
Dafina menatap lembaran dokumen yang kini berada di hadapannya. Tangannya meraih pena dan menandatangani dokumen setelah membacanya. Dokumen-dokumen tersebut merupakan dokumen untuk ia tanda tangani sebagai brand ambassador.
Setelah selesai menandatangani semua dokumen, Dafina menyerahkannya ke Claura. Setelah itu, ia keluar dari kamarnya. Matanya tak sengaja bertemu dengan seseorang yang telah tersenyum dan menatap ke arahnya. Karena tak ingin disebut sombong atau menghormati yang lebih tua, Dafina pun membalas senyuman itu sambil melakukan bow.
"Heilro sonbae jeihobimnida," ucap Dafina menyapa J-hope.
(Halo senior J-hope)
"Annyong dapina nahante gyokssigeul charil pilryo opsso."
(Hallo juga Dafina, kamu tidak usah formal terhadapku.)
Dafina tersenyum sambil mengangguk.
J-hope tersenyum. "Good girl. Jega dangsine peneul bilril su isseulkkayo? Uri peni da daraso ingkeuga an nawayo."
(Anak yang baik. Apa saya boleh meminjam pena milikmu? Pena kami habis semua dan tidak mau keluar tintanya.)
Dafina mengangguk lalu meraih se-box kontak pena dari meja belajarnya dan menyerahkan pada J-hope.
"Jongmal gomawoyo dapina gwichanke haedeuryoso jwesonghamnida," ucap J-hope.
(Terimakasih banyak Dafina, maaf merepotkan dirimu).
"Sonbaeneun jonhyo singyong an ssoyo." Dafina menggelengkan kepala.
(Senior tidak merepotkan diriku sama sekali kok.)
Setelah J-hope pergi, Dafina merasa ada seseorang yang menepuk pundaknya. Ia pun menoleh ke belakang dan melihat ada Claura di sana.
"Ada apaan?" tanya Dafina.
"Tadi gue di chat sama teman sekolah lo saat SMP katanya dia udah nelpon lo tapi handphone lo gak aktif," jawab Claura. Memang handphone Dafina tidak aktif karena ia lupa mencharger baterai handphone.
"Ah iya gue lupa charger handphone," ringis Dafina. "Emang dia ngechat apa ke lo? Siapa yang nge chat lo?" Tanya Dafina.
"Namanya Laras. Dia bilang bahwa lusa akan reuni SMP dari angkatan 2018-2020 akan datang. Dia bilang supaya lo datang ke sana karena yang lainnya juga datang."
Dafina mengangguk. "Ok terimakasih. Tolong bilang ke Laras bahwa gue akan hubungi dia setelah baterai handphone penuh."
Setelah berucap seperti itu, Dafina melangkahkan kakinya kamar. Apakah dia harus menghadiri acara reuni tersebut? Sesungguhnya dia tidak siap untuk bertemu dengan mereka.
(N) Yang sudah baca SMP & Dear Me seharusnya tahu karena semua tokoh di sana akan dimunculkan kembali.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dafina menatap pantulan dirinya di depan cermin. Dafina memakai Floral Print A-Line skirt untuk menghadiri acara reuni hari ini. Dia dibantuin sama Claura untuk merias wajah dan rambutnya.
"Sudah selesai, ayo kita berangkat." Claura menatap penampilan Dafina dari atas hingga bawah.
"Clau, sebenarnya gue bingung harus makai jilbab atau tidak. Sementara saat bersekolah di bangku SMP gue menggunakan jilbab," ujar Dafina.
"Udah jangan lo pikirin beb. Menurut gue ini udah bagus, gak mengumbar aurat lo juga kok. Jangan pikirin ucapan mereka, tenang ada gue yang nemenin lo di sana."
Claura memang menemani Dafina untuk menghadiri acara reuni tersebut sebagai manager pribadinya.
"Terimakasih banyak. Ya udah ayo kita turun ke bawah."
Dafina dan Claura berjalan menuju ruang keluarga dengan bergandengan tangan. Sesampai di sana, bisa terlihat bahwa ada Mama, Adik, para eonnie & senior disana.
Tak..Tak..Tak...
Bunyi ketukan heels yang dipakai oleh Dafina terdengar menggema di ruangan itu. Jika dilihat-lihat ruangan keluarga ini sangat besar dan mewah disertai pemandangan gedung-gedung yang menjulang tinggi.
"Kakak sudah mau berangkat?" tanya Fani yang melihat anaknya sudah berpakaian rapih.
"Iya Ma, kakak dan Claura akan pergi ke reunian sekarang." Dafina berjalan mendekati Mamanya. "Kakak pamit pergi ya, insyaallah sebelum malam sudah pulang," pamit Dafina pada Mamanya sambil mencium telapak tangan orang tuanya.
"Ya sudah kalian berdua harus hati-hati ya, kalau ada apapun langsung telepon," ucap Fani menatap Claura dan Dafina.
"Siap Tante."
"Sip Ma."
Dafina membalikkan badan dan berpamitan kepada para eonnie dan seniornya.
"Unnie fighting! Be careful, ok."
Dafina mengangguk sebelum berjalan menuju mobilnya yang telah disiapkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dafina menatap pemandangan sekolahnya dulu dari balik kaca mobil. Dia tersenyum pedih mengenang semua kenangan beberapa tahun silam. Masa-masa saat dirinya beranjak remaja atau cinta monyet.
"Sudah bisa turun nona?" tanya Claura yang telah membukakan pintu mobil. Dafina menatap Claura, ia menganggukkan kepalanya dan menghela nafas sebelum keluar dari mobil.
Banyak orang serta paparazi yang mengambil foto dan gambar dirinya semenjak mobilnya berhenti di depan gedung sekolah. Dafina yang ditemani oleh Claura memasuki gedung tersebut dengan semua mata menatap ke arahnya.
Dafina memberhentikan langkahnya dan berbalik ke belakang menatap semua bodyguard.
"Kalian bisa menikmati acara ini dan jangan mengikuti kami berdua terus karena saya mau menikmati acaranya hingga selesai tanpa ada yang mengawasi gerak-gerik saya. Untuk masalah paparazi biarkan saja mereka mengambil tugas mereka yang terpenting mereka tidak melewati batasan," ucap Dafina kepada semua bodyguard.
"Baik Nona."
Dafina mengedarkan pandangannya untuk mencari sahabatnya. Siapa lagi kalau bukan The Arvior.
"Kak Daf!" panggil seseorang melambaikan tangan.
Dafina yang sudah memakai softlens minus dengan mudah melihat seorang perempuan melambaikan tangan ke arahnya.
"LARAS!" Dafina berlari ke arah Laras lalu langsung memeluknya.
"Gimana kabar lo selama ini?" tanya Dafina setelah melepas pelukannya.
"Wah Kak Daf sudah jadi idol seperti yang dicita-citakan saat masih remaja dulu. Bahkan gua sempat bingung kenapa banyak paparazi dan orang-orang yang bukan alumni ataupun bintang tamu di sini. Setelah Laras bilang bahwa Kak Daf datang ke sini, gua langsung sadar bahwa mereka semua mengeluarkan handphone atau kamera karena Kak Daf telah sampai disini." Anggi terkekeh.
"Gue sebenarnya merasa gak enak karena ini acara reunian tapi berasa kaya konser The Queen haha," timpal Dafina ketawa.
"Permisi Dafina," ucap seorang panitia menghampirinya.
"Iya?"
"Mari ikutin gue biar diantarkan ke ruangan khusus."
"Ruangan khusus? Maksudnya?" Tanya Claura.
"Jadi kami telah menyediakan dua ruangan terpisah untuk para bintang tamu," jawab Rayhan, dari nametag yang tertera.
"Tapi gue bukan bintang tamu disini," kata Dafina pada Rayhan.
"Memang sih lo bukan bintang tamu yang akan tampil pada acar reuni ini tapi masalahnya lo lebih dari bintang tamu, lo seorang idol terkenal di dunia dan kami semua panitia takut kalau lo terjadi apa-apa maka dari itu kami memutuskan untuk lo berserta team digabungkan dengan ruangan khusus bintang tamu." Rayhan menjawab pertanyaan Dafina.
"Dengan syarat."
"Syarat apa?"
"Bukan hanya gue dan team yang akan di ruangan itu, melainkan semua teman-teman gue juga ikut," ujar Dafina menunjuk sahabat-sahabatnya.
"Boleh saja."
Mereka mengikuti Rayhan menuju ruangan khusus para bintan tamu. Mereka melewati masjid untuk menuju ruangannya. Banyak satpam dan bodyguard Dafina yang menjaga ruangan itu, tidak bisa dimasuki sembarangan.
"Anjir gue berasa orang penting saat berjalan dikawal para bodyguard," ucap Anggi kegirangan.
"Pasti lo senang kan Kak Daf di kawal bodyguard kemana pun berasa anggota kerajaan?" tanya Anggi menatap Dafina.
"Kadang merasa senang kadang juga gak, Gi. Soalnya kalau di kawal gitu kebebasan gue sangat terbatas alias gue gak bisa melakukan hal yang gue mau dengan mudah," jawab Dafina.
Anggi mengangguk. "Ah benar."
"Kadang lo risih gak sih dikawal terus menerus, Kak Daf?" Tanya Reghina.
"Itu sih udah pasti." Dafina terkekeh kecil saat mengingat bahwa dirinya pernah kabur dari para bodyguard hanya untuk membeli makanan kesukaan di pinggir jalan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dafina melangkah riang di koridor menuju stan yang menjual makanan dan minuman. Dia mengantuk sekali karena sedari hanya duduk di dalam lingkaran dan menyaksikan penampilan dari bintang tamu dan alumni di atas panggung. Ngomong-ngomong soal paparazi dan penggemar Dafina sudah dibereskan oleh semua panitia sehingga Dafina dengan mudah menikmati acara reuni tanpa ada yang menggangu.
Gadis itu melangkahkan kaki ke setiap stan yang berada di sana. Banyak para pendagang yang menjual berbagai makanan, minuman, dan souvernir.
Dafina menghampiri stan yang menjual souvernir. Pedagang itu menjual berbagai souvernir yang indah-indah. Tatapan Dafina menatap ke arah souvernir yang memiliki motif indah.
"Permisi Bu, itu apa ya?" tanya Dafina sambil menunjuk.
"Ah itu kotak tisu Cembung Motif Batik Mini. Produk ini memiliki kode barang AT203. Berbahan karton dan juga kain batik. Produk memiliki ukuran 10 x 11 x 12 cm," jawab penjualnya.
"Berapa harganya?" Tanya Dafina.
"Lima belas ribu per-buahnya saja."
"Kalau begitu saya mau mengambil lima buah saja," ucap Dafina.
"Baik tunggu sebentar ya, Dek."
Dafina mengangguk sambil memperhatikan souvernir lainnya, siapa tahu ada yang ingin dibelinya juga. Dafina meraih gantungan hantu bersamaan seorang pria yang ingin mengambil gantungan itu juga. Dafina segera menatap orang yang memegang tangannya.
Deg.
Pria yang sama dengan dirinya untuk ingin meraih gantungan hantu merupakan pria yang tidak ingin sekali Dafina melihat wajahnya.
"Eh maaf Kak." Dafina langsung menarik tangannya dan memilih untuk menatap ke depan sambil menunggu pesanannya.
"Gimana kabar lo?"
Dafina mendengar jelas pria itu melontarkan sebuah pertanyaan, tapi Dafina tidak mau kepedean siapa tahu pria itu melontarkan pertanyaan ke orang lain bukan kepada dirinya.
"Gua nanya sama lo, Dafina." Seakan-akan tahu bahwa Dafina mengira kalau pertanyaan itu bukan diajukan padanya, pria itu langsung memperjelas.
Dafina mendongakkan wajahnya menatap pria itu. "Kamu nanya saya?" Dafina memastikan sekali lagi.
"Menurut lo gua nanya ke siapa? Di stan ini gak ada yang gua kenal selain diri lo."
Dafina menelan ludahnya, ia berdoa semoga saja ini mimpi atau tidak ada seseorang yang menyelamatkan dia dalam situasi ini.
"Lo gak jawab pertanyaan gua?" tanya pria itu dengan suara tajam.
"G-gue baik kok, Kak Joy. Lo sendiri gimana kabarnya setelah terakhir kali kita bertemu beberapa tahun lalu?"
"Syukur kalau lo baik, hm gue juga baik sekaligus senang karena lo masih ingat gua dan pertemuan kita terakhir kali sebelum lo jadi seorang idol dan masih berstatus sebagai kekasih dari Devano Danendra."
"Tentu saja buat apa gue gak ingat pertemuan terakhir kita saat itu." yang dimana membuat Devano hampir saja salah paham.
"Karir lo yang gua ketahui semakin melejit bahkan lebih populer daripada anggota group lo, benar gak?"
Dafina hanya memberikan senyuman canggung atas pertanyaan dari Joy.
"Lo sendirian disini? Maksud gue Kak Kefas dan geng lo saat SMP kemana?" tanya Dafina saat tidak melihat teman-teman dekat Joy.
"Mereka duduk di dekat resepsionis. Lo mau nemuin mereka disana?"
Dafina menggeleng. "Terimakasih tawarannya tetapi saya tidak bisa meninggalkan teman-teman saya."
Joy yang mengerti hanya mengangguk. Tidak lama kemudian, penjual memberikan satu tas yang di dalamnya berisi lima buah kotak tisu. Dafina mengambil uang dari dalam tas lalu memberikan kepada ibu tersebut.
"Kak Joy, saya pamit duluan ya. Senang berjumpa denganmu," pamit Dafina pada Joy.
Dafina menghirup udara sebanyak-banyaknya setelah berhasil pergi dari pria itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...