
Pandangan Rendra kini berhenti pada sebuah foto mobil sedan berwarna hitam. Dia mengernyitkan dahinya. Sepertinya dia pernah melihat mobil sedan berwarna hitam dengan plat nomor itu.
Sepertinya aku pernah melihat mobil ini. Tapi dimana?
Rendra berusaha mengingat-ingat mobil sedan itu.
Di gudang Papa!
Seketika keringat dingin mengalir di pelipisnya. Benarkah pelaku tabrak lari itu adalah Papanya?
"Mas kenapa?"
Mendengar pertanyaan Zahra seketika Rendra meletakkan album itu. Dia usap keringat yang membasahi pelipisnya. "Tidak apa-apa. Aku hanya haus, aku mau ambil minum dulu."
"Biar aku ambilkan saja." Zahra akan berdiri tapi dicegah oleh Umi Laila.
"Jangan, biar umi saja yang ambilkan. Umi sampai lupa, padahal kan umi sudah buat kue kesukaan Zahra. Sebentar ya." Umi Laila berdiri dan diikuti oleh Zahra.
"Mengapa polisi tidak mau mengusut kasus kecelakaan itu?" tanya Rendra berusaha mengorek sebuah informasi dari Abah Husein.
Abah Husein menggelengkan kepalanya. "Sepertinya pemilik mobil itu orang berkuasa atau orang yang berduit, sebelum ada laporan, pelaku lebih dulu menutup kasus itu."
Otot-otot Rendra semakin menegang. Bagaimana jika benar Papanya lah yang menyebabkan Ayah kandung Zahra meninggal?
"Sampai sekarang Abi begitu ingin menemukan pelaku itu. Setidaknya dia harus dihukum setimpal. Seandainya saja dia tidak melarikan diri dan membawa Mas Ali ke rumah sakit pasti Ayah kandung Zahra masih bisa tertolong." Abah Husein menghela napas panjang. "Tapi inilah takdir." Abah Husein kembali memandang mobil itu beberapa saat lalu menutup kembali album itu.
Beberapa saat kemudian, Zahra dan Umi Laila keluar dari dapur dengan membawa senampan minuman dan senampan makanan.
Zahra meletakkan segelas minuman hangat di depan Rendra. Rendra segera mengambil minuman itu dan meneguknya hingga habis.
"Mas, mau lagi?" tanya Zahra saat melihat gelas Rendra telah kosong.
"Tidak. Sudah ini saja." Kemudian Rendra terdiam. Dia masih memikirkan mobil itu. Rasa penasarannya membuatnya ingin segera mengungkap masalah ini. Dia kini mengambil ponselnya sambil berpikir. Bahkan dia tidak mendengar obrolan Zahra dengan umi dan abinya.
"Dengar-dengar kalian mau mengadakan resepsi? Bagaimana jadi kapan?"
"Kalau Zahra terserah Mas Rendra saja. Gimana Mas?"
"Hem?" Rendra tidak tahu apa yang dibicarakan mereka. Dia kini menatap bingung Zahra.
"Mas kenapa? Ada masalah?" tanya Zahra.
"Iya, ada masalah yang harus aku selesaikan. Setelah Maghrib, aku tinggal dulu gak papa kan?" Izin Rendra.
"Iya, gak papa Mas."
"Rendra, tidak apa-apa. Selesaikan dulu masalah kamu itu. Sepertinya ada masalah penting."
"Iya Umi. Ada masalah pekerjaan yang tidak bisa diatasi anak buah." bohong Rendra. Dia sebenarnya ingin ke rumah Papanya untuk memastikan semua itu. Dia masih ingat betul plat nomor yang sangat mudah dihafal itu.
Bagaimana jika Papa memang pelakunya? Apa yang harus aku lakukan?
...***...
Setelah sholat Maghrib, Rendra bersiap untuk pergi. Dia kini memakai jaketnya sambil sesekali menatap layar ponselnya.
"Zahra, nanti kalau aku belum pulang, kamu tidur dulu saja, jangan menunggu aku. Sepertinya aku sampai larut malam." pesan Rendra.
Zahra berjalan mendekati Rendra. "Tapi Mas Rendra gak sampai menginap kan?"
"Aku usahakan tidak." Rendra mencium kening Zahra lalu kedua pipinya.
Rendra mengusap puncak kepala Zahra sambil tersenyum. Jadi seperti ini rasanya dikhawatirkan seorang istri. "Nggak sayang. Jujur, aku mau menemui Papa. Ada masalah serius yang aku harus selesaikan. Gak akan bentrok senjata lagi."
Mendengar hal itu barulah Zahra bernapas lega. "Ya sudah, hati-hati ya Mas. Kalau pulangnya kemalaman, lebih baik Mas Rendra menginap saja di rumah Papa." Zahra mencium punggung tangan Rendra terlebih dahulu.
"Iya sayang." kemudian Rendra keluar dari kamar Zahra.
Zahra mengantar Rendra sampai teras rumahnya dan menunggu sampai mobil Rendra keluar dari halaman rumahnya baru dia masuk ke dalam rumahnya.
Rendra segera masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu dia hidupkan mesin mobilnya, dan beberapa saat kemudian mobil itu melaju meninggalkan rumah Zahra.
Setelah keluar dari komplek rumah Zahra, Rendra menambah kecepatan laju mobilnya. Paling tidak dia harus sampai di rumah Papanya sebelum dua jam agar tidak terlalu malam saat dia kembali ke rumah Zahra.
Bagaimana kalau Papa benar-benar yang menabrak Ayah kandungnya Zahra? Apa Zahra akan marah sama aku? Dan gak mau menerima kenyataan ini?
Rendra semakin menambah kecepatan mobilnya. Dia salip beberapa mobil yang menghalangi jalannya.
Setelah dua jam, akhirnya dia sampai di rumah Papanya. Dia harus segera memastikan sendiri keberadaan mobil itu.
Dia menekan bel rumahnya. Beberapa saat kemudian seorang pembantu membuka pintu untuknya.
"Tuan Rendra.." pembantu itu menunduk hormat saat Rendra masuk ke dalam rumahnya.
"Apa Papa hari ini pulang?"
"Tuan Marko sudah tiga hari tidak pulang ke rumah. Beliau ada di rumah Pak Kevin."
"Ya sudah. Ambilkan kunci gudang belakang. Ada barang yang mau aku ambil."
"Baik Tuan." Pembantu itu segera menuju ruang penyimpanan kunci dan mengambil kunci gudang belakang. Lalu menyerahkannya pada Rendra.
Setelah mendapat kunci itu, Rendra segera berjalan menuju gudang yang berada di belakang rumahnya. Dia hidupkan lampu terlebih dahulu lalu dia mengunci pintu usang itu dan membukanya.
Rendra mengibaskan tangan di depan hidungnya karena debu berterbangan saat dia membuka pintu itu. Dia berjalan masuk ke dalam gudang yang cukup luas itu.
Barang-barang sudah semakin penuh di gudang itu daripada terakhir kali yang dia lihat di lima tahun yang lalu. Kemudian dia bongkar kursi dan meja yang menutup mobil itu.
Kini dia membuka mantel mobil itu yang penuh debu.
"Mobil sedan dengan nomor plat yang sama!" Rendra menghela napas panjang sambil mengamati keseluruhan body mobil itu.
"Pa, ini kan mobil bagus. Kenapa ditaruh gudang. Biar Rendra modifikasi saja?" Rendra teringat saat dia masih duduk dibangku SMA dan ingin memodifikasi mobil itu tapi Papanya melarang.
"Jangan, mobil ini mesinnya sangat buruk. Daripada kamu memodifikasi mobil ini, nanti Papa belikan mobil yang baru saja."
Rendra menghela napas panjang. Kemudian dia mengelap body depan mobil itu dengan kain bekas.
"Lecet dan penyok? Jadi benar Papa pelaku tabrak lari itu."
Lutut Rendra terasa melemas, hal yang dia takutkan ternyata benar-benar terjadi. Dia kini duduk di dekat mobil itu sambil menghubungi Papanya.
"Papa, aku ada rumah. Papa ke sini sekarang! Ada masalah penting yang ingin aku bicarakan!"
.
💕💕💕
.
Like dan komen ya ..