
"But he's n—" Perkataan Dafina dipotong oleh pria menyebalkan itu.
(Tapi dia bu—)
"Shukran jazilan li'uwlayik minkum aladhin saeaduni. Amal 'an taghfir li zawjati," ucap Rifqi memakai bahasa Arab kepada mereka.
(Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah membantuku. Saya harap istriku akan memaafkan diriku).
Pria paruh baya menepuk-nepuk pundak Rifqi sembari berkata, "Amal 'an tantahi mashakil 'usratik qryban , ya binay. la tatakhalaa ean 'iiqnae zawjat mubtadhalat, ealaa alraghm min sueubat 'iiqnae amra'at ghadibat qlylaan."
(Semoga masalah rumah tanggamu cepat selesai ya nak. Jangan menyerah untuk membujuk istri yang merajuk, walaupun sedikit susah membujuk perempuan yang sedang marah.)
Rifqi hanya membalasnya dengan senyuman dan menganggukkan kepala. Lalu ia beralih merangkul Dafina dengan mesrah. Dafina yang di rangkul seperti itu marah dan ingin melepas tangan pria itu dari pinggangnya.
"Jangan dilepas kalau kau mau bebas dari mereka semua," bisik Rifqi kecil di telinga Dafina. Kemudian Rifqi tersenyum kembali.
Dafina yang ingin melepaskan tangan pria itu tidak jadi setelah mendengar bisikin yang diberikannya.
"Baiklah Rifqi Pratam Bramasta. Kau yang memulai drama ini maka akan ku pastikan dirimu menyesal telah mengaku-ngaku sebagai suami gue," batin Dafina.
Dafina tersenyum kepada mereka dan membalas tindakan Rifqi. Ia merangkul pinggang kanan pria itu menggunakan tangan kanannya. Lalu ia memberikan senyuman manis, tapi dibalik senyuman itu sebenarnya adalah senyuman mematikan.
"Oh, I understand. Thanks for reminding me. I will forgive and give a chance to my annoying husband," ucap Dafina yang masih memasang senyuman. Ia beralih menatap Rifqi dan mengeratkan pelukannya. "Isn't that right, honey?"
(Ah aku mengerti. Terimakasih sudah mengingatkan diriku. Aku akan memberikan maafkan dan memberikan kesempatan pada suami menyebalkan ku ini).
(Benar kan sayang?)
Rifqi mengigit bibir dalamnya ketika Dafina mencubit pinggangnya. Ia menahan teriakan yang ingin dikeluarkan. Tidak mungkin ia berteriak kesakitan di depan banyak orang.
Rifqi mengangguk sambil menahan sakit pada pinggangnya, "Of course babe."
"We say goodbye first, because we have to continue our main goal here," pamit Dafina.
(Kami pamit duluan ya karna kami harus melanjutkan tujuan utama kami ke sini).
"Ya, be careful."
Dafina dan Rifqi segera pergi dari lantai satu menggunakan lift. Sepanjang jalan menuju lift, mereka berdua masih saja diliatin oleh para pengunjung di lantai satu.
"Ketagihan ngerangkul gue hm?" Rifqi mainkan alisnya.
Dafina yang menyadari tangannya belum lepas dari merangkul pria itu, langsung melepaskan. Ia berdeham sengaja untuk menghilangkan rasa malunya.
"Salting nih ceritanya?" ejek Rifqi mendekatkan wajahnya.
Dafina langsung menampol kening pria itu dengan kesal. "Mimpi Mulu kerjaannya! Bangun tolol!"
Rifqi hanya mengangkat bahu tak acuh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dafina mencak-mencak kesal, berulangkali ia harus menahan amarahnya. Ia harus ingat kalau saat ini dirinya sedang di tempat umum, jika tidak sudah dari tadi ia menampar, mengusir, memarahi, menyerumpahi dengan kata-kata mutiaranya pada mantannya itu. Tujuannya ke mall untuk refreshing sekaligus mencari hadiah untuk Rouse. Tapi apa yang ia dapatkan? Bukannya refreshing malah kekeselan yang memuncah.
Dafina memberhentikan langkahnya dan menatap ke arah Rifqi dibelakang. "Bisa tidak jangan ngikutin gue terus? Pergi sono jauh-jauh! Ngapain sih ngikutin gue terus?!"
"Gak bisa," jawaban singkat yang diberikan pria itu berulangkali saat disuruh pergi.
"Kenapa gak bisa sih? Gue gak minta lu untuk ngintilin ya!"
Rifqi mengangkat bahu atas jawabannya.
"IHHH! Nyebelin tau gak?! Setidaknya jawab bukan angkat bahu doang!" gerutu Dafina.
"Gak tau."
"Hah?" Beo Dafina. "Lo ngomong apaan sih?"
Rifqi menghembuskan nafas panjang. "Tadi lo minta gue jawab kan, ya udah gue jawab gak tau." Pria itu memberikan senyuman tak berdosa.
"Ya Allah. Sabar-sabar! Jangan emosi, Fin. Anggap aja iblis yang sedang ngehasut untuk kesal." Dafina mengelus dadanya dan menenangkan dirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dafina telah berada di mall selama empat jam. Dia membeli apapun yang menurutnya bagus dan unik. Ia tidak memutuskan untuk tidak memperdulikan pria di belakangnya itu.
"Udah kan belanjanya? Sekarang kita pulang." Rifqi mengambil tujuh paper bag belanjaan di tangan Dafina. Lalu pria itu berjalan duluan di depan.
"WOY! MAU KEMANA NJIR? ITU BELANJAAN GUE YA!" teriak Dafina sambil berlari mengejar langkah besar Rifqi.
Dafina mengikuti Rifqi sampai tempat parkir mobil yang berada di basement. Pria itu memasukan semua belanjaan yang Dafina beli ke bagasi.
"Cepat duduk di kursi depan! Gue akan antar ke tempat penginapan lo," ucapnya berlalu meninggalkan Dafina yang masih diam menatapnya.
Rifqi menurunkan kaca mobil di sebelah kanan lalu berteriak dari dalam. "Woy! Ayo masuk cepetan! Mau pulang kagak?"
Dafina langsung membuka pintu menumpang depan yang terletak di sebelah kanan lalu menutupnya kembali.
Rifqi yang mau menjalan mobilnya tidak jadi saat melihat ada yang belum dikenakan oleh gadis itu. Ia memajukan badannya sehingga menipis jarak diantara mereka. Dafina yang merasakan tidak ada jarang di antara mereka langsung menahan nafasnya dan berdoa semoga pria ini tidak macam-macam.
"Pake seat beltnya bocil." Dafina bernafas lega karna pria itu hanya ingin memasangkan seat belt kepadanya. Setelah memasangkan seat belt kepadanya, Rifqi langsung melajukan mobil meninggalkan area mall.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sebuah mobil Hyundai Palisade SUV yang liris di tahun 2021 terpakir di sebuah restaurant. Siapa lagi yang jika bukan Rifqi yang memakirkan mobilnya di sana.
Pria itu sudah tidak kuat menahan rasa laparnya. Ia mengajak Dafina untuk sekalian makan bersama dirinya sebelum ia mengantarkan pulang ke hotel.
"Lo mau pesen apa?" tanya Rifqi kepada Dafina seraya memberikan daftar menu padanya.
Dafina menerima daftar menu yang diberikan Rifqi. Dia membuka buku menu tersebut dan melihat-lihat apakah ada yang ingin dipesan olehnya atau tidak.
"Sop buntut dan es teh manis aja," jawab Dafina menutup buku menu dan menaruh kembali di atas meja.
"Ternyata selera lo masih lokal ya, gue kira mau pesen Spaghetti atau semacamnya." Rifqi terkekeh.
"Talabat dajaj talywanj wahasa'an dhayl althawr walshaay almuthalaj alhulw waeasir al'afukadu. kulu wahid," ucap Rifqi kepada waiters yang langsung dicatat.
(Saya pesan ayam taliwang, sop buntut, es teh manis, dan jus alpukat. Masing-masing satu).
"Bikhayr thuma ya sayidi. sayatimu taslim talabik ealaa alfur." Setelah mengatakan seperti itu, waiter tersebut langsung pamit untuk kembali ke dapur.
(Baik kalau begitu Tuan. Pesanan anda akan segera kami antarkan.)
Tidak ada percakapan yang terjadi setelah waiters pergi meninggalkan tempat. Sang gadis sibuk dengan handphone, sedangkan sang pria sibuk menatap sang gadis. Sepasang manusia itu sibuk dengan dunianya.
Rifqi mengambil handphonenya yang tergeletak di atas meja. Ia membuka kamera belakang handphone dan mengarahkan kepada gadis yang duduk di depannya dengan tenang. Rifqi diam-diam mengambil beberapa gambar Dafina yang tengah sibuk dengan handphone.
Seorang pelayan datang dengan membawa pesanan mereka. Pelayan tersebut menata pesanan mereka di atas meja.
"Masa' alkhayr sayidati w sadti. Hadha hu talabka. Astamtaea," ucap pelayan tersebut kepada mereka.
(Selamat sore tuan dan nyonya. Ini pesanan kalian. Selamat menikmati).
"Thank you." Rifqi memberikan tips kepada pelayan tersebut sebelum pergi.
"Udah dulu sibuk sama handphonenya. Sekarang habisin sop buntut dan es teh manis lo."
Dafina menatap kesal Rifqi yang mengganggu dirinya. Tapi pada akhirnya ia menuruti perkataan Rifqi. Dafina menyimpan handphonenya kembali di dalam tas dan mulai memakan pesanannya.
Sop buntut terdiri dari kuah bening yang terasa gurih. Nah, di Arab, harganya mencapai 34 Dirham atau setara Rp133 ribu.
Ayam taliwang berupa ayam bakar yang dibumbui saus dari campuran cabai, bawang, dan tomat. Harganya 32 Dirham atau Rp125 ribu. Sedangkan harga untuk jus alpukat Rp30 ribu dan es teh manis seharga Rp25 ribu. Jangan kaget dengan harga makanan di Arab Saudi ini. Sudah diketahui jika kehidupan di luar negeri memang serba mahal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...