
Rendra kini duduk di samping Zahra sambil menggenggam tangan Zahra. Dia terus menatap Zahra sambil tersenyum. Sesekali air mata haru menetes tanpa sadar.
Beberapa saat kemudian Zahra membuka matanya. Dia kini melihat Rendra yang ada di sampingnya. Dia mengingat apa yang terjadi sebelumnya, dia pingsan saat berjalan pulang ke rumah. Kepalanya sekarang juga masih terasa pusing.
"Sayang, akhirnya kamu sadar." Satu tangan Rendra mengusap puncak kepala Zahra.
"Mas, aku kenapa? Mas Rendra kok nangis?"
Rendra justru tersenyum. Dia menciumi kedua pipi Zahra. "Selamat sayang kamu akan menjadi seorang ibu."
Dunia seolah berhenti berputar saat mendengar hal itu. Benarkah? Rasanya dia masih belum percaya. "Beneran Mas?"
Rendra menganggukkan kepalanya. "Iya sayang, aku sendiri sangat terkejut saat mendengar hasil pemeriksaan dari Dokter. Alhamdulillah. Aku sangat bersyukur, akhirnya kita diberikan kepercayaan."
Seketika Zahra mengucap syukur berulang kali sambil mengusap perutnya yang masih datar. Air mata haru juga mengalir di pipinya.
"Sebentar lagi kita USG, masih menunggu dokter spog. Aku tidak sabar untuk melihat anak kita sudah sebesar apa." Satu tangan Rendra ikut mengusap lembut perut Zahra.
"Mas, ini seperti mimpi."
"Iya. Mulai sekarang kamu harus banyak istirahat. Aku juga akan selalu menjaga kamu."
Zahra hanya menganggukkan kepalanya. Sedetik kemudian, mereka sama-sama tersenyum lagi. Kebahagiaan itu tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.
Beberapa saat kemudian suster masuk ke dalam ruang rawat Zahra sambil membawa kursi roda. "Mari ke ruang USG, Dokter spog nya sudah datang."
Rendra membantu Zahra bangun lalu dia mengangkat tubuhnya dan memindahnya ke kursi roda.
"Mas, aku bisa sendiri." Pipi Zahra bersemu merah karena perhatian Rendra yang terlalu berlebihan.
Rendra hanya tersenyum sambil mendorong kursi roda itu. "Biar saya saja yang mendorong, sus."
Dia mengikuti langkah suster menuju poli kandungan. Setelah sampai mereka masuk ke dalam ruangan Dokter Indri. Mereka disambut dengan senyuman ramah oleh Dokter kandungan itu.
"Mari, kita langsung USG saja."
Rendra membantu Zahra naik ke atas brangkar USG. Rasanya Rendra sudah tidak sabar untuk melihat calon buah hatinya.
"Maaf ya, saya buka dulu." Dokter Indri mengoles gel di atas perut Zahra. Lalu dia mengarahkan alat perekam USG itu.
Rendra semakin memegang erat tangan Zahra saat layar USG itu sudah menampilkan gambaran di dalam rahim Zahra.
"Sudah terlambat berapa minggu Bunda?"
Zahra terdiam beberapa saat. Dia berusaha untuk mengingatnya. "Sepertinya sudah hampir satu bulan. Karena memang datang bulan saya tidak teratur."
"Pantas, usia kandungannya sudah 8 minggu. Ayah dan Bunda bisa lihat ya, ini ada dua kantong janin."
Dada Rendra dan Zahra semakin berdetak tak karuan. Rendra semakin mengeratkan genggaman tangannya. Dua kantong janin, itu artinya?
"Selamat, kalian akan mempunyai anak kembar tidak identik. Janin juga sudah tumbuh di dalam masing-masing kantong sudah sebesar kacang merah. Kita coba dengar detak jantungnya ya."
Air mata haru Rendra dan Zahra semakin mengalir deras saat mendengar suara detak jantung dari calon buah hatinya.
"Semua sehat. Ayah dan Bunda bisa dengar ya. Ada detak jantungnya semua." Dokter itu bergantian mengarahkan alatnya ke sisi kiri lalu ke sisi kanan.
Rendra membungkukkan dirinya lalu mencium kening Zahra. "Selamat ya sayang, penantian selama dua tahun tidak sia-sia. Kita akan mendapatkan dua anak sekaligus."
Zahra hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Sekali lagi selamat ya." kata Dokter Indri. Dia kini beralih memeriksa tensi darah Zahra. "Tensinya cukup rendah. Banyak istirahat dan dijaga pola makannya. Bunda ada keluhan?"
"Pusing dan mual sedari tadi."
"Iya, itu memang biasa di trimester pertama. Nanti di trimester kedua rasa mual dan pusing itu akan berangsur menghilang. Tapi meskipun mual harus tetap ada makanan yang masuk, jangan lupa selalu rutin minum vitamin juga."
Setelah selesai melakukan pemeriksaan, Zahra diperbolehkan untuk pulang.
Sepanjang perjalanan pulang, satu tangan Rendra terus menggenggam tangan Zahra.
"Mas, aku bahagia sekali hari ini."
"Alhamdulillah."
...***...
Sejak tahu kehamilan itu, Rendra semakin protektif pada Zahra. Apalagi Zahra sering mual dan nafsu makannya menurun.
"Sayang, ayo makan dulu." Rendra berusaha menyuapi Zahra. Baru lima suapan Zahra sudah berhenti membuka mulutnya.
Zahra semakin menggelengkan kepalanya. "Hmm, Mas. Mas Rendra bisa masak?" tanya Zahra tiba-tiba.
Seketika Rendra menurunkan sendok lalu menatap Zahra degan serius. Ada suatu debaran dalam hatinya saat Zahra bertanya tentang hal itu. Jangan-jangan Zahra sedang ingin makan masakan Rendra.
"Gak bisa sayang. Kenapa?"
"Mau makan masakan Mas Rendra."
Benar saja dugaannya. Zahra sedang mengidam masakannya Rendra. Dia hela napas panjang sambil menggaruk rambutnya. Lalu dia tersenyum kaku. "Sayang, selama ini yang aku pegang hanya pistol. Aku gak pernah pegang alat penggorengan dan lainnya. Bahkan bumbu aja aku gak tahu. Kamu mau apa? Biar aku belikan atau biar dibuatkan sama Bi Mina."
Seketika Zahra terdiam. Entahlah, mendengar kalimat itu saja rasanya dia sangat kesal. "Ya udah Mas, aku mau istirahat."
Baru kali ini Rendra melihat Zahra kesal. Ternyata memang benar, mood ibu hamil sesensitif itu. "Sayang, kok marah?" Rendra menahan tangan Zahra. "Ya udah kamu mau apa?"
"Mas Rendra bisa buat apa?" Zahra justru balik bertanya.
"Hmm, bisa buat..." Rendra kembali menggaruk rambutnya. Merebus air saja dia tidak pernah sama sekali, bagaimana caranya dia memasak. Tapi ini permintaan calon buah hatinya, dia harus bisa berusaha.
"Telur dadar ya Mas pakai daun bawang. Kayaknya enak Mas, gampang juga buatnya." kata Zahra memutuskannya sendiri.
Rendra tersenyum kaku. Kenapa tidak meminta telur rebus saja biar gampang.
Rendra kini berjalan menuju dapur yang diikuti Zahra.
Zahra duduk dengan santai di dekat meja dapur sambil melihat suaminya.
Rendra mengambil tiga telur di dalam kulkas terlebih dahulu.
"Tuan mau apa? Biar saya buatkan." tanya Bi Mina saat melihat Rendra menatap bingung isi kulkasnya.
"Bibi, biarkan Mas Rendra memasak sendiri. Aku mau makan masakannya Mas Rendra." kata Zahra. Dia melarang pembantunya untuk membantu Rendra.
"Tapi Nyonya, Tuan tidak pernah memasak sama sekali." kata Bi Mina sambil menahan senyum. Karena dia pembantu terlama yang bekerja di keluarga Rendra, jelas dia tahu betul jika Rendra sama sekali tidak pernah memegang kompor.
"Tidak apa-apa Bi. Aku bisa belajar. Bibi ke depan saja."
"Baik Tuan." Bi Mina akhirnya keluar dari dapur.
Rendra kini mengambil ponselnya dan melihat tutorial membuat telur dadar di youtube.
Zahra semakin tertawa melihat tingkah konyal suaminya. "Ya ampun Mas Rendra, buat telur dadar aja lihat di youtube."
"Sayang, aku benar-benar gak bisa. Gini saja, kamu yang masak, aku temani."
Seketika senyum Zahra memudar. Kali ini tanpa berkata apa-apa lagi, dia berdiri dan meninggalkan Rendra.
"Astaga, mood ibu hamil berantakan sekali. Ya Allah sabar, lain kali aku harus hati-hati kalau bicara."
💕💕💕
.
.
Zahra, Rendra itu biasa pegang pistol bukan pisau dapur.. 😂
.
Like dan komen ya..