WAY OF LIFE

WAY OF LIFE
CHAPTER 46



Dafina dan Mamanya kini sedang berada di kamarnya. Tidak ada suara, hanya suara sendok dan piring yang beradu serta suara televisi yang menyala.


"Ma, teman-teman kakak udah pada pulang belum?"


"Udah setengah jam yang lalu."


Dafina manggut-manggut saja. Tiba-tiba ada suara langkah kaki yang mendekati kamar tidurnya. Dan benar saja, tidak lama kemudian pintu kamar terbuka dengan Nay memasuki kamar.


"Lo ngapain ke sini?" Dafina bertanya dengan nada tidak santai. Ia masih kesal dengan adiknya itu.


"Makan. Buta mata lu, Kak?" balas Nay dengan tak kalah kejam. Dafina merasa rasa kesalnya ini bertambah terhadap Nay ketika melihat Nay dengan santainya menduduki sofa panjang miliknya ditambah perempuan itu mulai makan tanpa dosa.


"Ck! Ini kamar gue, bukan ruang tamu anjir Noy!" decak sebal Dafina.


"Gue tau, tapi gue maunya disini. Gimana dong?"


"LO?! BERANI SAMA GUE, HUH?!"


Fani yang dari tadi hanya mendengarkan pertengkaran kedua anaknya mulai melerainya. "Udah jangan berantem! Masa cuma masalah gini direbutin."


"Tau tuh kakak. Alay!"


"LO YANG ALAY YA NYET!" balas Dafina tidak terima.


"Kamu juga Nay, udah tau ini kamar tidur bukan ruang makan malah makan disini. Sekarang kamu pergi dari sini dan makan di ruang tamu atau gak kamar kamu sendiri!" perintah Fani yang membuat Dafina menjulurkan lidahnya ke arah Nay.


"Mama mahhh gak asik!"


"Sekarang Nay!"


Nay berdecak kesal. Ia menatap tajam ke arah kakaknya yang menampilkan wajah songong. Dengan langkah ogah-ogahan Nay keluar dari kamar Dafina.


"Ma, tadi pas sampai di gerbang mansion utama, kakak liat mobil sedan warna hitam, itu punya siapa? Ada tamu kah?" tanya Dafina lada Mamanya.


"Iya ada tamu."


"Siapa tamunya? Kok kakak gak liat di ruang tamu?"


"Ini bukan tamu sembarangan, yang datang itu Ayah Shobur dan Mba Roshila serta anak-anaknya."


Ayah Shobur merupakan ayah kandung dari adiknya yaitu Nay. Dafina dan Nay satu ibu yaitu Fani namun berbeda ayah. Sedangkan Mba Roshita merupakan istri dari Ayah Shobur dan mereka mempunyai 3 anak yang dekat dengan dirinya dan Nay.


"Lalu kemana mereka?"


"Saat kakak datang mereka sholat maghrib atuh. Gimana sih."


"Eh? Iya ya benar juga. Ya udah kalau gitu kakak temuin mereka besok aja ya soalnya kakak mau tidur dulu, Ma."


Fani mengangguk. Ia mengecup kening Dafina sebelum beranjak pergi.


"Good night girl."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dafina dan Claura baru saja keluar dari panti asuhan. Dafina meminta Claura untuk menemani dirinya pergi ke dua panti pasuhan dan panti jompo yang ada di Jakarta. Ia ingin menyumbangkan hartanya pada panti asuhan dan panti jombo dengan menjadi donatur tetap.


"Sudah selesai? Kalau gak ada, kita langsung berangkat ke tempat pemotretan," tanya Claura. Dafina menggelengkan kepala.


Mobil Alphard berwarna putih melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan panti asuhan itu. Hanya membutuhkan waktu satu jam untuk mereka sampai di studio pemotretan. Claura memarkirkan mobil dengan benar, lalu mereka turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam studio. Sudah banyak cru, fotografer, make up artist disana.


Seorang perempuan berjalan menghampiri Dafina dengan senyuman mengembang di wajah perempuan cantik itu.


"Silahkan kamu bisa ke ruang ganti. Makeup artist dan tata rias kami akan membantu kamu bersiap-siap selama melakukan photoshoot dua hari ke depan," ujar perempuan tersebut sembari berjalan di depan.


"Kamu model yang akan kami makeover?" tanya seorang pria.


Dafina mengangguk cepat.


"Sebelumnya perkenalkan nama saya Jepri." Pria yang diketahui bernama Jepri itu mengulurkan tangannya.


Dafina tersenyum ramah dan membalas jabatan tangan Jepri. "Dafina panggil saja Fina atau Dafina, senang berkenalan dan bertemu dengan dirimu."


Pria itu tiba-tiba menjetikkan jarinya. "Guys guys! Ayo kita bekerja sekarang. Modelnya sudah datang," teriak pria itu.


Dafina mengangguk. "Mari."


Tanpa buang waktu, Dafina mengikuti salah satu cru perempuan ke walk in closet untuk memakai satu set pakaian yang telah disiapkan.


Hanya perlu waktu sepuluh menit untuk memakai busana. Setelah itu, Dafina segera menuju meja rias. Jepri mulai makeover wajah Dafina untuk menyesuaikan pakaian yang dipakai oleh Dafina saat ini.


Semua mata tertuju tertuju pada satu objek saat Dafina keluar dari sebuah ruangan. Pakaian yang sangat indah di kulih putih bersihnya. Make up yang sesuai dan serasi dengan tema yang dipakai.



(Contoh gambar outfit, make up, tata rambut, dan posisi Dafina)


Dafina di foto oleh photograph bernama Lindsey Whiston oleh Karl Lager Feld bersama BAZAAR. Gaya yang dipakai Dafina merupakan gaya dari Carine Roitfeld.


Hanya butuh waktu empat jam untuk melakukan pemotretan dengan tiga kali ganti. Para cru sangat kagum dengan gaya yang ditunjukkan oleh Dafina. Ia sangat pantas mendapat julukan Queen dan Perfect maknae.


"It's finished. Today's shoot was great. Kami sangat menyukai hasilnya," ucap photographer setelah melihat hasilnya.


"Untuk besok saya masih harus datang kan?" tanya Dafina.


"Iya, besok masih ada pengambilan video dan behind the scene."


Dafina mengangguk mengerti. "Kalau gitu saya boleh ganti baju dan make up setelah itu pulang?"


"Iya hati-hati."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Dap, handphone lu kemana? Mati?"


Dafina mengangguk. "Lebih tepatnya rusak. Handphone gue jatuh ke air dan gue males ke konter untuk benerin."


"Ck pantes aja, mereka hubungin ke gue."


Dafina yang mulanya memejamkan lalu refleks menatap ke arah Claura.


"Siapa yang hubungin lu? Cru? Agensi? Atau apa?"


"Teman-teman SMK lo. Katanya mereka udah chat ke Whatsapp tapi gak aktif, jadi dia ngabarin gue. Ntah gue gak tau dia beneran teman lo saat SMK atau bukan," jawab Claura menjelaskan semuanya.


"Siapa yang ngechat lu?"


"Hmm sebentar." Claura menjeda kalimatnya, ia berusaha mengingat nama perempuan yang mengechat dirinya di Instagram pada kemarin malam. "Kalau gak salah namanya Michelle. Katanya lo saat SMK suka manggil dia Chelle."


Dafina tersenyum saat mendengar nama tersebut. Nama seseorang yang selalu menjadi teman dekatnya di SMK. Gadis bar-bar julukan untuk Michelle akak Chelle.


"Lalu dia chat apa aja ke lu? Pasti nanyain sesuatu kan?"


Claura mengangguk. "Kata tuh cewek, dia udah chat kamu di Whatsapp tapi gak jawab. Saat gue tanya ada apa, dia bilang bahwa akan ada reuni dua hari lagi setelah hari ini. Dia harap lo datang di reunian kali ini."


"Siapa aja yang datang ke sana?"


"Pertanyaan lu gak ada yang lain apa? Tentu aja para alumni sekolah lu lah."


"Bukan itu maksud gue ck. Sudahlah lu mah gak bakal tau tentang SMK gue," dengus Dafina.


"Kata siapa gue gak tau hm? Maksud lo itu kedua cowok itu? Rifqi dan Rayn hm? Benar bukan tebakan gue," ucap Claura tersenyum bangga pada dirinya.


Dafina segera menatap Claura. "Lo tau darimana?"


"Tau dari temen lu yang namanya Michelle. Dia bilang kalau lu harus datang ke acara reunian kali ini, gak usah takut kalau ketemu sama Rifqi dan Rayn. Dia sih gak tau apakah mereka akan datang di reunian kali ini atau gak. Tapi walaupun begitu, Michelle dan yang lainnya akan selalu ada disamping lu dan dia bolehin gue untuk ikut ke reunian lu."


"Ada saran apa yang harus gue ambil? Apa ikut menghadiri reunian tersebut atau tidak?" Tanya Dafina kepada Claura.


"Kalau gue jadi lu sebenarnya bingung harus memilih yang mana. Di satu sisi takut kalau ada sasaeng atau memanfaatkan kondisi untuk menjatuhkan diri gue. Tapi di sisi lain jika tidak menghadiri acara reunian bisa di cap sombong dan tidak silahturahmi," dengus Claura.


"Posisi gue tuh yang sekarang."


"Gue ngikut lu aja sebagaimana dah. Mau ikut ya ikut, kagak ya udah kagak. Tapi alasan kenapa gak bisa datang ke acara reunian harus logis, jangan karna ada mantan kagak datang."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...