
"Papa, aku ada rumah. Papa ke sini sekarang! Ada masalah penting yang ingin aku bicarakan!" Setelah itu Rendra mematikan panggilan suaranya.
Dia bersandar di sisi mobil itu. Bagaimana perasaan Zahra jika dia tahu bahwa Papanya lah yang menabrak Ayah kandungnya?
Ya Allah, baru saja masalah selesai. Mengapa ada masalah baru lagi yang muncul. Aku tidak mau Zahra membenciku lagi.
Beberapa saat kemudian, Papanya kembali menghubunginya. Rendra segera mengangkat panggilan suara itu. "Aku ada di gudang belakang."
Terdengar suara langkah kaki yang semakin dekat. Kini Pak Marko tengah berdiri di ambang pintu gudang yang lebar itu sambil menatap putranya. Kemudian dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam gudang dan berhenti di dekat Rendra.
"Ada apa? Kenapa kamu ada di sini?" Tatapan mata Pak Marko kini beralih pada mobil sedan miliknya yang telah dibuka Rendra. "Kenapa kamu buka mobil ini?"
Rendra berdiri dan menatap tajam Papanya. "Papa jujur sama aku, apa Papa pernah menabrak seseorang dengan mobil ini?"
Pak Marko terdiam beberapa saat. Dia mengalihkan pandangannya lalu menyentuh mobil yang sudah 25 tahun dia biarkan di gudang itu.
"Jawab, Pa!" teriak Rendra lagi.
"Kenapa kamu tiba-tiba tanya soal itu?"
Rendra membuang napas kasar. Dia kepalkan tangannya dan memukul depan mobil itu. "Apa Papa tahu, siapa yang Papa tabrak waktu itu!"
Pak Marko hanya terdiam. Kejadian 25 tahun itu sangat memilukan saat dia ingat. Tepat di hari itu dia juga kehilangan semuanya.
"Dia Ayah kandungnya Zahra, Pa!" kata Rendra dengan keras.
Bagai disambar petir saat Rendra mengungkap fakta yang sebenarnya. Pak Marko kini menatap Rendra dan memegang kedua lengannya. "Mana mungkin? Darimana kamu tahu semua ini?"
"Mobil ini terekam kamera cctv. Jadi benar, Papa telah menabrak seseorang waktu itu dengan mobil ini?" tanya Rendra sekali lagi.
"Iya, waktu itu Papa memang tanpa sengaja menabrak seseorang." Pak Marko akhirnya mengakui kesalahannya di depan Rendra. Selama 25 tahun masalah itu terkubur dan kini justru diungkap oleh Rendra.
Rendra melepas kedua tangan Papanya. Dia kini membalikkan badannya. "Kenapa Papa tidak menolongnya waktu itu dan justru langsung menutup kasus itu?"
Pak Marko menghela napas panjang. Dia tidak menyangka peristiwa yang telah seperempat abad berlalu justru terungkap sekarang.
"Jawab! Kenapa Pa?" Rendra semakin mengeraskan suaranya.
Pak Marko beringsut duduk di lantai dan bersandar di sisi mobil. Dia mengingat kenangan yang sangat menyedihkan itu lagi. Ingatannya kini terlempar ke 25 tahun yang lalu, satu masa yang membuatnya kehilangan dua orang yang sangat dia sayangi.
"Waktu itu adalah hari dimana Papa kehilangan Ibu kamu dan Lea."
Mendengar hal itu seketika Rendra memutar tubuhnya.
"Saat itu awal terpecah belahnya Elang Hitam. Saat Papa mendengar bahwa rumah Papa yang berada di dekat markas terbakar, Papa sangat panik. Papa melajukan mobil dengan kencang di jalan dan peristiwa nahas itu pun terjadi. Papa gak bisa berhenti. Papa harus segera menolong kamu, Mama kamu, dan adik kamu. Papa berada di posisi yang sangat sulit untuk memilih. Jelas, Papa lebih memilih keluarga Papa."
Pak Marko menghela napas panjang dengan mata yang kian memerah. "Tapi saat Papa sudah sampai di rumah, seluruh rumah Papa sudah hangus terbakar, bahkan semua sudah luluh lantah dengan tanah. Mereka bukan hanya membakar rumah kita dan markas, tapi juga mengebomnya. Saat itu, hanya ada kamu yang sedang digendong pengasuh dan selamat. Sedangkan Mama kamu dan Alea menghilang, dan baru kita temukan tiga tahun yang lalu."
Rendra beringsut duduk di sebelah Papanya. "Tapi mengapa kasus tabrak lari itu Papa tutup?"
Mereka kini sama-sama terdiam. Rendra bisa memahami bagaimana rumitnya kondisi Papa saat itu.
"Maafkan Papa Ren. Papa tahu Papa salah, dan Papa tidak menyangka masalah Papa berdampak pada kamu sekarang."
Rendra kini beralih menatap Papanya. "Jika Papa harus mempertanggung jawabkan kasus itu sekarang? Apa Papa mau?"
Pak Marko menghela napas panjang. "Iya, Papa akan bertanggung jawab jika keluarga Zahra memang masih ingin menuntut Papa. Biarkan Papa dipenjara. Papa tidak akan melakukan pembelaan."
Seketika Rendra berdiri. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia keluar dari gudang itu dan masuk ke dalam mobilnya.
Dia tarik napas panjang untuk menenangkan dirinya. Dadanya terasa sesak memikirkan semua masalah ini. Belum lagi jawaban Ayahnya yang sangat memilukan hatinya.
Beberapa saat kemudian, dia melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah Zahra. Saat itu sudah pukul 10 malam, kemungkinan sampai di rumah Zahra nanti pukul 12 malam.
Ini adalah sebuah pilihan yang sulit bagi Rendra. Apakah dia harus berpura-pura tidak tahu demi membela Papanya, atau dia harus jujur dan membiarkan Papanya masuk penjara?
Setelah mengebut di jalanan yang sepi itu, tepat jam 12 malam, Rendra sampai di depan rumah Zahra. Dia turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah. Kebetulan tadi sebelum keluar, Zahra sudah memberikan kunci cadangan agar Rendra tidak perlu membangunkan orang rumah.
Setelah dia masuk ke dalam kamar, terlihat Zahra sudah tertidur. Piyama tidurnya juga sudah siap di ujung ranjang. Di atas nakas sudah ada termos kecil dan juga gelas.
Seketika matanya kembali memanas, dadanya terasa sesak saat mengingat ternyata Papanya lah yang merenggut kebahagiaan Zahra. Harusnya Zahra masih bisa mendapatkan kasih sayang dari seorang Ayah, tidak seperti ini.
Rendra masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh dirinya dan menghilangkan pikiran kalutnya. Setelah selesai, dia keluar dan memakai piyamanya. Dia duduk di tepi ranjang dan membuka termos kecil itu yang sudah berisi minuman hangat.
Rendra masih saja menatap Zahra yang telah tertidur lelap. Setelah menghabiskan minumannya, Rendra naik ke atas ranjang lalu memeluk tubuh Zahra dengan erat.
"Hemm, Mas, sudah pulang?" Zahra sedikit membuka matanya menatap Rendra.
Rendra hanya menganggukkan kepalanya. "Kamu tidur lagi ya. Maaf aku ganggu tidur kamu." Rendra memejamkan matanya dan menyembunyikan wajahnya di bahu Zahra.
"Mas kenapa?" tanya Zahra karena merasakan dada Rendra bergetar.
Rendra hanya menggeleng pelan. "Aku capek."
Zahra membiarkan Rendra semakin menempel di lehernya. Dia usap rambut Rendra, meski sebenarnya Zahra merasa pasti ada sebuah masalah yang mengganjal pikiran Rendra.
"Zahra, apa kamu membenci seseorang yang telah membuat Ayah kandung kamu meninggal?" tanya Rendra tiba-tiba.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
.
Sedikit cerita pengeboman di masa lalu juga sudah ada di novel Alea ya waktu itu saat pertama kali Rendra menemukan Alea. 😁 Dan begini versi lengkapnya. 😌