When Mafia Fall In Love

When Mafia Fall In Love
BAB 64



Malam hari itu, tiba-tiba saja Affan menangis dengan kencang saat tertidur. Zahra segera menggendongnya dan menenangkannya. "Affan kenapa, nak? Di sini ada ibu."


Tangis Affan tak juga mereda, bahkan saat Zahra menyodorkan ASI, Affan juga tidak mau. Perasaan Zahra menjadi tidak tenang. Apa sudah terjadi sesuatu dengan Rendra?


"Ya Allah, lindungilah Mas Rendra." Zahra menimang Affan yang masih menangis terisak.


"Affan kenapa, nak?" tanya Umi Laila yang mendengar tangisan Affan.


Zahra hanya menggelengkan kepalanya. Dia kini juga ikut menangis. Hatinya semakin gelisah memikirkan Rendra dan juga Azam.


"Tenangkan diri kamu. Ikatan batin anak dan orang tua itu sangat kuat." kata Umi Laila yang kini meraih Affan dan menimangnya.


Tapi Zahra semakin menangis. Dia sangat khawatir dengan suaminya. Sudah hampir tengah malam tapi tidak ada kabar juga.


"Zahra, yang sabar nak." Satu tangan Umi Laila kini memeluk Zahra.


Setelah lelah menangis akhirnya Affan tertidur. Zahra masih setia menunggu Rendra pulang. Dia kini sholat malam dan mendoakan keselamatan Rendra serta Azam.


Hingga subuh telah terlewat, Zahra masih belum memejamkan matanya.


Ponselnya kini berbunyi dengan keras. Satu hal yang sudah dinantikannya sejak semalam.


"Hallo nyonya, Tuan Rendra ada di rumah sakit. Kalau Nyonya mau menemui, Tuan Marko akan menjemput pagi ini."


"Di rumah sakit? Bagaimana keadaan Mas Rendra?"


"Tuan Rendra masih belum sadarkan diri pasca operasi pengambilan serpihan kaca yang masuk di kepalanya."


Zahra menutup bibirnya. Dia kini mematikan ponselnya dan duduk dengan lemas di tepi ranjangnya. Mengapa semua ini terjadi pada keluarga kecilnya?


"Aku gak boleh berlarut dengan kesedihan. Aku harus segera melihat kondisi Mas Rendra." Zahra bersiap diri untuk ke rumah sakit. Setelah menitipkan Affan yang masih tertidur pada uminya, dia keluar dari rumah. Terlihat Pak Marko sudah menunggunya di dekat mobil.


"Pa, bagaimana keadaan Mas Rendra?"


"Kita ke rumah sakit sekarang saja. Kamu lihat sendiri kondisinya, yang dia butuhkan sekarang adalah kehadiran kamu."


Akhirnya Zahra masuk ke dalam mobil dan duduk di jok belakang.


Ya Allah, apa kondisi Mas Rendra parah?


Sepanjang perjalanan, Zahra hanya terdiam sambil menatap jalanan pagi hari itu. Setelah sampai di rumah sakit, Zahra segera berjalan cepat menuju ruangan Rendra. Di depan ruangan Rendra ada dua penjaga yang membukakan pintu untuknya.


"Silakan nyonya."


"Ya Allah, Mas..." Zahra tak kuasa menahan air matanya. Dia kini duduk di dekat brangkar Rendra dan menggenggam tangannya. "Cepat sadar, Mas." Dia cium tangan Rendra dengan tangis yang semakin terisak. "Aku butuh Mas Rendra."


Beberapa saat kemudian, perlahan Rendra membuka matanya. Dia menatap Zahra yang sedang menangis terisak.


"Zahra, maaf aku gak bisa bawa pulang Azam."


Mendengar kalimat itu, seketika Zahra menatap Rendra. "Mas Rendra." Dia memeluk dada Rendra dengan tangis semakin pecah.


"Aku gak tahu dimana Azam berada. Aku gak bisa menemukannya. Aku gak tahu keadaan Azam bagaimana sekarang? Biasanya pagi-pagi seperti ini dia sudah tertawa ceria dan membangunkan kakaknya. Apa sekarang dia tersenyum ceria di sana?" Rendra menatap kosong dengan air mata yang terus mengalir dari matanya.


Zahra semakin menangis tersedu. Apa yang dirasakan Rendra sama dengan yang dirasakannya. Dia terus terbayang tawa ceria Azam. "Seandainya saja aku tidak meninggalkan Azam, pasti semua ini tidak terjadi."


Perlahan tangan kokoh Rendra memeluk dan mengusap punggung Zahra yang bergetar. "Ini bukan salah kamu, tapi aku. Seandainya saja aku tidak punya musuh, pasti tidak akan ada yang berusaha mencelakai kamu dan anak-anak."


Kini mereka sama-sama terdiam. Menyelami kesedihan yang mendalam kehilangan seorang anak. Tanpa tahu bagaimana nasibnya sekarang.


Rendra menghela napas panjang. "Kita harus ikhlas menerima ini semua, meskipun berat."


Zahra mengangguk pelan. Dia menegakkan dirinya dan menghapus air mata Rendra. "Dimanapun Azam berada, semoga dia selalu bahagia dan tersenyum ceria."


"Udah, kamu jangan nangis ya." Tangan Rendra juga terulur menghapus air mata Zahra. "Kamu semalam gak tidur?" tanya Rendra saat melihat lingkar hitam di kedua mata Zahra.


"Bagaimana aku bisa tidur kalau tidak ada kabar sama sekali dari Mas Rendra."


Rendra tersenyum kecil. "Beruntungnya aku, banyak yang mengkhawatirkanku. Semoga setelah ini, tidak ada lagi yang mengusik keluarga kita karena aku sudah menghancurkan mereka."


Zahra menganggukkan kepalanya. "Tapi, apa aku masih boleh berharap agar Azam kembali?"


"Tentu saja, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Ketika Allah sudah menghendaki maka terjadilah."


Zahra tersenyum dalam tangisnya. Lalu dia kembali memeluk Rendra. "Mas Rendra, cepat sembuh ya."


"Iya."


💕💕💕


.


Like dan komen ya...