When Mafia Fall In Love

When Mafia Fall In Love
BAB 39



Saat sholat isyak, Zahra berdiri di belakang Rendra sebagai makmum.


Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, Rendra menjadi imam sholat.


Tidak apa-apa banyak salah, nanti diperbaiki lagi. Namanya juga masih belajar.


Begitulah yang dikatakan Zahra saat Rendra ragu menjadi imam sholatnya. Akhirnya Rendra berani membuktikan dirinya bahwa dia bisa menjadi seorang imam.


Dada Rendra masih saja berdebar tak karuan sampai sholat empat rakaat itu selesai dan mengucap salam.


Rendra berusaha membaca do'a selesai sholat yang dibantu oleh Zahra. Meskipun tidak lancar akhirnya mereka bisa mengucap amin secara bersamaan.


Kemudian Zahra mencium punggung tangan Rendra yang dibalas dengan satu kecupan hangat di kening Zahra.


"Maaf, aku belum bisa jadi imam sholat yang benar."


"Mas, namanya masih belajar. Tapi aku bangga, perkembangan Mas Rendra sangat bagus. Semoga perubahan Mas Rendra ini semata karena Allah bukan karena aku."


Rendra menganggukkan kepalanya lalu memeluk Zahra.


"Paman Rendra!!" Teriak dua bocah dari depan kamar Rendra. "Ayo kita buat jagung bakal."


Rendra melepas pelukannya lalu dia melepas kopiahnya. "Aku janji sama anak-anak buat jagung bakar di taman. Ayo ikut."


Zahra menganggukkan kepalanya lalu melepas mukenanya.


"Jangan lupa pakai jaket. Diluar dingin." Rendra mengambil jaket tebal untuk Zahra lalu membantu Zahra memakainya.


"Mas Rendra gak pakai jaket juga?"


"Ini sudah pakai lengan panjang. Ayo." Dengan rengkuhan di pinggang Zahra mereka keluar dari kamar.


Raffa dan Rania sudah menunggunya di depan pintu. Tak jauh di belakang mereka ada Alea.


"Maaf ya Kak, Raffa dan Rania dari tadi udah gak sabar."


"Iya, gak papa." Rendra mengangkat tubuh Rania dan menggendongnya dengan satu tangan, sedangkan satu tangannya menggandeng Zahra. "Rania, jaketnya bagus banget. Ada bulu-bulu."


"Iya. Cantik ya."


"Iya, cantik sekali."


Mereka semua menuju taman yang berada di samping rumah Rendra yang luas. Di sana sudah ada Pak Marko, Abah Husein, dan Ustaz Ilham yang sedang menyiapkan arang untuk membakar jagung dan sosis.


Sedangkan Umi Laila dan Syifa sedang menyiapkan bahan-bahannya.


"Kevin kemana?" tanya Rendra yang tidak melihat Kevin di tempat itu.


"Tuh, lagi kedinginan." Tunjuk Alea pada Kevin yang sedang duduk sambil melipat tangannya di dekat arang yang mulai dinyalakan. Dia sudah memakai jaket tebal dan juga syal tapi masih saja kedinginan.


Rendra tertawa lalu menurunkan Rania dari gendongannya. Dia kini berjalan mendekati Kevin. "Ya ampun, baru dingin gini aja udah gak kuat. Mau dipanggang juga biar panas."


"Dingin gini butuh kehangatan. Papa Marko nanti malam titip anak-anak ya, aku mau cari kehangatan sama Alea." kata Kevin.


Pak Marko hanya tersenyum. Sejak dia tinggal bersama Kevin dan Alea, dia memang sering tidur dengan cucu-cucunya.


"Enak aja, jangan mau Pa."


"Makanya cepat unboxing biar tahu rasanya butuh kehangatan."


Seketika mereka semua menatap Rendra sambil menahan senyum.


Satu cubitan kini mendarat di pinggang Kevin dari Alea. "Mas Kevin, jaga bicaranya. Yang sopan, di sini juga ada keluarga Kak Zahra."


Kevin menangkupkan kedua tangannya. "Maaf Abah Husein, Ustaz Ilham, saya memang sudah biasa bercanda dengan Kak Rendra." Kemudian dia berdiri dan duduk bersama anak-anaknya.


Rendra hanya tersenyum kaku sambil menggaruk tengkuk lehernya.


"Abah, jadi pulang besok?" tanya Rendra.


"Iya, soalnya akan ada acara di pondok. Kapan-kapan kamu menginap di rumah ya sama Zahra."


"Iya Abah." Mereka semua kini mengobrol dengan akrab. Hubungan yang dulu memanas kini telah membaik.


Setelah menghabiskan waktu bersama keluarga, mereka kini berjalan menuju kamar masing-masing.


"Raffa mau tidur sama Kakek." Raffa berlari dan masuk ke dalam kamar Pak Marko, sedangkan Rania sudah tidur di gendongan Alea.


"Kak Rendra," panggil Kevin sambil merengkuh pinggang Alea. "Cus, cari kehangatan."


Rendra hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Jangan didengerin omongan adik ipar itu."


Zahra hanya menganggukkan kepalanya. Baru saja dia menaiki anak tangga, tiba-tiba tubuhnya terasa melayang di udara.


"Mas, kaget. Turunin."


"No, kamu pasti capek. Besok-besok biar aku buat lift aja di pojok sana."


Zahra hanya tertawa, akhirnya dia melingkarkan tangannya di leher Rendra. Dia tatap wajah tampan dengan jambang tipis itu. Dia masih saja tidak menyangka bisa hidup bersama Rendra.


Setelah masuk ke dalam kamar, Rendra menurunkan Zahra lalu membantunya melepas jaket tebal itu.


"Sebentar, aku mau ke kamar mandi dulu."


"Mau dibantu?"


Pertanyaan Rendra membuat Zahra terdiam beberapa saat. "Aku bisa sendiri." Kemudian Zahra masuk ke dalam kamar mandi.


Renda hanya tersenyum kecil lalu mengambil baju tidurnya dan berganti pakaian.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi beberapa kali. Ada beberapa pesan masuk dari anak buahnya. Rendra yang terlanjur melepas bajunya kini justru mengambil ponsel dan berbalas pesan dengan anak buahnya.


Zahra baru saja keluar dari kamar mandi, dia terkejut saat melihat Rendra yang sedang bertelanjang dada.


Seketika Zahra membalikkan dirinya.


"Zahra, kenapa?" Rendra meletakkan ponselnya lalu memakai bajunya dan berjalan mendekati Zahra.


"Pakai bajunya."


Rendra tertawa dan menarik tangan Zahra agar melihatnya. "Aku suami kamu. Tidak perlu kaget."


"Hmm..." Zahra menundukkan pandangannya. "Aku masih belum terbiasa."


Rendra meraih dagu Zahra, agar dia mau menatapnya. "Mulai sekarang kamu harus mulai terbiasa."


Zahra terpaku berberapa saat. Lagi-lagi detak jantungnya kian tidak terkontrol seperti ini.


"Zahra, aku boleh minta satu hal sama kamu?"


Mendengar pertanyaan itu seketika bulu kuduk Zahra merinding. Apakah Rendra akan memintanya malam ini? "Hmm, apa?"


"Aku mau lihat kamu gak pakai hijab. Boleh?"


Zahra menggigit bibir bawahnya. Dia tahu, lelaki yang ada di depannya itu adalah suaminya, tidak akan dosa jika Rendra memandang rambutnya, bahkan seluruh tubuhnya juga sudah menjadi hak Rendra. Tapi rasanya masih sangat malu. "Hmm,"


"Gak papa kalau kamu masih malu. Ya udah, sekarang kita tidur saja, sudah malam."


Dengan gerak perlahan akhirnya Zahra membuka hijabnya. Dia lepas ikat rambutnya, hingga kini rambut panjang yang lurus itu terurai, meski tidak setebal dulu tapi rambutnya masih indah. "Rambut aku sekarang tipis karena rontok kena efek kemoterapi."


Rendra terpesona menatap kecantikan Zahra. Seperti inikah wujud asli seorang bidadari surga. "Cantik," gumamnya sambil membelai rambut Zahra. "Segini sudah tipis berarti sebelumnya rambut kamu tebal banget."


Zahra mengangguk pelan.


"Nanti setelah perawatan pasti kembali tebal lagi." Rendra mencium dalam aroma rambut Zahra.


Ya Allah, baru mencium aroma rambutnya saja pikiran aku sudah kemana-mana. Tarik napas, hembuskan, tahan dulu.


💕💕💕


.


😂😂😂


like dan komen ya..