
Kedua mata Rendra memerah. Dia kepalkan tangannya dan memukul tanah. "Elang Hitam, aku pastikan kehancuran kalian semua!!!"
"Semua harap keluar dari pondok pesantren, kita akan menyisir seluruh tempat ini." teriak Pak Marko.
Semua orang keluar dari pondok pesantren.
"Zahra, ayo kita keluar." ajak Umi Laila.
Zahra menatap nanar Affan yang ada di gendongan umi. Dia meraih dan menggendongnya. Dia ciumi pipi Affan sambil menangis.
"Maafkan ibu. Ibu tidak bisa menjaga Azam."
Rendra meraih tubuh Zahra dan kembali memeluknya. "Zahra, kamu pulang sekarang sama Affan dan umi."
"Tapi Mas Rendra."
"Aku akan urus masalah ini."
"Tapi Mas..." Zahra menatap nanar wajah Rendra yang penuh dengan amarah.
Rendra hanya mengusap puncak kepala Zahra lalu dia membalikkan badannya dan ikut masuk bersama petugas pemadam kebakaran yang telah berhasil memadamkan api.
"Zahra, ayo pulang dulu. Kita tunggu kabar di rumah saja." ajak Umi Laila sambil menggandeng lengan Zahra agar mau keluar dari pondok. Beberapa anak buah Rendra mengawal mereka sampai rumah.
Rendra menutup hidungnya karena asap masih mengepul.
"Pak, pakai helm dulu."
Kemudian Rendra mengambil helm yang diberikan salah satu petugas pemadam kebakaran agar kepalanya tidak tertimpa jika ada sisa bangunan yang jatuh. Mereka juga mendatangkan tim penjinak bom karena insiden itu diduga karena ledakan bom.
Hati Rendra sangat hancur saat melihat kondisi play ground yang kini sudah hangus terbakar. Biasanya si kembar berlarian dan bermain dengan riang di tempat. Kini hanya tinggal kenangan.
Mereka membongkar puing-puing bangunan itu tapi sama sekali tidak ada korban di dalamnya.
"Ren, bagaimana?" tanya Pak Marko saat melihat Rendra berdiri mematung di dekat bangunan yang sudah rata dengan tanah.
Rendra mengusap wajahnya yang berpeluh. "Azam dan pengasuhnya tidak ada di dalam. Kalau memang mereka terbakar harusnya mayatnya masih tersisa." Dia kini duduk di atas tanah sambil melihat polisi yang memasang police line.
Para petugas masih menyisir tempat itu.
"Pak, kita menemukan kerangka bom waktu uang sudah meledak "
Mendengar hal itu seketika Rendra berdiri. Benar saja, kebakaran itu terjadi karena bom.
Rendra mengepalkan tangannya. Siapa lagi yang melakukan ini semua selain Elang Hitam.
"Pa, kumpulkan semua anak buah Papa dan Kevin juga. Aku akan menghancurkan markas Elang Hitam sekarang juga!" kata Rendra pada Papanya.
"Rendra, apa tidak sebaiknya kita cari tahu dulu."
Rendra menggelengkan kepalanya. "Aku yakin, semua ini ulah mereka. Jika Azam tidak ada di ruangan ini, mereka pasti sudah menculiknya."
Kemudian Rendra pulang ke rumah untuk berganti baju dan mengambil senjatanya.
Baru saja Rendra memasuki pintu rumah, Zahra sudah menyambutnya. "Mas, bagaimana? Azam sudah ditemukan?" tanya Zahra sambil mengikuti langkah Rendra masuk ke dalam kamarnya.
"Tidak ada korban di dalam sana."
"Lalu Azam?"
Rendra kini menatap Zahra dan memeluknya. "Aku akan mencarinya. Kamu tenang saja." Hanya sesaat kemudian Rendra melepas pelukannya. Dia mengganti baju kokonya dengan t-shirt dan memakai jaket kulit hitamnya.
Dia ambil senjatanya yang sudah lama tidak dia sentuh. Dia cek peluru yang ada di dalamnya.
Zahra melebarkan matanya melihat Rendra yang sedang menyiapkan amunisi. "Mas Rendra mau ngapain? Mas kan udah janji gak main tembak lagi."
Satu tangan Rendra mengusap pipi Zahra. "Demi anak kita."
"Kamu tenang saja. Aku tidak akan kenapa-napa." Rendra melangkahkan kakinya menuju pintu.
"Mas," Zahra menatap nanar punggung Rendra. Dia sangat khawatir jika terjadi apa-apa juga dengan Rendra.
Rendra menghentikan langkahnya lalu dia kembali dan memeluk Zahra. "Jangan bersedih. Doakan semua baik-baik saja, dan aku bisa membawa Azam kembali."
Zahra mengeratkan pelukannya lalu dia mencium pipi Rendra. "Aku menunggu di rumah."
Satu ciuman hangat mendarat di bibir Zahra lalu Rendra melepas pelukannya dan pergi meninggalkan Zahra.
"Ya Allah lindungilah Mas Rendra dan anak hamba."
...***...
Sudah bertahun-tahun dia tidak pernah menyerang dan memegang senjata. Kini Rendra berada di barisan terdepan dengan puluhan anak buah terhebat miliknya dan juga Kevin. Anak buahnya juga sudah tersebar di area markas Elang Hitam.
Tanpa rasa takut sedikit pun Rendra masuk ke dalam markas itu. Beberapa anak buah Elang Hitam yang menghentikan langkahnya sudah dia hajar. Beberapa sisi markas juga sudah mereka bakar. Dia melakukan penyerangan secara besar-besaran. Dia pastikan Elang Hitam akan musnah hari itu juga.
Dia kini berhadapan dengan Arsen. Adik kandung Alex yang sepertinya lebih kejam daripada Alex.
"Jadi kamu yang namanya Rendra." Arsen tersenyum licik. Ini memang pertemuan pertama mereka berdua.
Mata elang Rendra menatap tajam Arsen. "Lepaskan anak aku!"
"Anak yang mana? Aku gak tahu anak kamu."
Rendra melangkah maju dan bersiap menembak. "Aku tahu permainan kamu paling licik daripada saudara kamu yang lainnya."
Arsen tak gentar. Dengan gerak cepat dia mengambil pistolnya dan menembak Rendra.
Untunglah Rendra berhasil mengelak dengan cepat. Lalu dia tendang tangan Arsen hingga pistol itu terlempar dari tangannya.
"Kembalikan anak aku sekarang juga!!" Rendra menyergap krah Arsen tapi Arsen menepis tangan Rendra dan mendorongnya dengan kuat.
Arsen kini melihat hampir seluruh sisi markasnya dibakar oleh anak buah Rendra. "Kamu mau tahu dimana anak kamu! Anak kamu sudah hangus terbakar dan sekarang giliran kamu!"
"Gak ada mayat di lokasi itu! Cepat kamu serahkan anak aku!" Rendra menendang dan menghajar Arsen habis-habisan hingga dia jatuh terkapar. Kini Rendra mengarahkan pistolnya tepat di kepala Arsen.
Kalau aku membunuh Arsen sekarang, apa anak aku akan kembali?
Rendra terlalu lama berpikir.
Merasa ada celah, Arsen mengambil botol minuman yang ada di dekatnya dan memukul kepala Rendra hingga ujung botol itu pecah. Kemudian dia menendang tubuh Rendra sampai dia terkapar di lantai.
Arsen tersenyum miring. "Aku tahu kamu udah gak mau membunuh orang lagi jadi biar aku yang akan membunuh kamu! Agar dendam keluarga aku terbayar sudah." Arsen semakin mendekat dengan membawa sisa pecahan botol, dia bersiap menusuk perut Rendra.
Rendra mengepalkan tangannya. Di sisa tenaganya yang terakhir, dia harus bisa menghabisi Arsen. Dia tendang Arsen lalu dia ambil pistolnya dan menembaknya.
"Semua keluar dari markas!!" Perintah Rendra lewat handy talky nya. Dia kembali menendang tubuh Arsen lalu dia lempar bom yang sudah siap meledak.
Rendra berlari keluar dari markas itu sedetik sebelum bom meledak.
"Azam, maafkan Ayah nak. Ayah tidak bisa menemukan Azam. Dimanapun Azam berada, semoga Azam baik-baik saja dan selalu dalam lindungan-Nya. Jika memang Azam sudah tiada, semoga Azam tenang di sisi-Nya."
Air mata Rendra mengalir dengan deras yang bercampur dengan darah dari kepalanya. Pandangannya kini mulai kabur dan tubuhnya terasa lemas. Rendra terjatuh dan tak sadarkan diri.
"Tuan Rendra!!"
💕💕💕
.
Like dan komen ya...