When Mafia Fall In Love

When Mafia Fall In Love
BAB 60



Rendra terus menggenggam tangan Zahra yang terasa dingin. Mereka sangat bahagia karena sebentar lagi mereka akan bertemu dengan dua buah hatinya. Tapi inilah saat-saat yang menegangkan, Zahra akan melakukan operasi sesar hari itu, tepatnya dua jam lagi.


"Jangan tegang. Rileks, semua pasti akan baik-baik saja." Rendra mencium kening Zahra. Dia berusaha untuk menenangkan ketegangan Zahra.


"Mas Rendra nanti menemaniku kan di dalam?" Semakin mendekati waktunya, Zahra semakin takut dan cemas.


"Iya, nanti setelah Dokter memperbolehkan aku masuk, aku akan menemani kamu." Rendra kini mengusap perut Zahra yang sangat besar itu. Si kembar masih bergerak aktif dan merespon setiap sentuhan Rendra. "Hay, my twins. Sebentar lagi kalian akan bertemu dengan Ayah dan Ibu." Kemudian Rendra mencium perut Zahra. "Tidak sabar ingin mencium kalian secara langsung."


"Aku juga udah gak sabar Mas, melihat mereka berdua lalu mencium pipinya dan memeluknya."


Beberapa saat kemudian, Zahra sudah dibawa ke ruang operasi. Di depan ruang operasi ada Pak Marko dan juga Umi Laila serta Abah Husein.


Rendra kini menunggu penggilan dari Dokter sambil mondar-mandir tidak tenang.


"Rendra, kamu tenang dulu. Semua pasti akan baik-baik saja."


Rendra menarik napas dalam lalu menghembuskannya.


"Mari, Pak Rendra sudah diperbolehkan masuk."


Rendra masuk ke dalam ruang operasi. Terlihat Zahra sudah terbaring dengan kain penutup hijau itu. Lampu sorot operasi juga sidah menyala terang. Zahra nampak setengah tersadar karena efek bius.


Rendra kini membungkukkan dirinya di sebelah Zahra. Dia genggam tangan Zahra yang terasa dingin itu.


"Mas Rendra..." Zahra masih bisa merespon dan berbicara meski setengah tubuhnya telah mati rasa.


Rendra memberi senyuman hangatnya pada Zahra. Dia terus berdoa dan memberi motivasi pada Zahra. Sesekali dia cium pipi Zahra.


Tak lama kemudian, suara tangisan bayi memenuhi ruangan itu. Dokter mengangkat seorang bayi laki-laki yang tampan lalu dia letakkan di di dekat dada Zahra.


"Bayi pertama, tampan sekali, mirip Ayahnya."


Tangis haru sudah membasahi pipi Rendra dan Zahra saat melihat putranya bergeliat kecil di dada kiri Zahra.


"Muhammad Affan Permana." Rendra tersenyum kecil sambil mengusap pipi putra pertamanya. "Semoga nanti Ayah tidak salah panggil ya, Affan."


Beberapa saat kemudian terdengar suara tangisan bayi yang kedua.


"Bayi kedua mirip sekali wajahnya, meskipun bukan kembar identik. Semoga namanya tidak tertukar ya. Tapi bayi yang kedua ada tanda lahirnya di belakang telinga."


Rendra dan Zahra tersenyum melihat bayi keduanya diletakkan di dada sebelah kanan. "Muhammad Azam Permana. Untung kamu ada tanda lahir, jadi Ayah tidak tertukar kalau manggil kalian."


Zahra hanya tersenyum sambil mengusap lembut punggung kedua putranya.


"Makasih sayang, perjuangan kamu luar biasa."


Zahra masih saja tersenyum kecil sambil terus menatap kedua buah hatinya. "Sepertinya mirip Mas Rendra semua. Tidak apa-apa, semoga kelak dia baik dan hebat seperti Mas Rendra."


Rendra hanya tersenyum sambil mengusap puncak kepala Alea.


"Permisi Pak, silakan menunggu diluar. Kami akan melakukan perawatan pada ibu dan bayi dulu."


"Baik." Rendra menegakkan dirinya lalu keluar dari ruang operasi. Dia langsung disambut oleh keluarganya.


"Bagaimana operasinya lancar?"


"Alhamdulillah lancar."


"Alhamdulillah..."


Setelah kedua putranya dipindah ke ruang bayi, Rendra segera menuju ke ruang bayi. Dia gendong Affan, lalu mengumandangkan adzan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri. Setelah itu berganti Azam.


"Semoga kalian menjadi anak yang soleh, berbakti pada kedua orang tua terutama ibu." Rendra kembali meletakkan putranya ke dalam box. Dia pandangi kedua wajah yang tertidur itu sambil menunggu Zahra dipindah ke ruang rawat.


...***...


Setelah berpindah ke ruang rawat, Zahra merasa sangat kedinginan. Meski sudah berselimut tebal.


"Mas, rasanya dingin banget."


Rendra mengambil selimut lagi dan menyelimuti Zahra. Dia matikan AC ruangan itu agar tidak semakin dingin.


"Mas, nanti kalau Affan dan Azam waktunya minum ASI bantu aku ya."


"Iya, aku akan selalu bantu kamu. ASI nya sudah keluar kan?"


Zahra tersenyum kecil, karena menginjak usia kehamilan 8 bulan, ASI nya sudah keluar dan tentu saja itu ulah Rendra.


"Kenapa senyum?"


"Gak papa." Kemudian dia menatap umi yang masih saja menggendong salah satu putranya. Satu lagi digendong abi yang sedang mengobrol dengan Pak Marko.


Rasa menggigil itu berangsur hilang. "Udah gak dingin." Zahra menyingkirkan satu selimut, karena sekarang justru rasanya panas.


Beberapa saat kemudian, Affan yang berada di gendongan Abah Husein menangis. Sepertinya dia haus.


"Sepertinya haus." Umi Laila menurunkan Azam yang masih tertidur di dalam box lalu meraih Affan dan membawanya mendekat pada Zahra.


Rendra membantu Zahra duduk dan bersandar pada brangkar yang sudah dia stel untuk bersandar. Dia ganjal punggung Zahra agar bisa sedikit tegak.


"Sakit Mas." Dibuat bergerak sedikit saja bekas operasi itu terasa sakit.


Umi Laila mengambil bantal lagi dan meletakkan di pangkuan Zahra agar dia bisa me nyu sui dengan nyaman.


Pertama kali mengasihi terasa kaku. Affan juga belum hafal tempatnya, meskipun sudah di dekatkan dia masih mencari-cari sumber nutrisinya.


"Sayang, ini." Akhirnya Affan berhasil menemukannya dan menghisapnya.


"Pintar sekali. Sebentar lagi pasti Azam juga bangun." kata Umi Laila.


Benar saja, setelah Affan kenyang, kini berganti Azam.


Rendra selalu setia menemani Zahra di sampingnya. "Aku sudah mencarikan pengasuh untuk membantu kamu merawat mereka."


Zahra hanya menganggukkan kepalanya.


"Setelah ini, kamu makan yang banyak dan bergizi. Aku juga akan belikan kamu vitamin dan booster ASI sesuai anjuran Dokter karena kamu mengasihi dua bayi sekaligus. Hmm, tiga bayi."


"Hah?" Zahra menatap Rendra bingung. Untunglah Umi Laila sudah kembali duduk bersama Abah Husein.


Rendra tertawa kecil. "Bercanda sayang."


"Ih, tiga bayi? Mas Rendra gak boleh. Cukup stimulasi kemarin aja."


Rendra hanya tertawa. Dia kini menatap Azam yang sedang menghisap dengan kuat.


"Azam, jagoan Ayah nih minumnya kuat banget."


Zahra tersenyum sambil mengusap pipi Azam.


"Nanti aku akan benar-benar mendidik mereka. Aku tidak mau mereka masuk ke dalam dunia gelap seperti aku dulu. Mereka tidak akan aku kenalkan dengan dunia gelap. Biarkanlah mereka tumbuh besar di wilayah pondok."


"Tapi mereka pasti memiliki hati yang baik seperti Mas Rendra. Dulu Mas Rendra pernah bilang kan, bahwa label seseorang tidak bisa menunjukkan sifat mereka." kata Zahra mengingat kenangan pertama dekat dengan Rendra.


"Kamu ingat aja, waktu itu aku hanya asal aja kalau bicara."


"Yang terpenting kita didik dan rawat mereka sama-sama."


"Itu pasti."


💕💕💕


.


Like dan komen ya...