
"Aku jadi ingat dulu, kamu menilai seseorang berdasarkan apa yang kamu lihat. Apa sekarang kamu sudah bisa menilaiku dengan benar?"
Zahra menegakkan dirinya lalu dia menatap Rendra. Kemudian dia pejamkan matanya. "Oke, sekarang aku sudah bisa menilai. Mas Rendra itu orang yang sangat baik."
Rendra tersenyum lalu dengan cepat dia mengecup singkat bibir Zahra.
Seketika Zahra membuka matanya dan mengalihkan pandangannya.
"Ada pak sopir, jangan aneh-aneh," bisik Zahra sambil mencubit lengan Rendra.
Rendra hanya terkekeh. Sopirnya masih fokus dengan jalanan, meskipun sopirnya melihatnya, itu hanya hal kecil yang dilakukan dengan singkat.
Beberapa saat kemudian mereka menghentikan mobil di depan rumah mewah Rendra.
Begitu juga mobil keluarga Zahra dan juga keluarga Rendra.
Syifa turun terlebih dahulu. Dia terperanga melihat rumah mewah berlantai tiga itu. "Wow, kayak istana."
Rendra menggandeng tangan Zahra dan mengajaknya masuk ke dalam rumahnya.
"Mari semua, masuk dulu. Silakan menginap semalam di sini, besok sekalian kita jalan-jalan ke perkebunan." kata Rendra.
Abah Husein dan Umi Laila memandangi seluruh penjuru rumah Rendra. Baru saja mereka memasuki rumah, enam ART Rendra sudah menyambut kedatangan mereka.
"Ya Allah Abi. Alhamdulillah, Zahra pasti bahagia tinggal di sini." Tanpa sadar Umi Laila meneteskan air mata harunya.
"Sudah seperti tinggal di istana." Syifa masih terkagum melihat mewahnya isi rumah Rendra.
"Paman Rendra..." Raffa, ponakan Rendra yang baru saja datang dengan kedua orang tuanya langsung berlari ke arah Rendra.
"Hai, Raffa. Masih ingat sama paman Rendra. Sekarang kamu sudah besar ya." Rendra menggendong Raffa yang sekarang sudah berumur 3,5 tahun itu.
"Gak nyangka rumah Kak Rendra semewah ini." kata Kevin sambil menggendong putri keduanya.
"Hasil keringat sedari muda." kata Rendra sambil mencubit pipi Rania yang terlihat menggemaskan. "Rania, cantik sekali. Dulu waktu aku tinggal masih umur sebulan."
Kevin hanya tertawa. "Hasil keringat sendiri? Belum keren kalau hasil keringatnya gak bisa bergerak kayak gini." kata Kevin sambil mencium pipi putrinya.
Seketika Rendra mengernyitkan dahinya. Begitu juga dengan Zahra.
Sedetik kemudian Rendra tertawa. "Astaga, adik ipar kurang ajar."
"Loh, emang bener." Kevin melanjutkan tawanya. "Kamar aku sama Alea dimana? Kalau bisa kita mau menginap tiga hari di sini mumpung aku lagi libur."
"Di kamar bawah aja, biar anak-anak gak bahaya kalau lari-lari." Rendra menyuruh pembantunya untuk mengantar adiknya.
"Zahra, kamu istirahat dulu. Di kamar aku yang ada di atas saja ya. Kuat naik tangga? Kalau gak kuat aku gendong?" tanya Rendra.
Zahra hanya tersenyum kecil dengan pipi yang merona. Bisa-bisanya Rendra bersikap semanis itu di depan keluarganya dan juga keluarga Rendra.
"Aku bisa sendiri, Mas."
💕💕💕
.
Like dan komen ya...