
Zahra kini masuk ke dalam kamar Rendra yang luas. Ternyata kamarnya lebih luas daripada kamar yang pernah dia tempati sebelumnya dan tentu saja sangat rapi. Satu ranjang berukuran king size berada di tengah kamar itu.
Rendra membuka tirai jendelanya agar udara yang sejuk masuk ke dalam kamarnya.
"Barang-barang kamu masih sebagian di sini. Nanti kamu mau apa, tinggal bilang saja. Kalau mau shopping sendiri tunggu kondisi kamu pulih dulu." kata Rendra. Di dalam kamarnya kini ada dua lemari besar, satu miliknya dan satu milik Zahra. Dia bilang masih sebagian tapi di dalam lemari itu saja sudah penuh barang-barang milik Zahra.
Zahra hanya mengangguk kecil lalu berjalan menuju jendela. Dia teringat kenangan beberapa bulan yang lalu saat dia dan Rendra saling berbicara lewat jendela itu. Sekarang justru dia yang sudah berada di kamar Rendra.
Dia hirup udara yang sejuk itu. Lalu menghembuskannya sambil menatap langit biru yang cerah.
"Zahra, kamu istirahat dulu. Seharian belum istirahat." Rendra kini berdiri di samping Zahra.
"Iya, sebentar lagi." jawab Zahra.
Satu tangan Rendra perlahan bergerak di belakang Zahra, awalnya dia ragu tapi dia tepikan dulu rasa geroginya. Dia peluk tubuh itu dari belakang.
Dada Zahra berdebar tak karuan karena ini yang pertama baginya. "Eh, hmmm." Secara spontan dia ingin melepas pelukan Rendra tapi sedetik kemudian dia menghentikan tangannya yang berusaha melepas tautan tangan Rendra diperutnya.
"Kenapa?" Rendra justru menempelkan dagunya di bahu Zahra. "Kamu harus mulai terbiasa dengan pelukanku."
"Hmm, aku..."
"Gerogi? Iya, sama."
Kemudian mereka sama-sama terdiam merasakan detak jantung mereka yang kian berlomba. "Zahra..."
"Iya..."
"Aku mau jujur sama kamu. Kehidupan aku di masa lalu sangat buruk. Aku..." Rendra menghentikan perkataannya. "Apa kamu masih bisa menerimaku jika aku dulu pernah terlibat hubungan dengan wanita lain?"
Zahra hanya tersenyum kecil. Dia sangat menghargai kejujuran Rendra padanya. "Kita menikah dan memulai lembaran baru jadi lembaran lama itu harus kita tutup."
Senyum Rendra semakin mengembang. Dia benar-benar tidak salah menjatuhkan pilihannya pada Zahra.
Rendra memutar tubuh Zahra agar menghadapnya.
Pipi Zahra semakin merona saat saling berpandangan dengan Rendra dengan jarak sedekat itu. Bahkan hangatnya napas Rendra kini menyapu wajahnya.
Zahra hanya memejamkan matanya saat Rendra semakin mendekatkan wajahnya. Dia tak tahu harus bagaimana. Dia hanya bisa pasrah menerima perlakuan Rendra. Terasa lembut, basah, dan hangat. Rasanya seperti tersengat listrik di sekujur tubuhnya saat Rendra mulai bermain dengannya. Benar-benar terasa memabukkan dan membuatnya melayang di udara.
Zahra membuka matanya saat Rendra menjauhkan dirinya. Mereka kini saling menatap lalu tersenyum malu.
Rendra melepas pelukannya, dia menyugar rambutnya untuk menetralkan salah tingkahnya. Baru pertama kali ini dia merasa nervous berdekatan dengan wanita. Cinta itu benar-benar terasa di hatinya.
"Kamu sekarang istirahat ya." suruh Rendra.
Zahra menganggukkan kepalanya lalu dia naik ke atas ranjang dan merebahkan dirinya. "Mas Rendra gak istirahat juga?" tanya Zahra karena Rendra justru mengambil laptop apel nya.
Rendra meletakkan laptopnya di atas meja kerjanya lalu dia menghampiri Zahra dan duduk di sampingnya. Dia usap puncak kepala Zahra. Setelah dua minggu menikah saja Rendra masih belum pernah melihat rambut Zahra. Selama di rumah sakit dia selalu meminta bantuan suster saat Zahra akan membersihkan diri.
"Ada satu laporan yang harus aku cek. Hmm, kalau kamu mau ganti baju yang nyaman, biar aku ambilkan."
Zahra menggelengkan kepalanya. "Ini sudah nyaman. Maaf, aku masih malu sama Mas Rendra."
"Tidak apa-apa. Kamu juga masih butuh waktu untuk pemulihan."
Zahra kini mengambil guling dan memeluknya. Beberapa hari ini, dia memang sudah terbiasa tidur dengan usapan Rendra di kepalanya.
Rendra tersenyum menatap Zahra yang kini sudah memejamkan matanya. Setelah tidur Zahra nyenyak, Rendra beralih ke meja kerjanya. Sebenarnya banyak laporan yang harus dia periksa setelah beberapa minggu terbengkalai.
Hingga saat sore hari menjelang maghrib, Zahra kini membuka matanya. Perlahan dia duduk dan melihat suaminya tidur sambil menelungkupkan kepalanya di atas meja.
"Mas Rendra malah tidur di meja. Kalau capek harusnya tidur dulu." Zahra turun dari ranjang lalu duduk di sebelah Rendra. Layar laptopnya saja masih menampilkan halaman kerjanya.
"Mas..." Zahra sedikit menggoyang bahu Rendra. "Kalau mau tidur di ranjang saja."
Rendra menegakkan dirinya dan membuka mata merahnya. "Astaga, aku ketiduran." Rendra mengusap wajahnya dan membuang rasa kantuknya. Dia menoleh jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah 5 sore. "Sudah sore. Kamu mandi dulu ya. Aku panggil Bi Mina dulu biar bantu kamu."
Rendra berdiri. Dia masih saja mengucek matanya yang terasa berat untuk terbuka. Dia kini menuruni anak tangga dan mencari salah satu pembantunya.
"Ngantuk banget kelihatannya." kata Kevin yang berpapasan dengan Rendra di bawah tangga.
"Iya, banyak kerjaan." Rendra masih saja menguap beberapa saat.
Kevin mengikuti Rendra berjalan ke belakang. "Banyak kerjaan atau sibuk bergadang." cibir Kevin.
Otak Rendra masih tak terhubung dengan perkataan adik iparnya itu. Dia kini membuka kulkas dan meminum air putih dingin agar matanya segera terbuka lebar.
Setelah itu dia menyuruh salah satu pembantunya untuk membantu Zahra. "Bi Mina, tolong bantu Zahra di kamarnya ya. Dia mau mandi."
"Baik Tuan." Bi Mina segera melaksanakan perintah Rendra.
"Kamu kan suaminya kenapa minta bantuan sama pembantu?" tanya Kevin. Ternyata Kevin lebih usil daripada adiknya sendiri.
"Zahra masih dalam masa pemulihan." jawab Rendra sambil duduk di meja makan dan mengambil apel lalu menggigitnya.
Kevin tertawa cukup keras. "Oke, alat tembaknya masih ori belum pernah diuji coba sedang dalam masa pemulihan, tapi bukankah masih banyak jalan menuju roma." Kevin menepuk punggung Rendra sambil berlalu.
Untunglah Rendra tidak sampai tersedak apel yang sedang dia kunyah. "Adik ipar gak jelas. Pentesan buat anak ngebut banget cuma berjarak satu tahun."
Rendra menghabiskan apelnya sambil memikirkan perkataan adik iparnya.
"Masih banyak jalan menuju roma."
Iya, ada benarnya juga. Kayaknya mulai besok harus aku sendiri yang bantu Zahra. Biar tidak merasa canggung lagi saat berdekatan.
Rendra tersenyum penuh arti.
💕💕💕
.
.
Like dan komen ya...
.
Aku kasih bahagia-bahagia dulu nih. 😂 Meskipun Rendra belum sungkem ke rumah. Aku tungguin amplopannya juga gak di kasih.
.
.
Yang belum baca kisahnya Kevin dan Alea, yuk mampir dulu di Godaan Sang Mantan..