
"I would like to invite you and your manager to stay at my family villa in Dubai. That is if you please."
(Saya mau mengajak kamu dan manager kamu untuk tinggal di villa keluarga saya yang berada di Dubai. Itu jika kalian berkenan.)
"But prince, tomorrow afternoon I will return to Korea because my vacation time is over." Jujur Dafina bingung harus bagaimana. Ia sebenarnya ingin menerima ajakan dari pangeran mahkota Dubai ini tetapi di sisi lain ia akan kembali ke Korea besok sore.
(Tapi pangeran, besok sore saya sudah balik ke Korea karena waktu saya berlibur telah usai.)
"I see. I hope you can stay at the villa with me and the rest of my family. Regarding your departure to South Korea, I can take you directly to the airport or need to use the royal plane," ucap Faza meyakinkan Dafina.
(Saya mengerti. Saya berharap kamu bisa menginap di villa bersama saya dan keluarga saya lainnya. Untuk masalah keberangkatan kamu ke Korea Selatan, saya bisa mengantarkan kalian langsung ke bandara atau perlu menggunakan pesawat kerajaan).
"I am willing if not to trouble the royal family. But my things are still in the hotel not packed into the suitcase. Can I pack my things first and take them with me?"
(Saya bersedia jika tidak merepotkan keluarga kerajaan. Tetapi barang-barang saya masih ada di dalam hotel belum di kemas ke koper. Apa saya bisa mengemas barang saya dahulu dan membawanya sekalian bersama saya?)
"Of course. I will take you to the hotel and wait for you to pack your luggage. If necessary I will help you," ujar Faza.
(Tentu bisa. Saya akan mengantar kalian ke hotel dan menunggu kalian mengemasi barang bawaan kalian. Kalau perlu saya akan membantunya).
Dafina memberikan senyuman. "Thank you prince. When and where do I and my manager come to your family villa?" tanyanya.
"Now you can too. I'll take you to the hotel then we'll go straight to my family's villa."
(Sekarang juga bisa. Saya akan mengantar kalian ke hotel lalu kita akan langsung pergi ke villa keluarga ku.)
"Have you finished your business here?" tanya Dafina. Jika keluarga kerajaan Dubai ada disini maka mereka pasti ada urusan disini apalagi Faza yang merupakan pangeran mahkota.
(Apakah urusanmu disini sudah selesai?)
"My business is finished while for my father and my royal family and the Arab royal family is not over yet," jawab Faza. Dafina mengangguk mengerti.
(Urusan saya sudah selesai sementara untuk ayah saya dan keluarga kerajaan saya serta keluarga kerajaan Arab belum usai).
"Alright then I'll look for Claura first. Later we meet here again prince," ucap Dafina sembari berpamitan untuk mencari managernya.
(Baiklah kalau begitu saya akan mencari Claura terlebih dahulu. Nanti kita bertemu disini lagi pangeran).
"Be careful." Faza tersenyum tanpa gadis itu ketahui.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sebuah mobil Toyota berhenti di depan lobby hotel. Faza memberhentikan mobilnya saat mereka telah sampai di hotel yang mereka tuju.
"Do you guys need my help?" tanya Faza siapa tahu mereka membutuhkan bantuannya.
(Apa kalian butuh bantuan saya?)
"No need prince, we can be alone," tolak lembut Dafina.
(Tidak usah pangeran, kami bisa sendiri).
"Okay. Then I'll wait there. If I park the car right in front of the lobby it can block other cars or people," ucap Faza menunjuk tempat yang tidak jauh dari tempat mereka berada.
(Baiklah. Kalau begitu saya tunggu di sana. Jika saya memakirkan mobil di depan persis lobby bisa menghalangi mobil atau orang yang lain).
Mereka berdua mengangguk mengerti. Setelah itu mereka keluar dari mobil dan bergegas untuk mengepak semua barang bawaan mereka.
"Lo yakin kita nginap di villa Pangeran Dubai itu?" tanya Claura yang sedang memasukkan pakaian ke dalam koper.
"Iya, lagian juga kita diundang. Sebenarnya gue juga bingung harus nolak apa gak, terutama kita akan pulang besok sore. Tapi Pangeran Faza seperti maksa gitu," balas Dafina sembari memasukan pakaian dan barang-barang miliknya ke dalam koper sama seperti Claura.
"Tapi lumayan juga loh pangeran Dubai itu. Udah ganteng, muslim banget, tajir melintir, famous lagi. Gak ada yang terjadi di antara kalian kan?" Terdengar seperti godaan yang Claura lontarkan. Claura itu menatap geli sahabatnya.
"Gak ada lah njir! Gak usah halu lu jadi orang."
Claura mengangguk mengiyakan perkataan Dafina. "Baiklah kalau begitu, sabi kali gue embat ye kan bestie?"
Dafina yang sedang menggeret kopernya menuju luar langsung berhenti mendengar ucapan Claura.
"Buat apaan lo gebet Faza?"
"Lah? Suka-suka gue dong." Claura melengos pergi meninggalkan Dafina yang menatapnya kesal. Bisa-bisanya ia diberi jawaban begitu!
Setelah melakukan check-out, mereka berdua berjalan keluar dari lobby hotel dan menuju mobil Toyota yang tadi mengantarkan mereka.
Tok tok tok
Claura mengetuk kaca mobil dari luar. Faza yang sedang sibuk dengan handphone langsung mengalihkan ketika mendengar ketukan pada kaca mobilnya. Pria itu bisa melihat dua perempuan yang sedari ia tunggu. Ia membuka bagasi mobil lalu keluar dari mobil menghampiri mereka.
"Let me put your suitcase in the trunk." Faza mengambil alih dua koper milik mereka dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil.
(Koper kalian biar saya masukkin ke dalam bagasi.)
"Thank you prince."
Faza menatap Claura yang mengucapkan terimakasih kepadanya. Ia menganggukkan kepalanya sebagai respon. "Let's go inside, we'll go straight to the villa."
(Ayo kalian masuk ke dalam, kita akan langsung pergi ke villa.)
Selama perjalanan Dafina terus mendumel di batinnya berulangkali. Ia malas sekali harus duduk di kursi penumpang belakang. Jika saat masih di bangku sekolah ia memang menyukai duduk di kursi belakang atau tengah karena dirinya masih mabok mobil. Tapi semenjak menjadi seorang idola dia perlahan-lahan mengendalikan rasa mual saat di mobil dengan duduk di kursi depan dekat pengemudi.
Sementara Claura yang melihat Dafina dari kaca mobil terkekeh melihat ekspresi yang dikeluarkan dari temannya itu. Dia hanya bercanda saat mengatakan ingin mengambil atau melakukan pendekatan dengan Pangeran mahkota Dubai ini. Walaupun pria itu sempurna dan seagama dengannya tapi hatinya sudah tertuju pada seseorang. Ia hanya ingin mengetahui perasaan gadis itu terhadap pria ini. Hanya itu tidak lebih.
Jika benar Dafina memiliki perasaan terhadap Pangeran Faza, ia bersyukur dan berterima kasih atas hidayah yang diberikan oleh Allah kepada temannya itu. Walaupun pria itu sudah memiliki dua orang anak kembar yang ia ketahui dari hasil browsing sebelum berangkat ke Dubai. Tapi tak masalah jika pria itu sudah berpisah dari istri terdahulunya. Claura juga bersyukur pada akhirnya Dafina bisa terlepas dari pria yang bernama Prince. Di sisi lain ia juga pernah setuju hubungan mereka berdua walaupun pada akhirnya mereka berdua tak bisa bersama untuk selamanya.
Mereka berdua beda keyakinan. Dafina beserta keluarga beragama muslim dan Prince beserta keluarganya beragama Kristen-Katolik. Sudah dipastikan mereka tidak bisa bersama kecuali salah satu dari mereka mengkhianati Tuhan mereka dengan berpindah agama.
Apa yang dilakukan olehnya salah kah? Ia hanya ingin terbaik untuk gadis itu. Gadis yang sudah menolong dirinya saat masa sulit (baca di cerita Dear Me jika lupa).
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Let's go inside," ucap Faza mempersilahkan masuk.
(Mari masuk ke dalam).
Dafina dan Claura mengangguk pelan, kemudian melangkahkan kaki mereka memasuki villa modern milik keluarga kerajaan. Pengamanan disini sangat ketat walaupun hanya ukuran villa bukan istana apalagi mansion.
"Assalamualaikum," ujar Faza ketika memasuki ruang tamu.
"Waalaikumsalam Daddy." Dua orang anak berlari menghampiri Faza dan memeluknya ketika pria itu mengucapkan salam.
Pangeran Dubai itu mensejajarkan tingginya dengan dua anaknya. "Princess and prince Daddy why are you running? You'll fall, my dear."
(Tuan putri dan pangeran papa kenapa lari-lari? Nanti bisa jatuh kalian sayang.)
Claura melirik Dafina untuk melihat reaksi yang di keluarkan. Tapi nyatanya gadis itu tidak mengeluarkan reaksi kaget ketika mengetahui Faza sudah memiliki dua orang anak. Mungkin saja dia sudah mengetahuinya saat di istana kepresidenan Dubai beberapa hari yang lalu.
Faza berdiri kembali dan menyuruh pembantu yang tadi bersama anaknya untuk mempersiapkan satu kamar yang akan ditempatkan oleh dua tamunya untuk satu malam. Pria itu memegang dua anaknya dengan kedua tangan.
"Introduce them both my children. The male name is Arfan, while the female name is Arsh." Faza memperkenalkan kedua anaknya pada Dafina dan Claura.
(Perkenalkan mereka berdua anak saya. Yang laki bernama Arfan, sedangkan yang perempuan bernama Arsh.)
"Let's say hello and say hello to our two guests," bisik Faza kepada dua anaknya. Arsh dan Arfan mengangguk mengerti. Dua anak kembar tersebut menghampiri Dafina dan Claura.
(Ayo ucapkan salam dan sapa dua tamu kita).
"Hello Aunt. I'm Arfan, the son of Faza's father."
(Halo Tante. Aku Arfan anaknya ayah Faza.)
"Hello Aunt. I am Arsh, the son of Faza's father, just like Arfan."
(Halo Tante. Aku Arsh anaknya ayah Faza sama seperti Arfan.)
Dafina dan Claura melambaikan tangan mereka untuk membalas sapaan Arsh dan Arfan.
"Auntie's name, dear Aunt Claura. You can call me Auntie Clau," ucap Claura yang mensejajarkan tingginya dengan dua anak tersebut.
(Nama Tante, Tante Claura sayang. Kalian bisa memanggilku Auntie Clau).
Dafina melambaikan telapak tangannya. Say hello. "Hello beautiful girl, handsome boy. Do you remember me?" Ia membungkukkan badan.
(Halo anak cantik, anak ganteng. Apa kalian mengingatku?)
Arsh dan Arfan memegang dagunya tampak berpikir. Dua anak itu menggemaskan saat berpikir seperti ini.
Arfan mengangkat tangan tinggi-tinggi. "I remember it! Auntie who was in Dubai at that time right? The one who defends Arfan from Arsh."
(Aku mengingatnya! Tante yang ada di Dubai saat itu kan? Yang belain Arfan dari Arsh.)
Dafina tersenyum senang. Dia memeluk Arfan dan mencium kening anak laki-laki tersebut. Arfan yang mendapat pelukan langsung membalasnya.
"Why are you hugging without me? Am I not invited?" lirih sedih Arsh.
(Kenapa kalian berpelukan tanpa diriku? Apa aku tidak diajak?)
Dafina terkekeh melihat raut wajah sedih dari Arsh. "Come here baby," ujar Dafina seraya memanggil Arsh agar mendekati dirinya menggunakan telapak tangan kirinya.
(Sini sayang).
Anak perempuan tersebut berlari mendekati Dafina. Dafina langsung memeluk Arsh saat gadis itu sudah berada di depannya. Tangan kanannya menarik Arfan ke dalam pelukannya sama seperti Arsh, sehingga ia memeluk Arsh dan Arfan di sisi kanan dan kiri.
"It's dear, let's let go of Aunt Dafina's arms. Let father show them the resting place first," ucap Faza pada kedua anaknya.
(Sudah sayang ayo lepaskan pelukan Tante Dafina. Biarkan ayah menunjukkan tempat istirahat untuk mereka terlebih dahulu).
"Aunt Dafina and Aunt Claura will stay at our villa, Dad?" tanya Arfan menoleh ke belakang melihat sang ayah.
(Tante Dafina dan Tante Claura akan menginap di villa kita, Dad?)
"Yes son. They will stay here but tomorrow afternoon they should be at the airport."
(Iya nak. Mereka akan menginap disini tetapi besok sore mereka harus sudah ke bandara.)
"Why are they going to the airport, Dad?" Arsh menatap polos ke sang ayah.
(Buat apa mereka ke bandara, Dad?)
"Of course they have to go back to South Korea, Arsh. Their time here is over."
(Tentu saja mereka harus pulang ke Korea Selatan, Arsh. Waktu mereka di sini telah selesai.)
Arfan menatap ayah dengan tatapan bingung. "But why should they go home, Dad? Why don't they come with us forever?" tanyanya.
(Tapi kenapa mereka harus pulang, Dad? Kenapa mereka tidak ikut kita selamanya?)
Faza menghela nafas melihat kedua anaknya yang tidak terima Dafina dan Claura balik ke Korea. Harus dengan cara apa ia menjelaskan kepada anaknya?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa berikan like mu sayang❤️