
Rendra tersenyum menatap Zahra yang sedang mengajar anak-anak mengaji di salah satu ruangan rumah sakit. Dia terlihat begitu keibuan dan menyayangi anak-anak.
Sangat cocok untuk menjadi ibu dari anak-anakku kelak.
Sedetik kemudian Rendra menggelengkan kepalanya.
Astaga, aku mikirnya terlalu kejauhan.
"Ayah Rendra, ayo ikut mengaji sama kami," ajak salah satu anak lelaki yang melihat Rendra sedang duduk di kursi rodanya dan mengintip di dekat pintu.
Seketika Zahra menoleh. Ayah?
Rendra hanya tersenyum, dia menyuruh perawatnya agar mendorong kursi rodanya masuk ke dalam ruangan itu.
"Ayah Rendra lama gak ke sini?"
"Ayah kenapa? lengan dan kakinya di perban?"
Rendra tersenyum sambil mengusap puncak kepala salah satu dari mereka. "Ayah, tidak apa-apa. Kalian lanjut mengaji lagi ya."
"Ayah?" gumam Zahra pelan tapi bisa ditangkap telinga Rendra.
"Iya, mereka semua sudah aku anggap seperti anak sendiri," kata Rendra. Ketika waktu luang, selain mengurus perkebunannya, dia pasti ke rumah sakit untuk menghibur anak-anak dengan membawakan beberapa mainan. Bahkan anak-anak yang tidak memiliki orang tua, selalu menyebutnya Ayah. Karena bagi mereka Rendra adalah sosok Ayah yang baik. Itulah sisi lain Rendra saat tidak memegang senjata api, dia begitu penyayang.
"Silakan dilanjutkan," kata Rendra pada Zahra agar melanjutkan mengajari mereka mengaji.
Terus mendapat tatapan dari Rendra, Zahra menjadi salah tingkah. Meski beberapa kali salah bicara, dia akhirnya selesai mengajari mereka mengaji.
"Sampai jumpa besok ya. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alakumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab mereka serentak lalu mereka dibantu oleh suster kembali ke kamar mereka masing-masing.
Zahra tersenyum menatap kepergian mereka. Hanya ini yang bisa dia lakukan untuk membantu mereka agar semakin bersemangat dan tentunya dirinya sendiri juga bisa terhibur dan melupakan sesaat penyakitnya.
Rendra masih saja tersenyum sambil menatap Zahra.
Zahra hanya menghela napas panjang karena seseorang yang duduk di kursi roda itu masih saja menatapnya. Akhirnya kini dia duduk di dekat Rendra. "Maaf, kalau bisa jangan ikut masuk saat aku mengajari anak-anak. Aku sudah pernah bilang sama kamu jangan menatapku seperti itu."
"Kenapa? Aku mengganggu kamu? Mereka semua juga anak-anak aku. Kamu lihat kan mereka semua memanggil aku dengan sebutan Ayah."
Lagi-lagi Zahra menundukkan pandangannya. "Tidak mengganggu cuma..." Zahra menghentikan kalimatnya. Dia tidak mungkin bilang kalau tatapan Rendra membuatnya salah tingkah.
Rendra semakin tertawa lebar. "Jangan bilang kalau kamu gerogi saat aku tatap."
"Maaf, aku permisi." Zahra akan berdiri tapi Rendra menahannya.
"Zahra, tunggu dulu."
Akhirnya Zahra kembali duduk meski masih saja menundukkan pandangannya.
"Tolong ajari aku mengaji, ajari aku sholat, dan ajari aku semua tentang ilmu agama." pinta Rendra. Dia sudah memikirkannya matang-matang untuk mengubah hidupnya.
"Mengapa harus sama aku?"
"Karena hanya kamu seseorang yang bisa mengubah hidup aku."
Zahra menggelengkan kepalanya. "Kamu harus tahu, bahwa seseorang berubah itu harus karena Allah, bukan karena manusia. Apalagi karena aku." Zahra akhirnya berdiri. "Permisi."
Tapi tiba-tiba langkah Zahra berhenti. Kepalanya terasa sangat pusing dan dia pun terjatuh.
"Zahra!!" teriak Rendra. Dia berusaha turun dari kursi rodanya dan berjalan terpincang menghampiri Zahra. "Zahra." Dia kini terduduk di lantai berusaha mengangkat tubuh Zahra tapi tangannya terasa sangat sakit. Bahkan kakinya juga sudah tidak sanggup menopang tubuhnya.
Hendra dan seorang perawat masuk ke ruangan itu saat mendengar teriakan Rendra.
"Zahra." Hendra segera meraih tubuh Zahra dan mengangkatnya lalu berlari menuju ruang pemeriksaan.
Rendra mengepalkan tangannya. Saat ini dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Maaf Tuan, barusan saya tinggal sebentar ke toilet," kata perawat Rendra sambil membantu Rendra kembali ke kursi roda.
"Iya, tidak apa-apa. Bawa aku ke ruangan Zahra."
Perawat itu mendorong kursi roda Rendra menuju ruang pemeriksaan Zahra.
Terlihat Hendra dengan panik memeriksa keadaan Zahra. "Suster, hb-nya semakin rendah. Ambilkan satu kantong darah di PMI dengan golongan darah A negatif."
"Baik Dokter."
Hendra mengatur aliran cairan infus yang masuk ke dalam tubuh Zahra.
"Hendra, tolong lakukan apapun demi keselamatan Zahra." kata Rendra yang kini berada di belakang Hendra.
"Itu pasti. Besok aku akan mencari pendonor sumsum tulang belakang untuk Zahra. Kalau masih tidak ketemu, aku akan menyusun jadwal kemotherapy untuk Zahra segera mungkin.."
"Kamu cek punya aku juga."
"Iya menunggu kamu sembuh dulu.'
"Kenapa gak sekarang saja?"
"Rendra, seseorang yang menjadi pendonor itu harus sehat secara jasmani." Hendra menghela napas panjang. Pengambilan sampel saja akan terasa sakit, meski dia tahu Rendra bisa menahannya tapi dia tidak akan melakukan itu.
Rendra akhirnya hanya terdiam. Dia kini melihat Hendra yang sedang memasang jarum transfusi darah di tangan sebelah kanan Zahra.
Hatinya hancur melihat Zahra yang seperti ini.
Kamu bisa bantu dia dengan cara berdo'a.
Dia teringat kata-kata Hendra itu. Dia tidak bisa menolongnya secara medis, hanya berdoa yang bisa dia lakukan. Sekarang dia juga sadar bahwa yang dibutuhkan Zahra adalah Hendra bukan dirinya.
Kamu harus berubah karena Allah, bukan karena aku...
Satu kalimat yang kini melekat di benaknya. Kemudian dia menyuruh perawat untuk mendorongnya kembali ke kamarnya. Setelah sampai di kamarnya, dengan bantuan perawat, dia naik ke atas brangkar dan merebahkan dirinya
Zahra, kamu harus sembuh. Aku tidak boleh egois, aku harus membiarkan Hendra bersama Zahra, karena hanya dia yang bisa membantu Zahra, bukan aku.
Dia kini menatap nyalang langit-langit
"Ron, kamu bisa ilmu agama? Bisa mengaji? Bisa sholat?" tanyanya pada perawatnya yang masih setia menunggunya
"Bisa Tuan. Meskipun ilmu agama saya cetek."
"Dulu aku memang pernah belajar agama saat masih SD tapi sekarang aku sudah lupa. Tolong carikan aku beberapa buku agama dan ajari aku."
"Saya Tuan? Saya tidak bisa."
"Sebisa kamu."
"Baik, saya akan carikan buku-buku agama yang lengkap."
"Ya sudah kamu cari sekarang." suruh Rendra.
"Tapi tuan Rendra?"
"Aku tidak apa-apa. Sekarang aku akan istirahat." Rendra mengeluarkan kartu atm-nya. "Ini kamu bawa, nomor PINnya 617181." Rendra menyodorkan kartu ATM-nya. "Kamu beli buku yang lengkap."
Perawat itu tak menyangka, Rendra berani memberikan ATM padanya. "Maaf Tuan, ada uang cash saja."
"Gak ada. Pakai ini saja. Aku percaya sama kamu."
Akhirnya perawat itu mengambil ATM Rendra. Kemudian dia keluar dari ruang rawat Rendra.
Rendra menghela napas panjang dan kembali menatap langit-langit kamarnya.
Kali ini aku akan berusaha meminta pada Sang Pencipta yang selama ini aku lupakan. Semoga saja Dia masih mendengar doa-doaku untuk Zahra.
💕💕💕💕
.
like dan komen ya...