When Mafia Fall In Love

When Mafia Fall In Love
BAB 48



Matahari sudah bersinar terang menerobos tirai jendela kamar Rendra dan Zahra. Mereka masih tidur dengan nyenyak sambil berpelukan erat di bawah selimut.


Beberapa saat kemudian Zahra menggeliat kecil. Sepertinya dia telah melewatkan sesuatu.


Seketika kedua matanya terbuka lebar saat menyadari matahari telah merangkak naik dan bersinar terang.


"Astaghfirullah, Mas udah siang."


Mendengar suara Zahra dan goyangan di lengannya membuat Rendra membuka matanya. Dia usap wajahnya lalu menoleh tirai. "Iya, matahari udah bersinar terang."


"Sholat subuh jadi terlewat." Perlahan Zahra duduk sambil menahan selimutnya agar tidak melorot.


"Maaf ya, harusnya aku bangunin kamu." Rendra meraih ponselnya, biasanya alarmnya berbunyi dengan keras saat subuh. "Ternyata hp aku lowbath, pantas gak bunyi. Besok aku pasang alarm di hp lain agar tidak terlambat bangun lagi."


Dia kini menatap Zahra yang wajahnya cemberut karena terlambat bangun dan meninggalkan sholat subuh. Dia raih bahu Zahra lalu menciumnya singkat.


"Mas sih, semalam nambah dua kali. Yang kedua gak selesai-selesai sampai malam." Wajah Zahra masih saja ditekuk.


Rendra semakin tertawa. Dia cubit hidung mancung itu lalu memeluknya erat. "Udah nyandu. Besok-besok aku pastiin gak akan terlambat bangun lagi."


Dua tangan kokoh yang mengalung di leher Zahra membuatnya nyaman. Seolah dia enggan untuk melepas pelukan itu.


"Sayang mandi yuk. Hari ini aku mau manggil weding organizer untuk bicarain konsep acara kita."


Zahra hanya menganggukkan kepalanya. Dia akan turun dari ranjang tapi Rendra dengan cepat meraih tubuhnya dan menggendongnya.


"Mas." pekik Zahra seiring tubuhnya yang melayang di udara.


Rendra hanya tersenyum penuh arti sambil membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


"Sekali lagi untuk pagi hari yang cerah ini." Rendra mendekatkan wajahnya dan sentuhan lembut itu kembali terulang lagi.


"Zahra, aku sangat mencintaimu..." ucap Rendra di antara suara deru napas yang kian berat.


"Aku juga sangat mencintai kamu..."


...***...


Setelah sarapan di hari yang menjelang siang itu, mereka masih saja sekali-kali melempar senyum. Layaknya sepasang pengantin baru yang sedang di mabuk asmara.


Mereka kini duduk di ruang tamu. Ada tiga orang dari weding organizer yang akan membicarakan konsep resepsi pernikahan mereka.


"Sayang mau nuansa apa? Putih?" tanya Rendra sambil melihat beberapa contoh konsep acara di album foto.


"Iya, aku ingin nuansanya putih."


"Ini bagus," tunjuk Rendra pada salah satu foto. "Jadi nanti di pintu masuk ada bunga-bunga yang mengarah ke pelaminan." Rendra menjelaskan tata letak yang dia inginkan sesuai dengan halaman rumahnya yang luas. "Kebetulan kan outdoor jadi langsung digabung saja dari halaman depan ke taman samping. Nanti dekornya penuhi dengan bunga ala-ala khayangan. Soalnya nanti ada bidadari cantik yang akan menempati pelaminan itu." kata Rendra sambil melirik Zahra yang tersenyum malu.


"Pilihan yang sangat bagus. Nanti kita coba lihat dan ukur halamannya dulu. Nanti kita buat gambaran sesuai keinginan Bapak. Untuk cateringnya, kami juga bekerja sama dengan beberapa catering ternama. Ini menu-menu andalan mereka."


Hati Zahra seolah dipenuhi bunga. Dia tidak menyangka hidupnya akan sesempurna ini sekarang. Ada Rendra yang selalu membuat hidupnya lebih indah dan sempurna.


"Sayang, mau yang mana?" tanya Rendra.


"Terserah Mas Rendra saja."


Rendra dengan cepat memilih menu-menu terbaik untuk acaranya. Dia tidak peduli berapa nominal yang harus dia keluarkan untuk acaranya nanti. Yang terpenting dia ingin membahagiakan Zahra.


"Dulu waktu aku kecil, aku pernah bermimpi ingin mengadakan sebuah pesta pernikahan yang sangat mewah, seperti seorang putri raja."


"Sayang, nanti kamu undang sekalian semua pengurus dan santri di pondok. Nanti aku sewakan bus juga jadi mereka tinggal berangkat." kata Rendra setelah menyudahi obrolannya dengan wedding organizer. Mereka bertiga telah keluar untuk mengukur halaman dan taman rumah Rendra.


Zahra hanya tersenyum sambil menatap nanar Rendra. "Makasih."


"Buat?"


"Semuanya. Aku gak menyangka, Mas Rendra mewujudkan semua keinginanku satu per satu."


Rendra merengkuh bahu Zahra dan mengusap lengannya. "Karena keinginan aku adalah membahagiakan kamu."


Setelah konsep dan segala macamnya deal, karyawan wedding organizer itu pamit undur diri.


"Dua minggu lagi." Rendra menatap ponselnya sambil menghitung karyawan, teman, dan saudaranya yang akan dia undang. "Kamu butuh undangan berapa? Aku mau pesan undangan. Kita juga harus cepat hubungi pihak catering mau pesan berapa pax."


"Nanti aku tanyakan abi dulu. Aku gak tahu pastinya."


Beberapa saat kemudian, Pak Marko datang.


Rendra dan Zahra secara bersamaan mendongak menatap Pak Marko yang baru saja melewati ambang pintu.


"Papa ke sini kenapa gak bilang dulu?"


Pak Marko hanya terdiam. Wajahnya terlihat sangat kaku saat menatap Zahra. Rasa bersalah itu kembali menyelimuti dirinya.


"Pa, aku udah putuskan untuk mengadakan resepsi dua minggu lagi. Papa butuh undangan berapa?" tanya Rendra.


Tapi Pak Marko justru berlutut di hadapan Zahra. "Zahra, maafkan Papa ya, nak. Papa yang menyebabkan kamu kehilangan Ayah kandung kamu. Papa hanya seorang pengecut yang lari dari tanggung jawab dan hukuman."


"Papa..." Zahra menahan kedua lengan Pak Marko agar dia kembali berdiri. "Papa, Zahra sudah memaafkan Papa. Zahra sudah tidak mau mengungkit kasus ini lagi. Semua sudah berlalu. Meskipun sekarang Papa mendapat hukuman, tidak akan bisa merubah takdir itu."


"Papa, berdiri. Sudah, tidak usah membahas lagi masalah itu." Rendra meraih tubuh Papanya dan memaksanya duduk di atas sofa.


"Dua hari ini Papa tidak bisa tidur. Papa terus memikirkan masalah ini. Papa sangat takut masalah ini akan berdampak pada hubungan kalian. Tapi syukurlah, kalian baik-baik saja. Terima kasih Zahra, kamu sudah mau menerima putra saya apa adanya."


Zahra menganggukkan kepalanya. "Iya Pa. Sudah, tidak perlu lagi membahas masa lalu."


Pak Marko akhirnya tersenyum dengan mata nanarnya. "Rendra, Papa sangat bersyukur kamu mendapatkan istri seperti Zahra. Bahagiakan selalu Zahra ya."


"Pasti, Pa. Aku pasti akan selalu membahagiakan Zahra." Rendra tersenyum sambil menatap Zahra.


Zahra juga membalas tatapan cinta Rendra. "Aku juga sangat bersyukur, bisa menghabiskan sisa hidupku bersama Mas Rendra."


Mereka saling berpandangan penuh cinta. Andai saja tidak ada Pak Marko, Rendra pasti sudah membawa Zahra ke kamarnya lagi.


"Eh, Papa mau undang berapa orang?" Rendra kembali fokus pada pembicaraan sebelumnya.


"Papa hanya ingin mengundang keluarga saja. Ini acara kalian berdua jadi kalian saja yang menentukan undangannya."


Pak Marko tersenyum menatap kebersamaan mereka yang terlihat sangat harmonis. Selain mendapat seorang istri, akhirnya Rendra juga mendapat penerang dalam hidupnya.


💕💕💕


.


.


Like dan komen ya...