WAY OF LIFE

WAY OF LIFE
CHAPTER 36



Tubuh Dafina benar-benar terbangun pukul 10 pagi KST. Hal pertama yang dilakukan adalah mengecek handphone-nya. Dia mendapat pesan dari Claura, perempuan itu mengirim pesan dari jam delapan pagi.


...Claura...


Claura


Daf, jam satu siang ada jadwal lo pemotretan dengan Bvlgari. Jadi jam 12 kita harus berangkat ke lokasi pemotretan.


^^^Dafina^^^


^^^Ok deh Clau, thx ya.^^^


Dafina baru saja ingin menutup handphonenya tapi ada sebuah notifikasi pesan yang masuk ke dalam handphone.


Prince


Kamu sudah bangun?


Prince? Dia ngechat gue? Ada apa ini?


Prince


Saya bertanya sama kamu, jangan di read saja.


Prince


Tadi saya mau nelpon kamu pukul delapan malam, tapi saya ingat bahwa perbedaan waktu Los Angeles dengan Korea Selatan 16 jam, Korea Selatan memiliki waktu lebih cepat daripada Los Angeles. Jika disini jam 6 malam maka di Korea Selatan sudah pukul 10 pagi.


^^^Dafina^^^


^^^Baru bangun kok, ada apa Prince?^^^


Prince


Apa saya mengganggu dirimu?


^^^^^^Dafina^^^^^^


^^^Nope.^^^


Prince


Apa kamu tidak memiliki jadwal hari ini?


Dafina tersenyum. Pria itu masih saja bertanya apakah dirinya memiliki jadwal apa tidak. Sepertinya Dafina sudah gila karena cuma ditanya seperti itu sudah bisa membuatnya terbang melayang.


^^^Dafina^^^


^^^Ada jam 1 siang harus melakukan pemotretan, jadi jam 12 siang nanti Fina sama Claura harus berangkat menuju lokasi pemotretan.^^^


Prince


And now you just woke up at this hour? Kalau begitu nanti saja saya nelpon kamu kapan-kapan lagi.


Prince


Semangat kerjanya....


Tahan Daf, tahan...Jangan terbang cuma diucapin semangat kerjanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di lain tempat, Prince sedang memeriksa kembali dokumen dan naskah yang akan menjadi launching dari produk terbaru miliknya. Ada beberapa adegan dan kalimat yang ia koreksi sembari hair stylist menata rambutnya.


"Prince," sapa Alexander yang datang membawakan beberapa pilihan baju.


"Hm?"


"Do you want gray, black, or white?"


(Mau yang abu-abu, hitam, atau putih?)


Prince sekilas melirik. "I prefer red. But for the size it must fit my body, not too small let alone too big."


(Saya lebih suka warna merah. Tapi untuk ukuran harus sesuai dengan badan saya, jangan kekecilan apalagi kebesaran.)


"Okay then."


"Are the models already ready?"


(Apa para model sudah setelah bersiap?)


"Already. They're all shooting."


(Sudah. Mereka semua lagi melakukan pemotretan.)


"Then I'll be there to see for myself."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah pemotretan dengan Bulgari selesai, Dafina menyempatkan diri untuk makan sore di food court. Rekan-rekan yang lainnya sudah mendahuluinya ke food court.


Pintu lift yang akan dinaiki Dafina terbuka di lantai lima. Sebagian pengguna ada yang keluar, namun juga ada yang masuk.


"Annyonghaseyo sonsaengnim," sapa Dafina pada CEO dari Bulgari yang memasuki lift bersama seorang anak laki-laki.


"Annyong Dapina. Nodo mogeulrae?"


(Halo juga Dafina. Mau makan juga?)


(Iya saya akan makan di food court sama manager saya. Kalau bapak sama....)


"Raino, my son."


"Hi Raino! I'm Dafina," sapa Dafina memperkenalkan dirinya. Anak laki-laki itu menanggapinya dengan mengulurkan tangan.


(Hai Raino! Aku Dafina).


"Raino."


"You're so handsome... What grade is Raino?" tanya Dafina sembari menunduk, mensejajarkan tinggi mereka.


(Kamu ganteng sekali...Raino kelas berapa?)


"Five Aunts."


"Wow, Raino wants to be a teenager soon," kekeh Dafina yang dibalas anggukan malu-malu.


(Wah Raino sudah mau remaja sebentar lagi nih).


Mereka bertiga berjalan bersama menuju food court sambil berbincang mengenai pemotretan dan kegiatan yang akan dilakukan ke depannya nanti.


"Odiso deusigo gyeseyo? Keulrauraege kkoripyoreul dalrago haenneunde, dangsingwa binoreul wihan binjariga inneunji nuga algetsseumnikka," ujar Dafina.


(Bapak makan dimana? Saya kebetulan sudah minta tag sama Claura, siapa tahu masih ada tempat kosong bisa untuk bapak dan Raino).


"Jeanhaejwoso gomawo, Dapina. Hajiman raino wa joneun dareun timdeulgwa hamkke sikssareul hal gosimnida geurigo urineun daeum haengsareul wihae toronhal gosimnida."


(Sebelumnya terimakasih atas tawarannya, Dafina. Tapi saya dan Raino akan makan bersama dengan para team yang lainnya sekalian kami berdiskusi untuk acara ke depannya.)


"Arassoyo geurom iman silryehagetsseumnida."


(Baiklah, kalau begitu saya pamit duluan ya.)


"Careful."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dafina kembali ke dorm-nya hampir tengah malam setelah membeli beberapa kebutuhan bulanan untuk dirinya dan member lain serta mengirimkan uang pada orang tuanya. Dafina sudah mengirim pesan pada Claura untuk itu. Ah ngomong-ngomong soal Rouse, perempuan itu akan sampai besok pagi.


Saat membuka pintu dorm, Dafina sangat kaget dan panik ketika melihat seorang pria tengah tidur di sofa panjang yang berada di ruang santai. Dafina segera masuk ke dalam dan mengunci pintu dorm, ia takut ada yang melihat seorang pria di dalam dorm.


Hati Dafina menghangat ketika melihat Prince tertidur seperti ini, Dafina jadi ingat waktu dulu dirinya masih bersama dengan pria itu. Pria itu sering tertidur di pundak atau pangkuannya bahkan meminta untuk diusap rambut miliknya.


"Sudah menatap saya seperti itu?"


Deg.


Dafina langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Astaga jadi sedari tadi pria itu mengetahui kalau Dafina sedang menatapnya? Aish menyebalkan.


"Kenapa kau lama sekali?" tanya Prince yang sudah berubah posisi menjadi duduk sambil menatap ke arah Dafina.


"Fina gak tau kalau kamu ada disini. Lagian untuk apa kamu ke sini? Sejak kapan kamu ada disini?"


"Kamu tidak usah takut, karna tidak ada melihat saya masuk ke sini. Saya sudah ada disini dari jam pukul 8 malam, kalau tidak percaya tanya saja sama manager pribadimu, ia yang mempersilahkan saya dan Ara masuk."


Ingatkan besok pada Dafina untuk memarahi Claura karena tidak bilang bahwa Prince ada di datang ke dormnya.


"Dimana Ara?" tanya Dafina yang baru mengetahui bahwa pria itu datang tidak sendirian.


"Dia sudah tidur di kamarmu. Maaf karena saya menidurkan Ara di kamarmu," jawab Prince.


"Tidak apa-apa kok."


"Kenapa kamu tidak tinggal di istana yang saya kasih kepada dirimu?" tanya Prince menatap Dafina tajam.


Dafina menelan ludahnya karena menyadari tatapan tajam yang diberikan oleh pria dihadapannya.


"Fina merasa gak berhak untuk tinggal di sana," jawab Dafina.


"Tidak berhak bagaimana? Jelas-jelas saya sudah memberikannya ke kamu dan sudah diganti kepemilikan menjadi namamu."


Dafina menggaruk tengkuknya karena bingung harus menjawab apa. "Bukan itu yang saya maksud Prince. Saya merasa tidak pantas untuk tinggal di istana itu karena hubungan...hubungan kita berdua telah berakhir. Saya menjadikan kekasihmu bukan karna harta, tahta, maupun ketenaran. Fina tulus menjadi kekasihmu saat itu. Jadi rasanya aneh saja jika masih tinggal disitu setelah hubungan kita berakhir," jelas Dafina.


Prince tersenyum kecil. "Lalu apa yang ingin kau lakukan?"


"Fina balikin saja ya istana pemberian kamu itu."


"Walaupun hubungan kita berdua telah berakhir tapi kamu pantas untuk tinggal di istana itu, karena memang istana itu telah menjadi milikmu. Saya tidak pernah menarik kembali apapun yang telah saya berikan. Dan harus kamu ingat, bahwa kamu masih punya hubungan dengan saya." Prince menatap kedua bola mata gadis yang ada di hadapannya saat ini. "Hubungan sebagai orang tua angkat Arabella. Jadi jangan pernah bilang bahwa kamu tidak memiliki hubungan dengan kami berdua. Memang benar kita berdua tidak memiliki hubungan sebagai kekasih lagi, tetapi kita masih memiliki hubungan sebagai orang tua sambung untuk Ara."


"Saya harap kamu akan menempati istana pemberian saya. Anggap saja itu pemberian dari mendiang kedua orangtuaku dan Ara untukmu, bukan diri saya," ucap Prince.


"Ah baik, jika urusan Fina di dorm sudah selesai akan tinggal di sana bersama ketiga unnie dan para manager."


"Good girl." Prince tersenyum.


Untuk beberapa menit suasana berubah menjadi canggung. Tidak ada percakapan yang terjadi sampai Prince memecah keheningan itu.


"Dafina," panggilnya.


"Iya?"


"Kamu tidak mau menghidangkan makanan dan minuman untuk saya? Saya sudah menunggu kamu lama dan saya butuh makan dan minuman."


Dafina terkekeh mendengar permintaan Prince. "Haha kalau begitu tunggu sebentar ya, aku akan memasak sesuatu untukmu."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...