
Hari Jum'at tiba, tepat satu hari setelah penghargaan ratting untuk drama Hidden yang tayang perdana. Semalam Dafina mengajak teman-temannya untuk pergi liburan bersama sekaligus merayakan keberhasilan drama Hidden.
Dafina ingin merayakan atas keberhasilan comeback dirinya di industri perfilman bersama teman-temannya.
Dan disinilah mereka sekarang, di dalam 2 mobil Alphard milik Dafina yang tentunya luas cukup untuk mereka berdelapan. Mereka akan ber-camping bersama dan menginap di salah satu villa yang sudah di booking Dafina.
Camping kali ini semuanya di sponsori oleh Dafina. Gadis itu yang mencari tempat penginapan, lokasi camping, tempat-tempat yang bagus, pakaian, makanan, hiburan, dll.
"Ini seriusan gak ada yang mau tuker posisi gitu?" tanya Laras melirik ke belakang. Ia melihat ke arah tiga temannya.
"Gak," jawab mereka serempak.
"Jahat lo pada. Tega sama eneng, Bang hiks hiks," ucap Laras mendramatisir.
"Berisik dah Ras. Udah takdir lu duduk di bangku depan dekat sopir," ketus Anggi.
"Anjaygile man."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mereka semua akhirnya sampai di tempat penginapan yang terletak di Incheon. Mereka disambut dengan keindahan alam yang sangat sejuk, bersih, tenang, dan damai. Semuanya sangat luar biasa, membuat Dafina tidak menyesal karna mengajak yang lainnya berkemah disini.
Mereka berkemah di Pulau Muuido. Pulau kecil Muuido di lepas pantai Incheon merupakan tempat yang sempurna untuk menghabiskan musim semi atau akhir pekan musim panas. Pulau Muuido menghadirkan dua pantai, dimana banyak sejumlah restoran makanan laut yang lezat dan jalur trekking.
Muuido adalah tempat yang tepat untuk berkemah. Pengunjung dapat berkemah di Pantai Hanaggae dengan fasilitas dasar seharga 10.000 won per tenda, atau pengunjung dapat memilih untuk tinggal di salah satu pondok pantai dengan biaya sekitar 35.000 won.
"Bagus banget kudu bused tempatnya. Berasa lagi di perdesaan yang terletak di pinggir pantai." Reghina berdecak kagum pada hamparan pantai dan sekitarnya.
"Berapa harga semalamnya?"
"10.000 won per tenda atau kalau kalian mau nginapnya kaya gini di villa atau pondok harganya 35.000 won."
"Mayan sih dengan kehidupan di Korsel serta pemandangan dan fasilitas yang di dapatkan."
"Sekarang kita masuk ke villa masing-masing, ganti baju atau gak mandi. Sekitar jam 5 kumpul disini lagi sekalian liat matahari terbenam okay guys?"
"Okay bestie."
Setelah itu mereka menuju villa masing-masing. Satu villa hanya ada dua kamar yang mampu menumpang 2 orang saja. Jadi, karna mereka berdelapan otomatis mereka memesan 2 villa bersampingan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat ini Dafina yang kelima temannya sedang duduk di hamparan rumput-rumput sembari menatap pemandangan yang ada di hadapannya. Sementara Laras dan Retta sedang berlari-lari seperti anak kecil sembari memainkan gelembung air yang mereka beli di tempat perkemahan. Dafina, Sofi, Anggi, Rere, Salsa merasa was-was sendiri jika mereka sudah seperti itu.
"WOY RAS, RET, HATI-HATI YE! JANGAN SAMPE JATUH LO PADA!" teriak Salsa yang memperingati mereka berdua.
"Dasar bocil." Dafina geleng-geleng melihat kelakuan bocah kedua temannya itu.
"Temenin sono," suruh Claura seenak jidat.
Dafina menatap Claura. "Napa gue? Pacarnya aja sono," protes Dafina cepat.
"Tapi disini gak ada pacarnya dia."
"Eh? Iya benar hehe." Cengir Dafina dan langsung menoleh ke lainnya. "Sana kalian temenin mereka," perintah Dafina kepada Anggi, Reghina, Salsa, Sofi
"Gue udah pewe beb," ucap Salsa.
"Sama gue juga," timpal Anggi.
"Ya udah biar gua aja," ujar Sofi yang bangkit dari duduknya. Sofi berjalan mendekati mereka berdua.
Bukkkk!
Belum juga Sofi sampai di dekat mereka, belhm ada tiga menit Salsa memberi peringatan, Laras sudah tersandung dengan kakinya sendiri dan membuatnya tersungkur ke depan.
Satu detik dua detik tiga detik...
"WOY KALIAN KENAPA DIAM AJA ANJIR? GUE JATUH NIH! BANTUIN NAPA," kesal Laras. Mereka semua langsung tersadar karna teriakan Laras.
"Ya ampun, Ras. Sini sini gue bantuin." Sofi dan Retta langsung membantu Laras berdiri. Laras meringis kesakitan di kedua lutut dan lengannya.
Mereka membawa Laras ke dalam villa untuk segera di obati lukanya. Laras menahan ringisan pada kedua lutut dan lengan yang berdarah dan tergores karena jatuh.
Mereka mendudukkan Laras, kemudian Anggi datang dengan membawa kotak P3K yang disediakan di villa. Retta mengambil kotak P3K itu dan langsung berjongkok di depan Laras.
"Ret, obatinnya pelan-pelan yaa," pinta Laras memohon pada Retta yang sudah menuangkan alkohol di kapas untuk membersihkan lukanya dahulu.
"Iye. Udah lu nahan aja cuma bentar ini."
Retta mulai membersihkan luka-luka di badan Laras. Laras berteriak kesakitan saat lukanya dibersihkan dengan alkohol.
"Diam Ras, gue gak bersihin luka lu njir!" protes Retta. "Kalian bantu pegangin nih bocil, biar cepet obatinnya."
"Nah udah selesai. Udah gue kasih handsaplast."
"Sakit anjir Ret lu ngobatinnya."
"Lunya ae alay," cibir Retta tidak terima padahal dirinya udah sepelan yang ia bisa saat mengobati tadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Matahari sudah tenggelam dua jam yang lalu. Keadaan sudah gelap di luar villa hanya tersisa lampu portabel, bulan, serta bintang yang menerangi malam hari. Mereka semua asik menikmati cemilan yang dibawa oleh Laras sembari mendengarkan Reghina bermain gitar sambil bersenandung.
"Mau request lagu apaan lagi nih?" tanya Reghina setelah menyelesaikan lagu keduanya.
Salsa tanpa ragu-ragu langsung mengangkat tangan tinggi-tinggi.
"Satu satu aku sayang ibu, dua dua aku sayang ibu, tiga tiga aku sayang ayah. Satu dua tiga aku sayang hartanya..."
Salsa langsung mendapat tatapan tajam dari yang lain, sementara sang pelaku hanya cengengesan.
"Yang lain, yang jelas dikit napa!"
"Sayang... oppo kue krumu cerite hatiku," jawab Salsa masih seenak jidat.
"Gak bener lu, serius dikit nape! Yang lain," ucap Reghina ketus yang masih sabar menahan amarahnya.
Suasana hening seketika. Mereka sedang berpikir lagu apa yang dinyanyikan selanjutnya. Sampai Anggi angkat tangan tinggi-tinggi.
"Dear Diary aja, Re."
"Jangan! Mendingan ayo goyang dumang mang mang," sahut Salsa.
Claura menghela nafas kasar, kehilangan kesabaran dengan bocah satu ini. Dengan gerakan cepat ia melemparkan salah satu sandalnya dengan sengaja ke arah wajah Salsa. Boom! Leparan Claura tepat sasaran mengenai wajah Salsa, sang empu menatap tajam Claura.
"Anjing, main lempar aja lu. Mana sandal lu bau tai lagi kampret!"
"Berisik lu! Serius dikit saat ini bukan bercanda terus. Untung aja lu bukan temen gue, kalau temen gue, udah gue tabokin sampai biru."
Tanpa mempedulikan Salsa, Reghina kembali memainkan gitarnya, menyanyikan lagu dari Anggi yang berjudul 'Dear Diary'.
Dear diary ku ingin bercerita
Semalam aku bermimpi
Bermimpi bertemu dengannya
Kan ku tulis semua cerita ini
Begitu senangnya hariku
Tenang saat kutatap matanya
Oh bahagia aku saat engkau
Menggenggam kedua tanganku
Berdetak deras jantungku tak berdaya
Lemah semua syaraf nadiku
Semuanya bersenandung mengikuti irama gitar yang dipetik. Semuanya ikut nyanyi walaupun ada sebagian lirik yang tidak mereka hafal. Claura menengok ke samping, melihat Dafina yang diam saja, hanya menikmati lagu tersebut tanpa ikut bernyanyi.
Claura menyenggol pundak Dafina, membuat perempuan itu menoleh ke arahnya.
"Ngapain bengong aja?" tanya Claura. Dafina menggelengkan kepala.
"Lo lupa sama lirik lagu kesukaan lo ini?" Claura bertanya lagi.
"Gak lupa gue."
"Lalu kenapa gak ikutan nyanyi? Ada masalah ya yang lagi lo pikirin?"
"Gak papa, Clau. Gue cuma mager nyanyi aja hehehehe," cengir Dafina.
"Ya udah anterin gue ke toilet yuk," pinta Claura. Dafina mengangguk.
Mereka berdua berdiri dari tempat duduk dan langsung pamit kepada yang lainnya. Mereka langsung melangkah ke toilet yang berada di villa mereka. Sesampai di depan toilet, Claura masuk ke dalam sedangkan Dafina menunggunya di depan toilet.
"DAPINAAAA!!! ANJIR LAH!" teriak Claura sangat kencang sampai Dafina refleks menutup kedua telinganya.
"KENAPA, CLAU?" balas Dafina berteriak.
"GAYUNGNYA GAK ADA WOY! MANA GAYUNGNYA NJIR?! MASA GUE GAK CEBOK!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...