
Dafina bangun terlebih dahulu dibandingkan ketiga unnie-nya untuk melakukan ibadah shalat subuh. Setelah selesai melaksanakan ibadah, Dafina memutuskan untuk mandi pagi, entah kenapa ia ingin mandi sepagi ini.
Dafina mengeringkan rambutnya yang basah setelah mandi selama beberapa menit. Dafina menyalakan handphone-nya yang sedang di charger di sebelah meja rias, lalu memeriksanya. Ada beberapa chat yang masuk, namun chat yang pertama kali Dafina buka adalah chat dari Prince.
...Prince...
Besok kamu ada jadwal tidak?
Dafina melihat pukul berapa pesan tersebut terkirim. Pukul 23.00 KST. Saat ia sudah tidur dan handphone-nya sedang di charger. Dafina memutuskan untuk membalas chat tersebut.
^^^Gak sih, emangnya kenapa?^^^
Tidak ada balasan dari Prince, mungkin saja pria itu sudah tidur. Dafina mencabut handphone lalu berjalan menuju kasur dan merebahkan tubuhnya kembali.
Tring
Ada sebuah notifikasi masuk dari layar handphone, Dafina segera membukanya. Ternyata chat dari Prince.
...Prince...
Ara baru bisa tidur jam 1 pagi. Badan Ara panas sepertinya demam. Dia nyebut nama kamu terus. Kamu bisa kan hari ini datang ke sini?
^^^Tapi aku lagi gak di Los Angeles, Prince. Aku sudah pulang ke Korea.^^^
I know. Saya sedang berada di Korea dari tiga hari yang lalu, sebenarnya Ara mau menyambut kedatangan kamu di bandara tapi saat itu tidak bisa karna saya sedang meeting.
^^^Kalian tinggal dimana?^^^
Dirumah saya. Saya share location ke kamu alamatnya.
*Share location*
Dafina menghela nafas, tanpa membalas chat pria itu, ia langsung turun dari kasurnya dan segera mengambil pakaian di dalam lemari lalu bergegas ke kamar mandi. Setelah mengganti pakaiannya Dafina langsung mengambil dompet dan bergegas pergi menuju parkiran agensi.
Tanpa berpamitan dengan siapapun, Dafina segera beranjak menuju rumah Prince. Hanya satu orang dipikirannya saat ini yaitu Ara. Biarkan saja tentang pamitan, ia bisa mengchat unnie-nya atau Claura dengan beralasan bahwa dirinya mau olahraga pagi di sekitar taman.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Untung hari ini masih sangat pagi, jadi Dafina tidak perlu merasakan yang namanya kemacetan. Jalanan cukup senggang, Dafina sudah sampai di gerbang rumah Prince. Seorang petugas keamanan menghampiri Dafina. Orang itu mengetuk kaca mobil Dafina. Sebelum menurunkan kaca mobil, Dafina mengambil masker dan kacamata hitam yang selalu sedia di dalam mobil lamborgini miliknya.
"I want to meet Prince."
"Have you made an appointment before?"
"Should I make an appointment to meet him and Ara?"
"Yes, because I can't allow random people to enter," jawab petugas keamanan tersebut.
Dafina mendengus kasar mendengar perkataannya. Orang sembarangan? What? Seriosly? Apa dia tidak tahu siapa Dafina?
Tanpa menjawab pertanyaan pria itu, Dafina langsung menelpon Prince. Syukurlah, pria itu langsung menjawab panggilan Dafina.
"Aku di luar Prince," ucap Dafina setelah panggilan terhubung.
"Come on in, I'm in the room."
"Ck how do you get in if your security guards just arrest me."
(Ck gimana masuk kalau petugas keamanan kamu saja menahan diriku.)
"Bilang saja kalau kamu ingin bertemu dengan saya."
"Sudah tapi orang itu tidak percaya malahan nyuruh Fina buat janji dulu."
"Hahaha kalau gitu kasih handphone kamu ke dia sebentar, biar saya yang bilang langsung ke dia."
"Sebentar."
"Someone wants to talk to you." Dafina memberikan handphone-nya pada petugas keamanan tersebut.
Tidak lama kemudian orang itu menyerahkan kembali handphone Dafina dan berjalan membukakan gerbang masuk. Dafina menghela nafas pelan lalu menjalankan kembali mobilnya memasuki area rumah Prince.
Dafina melangkah masuk ke dalam rumah Prince. Tak lama kemudian, seorang pria yang mengirimkan pesan kepadanya keluar dari lift. Pria itu masih memakai pakaian tidur tapi aura sexy dan tampannya masih terpancar. Orang cakep mah beda auranya.
Dafina langsung menghampiri Prince dan yang dilakukan olehnya pertama kali adalah menanyakan kondisi Ara saat ini.
"Gimana keadaan Ara? Dia masih panas gak? Sekarang masih tidur atau sudah bangun, Prince?" tanya Dafina memastikan.
"Panas sih udah gak tapi masih anget badannya. Ara masih tidur di kamarnya," jawab Prince.
"Ya udah ayo antar Fina ke kamar Ara." Prince mengangguk.
Pria itu mengeluarkan senyum kecil, tak mengeluarkan sepatah katapun. Ia langsung menuju kamar Ara dengan diikuti oleh Dafina dari belakang. Prince membuka pintu kamar setelah tiba disana. Bisa dilihat bahwa seorang anak perempuan sedang tertidur di kasur.
Dafina mendekati tempat tidur Ara, ia langsung memeriksa keningnya untuk memastikan apakah masih panas atau tidak.
"Prince aku mau minta tolong dong," ucap Dafina menengok ke arah Prince yang berdiri disampingnya.
"Hm?"
"Tolong buatin makanan dan minuman yang panas buat Ara ya. Dia harus ngisi perut dulu setelah itu boleh tidur lagi."
"Saya minta buatin pelayan aja sebentar." Saat Pria itu ingin keluar, Dafina memegang tangannya. "Jangan nyuruh pelayan, Fina minta tolongnya sama kamu bukan orang lain."
Prince mendengus pelan. Ia bingung harus bagaimana, pasalnya dirinya tidak bisa memasak sop.
"A-anu saya gak—gak bisa nolak kalau gitu." Prince menghela nafas pelan sebelum melanjutkan ucapannya. "Kalau gitu saya ke dapur dulu mau buatin sarapan."
"Hati-hati ya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Prince mencium bau harum minyak kayu putih anak bayi menyebar ke seluruh sudut kamar dan menemukan Arabella yang sudah berganti pakaian sedang menatap ke arahnya. Prince tidak melihat Dafina disana.
Prince menyimpan nampan sarapan di nakas yang berada di samping tempat tidur. Ia mendudukkan badan di pinggir kasur lalu memeriksa kondisi Arabella.
"Come on, wake up honey. Daddy has made a delicious breakfast," kata Prince.
(Ayo bangun sayang. Daddy udah buatin sarapan yang enak).
Arabella menggeleng. "Ara wants to wait for Mommy to eat it."
"Where's mommy?"
"Mommy—" ucapan Arabella terpotong dengan pintu kamar mandi terbuka dengan tidak lama kemudian muncul seorang perempuan yang dicari sedari tadi.
"Sarapan untuk Ara udah siap, Prince?" tanya Dafina sambil berjalan menghampiri mereka. Prince menunjuk nakas dengan telunjuk kirinya.
"Ara come on get up first, you should have breakfast," ucap Dafina.
"Biar saya yang membangunkan Ara." Prince membantu Arabella untuk bersandar pada tempat tidur, setelah itu ia berdiri membiarkan Dafina untuk duduk di sana.
Dafina mengambil nampan yang berisi makanan dan minuman itu, lalu mendudukkan badan di pinggir kasur dan mengaduk-aduk sop yang berada di nampan.
"Come on open your mouth baby aaa~" Dafina menyodorkan sendok makan ke arah Arabella yang dilahap oleh anak perempuan itu.
Dafina menyuapi sendok persendok ke dalam mulut Arabella dengan pelan-pelan hingga sop dan nasi yang berada di piring habis dimakan olehnya.
"Mommy's smart kid. Now drink first, yes, drink it dear," ujar Dafina memberikan air putih kepada Arabella.
Arabella mengangguk lalu setelahnya meminum air putih yang diberikan oleh Dafina.
"Finish mommy." Dafina mengambil gelas kosong dan menyimpannya kembali ke nakas.
"Do you want to sleep again?"
"Yes mommy," jawab Arabella disertai anggukan kepala.
"Come on, let's sleep again, let Mommy help fix the pillow and your sleeping position."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...