
"Dokter, ada satu orang yang tingkat kecocokannya mencapai 80 persen." kata assistant Dokter Hendra.
Mendengar penjelasan itu seketika Dokter Hendra tersenyum. Dia segera melihat hasil tes mereka.
"Bagus, sudah ada titik terang."
Buru-buru Dokter Hendra keluar dari ruangan dan menghampiri keluarga Zahra yang masih setia menunggu di depan ruangan Zahra.
"Bagaimana? Apa ada yang cocok di antara kami?" tanya Abah Husein sambil berdiri mendekati Dokter Hendra.
"Hanya Pak Husein yang memiliki tingkat kecocokan paling tinggi." terang Dokter Hendra.
Abah Husein mengusap wajahnya. Dia beberapa kali mengucap syukur. Akhirnya dia bisa membantu Zahra. "Kapan transplantasinya akan dilakukan, Dok?"
"Besok pagi. Karena hari ini Zahra masih melakukan transfusi darah. Saya harus cek kestabilan kondisi Zahra terlebih dahulu." Setelah menjelaskan, Hendra masuk ke dalam ruangan Zahra.
Seketika Abah Husein memeluk istrinya. "Akhirnya abi bisa menebus kesalahan abi pada Zahra. Abi merasa sangat bersalah pada Zahra, selama ini abi selalu mengatur Zahra, Abi tidak adil memperlakukan Zahra. Sebenarnya abi hanya takut abi tidak bisa mendidik Zahra dengan baik sesuai amanah Mas Ali."
Umi Laila melepas pelukan suaminya. "Iya, umi tahu. Umi juga merasa kurang menyayangi Zahra. Semoga saja Zahra lekas sembuh dan dia bisa hidup bahagia bersama Rendra."
...***...
Rendra masih setia menemani Zahra di sisinya. Dia genggam dengan erat tangan Zahra.
"Cepat sembuh ya." Rendra mengangkat tangan Zahra dan menciumnya.
Beberapa saat kemudian Dokter Hendra masuk ke dalam ruangan Zahra tanpa permisi.
Bukan Rendra yang terkejut, melainkan Dokter Hendra saat melihat Rendra mencium tangan Zahra.
"Awas, jangan diapa-apain." canda Hendra.
"Aku lagi gak bisa bercanda, Hen."
Dokter Hendra mengecek kantong transfusi darah yang sudah tinggal setengah lalu mengecek infus dan memperlambat alirannya.
"Hasil tes mereka sudah keluar." kata Dokter Hendra.
Seketika Rendra berdiri dan menatap Hendra dengan serius. "Lalu ada yang cocok di antara mereka?"
"Pak Husein. Tingkat kecocokannya paling tinggi."
"Alhamdulillah, ya Allah." Rendra mengusap wajahnya. Sedikit beban di hatinya kini berkurang. "Lalu apa setelah proses transplantasi itu, Zahra akan segera sembuh?"
"Masih butuh proses. Tidak langsung instant. Tapi setidaknya sel darah yang di produksi sumsum tulang belakang mulai seimbang dan jika transplantasi itu berhasil maka tubuh Zahra akan berangsur membaik."
"Tolong lakukan yang terbaik buat Zahra."
"Kamu tenang saja. Kita semua akan berusaha melakukan yang terbaik untuk Zahra. Kamu terus berdoa buat kesembuhan istri kamu." Hendra menghela napas panjang setelah menyebut kata istri. "Istri? Ck."
Rendra menjotos lengan Hendra. "Dasar!"
"Entahlah, aku sendiri kapan menemukan jodoh. Aku gak sempat nyari." Hendra menertawakan dirinya sendiri. Hidupnya sudah dipenuhi dengan kesibukan, dia tidak sempat mencari pendamping hidup. Saat pertama kali menemukan Zahra, dia kira Zahra adalah jodoh yang dikirimkan Tuhan untuknya tapi ternyata Zahra adalah jodoh sahabatnya yang harus dia obati.
"Kalau kamu sih gampang, karir bagus, hidup sudah mapan, seorang Dokter lagi. Semua wanita juga gak akan menolak kamu." Rendra kembali duduk dan menggenggam tangan Zahra.
"Tapi tetap saja semua tergantung pada takdir. Nanti setelah Zahra sadar, suruh makan. Tadi pagi dia gak makan sama sekali. Sebagai seorang suami yang baik suapi dia sampai mau makan. Agak kamu paksa agar tubuh Zahra siap untuk melakukan transplantasi besok."
"Oke, siap."
"Kalau ada apa-apa langsung pencet tombol emergency. Aku gak mau ganggu pengantin baru lagi." Hendra tersenyum kecil. Memang menggoda Rendra adalah hiburan tersendiri baginya di saat penat bekerja. Karena hanya Rendra sahabatnya satu-satunya yang sampai saat ini masih sering berkomunikasi.
Setelah Dokter Hendra keluar, Rendra kembali menatap Zahra. Dia usap pipi Zahra dengan lembut. Beberapa saat kemudian, Zahra membuka matanya secara perlahan sambil menautkan alisnya.
"Akhirnya kamu sadar."
"Iya aku ambilkan." Rendra membuka botol air mineral kemudian dia dekatkan sedotan ke bibir Zahra agar Zahra lebih mudah meminumnya.
"Kamu sekarang makan ya. Biar aku minta ke suster jaga dulu." Tanpa menunggu jawaban dari Zahra, Rendra keluar. Hanya sesaat kemudian dia sudah kembali.
Rendra mengubah posisi brangkar agar Zahra bisa duduk sambil bersandar.
"Ada kabar bagus, besok kamu akan melakukan transplantasi." kata Rendra sambil tersenyum.
"Benarkah? Siapa yang cocok dengan aku?"
"Abah."
"Abi?"
Rendra menganggukkan kepalanya. "Semoga transplantasi itu berhasil dan kamu cepat sembuh." Rendra mengusap lembut pipi Zahra lagi.
Zahra hanya mengangguk pelan. "Amin."
"Setelah kamu sembuh, aku ingin mengadakan resepsi pernikahan kita seperti impian kamu."
Zahra menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu pesta yang mewah. Yang penting, kita sudah hidup bersama dan bahagia."
Rendra semakin menatap dalam kedua mata Zahra. Kali ini Zahra sudah tidak memalingkan wajahnya lagi seperti sebelumnya. Beberapa saat kemudian, Rendra semakin mendekatkan wajahnya. Satu kecupan manis mungkin akan membuat hidup Zahra lebih berwarna.
Tapi belum juga Rendra menyentuh bibir itu, suster masuk sambil membawa senampan makanan.
Rendra hanya tersenyum sambil menjauhkan wajahnya.
Sedangkan Zahra hanya menghela napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya yang kian berlomba.
"Makasih sus." kata Rendra setelah meletakkan satu nampan makanan di atas nakas.
Suster itu hanya mengangguk lalu keluar dari ruangan Zahra.
"Makan dulu mumpung buburnya masih hangat, ini juga ada sup ayam." Rendra mengambil sendok dan mulai menyuapi Zahra dengan mengucap basmalah terlebih dahulu.
Zahra hanya memandang makanan itu. Rasanya sulit sekali membuka mulutnya.
"Kamu harus makan agar kondisi kamu besok bisa stabil saat melakukan transplantasi itu."
Zahra akhirnya membuka mulutnya. Dia menerima satu suapan dari Rendra dan berusaha menelan bubur itu tanpa dia rasakan.
"Lagi," Rendra kembali menyuapi Zahra. "Ayo, kali ini harus habis. Biasanya aku memang gak bisa menyuapi kamu dan fokus menjaga kamu karena kita belum memiliki status. Sekarang aku sudah suami kamu. Aku akan fokus menjaga kamu. Aku akan selalu pastikan kamu makan sampai kenyang."
Zahra kembali menerima suapan demi suapan dari Rendra. Akhirnya satu mangkok bubur dan sup ayam itu telah habis.
"Alhamdulillah habis. Setiap makan, aku akan suapi kamu agar kamu lekas pulih."
"Makasih Mas. Harusnya aku yang melayani kebutuhan Mas Rendra sebagai seorang istri bukan seperti ini."
Rendra menggelengkan kepalanya. "Meskipun nanti kamu sudah sembuh, kamu tidak perlu melakukan pekerjaan rumah apapun. Kamu tinggal menikmati hidup bersama aku. Kecuali soal..." Rendra membisikkan sesuatu pada Zahra yang membuat mereka tertawa.
"Mas Rendra bisa aja. Malu."
"Tidak apa-apa. Sekali-kali kita pikirkan satu hal yang membuat kita bahagia di dunia."
💕💕💕
.
.
Like dan komen ya...