
Saya daftarin 2 cerita saya yang berjudul Dear Me & Way Of Life di Noveltoon dan Mangatoon. Doain & kasih semangat terus ya! Terimakasih sweety~~ Mungkin untuk saat ini hanya 2 cerita yang saya ikutin, tidak tahu jika masuk tahun 2022 nanti apa nambah cerita lagi atau tidak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Fani baru saja selesai dari mandi sore. Ia berjalan keluar dari kamarnya dan segera menuruni anak tangga sambil menatap setiap sudut mansion, tak sengaja melihat Claura yang baru saja memasuki mansion, sepertinya perempuan itu baru saja sampai di mansion.
Tangan Fani terangkat ke atas. Ia hendak melambai dan memanggil namun dengan segera ia urungkan saat seorang pria berumur 22 tahun menghampiri Claura.
"Siapa kau disini?"
Claura menatap pria yang dihadapannya. Claura juga menilai penilaian pria yang berada di depannya dari atas hingga bawah.
"Matanya mau gue colok? Lo ngapain disini? Kalau mau maling mendingan lo pergi dah. Lo gak cocok maling disini sumpah, yang ada belum nyuri udah kena mental dan kejang-kejang."
Nih orang napa dah, batin Claura.
Claura menengok ke belakang dan sekitarnya untuk mencari orang yang diajak bicara oleh pria gila ini.
"Lo ngomong sama siapa? Gak ada orang selain gue disini. Atau lo ngomong sama gue?" tanya Claura sambil menunjuk diri sendiri.
"Menurut lo?"
"Mana gue tau bego. Eh tapi sebentar, lo siapa? Gue baru liat ada disini."
"Seharusnya gue yang nanya gitu. Lo sendiri siapa dan kenapa ada disini?"
"Lo gak tau gue siapa? Parah sih lo, masa gak tau gue. Dunia aja tau siapa gue ckck," ucap Claura dramatis.
"Cakep lu begitu?"
"Jelas dong—" Claura berdecak sebal dan menyumpahi pria yang berada dihadapannya yang telah memotong perkataan dirinya.
"Bawel amat lu. Tinggal jawab aja kalau lu siapa dan ada urusan apaan."
"Gue Claura, manager pribadi Dafina. Gak tau juga siapa itu Dafina huh?"
"Oh."
"LAH? KOK CUMA OH DOANG SIH ANJIR?!" sewot Claura dengan nada yang hampir membentak.
"Lalu gue harus bilang apa?"
"Tau ah gelap. Sekarang lo tau gak dimana Dafina?" Claura bertanya pada pria itu.
"Terakhir kali gue liat ada di taman belakang mansion ini. Itu pun kalau belum pergi dari sana."
"Ok thanks." Claura segera beranjak dari sana namun baru dua langkah ia berbalik ke belakang dan memanggil pria itu.
"Woy! Nama lu siapa?" teriak Claura.
"Dani."
"Cocok juga sama pekerjaan lu. Ambilin gue minum lalu anterin ke taman belakang ya, Pak," ucap Claura santai sambil melanjutkan langkahnya kembali.
Sementara Dani hanya menggeram kesal. Ia pikir dirinya salah satu pelayan yang ada disini apa. Pria itu mengeluarkan semua hewan mutiara dari mulutnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Claura terus melangkahkan kaki memasuki taman belakang sekaligus rumah kaca yang terletak di belakang mansion. Ayunan kosong yang berada di sana masih bergoyang ketika Claura tiba. Dafina pasti mendudukinya belum lama ini. Claura mengikuti jalanan rumah kaca ini yang dihiasi tanaman dan bunga-bunga di sampingnya.
Dan seperti dugaannya, tidak jauh Claura bisa melihat Dafina sedang duduk di rumput hijau sembari memfoto-foto bunga yang sangat langka di dunia ini. Namanya Bunga Chocolate Cosmos.
Bunga ini memiliki warna yang gelap yang memiliki aroma vanily dan cantik, cocok untuk dijadikan tanaman hias. Bunga ini hanya memiliki 1 spesies, jadi bunga ini termasuk bunga yang langka. Bunga ini berasal dari negara Meksiko dengan diameter 3-4 cm.
Dafina yang melihat kehadiran Claura segera memanggil perempuan itu. "Clau sini! sini!"
Claudia melangkah lebih mendekati Dafina yang sedang menatap bunga yang berwarna hitam tua itu. Ia sendiri tidak tahu namanya apa.
"Lu tau gak nama bunga ini apa?" Dafina menarik tangan Claura untuk berdiri tepat di sampingnya.
Claura memberi gelengan kecil sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut.
"Bagus bunganya."
"Tapi ada yang aneh, Clau."
"Aneh bagaimana?" Claura bertanya dengan menatap Dafina dan bunga tersebut secara bergantian.
"Nama bunganya kan Chocolate Cosmos, coklat warnanya coklat tapi ini bukan coklat melainkan merah tua. Bagaimana menurutmu?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bagaimana kalau disana nanti lu ketemu sama mantan?"
Dafina mengangkat bahunya sebagai jawaban. "Tapi gue gak bakal biarkan musuh menghancurkan karir dan masa depan gue walaupun itu mantan terindah apalagi teman dekat."
"Good job. Siap-siap sayang karena kita akan mengerjai malaikat maut," ucap Claura tersenyum.
Dafina tidak mengerti perkataan terakhir Claura. Sebelum ia bertanya maksud dari perkataan terakhirnya, mobil yang di kendarai oleh Claura melaju dengan kecepatan tinggi. Claura benar-benar tidak waras. Tidak begini juga buat mengerjai malaikat maut!
"CLAURA! DENGAR GUE GAK? PELANIN KECEPATANNYA ANJIR! GW GAK MAU KENAPA-KENAPA. KALAU LU MAU NGEPRANK TUH MALAIKAT, SENDIRI AJA JANGAN NGAJAK GUE NJIR!" teriak Dafina sambil memajukan tubuhnya walaupun sabuk penghalang menghalangi penggeraknya. Namun itu tidak membuat Dafina berhenti, ia melepas topi serta kacamata yang digunakan Claura dan seketika cahaya terang matahari menerpa wajah Claura.
"Gue denger kok sayang, tapi gue sengaja pura-pura gak denger. Tidak ada salahnya mengerjai malaikat maut, biar sekali-kali dia ads kerjaan sama kita."
"For god's sake! Bisa-bisanya kau seperti ini masih bercanda." Dafina mendengus.
"Siapa? Gue? Gue lagi menyetir bukan bercanda, Daf."
Dafina menghela nafas panjang dan memijat keningnya agar berhenti memikirkan kegilaan yang dibuat Claura.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dalam waktu satu jam, mobil Alphard hitam yang dinaikin oleh Dafina dan Claura telah terparkir rapih di lobi hotel. Dengan kegilaan Claura, perempuan itu melajukan mobil dengan kecepatan tinggi dengan alasan mengerjai malaikat maut.
Dafina keluar dari mobil dengan disusul Claura yang keluar dari pintu pengemudi. Mereka berdua berjalan beriringan memasuki hotel mewah yang terletak di Jakarta Selatan.
"Clau, ini beneran reuninya diadakan di hotel bintang lima ini?" bisik Dafina.
"Iya sesuai dengan yang diberikan. Lu tinggu sini aja biar gue nanya dulu ke resepsionis."
Dafina mengiyakan perkataan Claura. Dia menatap setiap sudut dan interior hotel yang sekarang ia pijakan. Setelah bertanya, Claura kembali menghampiri Dafina.
"Lantai lima kata tukang resepsionis. Mau foto-foto dulu atau langsung ke atas?"
"Langsung."
"Oke."
Mereka berdua sedang menunggu pintu lift terbuka. Tidak membutuhkan waktu lama, pintu lift berhenti di lantai satu dan perlahan-lahan terbuka. Mereka membiarkan pengguna yang berada di dalam lift keluar dahulu baru mereka masuk ke dalam lift.
Duk
Dafina tidak sengaja menabrak seseorang saat memasuki lift. Dia dengan spontan langsung membungkuk sambil mengucapkan kata minta maaf.
Ting
Lift terbuka di lantai lima, semua pengguna yang berkeperluan di lantai lima langsung keluar dari lift.
"Claura ke toilet dulu yuk. Gue mau liat riasan dan tampilan gue dulu," ajak Dafina yang disetujui Claura.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sepanjang jalan menuju aula hotel, Dafina berjalan dengan menunduk dan memainkan jari-jari tangannya. Ia gugup karena pertama kali menghadiri reunian seperti ini.
"Clau, gue gugup. Balik aja yuk," bisik Claura.
"Ngapain balik? Malu-maluin kalau balik. Gue sadar kalau lu gugup, tapi sayang banget anjir pintu aula udah di depan kita masa balik," omel Claura.
Dafina membenarkan perkataan Claura. Tinggal mendorong pintu aula maka langsung terbuka lebar pintu tersebut. Tapi masalahnya ia gugup.
"Gue dorong pintu aulanya ya," ujar Claura yang mulai mendorong pintu tersebut sehingga terbuka lebar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...