
Sudah segala cara Rendra lakukan untuk mencari Azam, tapi sampai saat ini Azam masih belum ditemukan. Hampir delapan bulan sudah berlalu sejak tragedi itu. Meski sampai bertahun-tahun pun Rendra tetap tidak akan menghentikan pencarian itu.
"Bos, kita dengar keluarga Arsen telah pindah ke London." lapor anak buah Rendra.
"London? Kalian tahu siapa saja yang berangkat ke sana? Coba cari data ke maskapai penerbangan, apa ada anak balita dalam perjalanan mereka."
"Kita sudah cek. Hanya ada empat orang dewasa dan satu anak berusia lima tahun atas nama Adam Alexander dan kita juga sudah melihat salinan pasport anak itu. Dia putra pertama Arsen."
Rendra menghela napas panjang. "Kalian cari informasi lagi tentang mereka. Jangan berhenti sebelum jejak Azam ketemu."
"Baik Tuan."
Setelah anak buahnya pergi, dia kini duduk di taman bekas play ground yang dibom waktu itu. Dia hanya menatap kosong bunga-bunga yang bermekaran. Tempat itu sekarang menjadi sebuah taman yang cantik.
"Mas," Zahra datang dan duduk di sebelah Rendra.
"Sayang, kamu sama siapa ke sini? Kan aku suruh istirahat saja di rumah." Tangan Rendra kini terulur mengusap perut besar Zahra. Tinggal menghitung hari lagi Zahra akan melahirkan.
"Sama Abi. Kebetulan Abi sedang ada keperluan dengan Kyai Haji Rahman."
Rendra hanya menganggukkan kepalanya. "Perutnya kencang banget."
"Iya Mas, dari tadi rasanya gak nyaman banget."
"Mulas gak?" tanya Rendra. Sepertinya Zahra sudah waktunya melahirkan.
"Iya tadi, terus hilang. Makanya aku susul Mas Rendra ke sini."
"Kenapa gak telepon saja?"
Zahra menggelengkan kepalanya. "Aku mau melihat bunga-bunga yang tumbuh cantik di sini terlebih dahulu sambil menunggu waktunya tiba." Kemudian Zahra menyandarkan kepalanya di bahu Rendra.
"Sampai sekarang jejak Azam masih belum ditemukan." kata Rendra. Dia kembali menatap bunga-bunga cantik itu.
"Iya, aku sudah berusaha ikhlas. Dimanapun Azam berada, semoga selalu bahagia."
"Amin." Rendra kembali mengusap perut Zahra. Mereka nikmati sore hari yang sejuk dengan angin sepoi-sepoi itu.
Tiba-tiba tangan Zahra mencengkeram kuat pergelangan tangan Rendra. Dia tarik napas panjang lalu menghembuskannya.
"Sayang, mulas?" Perut Zahra terasa semakin kencang.
Zahra hanya menganggukkan kepalanya.
"Kita ke rumah sakit sekarang saja." kemudian Rendra membantu Zahra berdiri. Lalu dia memerintahkan anak buahnya untuk membawa mobilnya.
"Abah, kita mau ke rumah sakit sekarang." kata Rendra saat berpapasan dengan Abah Husein yang baru saja keluar dari ruang pengurus pondok.
"Zahra mau melahirkan sekarang? Ya sudah, hati-hati. Semoga persalinannya lancar. Sebentar lagi Abi susul sama Umi. Kebetulan Syifa juga sedang dalam perjalanan ke sini, biar ada yang menjaga Affan."
"Iya abi."
Kemudian mereka berdua masuk ke dalam mobil. Beberapa saat kemudian, mobil sudah melaju menuju rumah sakit.
Sepanjang perjalanan, Rendra terus menggenggam tangan Zahra. Rasanya lebih tegang daripada saat menemani Zahra operasi si kembar dulu. Sekarang dia benar-benar melihat wajah kesakitan Zahra dengan keringat yang membasahi pelipisnya.
"Kamu ibu yang hebat. Aku yakin kamu bisa. Aku akan selalu berada di sisi kamu, menemanimu berjuang."
Setelah rasa mulas mereda, dia kembali menegakkan dirinya. "Mas, tolong bilang sama umi suruh bawa perlengkapan aku yang ada di tas di dalam kamar."
"Iya sayang," Rendra segera melakukan sesuai perintah Zahra. Dia menghubungi Umi Laila.
Setelah itu Rendra kembali memeluk tubuh Zahra. Dadanya terus berdetak tak karuan. Andai saja rasa sakit itu bisa berpindah, dia ingin merasakan rasa sakit itu.
Setelah sampai di rumah sakit, Zahra segera dibawa ke ruang observasi. Dokter kandungan yang biasa memeriksa Zahra segera menanganinya. Dia cek pembukaan Zahra.
"Sudah pembukaan lima. Jika masih kuat bisa dibuat jalan-jalan kecil atau duduk di atas bola agar proses pembukaannya semakin cepat."
Dengan setia Rendra menemani Zahra melewati setiap proses rasa nikmat itu. Keringat Zahra semakin membasahi pelipis dan tubuhnya. Sesekali Rendra mengusapnya dengan tisu.
"Mas," Zahra tak banyak mengeluh. Dia hanya memanggil Rendra saat rasa mulas itu semakin menjadi.
Rendra kini mengusap pinggang Zahra untuk memberinya rasa nyaman meski tidak bisa mengurangi rasa sakit.
"Sudah semakin intens rasa sakitnya?"
Zahra menganggukkan kepalanya, bahkan kini sudah terasa dorongan dari dalam.
"Pembukaannya sudah sempurna." Dokter Weni segera memerintahkan pada assistantnya untuk menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan dalam proses bersalin.
Dua orang suster juga ikut membantu menanganinya. Mereka memasang infus di pergelangan tangan Zahra, lalu mengatur posisi tubuh Zahra yang pas dengan setengah duduk.
"Bunda, jika ada dorongan langsung tarik napas, keluarkan secara perlahan dengan ditiup, lalu dorong."
Rendra semakin menggenggam erat tangan Zahra. Dia terus membacakan doa untuk kelancaran persalinan Zahra.
Dengan tenang Zahra mengikuti instruksi dari Dokter. Dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk melahirkan buah hatinya.
"Sayang, kamu hebat." Rendra mengusap puncak kepala Zahra. Rasanya dia sangat tidak tega melihat perjuangan Zahra seperti ini.
"Iya, dorong terus bunda. Kepalanya sudah keluar."
Dan beberapa saat kemudian tangisan bayi itu pecah memenuhi seisi ruangan.
"Selamat, bayinya sangat cantik." Dokter Weni mengangkat tubuh bayi mungil itu setelah memotong tali pusatnya lalu dia letakkan di dada Zahra.
"Assalamu'alaikum cantik." Zahra tersenyum dalam tangis harunya.
"Cantiknya Ayah." Rendra mengusap lembut pipi yang bergerak-gerak itu karena si bayi imut sedang mencari sumber kehidupannya.
"Amirah Ziya Permana."
Zahra tersenyum saat Rendra menyebutkan nama yang sudah dipikirkan semenjak mengetahui jenis kelaminnya. "Artinya seorang ratu yang bercahaya dan tentu saja putri dari Rendra Permana."
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
.