
"Yayah," Affan tersenyum dengan ceria saat dia masuk ke dalam ruang rawat Rendra. Dia mengulurkan kedua tangannya ingin ikut dengan Ayahnya.
"Affan, sini sayang. Ayah kangen sama kamu." Perlahan Rendra duduk dan bersandar. Dia merentangkan tangan pada Affan.
Affan tersenyum saat diturunkan oleh Zahra di samping Rendra. Kemudian Rendra meraih tubuh Affan dan memangkunya.
"Mas, biarkan Affan duduk sendiri. Mas Rendra masih sakit."
"Sayang, aku sudah gak papa. Besok aku juga sudah boleh pulang. Aku kangen banget sama Affan." Rendra menciumi kedua pipi Affan.
"Yayah." panggil Affan. "Dedek."
Rendra tersenyum lalu mendekap Affan. "Kita doakan semoga dedek Azam bahagia ya sayang."
"Dedek mana."
Air mata Rendra sudah terbendung di pelupuk matanya. Biasanya mereka memang selalu bermain bersama, tidur bersama, tidur bersama, melakukan semua aktifitas bersama. Pasti Affan merasa kesepian tanpa adanya Azam.
Zahra mengusap bahu Rendra. Dia tahu hati Rendra masih sangat rapuh setelah kejadian ini, sama halnya seperti dirinya. "Affan, tadi kan ada Kak Zizah."
"Dedek. Dedek." Affan menggelengkan kepalanya pertanda jika dia tidak mau bermain dengan Azizah, putri pertama Syifa.
Rendra kembali menciumi pipi Affan. "Doakan adek Azam selamat ya. Semoga suatu saat nanti kita bisa bersama lagi."
Zahra menghela napas panjang. Rasanya sangat sedih menerima kenyataan ini.
"Sayang, bagaimana pondok. Apa sudah mulai berjalan proses mengajarnya?"
Zahra menggelengkan kepalanya. "Sebagian orang tua masih belum mengizinkan anaknya belajar di pondok. Mereka takut ada bom susulan."
"Ya sudah, biarkan saja. Yang penting kita sudah memastikan kawasan pondok telah aman. Puing-puing sisa kebakaran juga sudah dibersihkan. Nanti di tempat itu aku akan buat taman untuk mengenang Azam."
Rendra menatap putranya yang sedang memainkan kancing bajunya. Dia usap rambut tebal Affan. "Aku gak akan menyerah mencari Azam. Aku yakin Azam masih hidup."
Zahra menganggukkan kepalanya. Dia kini duduk dan mengajak Affan bermain.
"Rasanya udah gak sabar mau cepat tidur di rumah. Gak enak banget tidur tanpa pelukan kamu."
"Ih, udah bisa gombal."
Rendra tertawa kecil. Dia berusaha menghibur dirinya sendiri dan juga Zahra. Dia harus bisa melawan rasa sedih itu. Hidup terus berlanjut, tidak berhenti di satu sisi saja.
...***...
Hidup memang tak mudah untuk dijalani. Saat Rendra sudah berada di jalan yang benar, ada saja masalah dan cobaan yang menghampiri. Dia sudah kehilangan seorang anak, bahkan kini dia hampir kehilangan kepercayaan di mata masyarakat. Identitas mantan mafia Rendra terbongkar. Beberapa santri ditarik mundur oleh orang tuanya meskipun pembelajaran di pondok pesantren itu gratis.
"Kita harus berjuang lagi, membangun kepercayaan mereka." Rendra menghela napas panjang sambil duduk di meja kerjanya dan menatap laptop untuk memeriksa laporan keuangannya di pabrik tehnya.
Setelah sebulan berlalu, luka di kepala Rendra sudah sembuh. Rambut yang tadinya dicukur bersih juga sudah mulai tumbuh.
"Sabar Mas." Zahra duduk di sebelah Rendra setelah meletakkan secangkir teh hangat di dekat laptopnya.
"Untuk sementara pondok pesantren Al-Jannah biar diurus oleh Ustaz Ilham. Biar tidak ada campur tangan aku. Aku takut pondok pesantren itu ikut terdampak seperti di sini."
Zahra menganggukkan kepalanya lalu dia memeluk Rendra dari samping dan menyandarkan kepalanya di bahu Rendra.
"Aku sebenarnya curiga dengan Mbak Rima. Sepertinya selama ini, dia adalah mata-mata."
Seketika Zahra mendongak. "Kemarin waktu ke rumahnya, keluarganya bilang apa?"
"Aku tidak menemui siapa-siapa di alamat itu. Itu hanya rumah yang dikontrakkan. Pemilik asli rumah itu tidak tahu apa-apa"
Rendra menarik napas panjang lalu menghembuskannya. "Begitulah. Kita tidak tahu sifat seseorang yang sebenarnya. Ini bisa kita jadikan pelajaran. Di kemudian hari, kita tidak perlu pengasuh lagi untuk merawat anak-anak kita."
Zahra menganggukkan kepalanya.
Rendra mengambil secangkir teh itu lalu meneguknya hingga habis. Setelah itu, dia mematikan layar laptopnya.
Dia memutar tubuhnya dan menatap Zahra. "Makasih, sudah selalu setia menemaniku di saat suka dan duka. Bisa menerimaku apa adanya yang mempunyai banyak musuh dimana-mana." Satu kecupan hangat mendarat di kening Zahra.
Zahra mengangguk pelan. "Sama-sama Mas. Mas Rendra adalah suami dan Ayah yang terbaik."
Mereka saling menatap lalu menghela napas panjang.
"Dimanapun Azam berada, semoga dia selalu bahagia dan tidak kekurangan apapun." Sangat berat bagi Rendra untuk menerima keadaan ini. Dia sudah mencari kemana-mana tapi dia tidak menemukan jeka Azam.
Zahra menganggukkan kepalanya lalu memeluk Rendra. "Mas, aku sampai lupa mau bilang sesuatu."
"Apa?" tanya Rendra sambil mengusap rambut Zahra.
"Aku sudah terlambat dua bulan lebih. Aku baru ingat tadi waktu lihat kalender."
Seketika Rendra melepaskan pelukannya dan menyentuh perut Zahra. "Kamu hamil?"
"Belum tahu Mas. Belum cek. Aku juga tidak merasa pusing ataupun mual."
Rendra melepaskan pelukannya lalu menghubungi anak buahnya. "Kamu beli alat tes kehamilan, lima biji dari merk yang berbeda." perintahnya. Dia bertindak sangat cepat.
Seketika Zahra mencubit pinggang Rendra. "Mas, kok nyuruh anak buah sih. Malu, beli gituan." Zahra memanyunkan bibirnya sambil melipat tangannya. Bisa-bisanya Rendra menyuruh anak buahnya untuk membeli tespek.
"Kenapa malu? Kelamaan kalau nunggu besok. Aku sudah penasaran, kemarin rencana aku masih nunggu dua tahun ternyata Allah akan kasih kita secepat ini."
Zahra kini menundukkan pandangannya. "Jika memang aku hamil, Alhamdulillah, Allah kasih rezeki secepat ini. Tapi tetap saja, Azam tidak akan tergantikan di hati ini."
Rendra kembali meraih tubuh Zahra dan memeluknya dengan erat. "Iya sayang. Kamu benar."
Beberapa saat kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Rendra segera membuka pintu itu dan mengambil alat tes kehamilan yang sudah dibeli oleh anak buahnya.
Setelah Rendra menutup pintu kamarnya, dia memberikan alat tes itu pada Zahra. "Coba kamu tes. Aku sudah gak sabar mau lihat hasilnya."
"Sekarang Mas? Tapi yang paling akurat dilakukan tes pada pagi hari." kata Zahra sambil mengambil lima alat tes itu. "Ini satu aja udah akurat Mas kalau memang hamil."
"Iya, dicoba saja sayang. Aku sudah penasaran, daripada aku gak bisa tidur semalaman, mending coba tes sekarang. Kalau memang hasilnya samar bisa diulangi besok pagi."
Akhirnya Zahra menuruti kemauan Rendra. Dia masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan tes itu.
Rendra sudah tidak sabar menunggu hasilnya. Hanya beberapa menit menunggu saja rasanya sangat lama.
Setelah Zahra keluar dari kamar mandi, Rendra segera menghampirinya.
"Sayang, gimana hasilnya?" tanya Rendra dengan antusias.
Zahra hanya terdiam sambil menggenggam alat tes itu.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...