When Mafia Fall In Love

When Mafia Fall In Love
BAB 50



"Kamu capek gak?" tanya Rendra karena sedari tadi tamu yang bersalaman begitu banyak.


Zahra hanya menggelengkan kepalanya. Dia terlalu bahagia, hingga rasa capek itu tidak terasa.


Kemudian Rendra mengulurkan tangannya, "Maukah kamu berdansa denganku?"


Zahra hanya menatap tangan Rendra. Wajahnya tersipu malu. Tapi beberapa detik kemudian dia meraih tangan itu dan menganggukkan kepalanya.


Mereka maju beberapa langkah di tengah pelaminan dengan diiringi suara biola secara life.


Tapi suasana tiba-tiba riuh saat sebuah layar besar yang seharusnya menampilkan beberapa foto kenangan Rendra dan Zahra, justru menunjukkan sebuah foto yang telah tersembunyi bertahun-tahun.


Ada foto Rendra saat masih balita yang duduk di atas mobil bersama Papanya. Plat mobil itu semakin diperbesar. Lalu foto mobil Pak Marko yang tertangkap kamera cctv dan menabrak motor Ayah kandung Zahra dengan dibubuhi kata, "Pembunuh!"


Seketika Zahra dan Rendra melepaskan tautan tangannya. "Foto ini? Siapa yang mengambil?" Rendra turun dari pelaminan tapi Abah Husein menahannya.


"Bukankah itu mobil yang menabrak Ayahnya Zahra?" tanya Abah Husein


Jantung Rendra berdetak tak karuan. Dia harus menjawab apa? Mengapa masalah ini terungkap di saat seperti ini. Pasti selama ini ada yang memata-matainya.


"Kamu sudah tahu yang sebenarnya? Kamu sengaja menyembunyikan mobil itu?" Abah Husein mulai marah. Dia jelas tidak terima dengan kematian adik kandungnya itu.


"Pak Husein." Pak Marko berjalan mendekat.


Rendra menoleh Papanya. "Papa," Rendra menahan langkah Papanya tapi Pak Marko tetap bersikeras mendekati mereka.


"Ini bukan salah Rendra tapi salah saya. Iya, saya yang menabrak Ayahnya Zahra."


Bagaikan sebuah bom yang baru saja meledak. Seluruh keluarga Zahra sangat terkejut.


"Harusnya Anda dipenjara. Mengapa Anda kabur dan tidak mau bertanggung jawab!"


Pak Marko tidak memberi alasan yang sebenarnya. Dia juga sudah berjanji tidak akan melakukan pembelaan apapun. "Iya, saya akan menerima hukumannya sekarang."


"Sekarang? Semua sudah terlambat! Sejak awal saya sudah tidak yakin dengan keluarga Anda dan semua baru terungkap bahwa keluarga penuh dengan kriminal." Abah Husein semakin mengeraskan rahangnya. "Bertahun-tahun kasus ini tidak diusut sama sekali. Baik, kalau Anda memang siap menerima hukuman biarkan polisi melanjutkan kasus ini."


Seketika Zahra melebarkan matanya. Dia berjalan mendekat. "Abi, sudah jangan ungkit masalah ini. Masalah ini sudah berlalu. Meskipun Papa dihukum, keadaan tidak akan berubah."


"Zahra, jadi kamu sudah tahu kalau mertua kamu pembunuh Ayah kamu."


"Bukan pembunuh, Zahra yakin Papa Marko tidak sengaja melakukan itu."


"Zahra, kamu lebih membela keluarga suami kamu?"


Zahra menatap nanar kemarahan abi. "Iya, karena semua ini sudah takdir."


"Iya, semua memang sudah takdir. Tapi setiap perbuatan harus ada pertanggung jawabannya. Entah itu di dunia maupun di akhirat."


"Abi, Zahra mohon jangan perpanjang lagi masalah ini." Zahra akan memegang tangan Abah Husein tapi ditepis oleh Abah Husein.


"Secara terang-terangan kamu membela pembunuh Ayah kamu. Kamu benar-benar anak yang durhaka."


Zahra hanya menundukkan kepalanya dan menangis. Seketika Rendra menarik Zahra agar berdiri di sampingnya dan merengkuh pinggangnya. "Maaf Abah, Zahra sudah menjadi tanggung jawab saya. Saya tidak akan membiarkan siapapun melukai perasaannya. Harusnya Abah bersyukur telah berhasil mendidik Zahra menjadi seorang putri yang sangat baik dan berhati besar. Kalau memang Abah mau melanjutkan kasus ini, silakan."


Abah Husein membuang napas kasar lalu membalikkan badannya. "Umi, kita pulang sekarang."


Zahra hanya bisa menangis melihat umi dan abahnya keluar dari acara yang belum selesai itu. Mengapa selalu seperti ini? Abah dan uminya tidak pernah mengerti keadaannya.


"Sayang, maaf acara ini rusak gara-gara aku." Rendra meraih tubuh Zahra dan memeluknya.


Zahra hanya menggelengkan kepalanya. "Ini bukan salah Mas Rendra."


"Ya sudah, kamu istirahat di dalam. Biar aku urus masalah ini dulu. Sepertinya ada penyusup di sini."


Zahra melepaskan pelukannya dan menatap takut pada Rendra. "Penyusup?"


"Kamu jangan takut. Aku akan pastikan keamanan kamu."


Rendra mengambil ponselnya dan menghubungi anak buahnya untuk berjaga dan menyisir di dalam rumah.


Setelah dipastikan aman barulah Zahra diantar kedua pembantu ke kamarnya. Di dalam rumah juga sudah ada penjagaan yang ketat.


Rendra kini menghampiri orang yang bekerja dibalik layar yang mengatur pemutaran video dan musik.


"Bagaimana bisa gambar itu muncul?" tanya Rendra.


"Saya hanya memutar flashdisk yang Tuan berikan." Orang itu menunjuk sebuah flashdisk.


"Sial! Flashdisk nya sudah ditukar." Rendra membawa flashdisk itu kemudian dia berjalan cepat masuk ke dalam rumahnya. Dia kini duduk ruangan cctv nya.


Kevin dan Pak Marko ikut masuk ke dalam ruangan itu.


"Papa, apa foto itu pernah ada di internet?" tanya Rendra pada Papanya.


"Dulu waktu aku melihat data keluarga permana, aku melihat foto itu." kata Kevin.


Rendra kini menatap Kevin. "Data keluarga permana sudah dikunci, kamu bisa meretas?"


"Iya, IT aku bisa meretasnya. Makanya aku bisa tahu kalau Alea adik kandung kamu dan kemarin aku juga mindahin mobil Papa ke gudang perusahaan aku karena Papa sejak tahu hal itu Papa berulang kali ke gudangnya dan menatap sedih mobil itu, aku pikir dengan memindah ke tempat lain Papa bisa melupakannya, tapi sepertinya aku gak merasa kalau ada yang mengikutiku. Maaf, aku ceroboh." jelas Kevin.


Rendra mengacak rambutnya sesaat. "Ternyata permusuhan ini belum berakhir."


"Rendra, Alex masih mempunyai banyak saudara yang diam-diam juga ikut bekerja sama. Kamu hati-hati. Papa takut, dia mengincar keluarga kecil kamu."


Rendra menghela napas panjang sambil terus melacak cctv yang terpasang di berbagai penjuru. Dia melihat ada seseorang yang mencurigakan dan berpakaian waitress serta memakai masker.


Dia terus menelusurinya lalu menghentikan rekaman cctv itu saat dia menukar flashdisk yang ada di belakang layar.


"Sial!" Rendra menangkap gambar itu lalu memperbesar wajah orang itu, meski tidak terlalu jelas tapi setidaknya masih bisa dia lacak.


Rendra segera keluar dengan membawa ponselnya. Dia menuju tempat prasmanan dimana para waitress sedang berberes.


"Seluruh waitress, kumpul semua!!" teriak Rendra.


Waitress yang berjumlah 15 orang itu kini berkumpul. Rendra mengamati wajah mereka satu per satu.


Dia menghela napas panjang karena yang dia cari sudah tidak ada.


"Kalian melihat orang ini! Ada yang kenal! Atau kalian bersekongkol dengan dia!" Rendra menunjukkan foto itu pada mereka.


Mereka menggelengkan kepalanya dan ketakutan.


"Tuan Rendra, sepertinya orang yang Tuan cari sudah kabur. Tadi saya melihat ada orang yang berlari ke perkebunan. Sudah kami kejar tapi kami tidak berhasil menemukannya." kata anak buah Rendra yang baru saja masuk ke halaman rumah Rendra.


Rendra membuang napas kasar. "Kalian harus berjaga di sini, jangan sampai ada penyusup masuk lagi."


"Baik Tuan."


Kemudian Rendra masuk ke dalam rumahnya. Dia harus menemani Zahra, pasti Zahra sekarang sedang bersedih di kamarnya.


Maaf Zahra, pesta impian kamu telah hilang dalam sekejap...


💕💕💕


.


Like dan komen ya..