When Mafia Fall In Love

When Mafia Fall In Love
BAB 53



"Sayang, udah..." Rendra berusaha menenangkan Zahra, tapi kali ini tangisnya benar-benar pecah. Rendra tidak pernah melihat Zahra menangis sampai sepilu ini. Pasti rasa sakit hatinya sudah diambang batas.


"Ya sudah, kamu menangislah sepuasnya. Aku tahu, hati kamu pasti sangat sakit. Tapi setelah ini, kamu jangan menangis lagi, kamu masih punya aku. Aku akan selalu menjaga kamu. Aku akan selalu menyayangi dan mencintai kamu."


Mendengar kalimat Rendra, tangis Zahra mulai mereda. Dia kini menegakkan dirinya lalu mengambil tisu untuk menghapus air matanya.


Rendra juga mengambil tisu, dia membantu Zahra menghapus air matanya di pipi. "Matanya sampai sembab gini."


Zahra mengambil tisu lagi, dia usap kemeja Rendra yang basah karena air matanya. "Jadi basah kemejanya."


"Udah, gak papa." Kemudian Rendra menghidupkan mobilnya. "Kita mau kemana? Mumpung ada di sini."


"Kita mampir ke makam ibu dan ayah aja Mas." pinta Zahra.


"Oke." Rendra mengusap puncak kepala Zahra sesaat lalu dia mulai melajukan mobilnya.


Isak tangis Zahra masih tersisa, tapi rasa sakit hati itu sedikit berkurang. Iya, dia masih punya Rendra yang akan selalu mencintainya. Biarkanlah mereka berkata apa, yang terpenting ada Rendra yang selalu ada di sisinya dan selalu menjaganya.


Beberapa saat kemudian, Rendra sampai di depan pemakaman. Mereka berdua turun dan membeli bunga terlebih dahulu. Setelah itu mereka masuk ke dalam pemakaman.


Mereka kini duduk di antara dua pusara.


Zahra dan Rendra menabur bunga di atas pusara lalu menyiramnya dengan air. Mereka menundukkan kepalanya dan mengirim do'a untuk mereka.


"Ayah, Zahra sudah ikhlas menerima keadaan ini. Zahra harap, Ayah juga bisa memaafkan Papa Marko. Zahra..." Dia menghentikan perkataannya. Rasanya Zahra sudah tidak sanggup berkata apa-apa lagi.


Rendra merengkuh bahu Zahra dan mengusapnya. "Sayang, seseorang yang telah tiada tidak mungkin memiliki rasa dendam. Jangan pikirkan Abah Husein lagi. Mulai sekarang, kalau kamu rindu dengan orang tua kamu, kita ke sini saja. Tidak perlu ke rumah Abah Husein."


Zahra mengerti maksud Rendra. Dia hanya menganggukkan kepalanya. "Kita pulang sekarang Mas. Rasanya aku capek."


"Ya udah, ayo." Kemudian Rendra membantu Zahra berdiri lalu menggandeng tangannya dan berjalan keluar dari pemakaman.


Setelah masuk ke dalam mobil, Rendra segera melajukan mobilnya. Satu tangan Rendra kini meraih kepala Zahra agar bersandar di pundaknya.


Zahra hanya tersenyum kecil. Lalu dia memejamkan matanya sepanjang perjalanan pulang.


Setelah sampai di rumah, Rendra mencium singkat kening Zahra hingga membuat Zahra terbangun dari tidurnya.


"Udah sampai?" Zahra menegakkan dirinya sambil mengucek matanya yang sulit terbuka karena sembab dan rasa kantuknya.


"Iya, udah sampai. Mau aku gendong?"


Zahra menggelengkan kepalanya lalu mereka keluar dari mobil.


Rendra menggandeng tangan Zahra sambil berjalan masuk ke dalam rumah. "Setelah ini kamu makan dulu, lalu istirahat."


Di sisi kiri halamannya, Rendra melihat sebuah mobil yang terparkir. "Itu kayak mobil Papa." Mereka berdua masuk ke dalam rumah. Benar saja, di dalam rumah ada Pak Marko dan juga Kevin.


"Papa sama Kevin sudah lama? Kita dari rumah Abah Husein." Rendra melepas tautan tangannya, "Sayang, kalau kamu lapar makan dulu gak papa."


"Nunggu Mas Rendra aja. Aku mau ke kamar dulu." kata Zahra. Dia tersenyum pada Pak Marko dan Kevin lalu menaiki tangga menuju kamarnya.


Kemudian Rendra duduk di samping Papanya.


"Ya namanya menghormati orang tua tapi yang dihormati tidak merasa sama sekali. Dia masih saja membuat Zahra sakit hati." Rendra menghela napas panjang. Rasanya dia masih merasa sangat kesal saat mengingat perkataan Abah Husein tadi.


"Mereka masih membahas masalah Papa?" tanya Pak Marko. Dia masih merasa bersalah dengan kejadian itu.


"Tidak membahas soal itu tapi lebih menyakitkan daripada itu. Dia baru menerima cucu, sedangkan Zahra belum hamil. Perkataannya pada Zahra sangat menyakitkan. Kalau bukan orang tua, rasanya ingin aku hajar." Rendra mengepalkan tangannya. Rasa marah itu masih sangat terasa.


"Orang tua macam apa seperti itu. Aku dulu juga sempat kena leukimia dan waktu itu aku juga menunggu kehamilan Alea."


Seketika Rendra menatap Kevin. "Yang benar? Kok kamu gak pernah cerita?"


"Dulu, waktu aku baru menikah sama Alea. Aku gak merasa gejala penyakit itu, jadi aku tidak melakukan pengobatan apapun. Waktu itu Alea juga gak hamil-hamil sampai hampir satu tahun, dan akhirnya Alea hamil saat aku baru mengetahui penyakit aku dan udah hampir stadium tiga."


"Berarti itu terjadi sebelum pengobatan. Tapi kalau Zahra, efek dari pengobatan jadi tingkat kesuburannya berkurang."


"Yang sabar, kalau sudah waktunya tiba, kamu pasti juga akan memiliki anak." kata Pak Marko.


"Nanti kalau sekali udah jadi, langsung gas lagi. Bentar lagi aku juga mau otw tiga."


Seketika Rendra tertawa mendengar adik iparnya itu. "Dasar kamu itu. Ngomong-ngomong kalian sebenarnya ngapain ke sini?"


"Rendra, di saat anak dalam kesusahan, jelas Papa tidak akan tinggal diam. Papa dengar, ada yang menyerang perkebunan teh kamu. Kamu mengalami kerugian besar. Kamu juga masih membayar anak buah dan karyawan sebanyak itu."


"Papa, aku juga masih ada investasi lain."


Pak Marko menepuk bahu Rendra. "Jangan sok kuat di hadapan Papa. Bisnis ekspor Papa itu buat apa, kalau nantinya tidak aku serahkan sama kamu dan Alea."


"Alea sudah menjadi tanggung jawab aku. Biar bisnis itu, Kak Rendra yang pegang." kata Kevin memotong pembicaraan.


"Papa sudah mengajarkan aku banyak hal sejak kecil. Harus selalu bekerja keras dan tidak mudah menyerah. Aku akan memperbaiki masalah keuangan aku sendiri. Kalau untuk bisnis ekspor Papa itu, nanti saja pelan-pelan aku akan bantu Papa. Karena aku masih mau mencari musuh di dalam selimut itu."


"Ya sudah Papa juga akan membantu kamu mengusut masalah ini."


"Kalau aku ke sini mau menjadi donatur tetap di pondok pesantren kamu." kata Kevin memulai pembicaraannya sendiri tanpa ditanya Rendra. "Lanjutkan pembangunannya, 50% itu biar aku yang mengurusnya."


"Kevin, kamu serius?" tanya Rendra.


"Iya, sebagai amal jariyah seperti kata kamu." kata Kevin dengan yakin.


"Kevin bagi 25% untuk Papa. Papa sudah tua, Papa juga belum mempunyai amal jariyah."


"Baiklah. Besok lanjutkan pembangunan. Kita bentuk sebuah pondok pesantren gratis, kalau bisa sekalian ada madrasahnya juga. Agar mereka yang benar-benar membutuhkan bisa bersekolah di tempat itu."


Baru kali ini hati Rendra merasa sangat tersentuh. Dia hanya tersenyum sambil mendengarkan rencana mereka berdua. Di balik sebuah cobaan memang selalu ada hikmahnya.


💕💕💕


.


.


Like dan komen ya...