When Mafia Fall In Love

When Mafia Fall In Love
BAB 62



Rendra tersenyum menatap wajah cantik yang kini tertidur dengan pulas di sampingnya. Jari telunjuknya menyusuri hidung mancung Zahra untuk mengganggunya.


"Mas, aku ngantuk." Zahra menepis tangan Rendra yang bermain di wajahnya.


Rendra hanya tersenyum, baru juga selesai sholat isya', Zahra sudah tertidur.


"Mas, aku capek, Affan dan Azam tadi jalan terus. Mereka senang banget baru bisa jalan." Zahra sedikit membuka matanya menatap Rendra yang sedang menopang kepalanya di sampingnya.


Kedua anak kembar mereka kini sudah berusia 13 bulan dan baru bisa berjalan. Mereka berdua sedang aktif-aktifnya. Meskipun ada pengasuh yang ikut membantu Zahra, tapi kedua putranya lebih lengket dengan Zahra. Bahkan saat Zahra mengajar di pondok, mereka berdua sering kali ikut ke sana. Karena itu Rendra membuat play ground sendiri untuk mereka di area pondok.


"Malam jum'at sayang."


"Perasaan gak hanya malam jum'at juga ada jatah." Zahra kembali memejamkan matanya.


Rendra tertawa lalu memeluk tubuh Zahra. "Aku makin jatuh cinta sama kamu."


"Hemm..."


"Setelah mereka umur dua tahun, kita program lagi adiknya mereka ya."


"He'em." Zahra hanya menyahuti asal.


Rendra semakin menciumi pipi Zahra, hingga membuat Zahra membuka matanya. "Mas Rendra, ih..."


"Ini baru jam 8 sayang, main dulu lah satu jam."


Zahra memutar bola matanya. Semakin hari Rendra juga semakin lengket dengannya. "30 menit aja.


"Yakin 30 menit?" Rendra mulai membuka kancing piyama Zahra. "Nanti kurang."


"Tapi nanti cek si kembar ya tengah malam." suruh Zahra karena si kembar memang sudah tidur terpisah dari orang tuanya sejak sebulan ini. Mereka hanya mengecek Affan dan Azam saat tengah malam, biasanya mereka haus dan minta susu.


"Beres." Rendra mencium bibir Zahra lalu ciuman itu turun ke bawah dan menyusuri leher putih Zahra.


Beberapa detik kemudian, tubuh mereka sudah sama-sama polos. Kedua tangan saling terpaut. Suara nikmat terdengar indah dan saling berbalas. Waktu 30 menit itu terasa kurang, Rendra tidak menghentikan gerakannya sebelum mereka berdua benar-benar puas.


"Aku mencintaimu..."


"Aku juga mencintaimu..."


Kedua bibir itu saling menyentuh dan memagut lembut. Saling menyesap manisnya madu yang telah menjadi candu.


Wajah putih yang kian memerah itu, dengan cengkeraman di bahu Rendra menandakan Zahra sudah sampai di puncaknya.


"Hampir satu jam." Rendra tersenyum kecil saat dia akan menyudahi permainannya.


Zahra hanya tersenyum sambil mencubiti dada Rendra yang berkeringat.


Kemudian Rendra membungkukkan dirinya dan menyesap leher Zahra saat dia sampai di puncaknya. Setelah itu, dia lepaskan dirinya dan merebahkan tubuhnya di samping Zahra.


Mereka kini sama-sama mengatur napas yang tersenggal.


"Makasih sayang," ucap Rendra sambil memeluk tubuh Zahra yang berkeringat.


"Iya, sama-sama." Zahra menenggelamkan wajahnya di dada Rendra. Aroma tubuh Rendra yang berkeringat itulah yang Zahra sukai.


"Besok aku tunggu di pondok ya sama anak-anak pas Mas Rendra sholat jum'at."


"Iya, katanya besok abah juga mau ke pondok. Lalu rencana aku, seminggu lagi kita menginap di rumah abah ya, sekalian aku mau cek pondok kamu. Struktur organisasinya agak kacau."


Zahra menganggukkan kepalanya. Dia selalu mendukung semua rencana Rendra. Dia mendengarkan suaminya bercerita dengan mata yang kian terasa berat. Lama kelamaan, dia akhirnya tertidur dalam dekapan Rendra.


"Udah tidur." Rendra tersenyum kecil menatap wajah Zahra yang sudah tertidur pulas. Kemudian satu kecupam hangat mendarat di kening Zahra. "Met tidur sayang."


...***...


"Azam, ayo lari sini nak." Dengan langkah kecilnya Azam berlari menghampiri Zahra. Dia tertawa dengan riang sambil membawa mainan.


"Mbak Rima, umi kemana ya?" tanya Zahra pada pengasuh yang selalu menemaninya merawat si kembar.


"Sepertinya bantu ibu-ibu menyiapkan makanan untuk jama'ah setelah sholat jum'at."


Zahra hanya menganggukkan kepalanya.


"Affan, kok diam aja sayang. Affan pup ya?" Zahra meraih Affan dan memeriksa diapernya.


"Biar saya bersihkan nyonya."


Zahra menggelengkan kepalanya. "Kamu jaga Azam di sini saja ya, biar aku saja yang bersihkan. Sekalian aku mau ambil makanan untuk mereka di dapur."


Zahra menggendong Affan keluar dari ruangan bermain itu. Sambil membawa tasnya dia berjalan menuju toilet yang berada di dekat ruang pengurus.


Setelah selesai mengganti diaper Affan, Zahra berjalan menuju dapur pondok pesantren. Ada beberapa ibu-ibu yang sedang menyiapkan menu makan siang.


"Affan mau makan ya?" Umi Laila tersenyum melihat cucunya.


"Maem... Maem..." Affan bertepuk tangan saat melihat makanan yang dibawa Umi Laila.


"Uti sudah siapkan makanan spesial buat cucu uti. Ayo, dimakan sama Azam ya." Umi Laila menggendong Affan sedangkan Zahra membawa dua kotak makanan.


Mereka berdua berjalan kembali ke play ground. Tapi baru saja keluar dari dapur pondok tiba-tiba terdengar suara ledakan yang sangat keras.


DUAARRR!!


"Astaghfirullah, umi itu suara apa?" Seketika Zahra menjatuhkan dua kotak makanan yang dia bawa lalu berlari menuju play ground.


Kini lututnya terasa lemas, saat melihat kepulan asap hitam dan api telah melahap play ground itu. "Azam!!!" teriak Zahra dengan keras. Dia akan berlari masuk ke dalam ruangan itu tapi ditahan oleh ibu-ibu lainnya.


"Jangan! Apinya sudah besar."


"Tapi Azam ada di dalam." Zahra menangis histeris dan berusaha melepas cekalan itu.


"Zahra bahaya, apinya sudah membesar."


Zahra terjatuh di lantai dengan lemas.


"Ya Allah bagaimana nasib Azam di dalam. Kenapa tadi tidak aku ajak Azam keluar juga." Zahra semakin menangis dengan rasa menyesal yang teramat.


Beberapa orang berusaha menyiram kobaran api itu dengan air. Mereka juga telah menghubungi pemadam kebakaran. Tapi api begitu cepatnya membesar. Dua ruangan itu sudah habis dilahap si jago merah


Rendra yang baru saja keluar dari masjid berlari menghampiri Zahra yang sedang menangis tergugu. "Apa yang terjadi?"


"Mas, Azam ada di dalam."


"Azam!" Rendra akan menerobos kobaran api itu tapi Zahra menahan langkah kaki Rendra.


"Mas, apinya sudah membesar. Jangan! Aku gak mau kehilangan Mas Rendra juga." kata Zahra dengan isak tangisnya. Meskipun dia juga sangat ingin menolong Azam tapi kondisi saat ini sudah sangat tidak memungkinkan untuk masuk ke dalam. Bahkan atap kayu sudah habis terbakar dan berjatuhan ke lantai.


Seketika lutut Rendra terasa melemas. Dia jatuh berlutut dan memeluk Zahra. Sepertinya kejadian 25 tahun yang lalu kini terulang kembali.


Kedua mata Rendra memerah. Dia kepalkan tangannya dan memukul tanah.


"Elang Hitam, aku pastikan kehancuran kalian semua!!!"


💕💕💕


.


Puncak masalah ya, setelah ini akan tamat di akhir bulan..


.


Jangan lupa like dan komen...