
Rendra menghela napas panjang, berusaha menghilangkan keinginannya. Ini belum saatnya dia melakukannya, dia ingin menunggu Zahra benar-benar sehat dahulu. Dia tidak mau penyakit Zahra kambuh lagi.
"Kita tidur ya. Tapi kalau kamu gak nyaman tidur satu ranjang dengan aku, gak papa aku tidur di sofa saja."
"Gak papa, Mas. Tempatnya kan luas." Zahra naik ke atas ranjang lalu merebahkan dirinya.
Rendra berdiri sesaat untuk mematikan lampu lalu menyalakan lampu tidur yang temaram.
Dada Rendra kembali berdebar saat dia merebahkan dirinya di samping Zahra. Dia hela napas panjang lagi untuk menenangkan dirinya yang sangat nervous. Kemudian dia memiringkan tubuhnya dan menatap Zahra.
Zahra masih saja menatap langit-langit kamar Rendra.
"Kenapa? Gak bisa tidur?" tanya Rendra memastikan lagi.
Zahra kini juga memiringkan badannya dan menatap Rendra. "Aku masih gak nyangka aja, sekarang bisa tidur sama Mas Rendra."
Rendra tersenyum kecil. Satu tangannya kini meraih tubuh Zahra dan memeluknya. "Iya, sama. Ternyata ketika kita berdo'a dengan sungguh-sungguh, Allah pasti akan mengabulkan do'a kita. Aku sangat bersyukur, kamu bisa sembuh dari penyakit kamu."
Awalnya dada Zahra terasa sesak tapi semakin lama pelukan itu terasa semakin nyaman. Bahkan dia kini menyembunyikan wajahnya di dada bidang Rendra. Menghirup dalam aroma maskulin itu yang menenangkan jiwanya.
Rendra masih saja tersenyum kecil. Dia cium sesaat puncak kepala Zahra. Satu tangannya kini menarik selimut agar menutupi tubuh mereka berdua.
Beberapa saat kemudian napas Zahra sudah teratur karena usapan dan belaian lembut dari Rendra.
Justru Rendra yang kini tidak bisa tidur. Merasakan hangatnya tubuh Zahra, membuat pikirannya melayang jauh menembus angkasa.
Suatu hari nanti, aku pasti akan memiliki kamu seutuhnya.
...***...
Hari-hari berlalu terasa begitu cepat. Dua minggu sudah Zahra tinggal di rumah Rendra. Semakin hari kondisi Zahra semakin membaik. Berat badannya juga sudah bertambah.
Hampir setiap pagi Zahra dan Rendra berjalan-jalan di perkebunan teh. Beberapa karyawan yang sedang memetik daun teh selalu menyapa mereka berdua dengan ramah termasuk Bella yang selalu antusias menyambut kedatangan Zahra.
"Pagi Nona Zahra..." sapa Bella sambil berjalan mendekat.
"Hai, pagi Bella."
"Mulai bulan depan saya akan mulai sekolah di kota." ceritanya dengan wajah yang berbinar.
"Bagus dong, semangat ya. Semoga semua cita-cita kamu terwujud."
"Iya, amin. Saya ingin menjadi seorang Dokter seperti..." Bella menghentikan perkataannya saat melihat seseorang yang akan dia sebut kini berjalan mendekat. "Dokter Hendra." lanjut Bella saat Dokter Hendra menghentikan langkahnya di dekat Rendra dan Zahra.
"Hendra, kenapa gak bilang dulu kalau mau ke sini?" tanya Rendra.
"Kebetulan hari ini jadwal aku kosong jadi aku ke sini saja buat cek kesehatan Zahra." Dokter Hendra melihat wajah Zahra yang kian segar. "Sepertinya Zahra sudah benar-benar pulih sekarang."
"Iya, Alhamdulillah Dokter."
Sedangkan tak jauh dari mereka Bella masih nenatap kagum Dokter Hendra. "Dokter Hendra, periksa Bella juga dong?"
Seketika Dokter Hendra menoleh Bella. Dia mengernyitkan dahinya. "Kamu sakit apa?"
"Sesak napas, Dok."
"Sesak napas?"
"Iya, karena separuh napasku ada di Dokter."
Seketika tawa Rendra pecah, begitu juga dengan Zahra yang sedang menahan tawanya.
"Oo, kalau soal itu kamu jangan kebanyakan tidur, biar gak bermimpi!" Kemudian Dokter Hendra membalikkan badannya dan berjalan cepat keluar dari perkebunan.
Rendra masih saja tertawa. Dia gandeng tangan Zahra sambil berjalan mengikuti Dokter Hendra yang terdengar mendumel.
"Sekalian pulang kan."
"Ya udahlah." Dokter Hendra menghidupkan mesin mobilnya dan beberapa saat kemudian mobil itu melaju menuju rumah Rendra.
"Tuh di perkebunan aku ada karyawan muda. Sebenarnya Bella itu cantik kalau mau kamu modalin."
Dokter Hendra menghela napas panjang. "Bukan perkara itu. Umur dia berapa? Emang aku pedofil."
"Dia udah 16 tahun. Sekolahnya memang tersendat selama 1 tahun. Kamu kan masih 27 tahun. Selisih 11 tahun aja." terang Rendra sambil menahan tawanya.
"Astaga, dia masih bocil."
"Daripada kamu udah berumur tapi masih sendiri." Seperti itulah ketika dua sahabat bertemu, mereka selalu beradu argumen.
"Oke, oke, nanti kalau sampai umur 30 tahun aku masih sendiri, aku akan mencari Bella."
"Aminnn.." ucap Rendra dengan keras.
"Sial! Salah ngomong gue!" Dokter Hendra semakin menggerutu.
Beberapa saat kemudian, Dokter Hendra menghentikan mobilnya di depan rumah Rendra. Mereka bertiga kini turun dari mobil dan berjalan masuk.
"Aku periksa di ruang tengah saja. Zahra kamu duduk lalu minum dulu, agar detak jantung kamu stabil setelah beraktifitas di luar rumah."
Zahra menganggukkan kepalanya lalu duduk di sofa dengan nyaman. Sedangkan Rendra kini mengambil air putih lalu membantu Zahra minum.
"Kamu keringetan." Setelah Zahra selesai minum, Rendra mengambil tisu dan mengusap keringat di pelipis Zahra.
"Pantas pemulihannya cepat, perawatnya merawat dengan cinta."
Dokter Hendra mengambil tensimeter lalu mengukur tekanan darah Zahra.
"Tekanan darahnya sudah normal. 120 per 72." Kemudian Dokter Hendra mengecek kedua mata Zahra. "Masih sering pusing atau tidak?"
"Sudah tidak pernah," jawab Zahra.
"Bagus, hb sudah normal juga. Tetap minum vitamin setiap hari ya. Ini perkembangan yang sangat cepat." Setelah Dokter Hendra memeriksa keseluruhan kondisi Zahra, dia mengemasi kembali peralatannya. "Kebahagiaan itu memang obat paling ampuh untuk menyembuhkan penyakit."
"Zahra, sebentar ya." Tiba-tiba Rendra berdiri dan menarik tangan Dokter Hendra untuk mengajaknya mengobrol berdua.
"Mau tanya apa? Kalau mau program kehamilan, maaf salah tempat."
"Bukan soal itu. Aku aja belum coba buat."
Dokter Hendra terkejut mendengar pernyataan Rendra. "Hah? Serius?"
"Ya, aku takut kalau kondisi Zahra masih belum stabil. Tapi bener kan kondisi Zahra sekarang sudah pulih. Kalau aku lakuin nanti gak papa kan?" tanya Rendra lagi memastikan. Baru kali ini dia bertingkah kelewat polos.
Seketika Dokter Hendra tertawa. "Baru kali ini aku mendengar pertanyaan kamu yang terlalu polos."
"Jangan tertawa! Aku serius. Aku trauma lihat kondisi Zahra sebelumnya, makanya aku sangat hati-hati merawat Zahra."
"Oke, oke, untuk sekarang udah sangat gak papa asal kamu tahu waktu dan tahu durasi." Kemudian Dokter Hendra membuang napas kasar. "Pertanyaan kamu membuat otak aku kotor aja. Ya udahlah, aku mau makan dulu. Lapar. Good luck deh, meski setengah hati aku juga gak rela." Dokter Hendra menepuk bahu Rendra lalu dia berjalan menuju ruang makan dan pesan makanan ke pembantu Rendra layaknya sebuah restoran.
Rendra hanya tersenyum penuh arti. Sepertinya malam ini dia akan mendapatkan Zahra sepenuhnya.
💕💕💕
.
Like dan komen ya... 😁