When Mafia Fall In Love

When Mafia Fall In Love
BAB 59



"Kak Zahra..."


Langkah mereka berhenti saat mendengar panggilan itu. Zahra kini menatap Syifa dan Ustaz Ilham yang berjalan ke arahnya.


"Ya Allah Kak Zahra. Lama sekali gak bertemu." Syifa langsung memeluk Zahra untuk melepas rasa kangennya meski terhalang perut Zahra yang besar.


"Kak Zahra apa kabar? Ini sudah berapa bulan?" tanya Syifa sambil mengusap sesaat perut Zahra.


"Sudah tujuh bulan." jawan Zahra sambil tersenyum. Jujur saja, dia juga sangat merindukan Syifa.


"Masya Allah, tujuh bulan sudah sebesar ini."


Zahra menganggukkan kepalanya. "Iya, soalnya kembar."


"Kembar? Wah, selamat Kak Zahra. Jadi gak sabar mau lihat si kembar." Syifa tersenyum saat merasakan tendangan dari dalam perut Zahra.


"Kamu sedang apa di sini?" tanya Zahra pada Syifa.


Seketika Syifa menghentikan usapannya. Dia kini menatap Zahra. "Abi sakit keras dan sekarang di rawat di sini."


"Abi sakit?" Seketika lutut Zahra terasa melemas. Dengan sigap Rendra menuntun Zahra agar duduk di kursi tunggu.


"Iya. Sudah hampir satu tahun ini abi sering sakit dan dua hari ini kondisi abi semakin menurun." cerita Syifa. Dia kini duduk di sebelah Zahra. "Kak, tolong Kak Zahra temui abi ya."


"Tapi abi..."


"Iya, aku tahu abi sangat keterlaluan pada Kak Zahra, tapi aku tahu sebenarnya abi sangat merindukan Kak Zahra. Sepertinya abi sangat ingin menemui Kak Zahra tapi gengsi."


Zahra kini menatap Rendra untuk meminta pendapatnya.


Rendra menganggukkan kepalanya pertanda Zahra boleh menemui Abah Husein.


Kemudian Zahra berdiri dan mengikuti Syifa menuju ruang rawat Abah Husein yang berada di lantai dua.


Setelah sampai di depan ruangan itu, mereka semua masuk ke dalam. Pandangan Zahra kini tertuju pada abi yang sedang terbaring lemah di atas brangkar dan juga umi yang setia menemaninya.


"Assalamu'alaikum."


Mendengar suara itu seketika Umi Laila menoleh. Dia tersenyum dengan air mata yang berurai. "Wa'alaikumsalam. Ya Allah Zahra." Umi Laila berdiri dan segera memeluk Zahra. "Zahra apa kabar?"


"Alhamdulillah baik."


Umi Laila meregangkan pelukannya lalu mengusap perut Zahra. "Sudah berapa bulan, nak? Sampai perut kamu sebesar ini umi gak tahu."


"Tujuh bulan dan cucu umi kembar."


"Alhamdulillah." Umi Laila masih mengusap perut Zahra. "Semoga lancar sampai persalinan ya."


"Iya, amin umi." Pandangan mata Zahra kini tertuju pada Abah Husein yang sedang menatapnya nanar.


"Zahra..." panggilnya dengan suara yang lemah.


Zahra berjalan mendekat. "Abi." Zahra mencium punggung tangan Abinya.


"Zahra, maafkan semua kesalahan abi."


"Abi, Zahra sudah memaafkan abi."


"Abi sudah terlalu sering menyakiti hati kamu."


Zahra menggelengkan kepalanya. "Semua sudah berlalu, Zahra sudah melupakannya."


"Selamat ya, abi akan mendapatkan cucu lagi."


Zahra menganggukkan kepalanya. "Dua cucu buat abi."


"Masya Allah." Air mata Abah Husein semakin deras mengalir di pipinya. Sudah hampir dua tahun dia menahan rasa rindunya pada Zahra. Tapi egonya terlalu tinggi hingga untuk menemui Zahra saja Abah Husein enggan.


"Semoga abi lekas sembuh."


"Iya, abi akan semangat berobat. Abi masih ingin melihat cucu-cucu abi lahir."


"Begitulah Zahra, abi kamu beberapa bulan ini tidak mau minum obat. Dia sangat merindukan kamu tapi umi suruh menemui kamu, abi tidak mau. Egonya terlalu tinggi. Umi sampai capek tiap hari harus maksa-maksa abi makan dan minum obat." cerita Umi Laila.


Abah Husein hanya tersenyum kecil saat Zahra melepas pelukannya. "Iya, ego abi memang terlalu tinggi. Abi sangat merindukan kamu, Zahra."


"Zahra juga sangat rindu dengan umi dan abi. Maaf, Zahra tidak pernah ke rumah karena Zahra takut abi marah dan merasa terganggu dengan kedatangan Zahra."


Tangan Abah Husein kembali mengusap perut Zahra. "Iya, abi yang salah. Abi terlalu sering menyakiti hati kamu. Nak Rendra, terima kasih sudah selalu menjaga Zahra. Selama ini abi tidak bisa menjadi orang tua yang sempurna untuk Zahra."


Rendra hanya tersenyum. Dari tatapan Abah Husein pada Zahra, dia bisa melihat Abah Husein sangat merindukan Zahra. Syukurlah, jika memang Abah Husein telah berubah.


"Abi dengar kalian mendirikan pondok pesantren dan madrasah?"


Zahra menganggukkan kepalanya. "Iya abi. Alhamdulillah ini berkat Mas Rendra dan keluarganya."


"Nak Rendra, abi benar-benar minta maaf sama kamu. Selama ini abi salah menilai kamu. Kamu lelaki yang baik. Kamu lelaki sempurna yang pantas mendampingi Zahra."


Rendra hanya tersenyum. "Abah, saya belum sempurna. Saya masih butuh banyak belajar. Kehidupan saya yang sekarang juga berkat Zahra."


"Abi nanti berkunjung ke pondok ya. Mungkin saja abi mau menyempurnakan kurikulum yang Zahra buat." kata Zahra.


"Kamu sendiri yang mengelola pondok itu nak?"


"Alhamdulillah, dibantu teman-teman kuliah Zahra. Kyai Haji Rahman yang selalu memberi wejangan, serta ustaz dan ustazah yang mengajar juga banyak membantu."


"Kamu hebat nak. Kamu benar-benar putri Muhammad Ali. Kamulah pemilik pondok pesantren Al-Jannah sebenarnya."


Seketika Zahra terkejut. Dia saling tatap dengan Rendra.


"Pondok Pesantren itu sebenarnya milik Ayah kamu. Nanti jika abi sudah tiada, kamu urus bersama Rendra ya. Pasti pondok pesantren itu akan semakin berjaya di tangan kalian." kata Abah Husein lagi.


Zahra menggelengkan kepalanya. "Abi, biar Syifa dan Ustaz Ilham saja yang mengurus pondok itu."


"Tidak. Pondok pesantren itu milik kamu. Syifa dan Ilham sudah memiliki yayasan sendiri. Abi sudah sering sakit-sakitan. Untuk sementara kepengurusan abi serahkan pada Anaz. Jika kalian ada waktu, kalian cek ke sana ya."


Zahra tidak bisa berkata apa-apa lagi. Semua yang diberikan Allah padanya lebih dari cukup.


Rendra kini duduk di sofa. Dia biarkan Zahra melepas rindu dengan umi dan abinya.


Tiba-tiba saja Ustaz Ilham mengulurkan tangannya pada Rendra.


Rendra menatapnya bingung tapi kemudian dia membalas jabatan tangan itu.


"Selamat, atas kesuksesan yang telah kamu raih. Pertama melihat kamu, aku sudah yakin kamu memang yang terbaik buat Zahra."


Rendra hanya tersenyum kecil. Jika dia mengingat masa lalunya, betapa bodohnya dia menyuruh Ustaz Ilham menikahi Zahra.


"Sudah ada berapa kelas di madrasah kamu?" tanya Ustaz Ilham sambil melepaskan tangannya.


"Sembilan kelas. Madrasah diniyah dan madrasah tsanawiyah. Masih itu, untuk madrasah aliyah masih dalam tahap penyusunan kurikulum dan pengajuan izin."


"Hebat! Belum ada satu tahun sudah berkembang pesat."


"Ini juga berkat kerjasama semua pengurus." Rendra selalu merendah dengan hasil kinerjanya.


"Jika pengurus kompak, itu tandanya pemimpinnya sangat bijaksana."


"Tidak ada pemimpin di pondok pesantren itu. Semua sama. Semua memiliki tujuan yang sama, kesuksesan yang didapat berkat kerjasama kita semua." Begitulah Rendra, dia tidak pernah menyombongkan dirinya sendiri. Dia selalu menyebut semua yang dikelolanya itu milik bersama.


💕💕💕


.


.


👩: Tapi tetap saja Rendra, kalau butuh tanda tangan pengesahan harus cari kamu, di kertasnya tertulis nama pimpinan, Rendra Permana. 😏


.


Like dan komen ya...