When Mafia Fall In Love

When Mafia Fall In Love
BAB 61



Hari-hari pun berlalu begitu cepat. Si kembar sekarang sudah berusia empat bulan. Mereka sudah bisa tertawa saat digoda. Tumbuh kembangnya juga sangat bagus.


Apalagi Azam yang selalu ceria dan juga suka teriak-teriak. "Azam," Rendra menggoda Azam yang tertawa sangat keras. "Azam sudah ganteng dan wangi, jalan-jalan yuk sama Ayah mumpung Kak Affan sedang dimandikan ibu. Yuk!"


Rendra menggendong Azam dan dihadapkan ke depan. Kedua kaki itu menendang bebas di udara dan dia tertawa ceria saat keluar dari rumah.


"Senangnya diajak jalan-jalan." Rendra berjalan-jalan di sekitar taman rumahnya. Beberapa anak buah Rendra masih menjaga rumah Rendra dengan ketat, apalagi sekarang ada kedua malaikat kecilnya. Rendra semakin menambah tingkat keamanannya.


Dia juga sudah menemukan lokasi markas Elang Hitam yang baru. Jika mereka berulah lagi, Rendra pasti akan memporak poranda kan markas mereka.


"Kita berjemur dulu Azam." Rendra duduk di kursi tamannya. Matahari bersinar dengan hangat menyentuh kulitnya.


Azam masih saja tertawa bahagia dengan kaki yang tak bisa diam.


"Assalamu'alaikum."


Rendra dikejutkan dengan salam itu, seketika dia mendongak. "Wa'alaikumsalam. Hendra kapan kamu balik? Tumben ucap salam dulu."


Hendra menjabat tangan Rendra sesaat sambil menepuk punggungnya. "Sekarang harus ucap salam dulu pada pimpinan pondok pesantren."


Rendra masih saja tertawa, dia menggeser dirinya agar Hendra duduk di sebelahnya. "Kapan kamu balik ke sini?"


"Sudah tiga bulan yang lalu. Baru ada waktu buat ke sini. Wah, si kembar udah besar." Hendra meraih Azam dan memangkunya. "Lucu banget sih, sayang mukanya mirip kamu."


"Kan ini anak aku, masak iya mau mirip kamu."


Hendra tertawa dan menggoda Azam. "Mana yang satunya."


"Lagi dimandiin. Gimana? Udah dapat jodoh?"


Hendra hanya tersenyum masam sambil menggelengkan kepalanya. "Belum bertemu."


"Ingat kata-kata kamu dulu, kalau sampai umur 30 tahun kamu belum mendapatkan jodoh, kamu akan mencari Bella."


Hendra tersenyum penuh arti. "Iya, dimana dia sekarang?"


"Dia sekolah di kota, kos di sana. Harusnya dia lulus tahun ini."


Rendra kini menatap sahabatnya. "Jangan bilang kamu beneran mau mencari Bella."


"Seperti apa yang sudah pernah aku bilang, sebelum aku dijodohkan sama orang tua aku." Hendra tersenyum kecil karena kedua orang tuanya sudah memaksa dia untuk segera menikah.


"Tante Firda sudah sangat ingin punya cucu, makanya kamu dijodohkan."


"Iya, memang aku yang terlalu lama sendiri. Dulu sempat nemuin bidadari cantik ternyata jodoh kamu. Miris sekali hidup aku." Hendra menghela napas panjang. Dia dulu juga sempat menyukai Zahra tapi ternyata dia jodoh Rendra.


Beberapa saat kemudian Zahra yang sedang menggendong Affan keluar dari rumah. "Ada Dokter Hendra, sudah lama?"


"Baru saja sampai." jawab Hendra.


Kemudian Rendra mengambil Affan dari gendongan Zahra.


"Zahra sudah benar-benar sehat?" tanya Hendra pada Rendra yang kini sudah duduk di sampingnya.


"Alhamdulillah. Tapi sampai sekarang masih rutin chek dan minum vitamin. Apalagi sekarang ada baby twins, takutnya dia kecapekan jadi pola makan dan nutrisi harus benar-benar dijaga."


"Hai," Hendra mencubit pipi Affan yang berada di pangkuan Rendra. "Yang satunya kalem ya."


"Iya, ini Affan. Dia memang anteng. Beda dengan Azam yang lebih aktif. Mereka memang tidak kembar identik jadinya beda karakter." Rendra menciumi pipi chubby Affan tapi dia hanya tersenyum kecil.


"Hebat, sekali tembak langsung jadi dua."


Rendra justru tertawa. "Tembaknya berkali-kali tapi gak tepat sasaran. Aku menunggu kehadiran mereka sampai dua tahun."


"Iya, aku dulu lupa mau kasih tahu kamu kalau efek dari obat-obatan itu berpengaruh pada kesuburan."


"Semua sudah berlalu. Lihat nih, aku udah punya dua jagoan." Kemudian Rendra berdiri dan mengajak Hendra masuk ke dalam rumah. "Kita sarapan dulu."


"Kebetulan sekali, aku memang belum sarapan. Aku mau liburan di sini untuk beberapa hari." Hendra mengikuti langkah Rendra masuk ke dalam rumah. "Karena minggu depan aku sudah mulai bekerja di rumah sakit pusat. Sudah disibukkan lagi dengan berbagai ketegangan."


Rendra menurunkan Affan di dalam strollernya. Dia hanya tersenyum sambil memainkan mainan gantung tapi saat Hendra akan menurunkan Azam, dia justru menangis.


"Azam, pasti haus. Sini." Zahra meraih Azam lalu duduk di dekat meja makan.


Rendra memasang apron untuk menutupi bagian dada Zahra agar tidak terlihat saat me nyu sui.


"Sambil aku suapi ya. Waktu sarapan kamu sudah hampir terlewat." kata Rendra. Dia memang sering menyuapi Zahra saat sedang mengasihi. Karena waktu Zahra tersita banyak dengan mengurus si kembar.


"Mas, aku tadi kan udah makan roti sama minum susu. Mas Rendra makan dulu saja"


"Itu kan hanya cemilan." Rendra mengambil piring dan mengisinya dengan nasi serta lauk lalu mulai menyuapi Zahra. "Hendra, katanya kamu lapar, kenapa jadi lihatin kita. Jangan baper, nanti kalau sudah waktunya kamu juga akan suap-suapan sama Bella."


"Dokter Hendra jadi sama Bella?" tanya Zahra.


"Gak ada pilihan lain, keburu jadi perjaka tua." sahut Rendra.


"Sial lo! Bukannya gak ada pilihan, justru terlalu banyak pilihan jadi bingung." kata Hendra karena sebenarnya banyak yang mengenalkannya dengan wanita tapi Hendra justru bingung akan memilih wanita yang seperti apa.


"Dari dulu juga bilangnya gitu." cibir Rendra.


Rendra dan Hendra semakin tertawa, sedangkan Zahra hanya tersenyum kecil karena dia sedang mengunyah makanan.


Mereka kembali mengobrol di meja makan sambil sarapan. Sesekali mereka tertawa, begitulah jika Rendra dan Hendra bertemu, ada saja obrolan lucu mereka.


💕💕💕


.


Like dan komen ya...