When Mafia Fall In Love

When Mafia Fall In Love
BAB 52



Hari-hari pun berlalu begitu cepat. Meski kejadian penyusupan itu sudah beberapa bulan berlalu, tapi Rendra tetap harus waspada. Apapun bisa terjadi di belakangnya.


Dia kini sudah mulai membangun pondok pesantren impiannya dan Zahra. Pembangunan sudah berjalan 50 persen. Tapi saat itu juga, cobaan datang lagi. Hampir satu hektar tanaman teh milik Rendra mengering. Tentu saja , itu karena ulah kesengajaan seseorang dengan menyemprotkan bahan kimia di perkebunan itu.


Rendra mengalami banyak kerugian, hingga membuat pabriknya berhenti berproduksi beberapa saat. Satu hektar tanaman teh harus diganti dengan yang baru. Masih butuh waktu untuk menunggunya tumbuh subur dan siap panen.


Karena goyahnya keuangan Rendra, dengan terpaksa dia menghentikan pembangunan pondok pesantren itu.


Rendra kini duduk di depan laptopnya sambil memijat pelipisnya yang terasa pusing. Kini musuhnya menyerangnya secara sembunyi-sembunyi. Tidak terang-terangan dan main tembak seperti dulu. Dia sangat kesulitan mencari bukti dalam kasus ini.


Beberapa saat kemudian, Zahra masuk ke dalam kamar dengan membawa secangkir kopi lalu meletakkannya di dekat Rendra. Dia kini duduk di samping Rendra. Dia usap punggung Rendra untuk memberinya ketenangan. "Sabar Mas."


Rendra menghela napas panjang. Lalu dia mematikan laptopnya dan meminum kopi buatan Zahra. Setelah habis setengah dia menaruhnya lagi.


"Zahra, maaf. Aku belum bisa melanjutkan pembangunan pondok pesantren itu."


"Tidak apa-apa. Tidak usah dipaksa. Aku tahu, keuangan Mas Rendra sedang goyah. Sedangkan Mas Rendra harus tetap membayar semua anak buah dan karyawan."


Rendra meraih tubuh Zahra dan memeluknya. "Aku membangun pondok pesantren itu karena aku ingin mengobati rasa rindu kamu pada suasana pondok. Sejak kejadian itu, kamu hanya sekali bertemu dengan Abah dan Umi. Padahal sudah 8 bulan berlalu."


"Kemarin umi telepon aku."


Seketika Rendra melepas pelukannya. Sejak hari resepsi itu hubungan Zahra dengan Abah Husein dan Umi Laila memang kian renggang. Pernah sekali Zahra ke sana dan seolah tidak dianggap, sejak saat itu Zahra tidak pernah lagi ke tempat Abah Husein.


"Bilang apa?"


"Cuma ngasih kabar kalau Syifa sudah melahirkan." Saat bilang tentang hal itu, Zahra tidak berani menatap Rendra. Dia berusaha menyembunyikan kesedihannya sendiri. Dia tidak mau menambah beban pikiran Rendra.


Tapi Rendra semakin mengeratkan pelukannya seolah dia ingin memberi kekuatan pada Zahra.


Mereka saling berpelukan tanpa berkata apapun.


"I know what you feel."


Zahra berusaha menahan air matanya agar tidak sampai jatuh ke pipinya.


"Mas, besok sibuk gak?" tanya Zahra sambil meregangkan pelukannya.


Rendra menggelengkan kepalanya. "Mau menjenguk Syifa?" Hanya dari satu pertanyaan saja Rendra mengerti maksud Zahra.


Zahra menganggukkan kepalanya.


"Tapi, kamu gak boleh sedih ya." Tangan Rendra mengusap pipi Zahra.


Zahra menganggukkan kepalanya. "Iya."


Beberapa saat kemudian mereka saling berpelukan lagi.


"Mas, maaf, aku belum bisa memberi Mas Rendra keturunan."


"Ssttt, jangan bilang seperti itu. Hanya belum waktunya saja. Kata Dokter Heni juga karena efek obat kemoterapi dulu, nanti seiring berjalannya waktu efek itu akan memudar sendiri. Kamu juga sudah rajin minum vitamin, yang penting kita sudah berusaha dan berdo'a."


"Tapi Mas..."


"Ssstt, sudah. Belum juga genap satu tahun kita menikah. Masih banyak waktu untuk kita berusaha bersama." Rendra melepas pelukannya lalu mencium singkat bibir Zahra. "Sepertinya malam ini waktunya berusaha, sudah dua hari libur. Jadwal yang pas."


Seketika senyum kecil mengembang di bibir Zahra. "Ih, Mas Rendra. Selalu ingat."


"Iya, kan di rekomendasikan dua atau tiga hari sekali. Tidak boleh terlalu sering."


Zahra masih saja tersenyum malu.


Rendra menarik tangan Zahra lalu menjatuhkannya di tengah ranjang. Mereka saling bertatap lekat dan penuh cinta.


"Aku mencintaimu..."


"Aku juga mencintaimu..."


Keesokan harinya setelah membeli bingkisan untuk Syifa, mereka menuju rumah Abah Husein. Setelah satu jam berlalu, Rendra kini menghentikan mobilnya di depan rumah Abah Husein.


Mereka berdua turun, dengan bingkisan besar yang dibawa Rendra.


Umi Laila menyambut Zahra dengan senyumnya tapi tidak dengan Abah Husein. Abah Husein masih menatap kaku Zahra dan juga Rendra bahkan masih tersirat kebencian dari kedua matanya.


"Zahra, lama gak ke sini nak? Umi kangen sama kamu." Kemudian mereka berpelukan beberapa saat.


"Zahra juga kangen sama umi."


Kemudian Zahra beralih pada Abah Husein dan mencium punggung tangannya meski Abah Husein tidak meresponnya.


"Syifa dan putrinya sedang ada di kamar. Ayo kita lihat." ajak Umi Laila.


Rendra dan Zahra mengikuti Umi Laila. Setelah sampai di kamar Syifa, Rendra meletakkan bingkisan itu di atas meja. Sedangkan Zahra tersenyum merekah melihat bayi mungil yang cantik itu.


"Cantiknya..." Zahra meraih bayi mungil itu lalu menggendongnya. "Siapa namanya?"


"Azizah."


"Hei, adek Azizah. Cantik sekali." Zahra mencium kedua pipi bulat itu.


Rendra hanya bisa tersenyum melihat kebahagiaan Zahra. Dia bisa merasakan, betapa inginnya Zahra memiliki seorang anak.


"Kamu belum isi, nak?" tanya Umi Laila.


Mendengar pertanyaan itu, seketika senyum Zahra memudar. Dia menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak apa-apa. Memang belum rezeki. Semoga cepat diberi momongan." kata Umi Laila.


"Iya, amin."


"Itu tandanya Allah belum bisa percaya menitipkan seorang anak pada kalian. Itu semua balasan atas semua dosa yang pernah kalian lakukan, terutama kamu Rendra sebagai imam rumah tangga."


Perkataan Abah Husein begitu menancap di hati Zahra. Seketika Zahra menurunkan Azizah di pangkuan Syifa. Sekuat tenaga dia menahan tangisnya agar tidak pecah di hadapan mereka semua. Hatinya terasa sangat sakit.


Begitu juga dengan Rendra. Dia mengepalkan tangannya sesaat, lalu dia merengkuh bahu Zahra. "Maaf, kita mau pulang dulu." kata Rendra tanpa menatap mereka semua.


Mereka berdua berjalan keluar dari rumah itu tanpa menoleh Umi Laila yang mengikuti mereka di belakang.


"Zahra, kenapa buru-buru, nak?" tanya Umi Laila yang berjalam dua meter di belakang mereka.


Zahra sudah tidak menoleh lagi. Dia kini menangis. Air mata itu mengalir dengan deras di pipinya. Rasanya sangat sakit.


Rendra membuka pintu mobilnya dan membantu Zahra masuk ke dalam mobil. Setelah Rendra masuk ke dalam mobil, dia memeluk tubuh Zahra yang bergetar hebat karena isak tangisnya.


"Sayang, udah. Jangan nangis..." Rendra mengusap punggung Zahra. Berusaha memberinya ketenangan. Dia tahu, ini sangat menyakitkan buat Zahra.


Zahra semakin menangis tergugu di pelukan Rendra. "Mas, aku..." Zahra sudah tidak bisa berkata lagi. Hanya suara tangis yang terdengar.


Umi Laila menghentikan langkahnya. Dia bisa mendengar tangisan pilu Zahra yang ada di dalam mobil.


"Abi, keterlaluan sekali." Umi Laila ikut meneteskan air matanya sambil membalikkan badannya lalu kembali masuk ke dalam rumah. "Zahra, yang kuat ya nak."


💕💕💕


.


Like dan komen ya...


.


😭