
Dafina keluar dari kamarnya, ia telah berganti busana dan make up menjadi lebih sedikit natural dan feminim.
"Dafina-ya," panggil seseorang yang tengah berlari kecil menghampirinya.
"Jennie Eonnie? Onni yogi isso?"
(Unnie Jennie? Unnie ada disini?)
"Nee. Lisa, Rojeu, onni jisu bwassoyo?" Tanya Jennie.
(Iya. Apa kamu melihat Lisa, Rose, dan unnie Jisoo?)
Dafina menggeleng. "Onnineun onjebuto yogi isso? Yogi nesiya?"
(Sejak kapan Eonnie disini? Kalian berempat disini?)
"Geu aeini saengilpatireul wihae geseuteudeulgwa geseuteudeureul mani chodaehaetttaneun sasireul molrannayo?" Tanya Jennie heran.
(Apa kamu tidak tahu kalau kekasih mu itu mengundang banyak guestar dan bintang tamu untuk memeriahkan acara ulang tahun mu?)
"Peurinseuga oneul maneun saramdeureul chodaehaetttaneun goseul algo itsseumnida dongnyodeul gajoktteul olrondeul dokwindeul geurigo miguge atiseuteuna topppodeu gasudeuriyo," jelasnya.
(Aku tahu kalau Prince mengundang banyak orang pada hari ini, seperti para kolega, keluarga & kerabat, media, The Queen, dan artis atau penyanyi papan atas itu pun dari Amerika. Tapi aku tidak kalau kalian juga diundang disini).
Prince memang mengundang media tetapi sebelum mereka hanya ditugaskan untuk merekam tampilan para bintang tamu saja.
Jennie menggelengkan kepalanya. "Ani chagiya. Peurinseuneun uri malgodo myonmyot kei piopi aidoreul chodaehaettta. Geuneun bangtansonyondan, eksso, enssiti, aseuteuro, aeseupa, monseuto do king deungeul chochonghaettta."
(Tidak sayang. Prince juga mengundang beberapa idol K-Pop selain kami. Dia mengundang BTS, EXO, NCT, Astro, Aespa, Monster, dan The King.)
"Hajiman nan geudeul modureul boji motaessoyo."
(Tapi aku tidak melihat mereka semua.)
"Sonnimdeuri nomu manaso da mot bon ge dangyonhada."
(Wajar saja kamu tidak melihat mereka semua karena para tamu yang hadir sangat banyak.)
"Geurom dadeul odi gatjji?" tanyanya.
(Lalu dimana mereka semua?)
"Geudeureun modu gakjja bange issottta. Peurinseseuneun gak geseuteuege gak gaekssireul juotkko gak gaegwoneun gak gaekssireul kkumil su itttorok haettta." Jennie menjawab pertanyaan yang diajukan oleh juniornya.
(Mereka semua berada di kamar masing-masing. Prince-ah memberikan setiap para bintang tamu sebuah kamar serta orang-orang untuk merias mereka masing-masing.)
"Geuromyon onni gomawoyo." Dafina melakukan bow dengan sopan.
(Kalau begitu terimakasih unnie.)
"Byolmalsseumeulryo. Onnineun dareun saramdeureul daepyohaeso saengil chukahae jagiya. Nega wonhaneun ge iruojigil baramyo, geurom onnineun sesi odinneunji al got gachi insadeuridorok hagetsseumnida."
(Sama-sama sayang. Unnie mewakili yang lainnya mengucapkan selamat ulang tahun ya sayang. Semoga yang kamu inginkan terwujud, kalau begitu unnie pamit dulu ya seperti aku tau dimana mereka bertiga.)
Selepas kepergian Jennie, Dafina berjalan turun ke arah tangga. Dia melihat suasana di mansion ini. Benar yang dibilang unnie Jennie bahwa banyak sekali para tamu yang hadir.
"Alexander!" Dafina memberhentikan langkah pria itu.
"What's wrong Dafina? Is there something?"
(Ada apa Dafina? Apa ada sesuatu?)
"Have you seen Prince? I haven't seen it since my birthday party is over," tanya Dafina.
(Apa kau melihat Prince? Aku dari tadi tidak melihatnya selepas acara ulang tahun ku selesai).
"Prince he was in the lounge talking to some of his colleagues. What do you want me to call?"
(Prince dia ada di ruangan santai sedang berbincang dengan beberapa koleganya. Apa ingin saya panggilkan?)
"Oh maybe, let him talk to them. Then thank you very much," tolak Dafina cepat.
(Ah jangan-jangan, biarkan dia berbincang dengan mereka. Kalau begitu terimakasih banyak).
"You're welcome."
"Dafina ssi odi gattta osyossoyo aiswineun uriga arabwassoyo," omel Sooya.
(Dafina-ssi! Kamu kemana aja? Aish dari tadi kami nyariin tau).
"Akka onni bangeso ot garaipkko hwajangeul haessoyo."
(Tadi aku mengganti pakaian dan make up di kamar unnie.)
Mereka bertiga menatap Dafina secara mendetail membuat Dafina keheranan. Apa ada yang salah dengan tampilannya?
"Perfect! You are so beautiful, it's only natural that Prince likes you. You owe us an explanation, remember that! Arriving in South Korea you have to tell the details without any gaps!"
"Nee onni. Ayo kita nikmatin acaranya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
(Astaga! Kalian lihat senior BTS? Walaupun sudah berkepala tiga tapi mereka masih tetap semangat, tampan, dan seksi. Rasanya aku mau meleleh saja.)
Kini mereka berempat sedang duduk sambil melihat penampilan langsung dari para bintang tamu dan sekarang merupakan giliran BTS yang tampil. Mereka membawakan lagu Butter, Fake Love, dan Dynamite.
"Dafina non imi aeini issotjjana. Peurinseudo jalsaenggigo sekssihago bujaigo tto yumyonghae."
(Kamu harus ingat Dafina, kamu udah ada kekasih. Prince juga tampan, seksi, kaya, terkenal lagi.)
"Nae saranghaneun onnineun aljiman, jamkkan nuneul gamneun gon jalmosi anijanayo hehehe," ucapnya dengan cengiran di wajahnya.
(Aku tau Eonnie ku tercinta, tapi tidak salah kan untuk mencuci mata sebentar hehehe).
"After you're stupid."
Mereka melanjutkan kembali menikmati acaranya sampai tidak sadar bahwa ada seorang pria duduk di sebelah Dafina.
"Hello Mrs. Dafina." Sapa pria tersebut menyentuh pundaknya.
"Astaghfirullah." Dafina memegang Dadanya karena terkejut ada yang memegang pundaknya.
"Iya? What do you need?" tanyanya sopan kepada pria itu.
"Do you know me?" tanya pria itu balik.
(Apa kamu mengenal ku?)
Dafina menggeleng. "Of course I don't know you sir. Sorry, have we met before? I'm afraid I'll forget that we've ever met."
(Tentu saja saya tidak mengenal dirimu tuan. Maaf apakah sebelumnya kita pernah bertemu? Takutnya saya lupa bahwa kita pernah berkenalan.)
Pria itu terkekeh mendengar jawaban Dafina. Dafina mengerutkan keningnya, emang ada yang lucu dengan jawabannya sampai dia ketawa? Aneh sekali.
"No. We have never met or been acquainted before." Pria tersebut mengulurkan tangannya ke Dafina. "Introducing me Algarve, nice to meet you Dafina."
(Tidak. Sebelumnya kita tidak pernah bertemu atau berkenalan.)
(Perkenalkan saya Algarve, senang bertemu dengan kamu Dafina.)
Dafina membalas uluran tangannya. "Nice to mee you too, sir."
"Don't be too formal with me. You can just call me Algarve, ok?"
Dafina mengangguk.
"May I ask something?" tanya Algarve.
"What do you want to ask?"
"What relationship do you guys have? What do you mean you have a relationship with Prince?" tanyanya dengan nada pelan.
(Hubungan apa yang kalian miliki? Maksudnya kamu memiliki hubungan apa dengan Prince?)
Dafina menatap pria yang di hadapannya. Ia menatap Algarve dari atas sampai bawah.
"Apa dia wartawan yang bertugas mencari informasi tentang ku? Kalau begitu aku harus berhati-hati." Dafina membatin.
Algarve yang sadar bahwa Dafina sedang menatapnya dari atas sampai bawah langsung menjelaskan. "You don't have to be afraid of me. I am neither a carnibal nor a journalist. I am a business partner and friend of Prince."
(Kamu tidak usah takut sama saya. Saya bukan seorang karnibal ataupun wartawan. Saya merupakan partner bisnis dan kawan dari Prince.)
Ada rasa lega setelah mengetahuinya "I'm sorry, what's your point in asking that?"
(Sebelumnya maaf, apa tujuanmu bertanya seperti itu?)
"I don't mean anything, I'm just curious and surprised. Prince is cold and closed to anyone. And earlier he made everyone surprised when he gave the building and the mansion which was a legacy from his parents. Of course he can't just give it to just anyone."
(Saya tidak punya maksud apapun cuma saya penasaran dan heran saja. Prince itu dingin dan tertutup sama siapapun. Dan tadi ia membuat semua orang terkejut saat memberikan gedung beserta mansion yang merupakan peninggalan dari kedua orang tuanya. Pastinya dia gak mungkin kasih ke sembarangan orang begitu saja.)
"We don't have any relationship and anyways if we have any relationship it has nothing to do with you guys, because the one who runs it is me & he not you," jawab Dafina dengan sopan.
(Kami tidak punya hubungan apapun dan lagian jika kami punya hubungan apapun tidak ada kaitannya dengan kalian, karena yang menjalankannya adalah saya & dia bukan kalian.)
Pria itu mengangguk mengerti. "Haha fine then, but if you need anything you can look for me, I'll help you."
(Haha baiklah kalau begitu, tapi kalau kamu butuh sesuatu bisa mencari saya, saya akan membantu mu.)
Dafina hanya membalas dengan senyuman tipis.
"Sir." Seorang perempuan menghampiri Algarve.
"What is it?"
Wanita itu merendahkan badannya lalu membisikkan sesuatu kepada Algarve. Pria itu mengepalkan kedua tangannya.
"Dafina see you later," pamit Algarve sebelum pergi dari sana.
Dafina menatap kepergian pria itu yang pergi dengan keadaan marah. Ada apa dengannya?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...