WAY OF LIFE

WAY OF LIFE
CHAPTER 19



New York



(anggap aja 4 pesawat ya 🥺)


Dua buah pesawat yang di naikin mereka telah mendarat di sebuah lapangan luas atau lebih tepatnya lapangan yang berada di bagian belakang suatu mansion. Mereka di suguhkan dengan banyaknya sebuah mobil dan bodyguard yang terparkir di sana.


"Prince, kita dimana?" bisik Dafina.


"Di Amerika sayang."


"Yakin ini di Amerika? Tapi mansion yang ini berbeda dengan mansion yang itu."


"Kita di New York bukan Los Angeles. Ayo masuk ke mobil habis ini kamu akan di ubah total."


Prince menggandeng tangan Dafina untuk memasuki sebuah mobil yang akan mengantarkan mereka ke pintu masuk menuju mansion.



Sesampainya di dalam mansion, Prince langsung membawa Dafina menuju ke kamar yang sudah disediakan. Mansion Prince kali ini tidak seperti mansion-mansion lainnya.


Seusai puas mengamati mansion itu, Dafina menatap ke arah Prince yang berjalan di depan sambil menggenggam tangannya. "Sebenarnya kamu punya berapa mansion?"


"Sangat banyak. Sepertinya tidak perlu aku sebutkan, takut kau pingsan karena saking terkejutnya," jawabnya santai tanpa memberhentikan langkah mereka.


Dafina refleks mencibir, "Songong banget ck untuk beneran kaya kalau gak udah disebut halu."


"Ayo masuk biar kamu langsung di makeover." Prince membuka sebuah pintu kamar yang di dalamnya ada beberapa orang. Prince yang melihat kening kekasihnya menyatu ia langsung menjelaskannya.


"Mereka merupakan orang-orang desainer & makeup terbaik nomor satu di dunia yang akan mengubah kamu sayang."


"Oh hello my name is Dafina," sapa Dafina kepada mereka.


"Hello madam."


"Madam? Don't call me like that, just call Dafina."


"Ok Dafina."


"Please change my lover to be very beautiful for today," ucap Prince kepada orang-orangnya.


"Fine our master will turn it into a very beautiful one without any gaps."


(Baik tuan kami akan mengubahnya menjadi sangat cantik tanpa ada celah.)


Setelah Prince keluar dari kamar itu, Dafina disuruh duduk di bangku yang sudah di sediakan. Mereka langsung makeover Dafina dari atas sampai bawah.


"Come on madam let me deliver, everything is waiting for you."


(Mari nyonya biar saya antarkan, semuanya sudah menunggu anda.)


Sebelum pergi, ia menatap ke arah cermin untuk melihat penampilannya.


"Ini sungguh gua? Ini beneran seorang Dafina Destarihanifa? Gua lagi gak mimpi atau transmigration jadi Cinderella kan?" Dafina membatin.


Dafina menatap sekali lagi tampilannya yang sangat indah dan glamour. Dia memakai sebuah gaun pesta berwarna biru dengan rambut blonde keriting disertai oleh sepatu kaca dan perhiasan lainnya. Dia hanya tau bahwa harganya sangat mahal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



Dafina kini berada di balkon yang menghadap ke arah para tamu. Semua mata menatap kepada dirinya. Dia berdecak kagum atas mansion ini. Elegan dan glamour. Dua kata itu yang cocok untuk mendeskripsikan mansion ini.


Sebuah tangan melingkar di pinggang kecilnya. Dafina menatap ke arah samping yang dimana terdapat Prince yang kali ini terlihat sangat...seksi.



...(Anggap aja berdiri di samping Dafina ya 🥺)...


"Hello everyone, may I have a moment of your time?" Prince membuka suaranya.


(Hello semuanya, saya boleh minta waktunya sebentar?)


"First of all, I would like to thank all of you, guests, business partners, families, and guest stars who have attended Dafina's 23rd birthday this year."


(Sebelumnya saya terimakasih kepada kalian semua baik para tamu, partner bisnis, keluarga, dan bintang tamu yang telah hadir pada ulang tahun Dafina yang ke-23 tahun ini.)


Dafina langsung menatap pria yang berada di sampingnya. Prince mengingat ulang tahunnya? Dia sengaja saat video call tidak mengucapkannya karena pria itu membuat sebuah kejutan untuk ku? Rasanya berbunga-bunga saat mengetahuinya, senyum mengembang pada bibir gadis itu.


"Ok, let's start with the main point, shall we." Intruksi MC.


"Kamu turun lewat tangga yang berada di sebelah sana ya. Kamu akan potong kue ulang tahunnya di sana, nanti saya menyusul." Prince menunjuknya ke arah tangga.



Dafina menuruti perkataan Prince. Ia berjalan menuruni tangga dengan semua mata tertuju pada dirinya. Tidak lama kemudian 8 pelayan datang dengan membawa sebuah kue ulang tahun yang sangat besar dan indah.


"Okay, let's start with the birthday cake cutting event."


Para tamu yang berada di sana menyanyikan lagu selamat ulang tahun.


"Mrs. Dafina before cutting the cake you better pray silently," ucap MC kepada Dafina.


Dafina tersenyum kemudian menundukkan kepalanya dan memejamkan kepalanya.


"Terimakasih sudah mewujudkan impian terkecil ku. Aku tidak tau harus meminta apa lagi, aku hanya berharap semoga ke depannya menjadi lebih baik lagi." Dafina membatin.


Setelah memanjatkan doa, Dafina membuka matanya kemudian mengambil pisau kue. Prince datang dengan menggenggam tangan Dafina. Ia membantu kekasihnya untuk memotong kue.


Prok prok prok


Tepuk tangan meriah memenuhi mansion itu setelah kue ulang tahun berhasil terpotong. Dafina menyuapi kedua orang tuanya, saudara & saudarinya, kemudian menyuapi Ara dan Prince.


"Selamat ulang tahun sayang," ucap Fani, Mama Dafina, seraya memeluk putrinya.


"Makasih, Ma." Dafina membalas pelukannya.


"Isipssam bonjjae saengireul chukahamnida," ucap Zennie, Rouse, dan Sooya serempak.


(Selamat ulang tahun yang ke 23 Dafina.)


"Gomawo Eonnie." Air mata menetes dari kedua matanya. Ia memeluk ketiga unnie-nya.


"Cemen lo, masa gitu doang nangis."


Dafina menyelesaikan pelukannya, dia membalikkan badannya ke arah belakang.


"Gue lagi gak mood berantem, Claura. Lo juga gimana sih, orang ini pesta ulang tahun gue masa lo mau ngajak gue gelut saat ini juga."


Claura cengengesan. "Hehe serius gua gak ada niatan gitu tapi kalau lo mau sok, malahan gue lebih senang liat lo yang suka marah-marah kaya nenek sihir."


Dafina menabok lengan Claura karena sudah kesal dengan ucapannya. "Tau ah kesel fiks gue sama lo! Mati aja sono dah!"


"Lo yakin nyuruh gua mati? Nanti gak ada yang bisa jadi manager pribadi sekaligus sahabat lo kek gue ini." Claura menyombongkan diri.


"Serah lo siapa tau habis ini umurnya udah habis."


Claura menyentil mulut Dafina membuat sang empu melotot tajam.


"Tuh kalau punya Congor dijaga Sarifuddin. Btw gua punya hadiah buat lo tau."


"Gak nanya gue."


"Dih lo jahat ya, gua udah beli sendiri tau."


"Hahaha bercanda sayang, mana hadiahnya? Awas ya kalau bohong atau hadiahnya macam-macam!" Seru Dafina memperingatkan.


"Pernah. Waktu itu lo ngasih gue kostum hantu katanya biar gua cosplay. Cosplay ndas lo!"


"BHAHAHAHA MASIH INGAT AJA." Claura memegang perutnya karena kesakitan akibat ketawa terlalu banyak.


"Janji hadiah ini gak kaya gitu lagi." Claura mengeluarkan sebuah kotaknya lalu memberikannya ke Dafina. "Lo bisa liat sendiri. Dan maaf kalau gua gak bisa ngasih yang terlalu mahal karena gaji gua gak sebesar pendapatan lo sayang."


Dafina menatap kontak yang berada di tangannya. Ia membuka kontak yamg dikasih oleh Claura.



"Makasihhh." Dafina langsung memeluk erat Claura. Claura mengangguk sembari membalas pelukannya. "Sama-sama cantik."


"PRINCE!" Teriak Alexander yang berjalan ke arah Prince. Semua mata langsung tertuju pada pria dengan memakai setelan kemeja hijau dengan beberapa orang yang membawa paper bag sangat banyak.


"What is it?"


"I can't bring all the things you asked me to, after all it's a gift or want to auction things off. But don't worry, I've already told people to bring in some." Ucap Alexander seraya menunjuk ke pintu masuk mansion.


(Saya gak bisa bawa semua barang yang kamu suruh, lagian itu hadiah atau mau ngelelang barang. Tapi tenang aja saya udah suruh orang untuk bawa masuk ke beberapa.)


Pandangan Dafina menoleh ke pintu masuk mansion, ada dua orang yang membawa paper bag begitu banyak.




"Save it there!" Perintah Prince kepada dua orang itu untuk menyimpan semua barangnya di sofa yang berada di tengah-tengah.


Prince tersenyum tipis saat mengetahui yang dipikirkan kekasihnya saat ini. "I also have a gift for you."


(Aku juga punya hadiah buat kamu)


Kembali menoleh ke arah Prince, Dafina mengerutkan keningnya. "Hadiah?"


"Heem, ayo," ajak Prince menggenggam salah satu tangan Dafina untuk ia bawa ke sofa tersebut. "This is all for you dear."


(Ini semua untuk mu sayang.)


Mulutnya terbuka saking terkejutnya. Pria itu memberikan hadiah sebanyak ini hanya untuk dirinya? Ini sangat banyak dan dirinya tahu bahwa semua barang-barang mewah ini harganya sangat menguras dompet.


"Bukan itu saja, masih banyak hadiahnya tetapi tidak bisa di bawa masuk langsung semua."


"Maksudnya?"


"Alex please turn on the screen!" serunya.


(Alex tolong nyalakan layar!)


Sebuah layar di tengah-tengah mansion menyala dengan menampilkan sebuah video call. Terlihat ada beberapa mobil yang terparkir di depan mansion.


"Tell them all to open the car warranty!" seru Prince.


Garansi mobil pertama terbuka dan terlihat ada beberapa paper bag yang bertuliskan Ermenegildo Zegina, Dolce Gabbana, dan ada dua paper bag lagi tetapi tidak kelihatan tulisannya.



Tidak hanya itu saja, tidak lama kemudian sebuah garansi mobil lainnya terbuka membuat semua orang yang di sana membulatkan matanya.




"Prince, kamu terlalu berlebihan memberikan hadiah sebanyak ini untuk ku," bisik Dafina dengan nada kesal.


"Ini belum semuanya sayang, masih ada setengah lagi." Pria itu tersenyum manis.


"Stop! Save it there first!" Perintah Prince kepada dua bodyguard.


"You see that Dior paper bag over there?" tanya Prince seraya menunjuk.


(Kamu liat paper bag Dior yang di sana?)



Dafina mengangguk. "It's also for me?"


"Yes, of course it's for you."


"Tunggu disini jangan kemanapun." Prince beranjak pergi ke atas. Beberapa menit kemudian, pria itu muncul kembali dengan memegang sebuah dokumen dengan bertepatan layar berganti ke sebuah hotel megah.


"Buka." Prince memberikan dokumen kepada Dafina.


Dafina mengambil dokumen dari Prince. Dia membuka dan membaca isi dokumennya.


"HAH?!" Teriak Dafina saking terkejutnya setelah membaca isi dokumen tersebut.


"Kenapa terkejut sayang?" Prince menaikkan satu alisnya.


"Kau jangan bercanda Prince! Ini maksudnya apa?!"


"Kamu seharusnya sangat paham apalagi kamu bisa bahasa Inggris sayang."


"Tapi Prince in—"


"You see that mansion on the screen?" tanya Prince dengan mic kepada para tamu.


(Kalian lihat mansion yang di layar itu?)



Terpampang sangat jelas sebuah mansion megah dengan bertuliskan huruf 'P'. Semua orang yang melihatnya sangat terpukau dengan gedung tersebut.


"What do you mean Mrs. Prince? It is the most luxurious building in the world that comes from your family besides that the building has been standing for a very long time," ujar Mr. Smith.


(Maksud anda apa ya Mrs. Prince? Itu adalah gedung termewah di dunia yang berasal dari keluarga anda selain itu gedung tersebut sudah berdiri sangat lama).


"Ah you're right Mr. Smith. But you're also wrong, it's not just an ordinary building. Indeed, if it looks like a building or a magnificent office, but behind the building there is a luxurious mansion there too. The magnificent building that you see is a gift from my mother, Mrs. Syrena De Luca, while the mansion behind it was a gift from my father, Mr. Syrekar Mackenzie," jelas Prince dengan tegas.


(Ah kau benar Mr. Smith. Tetapi anda juga salah, itu bukan hanya gedung biasa saja. Memang jika dilihat seperti sebuah gedung atau perkantoran megah, tetapi di belakang gedung itu ada sebuah mansion mewah juga di sana. Gedung megah yang kalian lihat merupakan pemberian dari Ibu saya yaitu Mrs. Syrena De Luca, sedangkan mansion yang berada di belakangnya merupakan pemberian dari ayah saya yaitu Mr. Syrekar Mackenzie.)


"And you see the letters clearly displayed before entering the building? The letter 'P' which is the initial of my name, namely Prince Charming De Luca Mackenzie." Prince menunjuk ke arah layar.


Prince menarik nafasnya panjang-panjang setelah itu membuangnya. "My parents before they left the world, they told me that one day if I found a very right woman in my life, then I have to give the building and the mansion to that woman."


(Orang tua saya sebelum meninggalkan dunia, mereka berpesan kepada saya bahwa suatu hari jika saya menemukan seorang perempuan yang sangat tepat di dalam kehidupan saya, maka saya harus memberikan gedung beserta mansion tersebut ke perempuan itu.)


"And I have found a very suitable woman and I will hand over the building and the mansion to her." Prince menatap ke arah Dafina sambil tersenyum. "The woman in front of me, namely Dafina Destarihanifa. She is the greatest woman I have ever met in this world. I didn't think that my heart could choose such a young girl. I thank God for bringing him and her into my life and Arabella."


(Dan saya sudah menemukan perempuan yang sangat cocok dan saya akan menyerahkan gedung beserta mansion tersebut kepadanya.)


(Perempuan itu berada di hadapan saya, yaitu Dafina Destarihanifa. Dia merupakan perempuan terhebat yang pernah saya temui di dunia ini. Saya tidak menyangka bahwa hati saya bisa memilih seorang gadis muda. Saya mengucapkan terimakasih kepada Tuhan yang telah mempertemukan dia di kehidupan saya dan Arabella.)


"I am Prince Charming De Luca Mackenzie warning everyone, if you dare to hurt him let alone make him sad, then I myself will finish it down to the immediate family!" Prince memberi peringatan kepada semua orang.


(Saya Prince Charming De Luca Mackenzie memperingatkan kepada semua orang, jika kalian berani menyakitinya apalagi membuatnya bersedih, maka saya sendiri yang akan menghabisinya sampai ke keluarga langsung!)


Dafina menarik-narik jas yang dikenakan Prince. "Prince!" Panggilnya dengan suara pelan.


Pria itu menoleh ke arahnya sambil tersenyum, "Kenapa sayang?"


"Ini sungguh berlebihan. Aku tidak bisa menerimanya."


"Tidak ada penolakan cantik. Sudah ayo kita akan ke acara selanjutnya."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...