WAY OF LIFE

WAY OF LIFE
CHAPTER 29



Setelah melakukan perjalanan lebih dari satu jam, mereka tiba di mansion Dafina. Mobil yang berisikan barang-barang dan seluruh staff masuk melewati gerbang Timur, sedangkan mobil yang ditempati oleh The King, The Queen, dan BTS masuk melewati gerbang utama. Walaupun mereka memasuki gerbang yang berbeda, tetapi mereka akan dipertemukan di taman yang berada di tengah-tengah mansion.



Terdapat dua jalan berbeda. Jalan yang ke sebelah kiri menuju mansion utama, sedangkan jalan yang sebelah kanan menuju paviliun utama dan belakang.


Semakin dalam memasuki mansion tersebut, semakin banyak penjagaan dan tidak sembarangan orang yang bisa masuk karena akan terdeteksi langsung.



Mereka semua telah sampai di Mansion utama. Dengan segera pintu mobil mereka dibukakan oleh para penjaga yang bertugas khusus.


"Welcome to Dafina Castle." Para penjaga tersebut mengucapkan kalimat pembuka bagi orang-orang yang datang ke mansion.


Dafina menuruni mobil dengan kacamata hitam bertengger di kepalanya. Semua penjaga langsung menunduk hormat.


"Let's go inside then rest," ajak Dafina kepada semuanya.


Dafina berjalan paling depan dengan diikuti oleh yang lain dari belakang. Gerbang mansion terbuka lebar dengan sendirinya. Dafina dan yang lainnya memasuki mansion dengan cool dan elegan.



Setelah memasuki mansion, maka kalian akan disuguhkan sebuah mansion yang berwarna keemasan serta berbagai kaca dan lampu besar layaknya sebuah mansion megah.


"Je gaein maensyone osin gol hwanyonghamnida. Je maensyoni yorobundeuri saenggakasineun daero an dwegona yorobuneul pyonanhage haejuji anneundamyon sagwadeurimnida," ucap Dafina melakukan bow.


(Selamat datang di Mansion pribadiku. Saya meminta maaf bila mansionku tidak sesuai ekspektasi yang kalian kira atau tidak membuat kalian semua nyaman disini).


"Ani dapina, ne gungjoneun jongmal hwaryohago joa simjio mein maensyone deurogagikkaji sibo buni golrinda," ujar Rouse.


(Tidak Dafina, sungguh istana milikmu sangat mewah dan bagus bahkan memasuki mansion utama harus memakan waktu lima belas menit jika menggunakan mobil).


"Aaaa gomawo onnie. Btw, jega wae yogi wanneunji dadeul asinayo?" Tanya Dafina kepada BTS dan The King.


(Aaaa terimakasih eonnie. Btw, apa kalian semua sudah mengetahui alasan kenapa saya mengajak ke sini?)


"Nega wae yogi wanneunji uri modu algo isso. Dareun saramdeureul daepyohaeso gamsahamnida uriga dangsine maensyone momul su itkke haejwoso," ucap Namjoon dan Lody.


(Kami semua sudah mengetahui alasan kenapa kamu berada disini Dafina. Saya mewakili yang lain mengucapkan terimakasih karena sudah mengizinkan kami tinggal di mansion milikmu).


"Chonmaneyo chonmaneyo. Hajiman i maensyoneneun urippunmani anira uri gajoktteuldo salgo itttaneun gol malsseumdeurigo sipsseumnida." Dafina memberitahu kepada mereka.


(Sama-sama dan kembali kasih. Tapi sebelumnya saya ingin memberitahukan sesuatu kepada kalian semua, bahwa di mansion ini bukan hanya kita dan staff saja yang tinggal disini tetapi ada keluarga ku juga yang tinggal disini.)


"Gwaenchana jagiya. Gajokppundeul mannabwepkke dwaeso nomunomu bangapkko," ujar Sooya bersemangat. "Geurom gajoktteureun odisso?" tanya Sooya.


(Tidak masalah sayang. Malah kami merasa senang bisa bertemu keluargamu.)


(Lalu dimana anggota keluargamu?)


Dafina melihat jam tangan yang menunjukkan pukul delapan malam. "Jigeum soindonesia siganeuro jonyok pal siinde, botong i sigani jonyok sikssa siganieyo. Geuraeso naneun sikttangeuro gaso gajoktteulgwa jonyok sikssareul hamkke haettta." Dafina mengajak mereka untuk makan malam bersama.


(Sekarang sudah pukul delapan malam waktu Indonesia Barat, biasanya jam segini merupakan waktu untuk makan malam. Oleh karena itu aku ikuti saya menuju ruang makan dan menemui anggota keluarga dan makan malam bersama.)


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Saya merasa bahagia karena kalian semua sudah berkenan menginap di sini karena semenjak anak gadis nakal itu pergi ke Korea dan mengejar karirnya di sana, mansion ini terasa sepi hanya ada saya dan adiknya saja," ujar Fani, Mamanya Dafina.


"Aish Ma, kakak bukan gadis nakal," protes Dafina kesal.


"Lalu jika bukan gadis nakal kenapa baru sekarang mengunjungi Mama disini?"


"Jadwalku padat Ma, lagian kan kakak setiap setahun sekali akan menginap disini dan ini seharusnya belum jadwal diriku ke Indonesia."


"Let me help translate what Mother Dafina said," ucap Claura. Claura dan dua penerjemah memang disuruh untuk datang kesini.


"Tidak usah Claura, biar gue yang jelasin ke mereka semua," sahut Dafina.


"Oke kalau begitu."


"Omonineun igose momureumyo weroun maensyoneul bumbige haejusyoso yorobun moduege gamsahadago malsseumhasyotsseumnida. Je omoniwa yodongsaeng geurigo nodongjadeulman chaewojotkki ttaemune maensyoneun joyonghaetsseumnida, gakkeum chinchoktteurina hyongjega jakareutaeso piryohan gosi isseumyon yogiso mugeul sudo itsseumnida." Dafina menjelaskan kepada mereka menggunakan Bahasa Korea.


(Ibu saya mengucapkan terimakasih kepada kalian semua karena sudah berkenan untuk menginap disini dan membuat mansion yang tadinya sepi menjadi ramai. Memang mansion sepi dikarenakan hanya diisi oleh Ibu dan adik saya serta para pekerja, walaupun kadang-kadang kerabat atau saudara akan menginap disini jika ada keperluan di Jakarta.)


"Terimakasih Tante," kata Taehyung menggunakan bahasa Indonesia walaupun tidak fasih.


"Sama-sama, Nak. Ya sudah ini sudah malam lebih baik kalian semua beristirahat."


"Iya, Ma."


"Claura lo tau kamar tamu kan yang berada di mansion utama ini?" tanya Dafina.


"Tau kenapa emangnya?"


"Nah sekarang tugas lo sebelum kembali ke paviliun, lo anterin mereka semua ke kamar masing-masing ya."


"Baik Boss."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah mengantar The King ke aula, maka saat ini Dafina sedang mengantarkan BTS ke ruang meeting yang telah ia ubah menjadi aula yang dilengkapi speaker untuk latihan mereka.


"If seniors need something don't forget to say okay?"


(Jika senior membutuhkan sesuatu jangan lupa untuk bilang, oke?)


"We will definitely contact you if you need anything," ucap Namjoon.


(Pasti kami akan menghubungi dirimu jika membutuhkan sesuatu).


Setelah mengantarkan mereka ke tempat latihan, Dafina berjalan menuju studio tari untuk latihan bersama team.


"Yonseupssilkkaji deryoda jwossoyo?" tanya Zennie pada Dafina.


(Kamu sudah mengantarkan mereka ke ruangan latihan?)


"Then let's practice again."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mereka semua sudah berada di backstage untuk menunggu giliran penampilan mereka masing-masing. Mereka memakai pakaian yang dipilih sendiri.


Acara ini disiarkan secara live di Televisi, YouTube, dan Instagram. Banyak publik figure yang diundang untuk memeriahkan ulang tahun Tokopedia tahun ini.


"Hai Dafina."


Deg.


Dafina mengenal suara itu. Suara yang membuat luka sekaligus menjadikannya seperti ini.


Dafina menengok ke samping dan terlihat seorang pria dewasa tengah tersenyum ke arahnya.


"H-hai Devano." Dafina menyapa balik mantannya itu.


Rasanya gue mau tenggelam aja.


"Gimana kabar lo, Fin?" tanya Devano.


Ingin rasanya Dafina menjawab, Seperti yang lo ketahui bahwa gue sangat terluka dan terpuruk saat lo ninggalin lo beberapa tahun yang lalu. Namun hanya bisa terucap di batinnya saja.


"Gue jauh lebih baik daripada sebelumnya. Lo sendiri gimana kabarnya? Bagaimana kabar Tante Iis dan Kak Salsa?"


"Kabar gue baik, Fin. Mama dan Kak Salsa juga baik kabarnya. Kak Salsa sudah punya anak satu namanya Alvaro," jawab Devano.


"Serius? Kalau begitu tolong bilangin ucapan selamat untuknya dari gue."


"Itu pasti. Lo udah tampil?"


Dafina menggeleng. "Maybe sebentar lagi, soalnya The Queen tampil setelah The King."


"Oh." Devano berjalan ke samping Dafina dan mengeluarkan tangannya pada Zennie, Rouse, dan Sooya.


"Hi, my name is Devano Danendra. You call me Devano," ucapnya memperkenalkan diri.


"Rouse Park."


"Lee Sooya."


Mereka bertiga membalas uluran tangan Devano secara bergantian.


"Come on now The Queen perform!" Seru sutradara.


(Ayo sekarang The Queen tampil!)


Mereka berempat bangun dari duduknya dan bersiap-siap menaiki panggung setelah sorotan lampu mati. Mereka akan menampilkan 2 lagu, yaitu lagu terbaru mereka dan Dafina akan bernyanyi sendiri dengan menggunakan lagu bahasa Indonesia.


Mereka berempat bangun dari duduknya dan bersiap-siap menaiki panggung setelah sorotan lampu mati. Mereka akan menampilkan 2 lagu, yaitu lagu terbaru mereka dan Dafina akan bernyanyi sendiri dengan menggunakan lagu bahasa Indonesia.


Dafina menampilkan lagu yang berjudul Tak Mampu Pergi.


Ku tutup pintu cintaku


Yang sekian lama terbuka untukmu


Lelah hati ini


Apakah selama ini cinta yang ada hanyalah semu?


Betapa sakitnya hatiku


Dan dirimu memilih dirinya


Hingga kau hiraukan cinta kita


Ketika dia yang kau cinta mencintai yang lain


Betapa dalamnya terluka hatiku


Dan bagaimanakah ku harus meyakinkan diriku?


Saat ku dengar suaramu, ku tak mampu pergi


Ku tak mampu pergi


Lelah rasanya hati untuk ku bertahan


Namun aku sungguh-sungguh tak mampu, oh


Dia yang kau cinta mencintai yang lain


Betapa dalamnya terluka hatiku


Dan bagaimanakah ku harus meyakinkan diriku?


Saat ku dengar suaramu, hatiku bergetar


Saat ku tatap matamu, ku tak mampu pergi


Dafina bernyanyi dengan nada lirih layaknya seseorang yang tak mampu pergi dan mengisyaratkan kepedihan. Setelah kamera tidak menyorot ke arahnya lagi, Dafina langsung turun dari panggung dan kembali ke backstage.


"Solro mudae myongdani nomu joayo. Akka museun norae bulrossoyo?" Zennie bertanya pada Dafina.


(Dafina penampilan solo mu sangat bagus. Lagu apa yang kamu nyanyikan tadi?)


"Gomawo onni. Jega akka bulrottton noraeneun indonesiaeso on noraeinde 'Tak Mampu Pergi' animyon hangugoro mot ga," jawab Dafina.


(Terimakasih eonnie. Lagu yang ku nyanyikan tadi merupakan lagu dari Indonesia yang berjudul 'Tak Mampu Pergi' atau dalam bahasa Korea itu, Tak Mampu Pergi).


"Geu noraega museun yaegireul haejwotjji? Seulpeumchorom bureuneun toneso," tanya Zennie.


(Lagu itu menceritakan tentang apa? Dari nada yang kamu nyanyikan seperti kesedihan).


Backstage tiba-tiba dipenuhi oleh makanan pedagang kaki lima yang terbuat dari aci atau yang disebut Siomay.


"Dafina kamu masih ingat ini tidak? Siomay kesukaan lo yang dijual sama Pak Somad saat dahulu," tanya Devano sembari menunjukkan sepiring siomay di hadapan Dafina.



Saat gue tau bahwa lo diundang untuk jadi bintang tamu pada ulang tahun Lazada, gue langsung pesan tiga gerobak Siomay Pak Somad buat dibawa kesini."


"Iya gue masih ingat kok. Makasih ya, Devano."


"Sama-sama cantik. Ayo sekarang buka mulutnya biar gue suapin." Dafina mengarahkan sesendok siomay ke Dafina.


"Gue bisa makan sendiri, Dev," tolak Dafina tidak enak karena mereka berdua menjadi pusat perhatian apalagi disana ada para eonnie, BTS, dan The King yang melihatnya.


"I don't accept Princess' refusal! So let's open his mouth."


"Tapi gue malu Dev, disini banyak orang apalagi ada para member The Queen lainnya, BTS, dan The King," bisik Dafina.


"Pak!" panggil Devano pada Pak Somad. "Tolong bawain 19 mangkok siomay kesini ya."


"Gue udah pesanin sembilan mangkok untuk mereka semua. Jadi tidak ada alasan untuk kamu menolaknya lagi."


Beberapa saat kemudian, sembilan belas mangkok siomay berada di meja hadapan mereka.


"This is called Siomay, one of the foods from Indonesia. All of you please taste this food," ucap Devano kepada BTS, The King, dan The Queen.


Satu persatu dari mereka mengambil sepiring siomay dan langsung memakannya.


"How does it feel? What's delicious? Or missing something?" tanya Devano lagi.


"It's very tasty. Was that his name?"


"Siomay."


"Ah oke thank you."


"Enjoy your meal," ucap Devano.


Devano mengulurkan kembali sesendok siomay ke arah Dafina. "Ayo buka mulutnya biar gue suapin. Satu suapan deh janji."


"Janji?"


"Iya janji." Devano mengangguk.


Dafina membuka mulutnya, membiarkan suapan dari Devano masuk.


"Udah sini, biar gue makan sendiri aja sisanya." Dafina mengambil alih piring miliknya.


"Hai Dafina, wah kamu sangat cantik ternyata dilihat dari dekat."


"Terimakasih Tante Ayu. Tante juga semakin cantik di umur sekarang," balas Dafina setelah memasukkan suapan terakhir.


"Bisa kamu aja." Ayu Ting Ting terkekeh. "Saya boleh foto berdua sama kamu?" tanyanya.


"Tentu saja boleh, Tan. Ayo kita foto dimana?"


Ayu Tingting menatap ke arah Devano. Devano yang mengerti akhirnya beranjak pergi dari sana.


"Terimakasih ganteng," ujar Ayu Ting Ting.


Ayu Ting Ting duduk di sebelah kanan Dafina, lalu mengarahkan kamera handphone di depan mereka berdua.


"Kita boomerang ya," ujar Ayu Ting Ting yang langsung mengubah menjadi boomerang.


Dafina dan Ayu Ting Ting berulangkali mengambil video dan gambar bersama. Dimulai dari gaya kalem hingga ke gaya tidak punya malu.


"Saya boleh nanya sesuatu?" tanya Ayu berbisik.


"Ingin nanya apa, Tan?"


"Hubungan kamu dan Devano memang sudah benar-benar berakhir atau belum?" tanyanya hati-hati, tentu saja dengan nada kecil.


"Seperti yang telah diketahui beberapa tahun yang lalu, Tan. Diantara kami berdua sudah tidak memiliki status apapun lagi."


"Tapi menurut gue tidak begitu. Menurut gue kalau Devano masih ada perasaan untukmu," kata Ayu. "Asal kamu tau ya, saat tim management menelepon Devano untuk menjadi salah satu bintang tamu di sini, tuh orang gak bisa katanya ada konser di Banjarmasin. Tapi setelah diketahui bahwa bukan dirinya saja yang menjadi bintang tamu tetapi ada The Queen, The King, dan BTS tiba-tiba Devano malah setuju tawarannya."


Apa mungkin Devano masih menyimpan rasa sama gue? Tapi kenapa dia memutuskan hubungan saat itu? Kemana dia saat gue sedang membutuhkannya?


"Menurut Tante lebih baik kamu maafkan dan lupakan perbuatannya. Siapa tau dia juga terpaksa untuk mengakhiri hubungan kalian."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...