WAY OF LIFE

WAY OF LIFE
CHAPTER 17



Lusa adalah acara penampilan pertama The Queen dengan lagu baru mereka. Pastinya itu membuat mereka sangat sibuk berlatih di ruang studio.


"난 개년들처럼 난폭해질 준비가 됐어."


(Aku siap berubah menjadi liar, seperti para ******.)


"하지만 당신은 우리가 당신 앞에서 야생이라는 것을 기억해야합니다."


(Namun kau harus mengingat bahwa kami liar hanya di hadapan dirimu.)


Setelah latihan selama empat jam lebih, mereka melakukan istirahat dan balik ke dorm. Senyum Dafina mengembang saat Zennie memberikan botol minuman kepadanya. Ia mengetahui bahwa ketiga unnie-nya tidak marah kepadanya karena tidak mengatakan yang sejujurnya atau mereka percaya akan ucapannya?


"Eonnie duluan saja ke dorm, aku ingin menghirup udara di taman belakang," pamit Dafina sebelum pergi ke lift.


Setelah lift terbuka dan menandakan berada di lantai satu, Dafina langsung melangkahkan kakinya menuju taman yang berada di belakang gedung entertainment. Dia menghirup udara di sana sambil menatap perpohonan dengan tatapan kosong.


"Silryejiman yogi honja gyesin got gateundeyo? Geuge sasiringayo? Geurotamyon jega hamnyuhaedo dwelkkayo?"


(Permisi, ku lihat kau sendiri di sini? Apa itu benar? Jika iya, apa aku boleh bergabung dengan dirimu?)


Sadar ucapan tersebut tertuju pada dirinya, Dafina menengok ke arah samping, menemukan sesosok perempuan.


"Lisa sonbaeyo?" tanya Dafina tidak percaya bisa melihat salah satu mantan personil Blackpink di taman itu.


(Senior Lisa?)


"Ya. I'm Lisa."


Dafina berdiri dan menatap Lisa dengan tataln tidak percaya. "Aigo! Ini sungguh Lisa eonnie?"


Lisa mengangguk.


"Oso anjayo Lisa sonbae." Dafina mempersilahkan Lisa untuk duduk di sampingnya.


(Ayo silahkan duduk senior Lisa.)



Dengan menatap Dafina, Lisa memberitahukan sesuatu. "Nahante nomu gyokssik chariji malgo geunyang onirago bulrodo dwae dwaesso."


(Tidak usah terlalu formal kepada ku, kamu bisa memanggil ku dengan sebutan eonnie saja sudah cukup.)


Dafina terkekeh mendengarnya. Ternyata idolanya tidak berubah dari dulu. Sedikit informasi bahwa Dafina merupakan penggemar berat Blackpink pada masanya terutama Lisa sang maknae dari BLACKPINK.


"Kamu pasti Dafina? Member termuda dari The Queen?" tebak Lisa.


Dafina mengangguk. "Annyeonghaseyo Dafina imnida from The Queen."


"Hello Dafina, Nice to meet you."


"Nice to meet you too."


"Oh ya, kamu ngapain berada di sini? Dimana anggota lainnya?" tanya Lisa sambil melirik sekitar.


"Mereka berada di dorm, eonnie. Aku ingin menghirup udara di sini dan menenangkan hati kecil ku saja. Kalau eonnie sendiri ngapain disini?"


"Me?" Lisa menunjuk dirinya.


"Iya."


"Aku sedang berkunjung ke sini dan melihat para trainee serta idol generasi selanjutnya dari generasi ku. Dan saat aku ingin keluar, aku tidak sengaja melihat dirimu di sini. Jadi aku memutuskan untuk menghampiri dirimu."


Ada rasa senang saat mengetahui idolanya menghampiri dirinya sendiri. Sungguh sebuah prestasi.


"Eonnie apa aku boleh bercerita kepada mu?" Dafina menatap ke wajah Lisa.


"Tentu bercerita lah, apa yang ingin kau ceritakan kepada diriku ini? Anggap saja aku adalah kakak mu."


"Aku bingung."


"Bingung gimana?"


Dafina menceritakan permasalahan yang berada di hati dan pikirannya kepada perempuan yang berada di hadapannya saat ini. Perempuan itu menyimak dengan benar setiap cerita yang di keluarkan oleh Dafina.


"Apa aku boleh bilang sesuatu?"


"Bilang saja eonnie, aku akan mendengarnya."


"Aku tau posisi mu saat ini, aku pernah mengalaminya. Tetapi bagaimanapun perbuatan mu salah tidak memberitahu kepada Zennie, Rouse, dan Sooya. Ingat! The Queen terdiri dari 4 orang bukan individu, bagaimanapun kalian berempat sudah menjadi keluarga. Di dalam keluarga tidak boleh ada yang namanya rahasia."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sebuah mobil sampai di perkarangan gedung pusat D'Luca Mckenzie. Pintu mobil terbuka dan keluar lah seorang perempuan dari mobil tersebut. Ini merupakan pertama kalinya Dafina menginjakkan kakinya kemari. Setelah keluar dari mobil, ia mengedarkan pandangannya memandangi gedung pusat D'Luca Mckenzie yang berada di Korea Selatan serta tampak orang-orang modis berlalu-lalang.



"Hello madam, I'm Alexander Graham, I'm the personal assistant of Prince Charming De Luca Mackenzie. I was told by him to take you to meet him." Ucap pria yang bernama Alexander.


(Hallo nyonya perkenalkan saya Alexander Graham, saya asisten pribadi dari Prince Charming De Luca Mackenzie. Saya disuruh beliau untuk mengantarkan anda menemuinya.)



"Hi Mr. Alexander. Introduce my name is Dafina Destarihanifa, you just need to call me Dafina, don't be too formal with me. Honestly, I feel uncomfortable." Dafina terkekeh.


(Hai Tuan Alexander. Perkenalkan nama ku adalah Dafina Destarihanifa kamu cukup memanggil ku Dafina, tidak usah terlalu formal kepada ku. Jujur saja aku merasa kurang nyaman.)


"Alright Dafina, let me take it to Prince." Alexander memberikan jalan untuknya.


(Baiklah Dafina, mari saya antarkan kepada Prince.)


(Anda tidak perlu memakai masker terus menerus. Hari ini akan menjadi hari steril untuk anda karena kawasan ini daerah kekuasaan kekasih anda. Walaupun ada yang mengenali anda, mereka tidak berani untuk memfoto karena jika berani begitu maka akan berhadapan dengan singa.)


"Wait! Lion? Who do you mean lion?" Dafina bertanya dengan nada kebingungan.


"Who else if not Prince, your lover."


(Siapa lagi kalau bukan Prince, kekasih mu.)


Dafina terkekeh geli saat mendengar jawaban dari Alexander. Namun di sisi lain, ia merasa senang mendengarnya, setidaknya ia tidak perlu kesulitan bernapas lagi. Dia bisa menghirup udara pagi yang segar.


Dafina mengikuti Alexander memasuki gedung dengan santai. Matahari lumayan terang karena hampir berada di atas kepala manusia. Dafina bisa melihat banyak orang berjalan dengan sangat cepat, ke sana kemari, semuanya tampak sibuk.



Langkah Dafina terhenti ketika melihat kekasihnya berada di hadapannya. Dafina menarik senyumnya ketika melihat Prince berjalan mendekatinya.


Dafina bisa melihat aura tegas, seram, dan dominan yang tercermin dengan jelas pada sosok Prince.



Saat mengetahui gadisnya sudah sampai di kantornya, Prince langsung mendatangi Dafina. Pria itu bahkan sedikit berlari. Senyum langsung mengembang ketika melihat penampilan Dafina dari atas sampai bawah.


Tertutup dan sangat sopan.


Itulah yang terpikir olehnya. Dia kira Dafina akan memakai pakaian terbuka yang membuat dirinya marah tapi sayangnya gadisnya itu tidak melakukannya. Kekasihnya itu perempuan yang sangat terhormat dan baik.


"Aku harap tidak membuat tuan putri ini menunggu lama."


Dafina terkekeh singkat atas ucapan yang dilontarkan oleh pria yang berada di hadapannya.


"Kau mau ikut aku ke aula menemui kolega-kolega bisnis ku?" tanya Prince menatap Dafina.


"Tentu saja, ayo kita temui para kolega mu itu. Ku harap pilihan ku sangat tepat, maksud ku di sana tidak membuat ku bosan setengah mati," kekeh Dafina.


"Bosan atau tidak kau tetap harus berada di samping ku. Aku tidak mau kamu diculik apalagi banyak para buaya yang menatap mu dengan tatapan haus," bisik Prince yang hanya dapat di dengar olehnya saja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pandangan kesal tercetak jelas di mimik wajah Dafina. Ia sungguh menyesal dengan pilihannya untuk menemani Prince menemui para kolega pria itu. Ini sangat membosankan apalagi dirinya tidak mengerti apa yang dibicarakan para pembisnis itu.


Jangan lupakan juga bahwa dirinya merasa kesal dengan pria yang berstatus kekasihnya itu. Prince meninggalkan dirinya sendiri di pojok ruangan aula, entah kemana pria itu sekarang, ia tidak melihatnya ada di sini.


"Are you Dafina? One of the idols from South Korea?"


(Kau Dafina? Salah satu idol dari Korea Selatan?)


Dafina menatap seorang perempuan yang sudah duduk di hadapannya.


Dafina gugup, "Y-yes right. Sorry in advance, do we know each other?"


(I-iya benar. Maaf sebelumnya, apa kita saling kenal?)


Perempuan itu menggeleng sebelum meneguk bir ke dalam tenggorokannya. "Maybe you don't recognize me but I know you well enough. You must be here with Prince, right?"


(Mungkin kamu tidak mengenali diri ku tapi aku cukup mengenali diri mu. Kau disini pasti bersama Prince bukan?)


Dafina hampir saja tersedak dengan air liurnya sendiri. Rasanya ia ingin pulang sekarang, tapi bagaimana perempuan itu mengetahui bahwa dirinya di sini bersama Prince?


"You don't have to be so afraid of me. I'm a good person not a bad person and I'm not a carnibal who will eat you alive hahaha."


(Kamu tidak perlu takut begitu sama saya. Saya orang baik bukan orang jahat dan saya bukan seorang karnibal yang akan memakan dirimu hidup-hidup hahaha.)


"Introduce me Routeise Router one of Prince's colleagues and one of his ex." Routeise memperkenalkan dirinya.


(Perkenalkan saya Routeise Router salah satu kolega dari Prince serta salah satu mantannya.)


"Dafina Destarihanifa just call her Dafina." Dafina membalasnya.


"And also the lover of a young Trillionaire Billionaire number 1 in the world, Prince Charming De Luca Mackenzie. Isn't that right?" tebak Routeise.


(Dan juga kekasih dari seorang Trillioner Billionaire muda nomor 1 di dunia, Prince Charming De Luca Mackenzie. Benar bukan?)


"How did you find out?" tanya Dafina penasaran pasalnya dari tadi perempuan itu mengetahui tentang kehidupannya.


"Not only I know it but many. Prince is like an iceberg as well as water and beasts, calm but deadly. Besides, that guy doesn't open up to anyone let alone very possessive of someone unless that person is Ara and you."


(Bukan hanya saya yang mengetahuinya tetapi banyak. Prince itu seperti gunung es serta air dan hewan buas, tenang tapi mematikan. Selain itu, pria itu tidak terbuka dengan seseorang apalagi sangat posesif terhadap seseorang kecuali orang itu adalah Ara dan dirimu.)


Benarkah yang di katakan Routeise? Apakah dirinya harus mempercayai semua perkataan dari perempuan itu?


"Look over there! Prince perfomance??" ucap Routeise yang melihat Prince berada di tengah-tengah sambil bernyanyi dan memainkan piano.


Dafina mengikuti arah pandang Routeise, ia bisa melihat bahwa Prince sedang duduk di depan piano.


"Let's take a closer look!" Tanpa pikir panjang, Routeise menarik tangan Dafina. Dafina tidak menolak karena sebenarnya ia sangat penasaran melihat apa yang akan ditampilkan oleh kekasihnya itu. Dia hanya tahu bahwa pria itu tidak gugup sama sekali bahkan saat menjadi sorotan utama.



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maaf jika part ini sangat panjang 😅


Bagaimana dengan part ini?


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian untuk ku🥺💖💖