
Mereka berjalan memasuki ruangan makan. Terdapat meja panjang disertai bangku-bangku yang tersusun dengan rapih. Raja Mohammed duduk di bangku yang berada di tengah-tengah, sementara beberapa anggota kerajaan duduk di sebelah kiri sisinya, lalu para presiden duduk di sebelah kanan.
"Geurom uri odi anjji?" gumam Zennie kecil.
(Lalu kita duduk dimana?)
"I dont know, eonnie."
"Hey. Why are you four just standing there? Come eat with us," ajak Futtaim.
(Hey. Kalian berempat kenapa hanya berdiri saja? Mari makan bersama kami).
"A wait! Actually we were confused which bench to sit on," lirih Rouse.
(Sebentar! Sebenarnya kami bingung harus duduk di bangku yang mana).
Futtaim tersenyum mengerti. "Come follow me."
(Mari ikuti saya.)
Mereka berempati mengikuti Futtaim yang berjalan di depan mereka terlebih dahulu. Langkah mereka berhentilah ketika langkah kaki Futtaim juga berhenti.
"Please, sit. The four of you are sitting here," ujar Futtaim menunjuk empat bangku di belakangnya.
(Silahkan duduk. Kalian berempat duduk disini).
"Kamsahamnida gongjunim," ucap Sooya seraya melakukan bow.
(Terimakasih Tuan Putri).
"Thank you very much for the help the Princess has given us," ucap Dafina disertai senyuman.
(Terimakasih banyak atas bantuan yang Tuan Putri berikan kepada kami).
"You're welcome. Enjoy the food served." Futtaim pamit untuk kembali ke bangkunya.
(Sama-sama. Selamat menikmati hidangan yang disajikan.)
Mereka segera duduk di bangku masing-masing. Dengan posisi Dafina - Rouse - Sooya - Zennie. Di hadapan Dafina saat ini ada Pangeran Faza. Sementara di kedua sisi pangeran tersebut terdapat anggota kerajaan lainnya, yang tidak ia kenal siapa namanya.
"Let's start the lunch," ucap Raja Mohammed memberi instruksi kepada semuanya.
(Mari kita mulai makan siangnya).
Setelah Raja Mohammed memasukkan hidangan pertama kali ke dalam mulut, mereka semua mulai memakan hidangan yang ada di depan mereka. Mereka yang ada di ruang makan menikmati hidangan mereka tanpa ada yang berbicara.
Dafina menatap gelas minuman milliknya yang sudah tidak ada air. Ia ingin minum tapi dimana ia meminta minuman dan kepada siapa. Dia mengedarkan pandangan pada meja panjang, siapa tau ada semacam teko atau apapun yang bisa mengisi air minum kembali.
"Excuse me, may I ask for your help, sir, to get you a mug or water jug that is beside you?" ucap Dafina berhati-hati pada pria yang di sampingnya.
(Permisi, saya boleh minta bantuan Tuan untuk tolong ambilkan mug atau teko air yang ada di samping tuan?)
Pria itu menoleh ke samping sejenak lalu pandangannya mengarah ke teko air yang ditunjuk oleh perempuan di sampingnya. Pria itu mengambil teko yang dimaksudkan oleh Dafina.
"You mean this?" tanya pria itu memastikan.
(Maksud kamu ini?)
"Yes, sir."
Pria itu memberikan teko minuman kepada Dafina yang langsung diambil olehnya.
"Thank you Mr. ....," Pria itu yang paham langsung menyebutkan namanya. "Prince."
Atmosfer seolah berhenti saat pria itu menyebut namanya. Dafina mendongak ke atas untuk memastikan apakah nama yang disebutkan pria itu merupakan nama yang ia kenal juga. Kedua mata Dafina bertemu dengan tatapan pria itu.
"Why are you looking at me like that?" tanya Prince saat dirinya ditatap terus menerus oleh perempuan yang berada di sampingnya.
(Kenapa anda melihat saya seperti itu?)
"Prince....," gumam Dafina kecil. Dafina langsung menggelengkan kepalanya, bukan saat yang tepat untuk berbicara dengan pria ini. "It's okay sir. Thank you for the help."
(Tidak apa-apa sir. Terimakasih atas bantuannya.)
Sepanjang jamuan makan siang, Dafina selalu mengambil kesempatan melirik-lirik ke arah Prince. Kadang-kadang tatapan mereka bertemu, namun Dafina langsung memutuskan pandangan mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jamuan makan siang akhirnya selesai. Setelah makan siang, mereka dipersilahkan untuk beristirahat sejenak sebelum mengikuti acaranya kembali. Dafina beserta ketiga unnie-nya sedang berjalan menuju kamar peristirahatan sejenak mereka yang telah disediakan di istana kepresidenan.
"Guys, dangsin-ui saeng-gag-e geu yoliui gagyeog-eun myeoch dileuham-ibnikka?" bisik Rouse sangat pelan kepada Sooya, Zennie, dan Dafina.
(Guys, menurut kalian hidangan tadi habis berapa Dirham?)
Mereka bertiga menoleh ke Rouse sebentar, kemudian mengingat-ingat hidangan makan siang tadi.
"Two hundred billion more?" jawab Dafina tak kalah pelan dari Rouse.
(Dua ratus miliar lebih?)
Zennie menggeleng kecil. "2000eog-i neomneun geos gatseubnida, Dafina. Chamseoghan hagaegdeullo ttajimyeon wangsilgwa eonlon-eun malhal geosdo eobsgo 2000eog-i neom-eoss-eul geos-ida. Bujadeul-i daegaleul boji moshaneun il-eul hago sip-eohandamyeon geugeon michin jis-iya," gidik Sooya.
(Sepertinya lebih dari dua ratus miliar, Dafina. Dilihat dari tamu yang tadi hadir belum lagi anggota kerajaan dan para media pastinya lebih dari dua ratus miliar. Gila ya kalau orang kaya raya mau ngapain-ngapain gak lihat harga).
"My wallet and ATM feel insecure when I see this dish. I feel like I've lost," ucap Dafina dramatis.
(Dompet dan ATM ku merasa insecure kalau ngeliat hidangan tadi. Berasa kalah saing gue tuh).
"Especially us, Fin. It feels like when compared to the Dubai royal family, my family and I are nothing with them," balas Rouse lebih dramatis.
(Apalagi kita, Fin. Rasanya jika dibandingkan dengan keluarga kerajaan Dubai, aku dan keluarga tidak ada apa-apa dengan mereka).
"At least unnie's family is in the list of billionaires in Asia," ujar Zennie.
(Setidaknya keluarga unnie masuk ke dalam orang miliarder se-Asia).
Mereka berempat telah sampai di depan kamar. Dafina dan Rouse sedangkan Zennie dengan Sooya satu kamar. Mereka memasuki kamar masing-masing.
"Huft, akhirnya gue bisa rebahan juga." Dafina langsung merebahkan diri di kasur, disusul dengan Rouse yang ikut rebahan setelah cuci muka.
"Dapina ssi, uli 3sie gong-yeonhaeyo, al-assjyo?" tanya Rouse menoleh ke samping.
(Dafina-ssi, kita tampil pukul 3 nanti ya?)
"Ne eonnie, wae?"
"Jom jago sip-eunde, uliga natanagi han sigan jeon-e kkaewojulge."
(Aku ingin tidur sebentar, nanti bangunin satu jam sebelum kita tampil ya.)
"Oke eonnie. Have a nice dream."
"Thank you chagiya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Penampilan yang spektakuler dari The Queen. Istana kepresidenan dipenuhi tepuk tangan ketika The Queen selesai tampil. Para media tak henti-hentinya berlomba-lomba mengambil video dan gambar Mega bintang tersebut.
"Congrats! The performances of the four of you are truly extraordinary and spectacular," ucap Raja Mohammed kepada The Queen yang baru saja turun dari atas panggung.
(Selamat! Penampilan kalian berempat sungguh luar biasa dan spektakuler).
"Thank you Your Majesty."
"Thank you for the appearance you gave. You can sit back down."
(Terimakasih atas penampilan yang kalian berikan. Kalian bisa duduk kembali.)
"Alright Your Highness."
Sooya, Zennie, dan Rouse kembali duduk di tempat masing-masing, sedangkan Dafina kembali ke ruang make over karena ia akan tampil kembali. Hanya sendiri untuk mewakili negara kelahirannya yaitu Indonesia. Di ruang make up, dirinya di tata kembali oleh makeup artist yang telah ditugaskan dari pihak kerajaan.
"You are very beautiful like an Arab. You are Arabian?" tanya Zihan—yang make over dirinya.
(Kamu sangat cantik seperti orang Arab. Kamu orang Arab?)
"Thank you for the compliment. Yes, I have Arab and Chinese descent from my parents," jawab Dafina tersenyum.
(Terimakasih atas pujiannya. Iya aku ada keturunan Arab dan China dari orang tua).
"Wow. No wonder your skin is white like the Chinese. Does that mean you are Muslim or non-Muslim?" Zihan bertanya lagi.
(Wow. Pantas saja kulitmu putih seperti orang Tionghoa. Berarti kamu muslim atau non muslim?)
"Alhamdulillah muslim. Are you a Muslim yourself?"
(Alhamdulillah muslim. Kalau kamu sendiri muslim kah?)
Zihan tersenyum, "No, I'm Catholic."
(Tidak, aku Katolik.)
Dafina manggut-manggut mengerti. Ia sudah mengira bahwa masyarakat di negara Arab tidak semuanya beragama Muslim. Kalian bisa menemukan masyarakat non muslim di sana.
"I've finished your makeover. Now you can prepare to perform after this."
(Aku sudah selesai makeover kamu. Sekarang kamu bisa bersiap untuk tampil setelah ini.)
Dafina menatap ke kaca dihadapannya. Ia sungguh takjub dengan dirinya. Tangan Zihan sangat berbakat dalam hal memoles makeup. "Thank you Zihan for the help you gave. You're really talented at this."
"You're welcome Dafina."
Lampu di aula istana tiba-tiba mati. Namun tidak lama kemudian, sebuah lampu warna putih menyorot ke seorang perempuan yang berada di atas panggung. Musik mulai mengalun dan perempuan itu memutar badannya sehingga mereka yang ada di aula bisa melihat dirinya.
Dafina mulai menyanyikan salah satu lagu dari penyanyi favoritnya yaitu Hey Ladies - Rossa. Ia menyanyikan lagu tersebut memakai bahasa Indonesia - Inggris.
Sudah kubilang jangan terlalu yakin
Mulut lelaki banyak juga tak jujur
Bila sakit hati wanita bisanya nangis
Sudah ku bilang jangan terlalu cinta
Kalau patah hati siapa mau nolong
Seperti langit dan matahari tak bersatu lagi
Hey ladies jangan mau di bilang lemah
Kita juga bisa menipu dan menduakan
Bila wanita sudah beraksi dunia hancur
Hey ladies sekarang cinta pakai otak
Jangan mau rugi hati dan juga rugi waktu
Bila dia merayumu ingat semuanya bohong
Memanglah tak semua laki-laki busuk
Namun ladies tetaplah harus waspada
Semogalah kita semua akhirnya
Mendapatkan cinta yang tulus (na na na)
Sudah kubilang jangan terlalu yakin
Mulut lelaki banyak juga tak jujur
Bila sakit hati wanita bisanya nangis
Hey ladies jangan mau di bilang lemah
Kita juga bisa menipu dan menduakan
Bila wanita sudah beraksi dunia hancur
Hey ladies sekarang cinta pakai otak
Jangan mau rugi hati dan juga rugi waktu
Bila dia merayumu ingat semuanya bohong
Hey ladies
Cinta pakai otak
Jangan mau rugi hati dan juga rugi waktu
Bila dia merayumu ingat semuanya bohong
Memanglah tak semua laki-laki busuk
Namun ladies tetaplah harus waspada
Semogalah kita semua akhirnya
Mendapatkan cinta yang tulus ha (na na na)
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...