
Hari demi hari berganti. Salju yang menutupi jalanan kini sudah sepenuhnya mencair dan dengan cepat digantikan dengan musim baru. Masyarakat Dubai melihat hal itu sebagai tanda bahwa musim telah berganti.
Malam ini, Dafina memakai gaun berwarna merah panjang untuk kesekian kalinya, dengan dipadukan dompet, heels, perhiasan berwarna merah. Ia juga memakai make up bold dengan lipstik berwarna merah.
Menghadiri pesta seperti ini sudah kebiasaannya semenja menjadi Mega Bintang dan saat masih menjadi kekasih Prince. Dulu saat masih duduk di bangku sekolah SMP hingga SMK, dia tidak terlalu menyukai yang namanya berkumpul-kumpul dengan banyak orang. Namun roda kehidupan berputar, sekarang ia bukan lagi gadis biasa melainkan Mega Bintang dunia. Jadi ia tidak punya pilihan selain berbaur sana sini.
Saat ini The Queen sedang berada di Dubai, lebih tepatnya mereka datang ke sana bersama Presiden mewakili negara masing-masing. Dafina mewakili negara Indonesia - Korea Selatan, sedangkan ketiga member lainnya mewakili Korea Selatan.
Dafina berangkat ke istana Dubai dengan diantar sopir pribadi yang ditugaskan secara khusus dari pihak kerajaan Dubai. Claura tidak ikut bersamanya dikarenakan gadis itu sedang sakit, Dafina menyuruhnya untuk beristirahat saja beberapa hari ini.
"Miss, how long have you been in the car?" tanya sopir ketika melihat penumpang yang ia bawa tidak kunjung turun dari mobil.
(Nona sampai kapan di dalam mobil terus?)
"Ah ya, sebentar pak," jawab Dafina.
Dafina menarik nafas dalam-dalam, mencoba mengatur degup jantung dan merasa gugup yang menghampiri dirinya. Sebentar lagi ia akan bertemu dengan orang-orang baru di dalam sana. Dia menyelisik ke sekitar dan terdapat banyak media di luar sana yang telah dipastikan saat dirinya keluar dari mobil, seluruh kamera akan menyorot ke arahnya. Hufft, andai saja ia bisa masuk ke dalam istana tanpa ketahuan media.
Dafina membuka pintu mobil kemudian ia langsung keluar dari mobil. Menatap ke sekitarnya sambil merapihkan sedikit penampilannya. Dia berjalan dengan dagu di angkat ke atas dan pandangan mengarah lurus ke depan. Setiap kamera mengarah ke arahnya dan berlomba-lomba mengambil foto maupun video dirinya.
Dafina berhasil memasuki istana kepresidenan Dubai. Hal pertama yang keluar dari mulutnya adalah 'Subhanallah'. Sungguh, istana kepresidenan Dubai ini sangat indah dan mewah setiap inci disini. Saat berhasil sampai di dalam istana kepresidenan, ia disambut langsung oleh anggota Kerajaan Dubai.
"Thank you very much for your kindness, Your Majesty," ucap Dafina sembari tersenyum ramah.
(Terimakasih banyak atas kebaikan Yang Mulia).
Dafina dipersilahkan untuk duduk di tempat yang sudah disediakan untuknya. Setelah mengucapkan terima kasih, ia segera berjalan menuju tempat duduknya. Ternyata lumauan banyak orang-orang yang berada di dalam istana kepresidenan Dubai ini. Setelah dilihat-lihat dari gaya pakaian yang mereka semua kenakan, pastinya bukan sembarangan orang yang ada di dalam istana kepresidenan ini.
Kedua mata Dafina menerawang ke segala penjuru istana. Ia sedang menyari eonnie-nya. Dimana tempat duduk mereka bertiga.
Tidak lama kemudian, seluruh orang yang ada di dalam istana berdiri, Dafina berdiri dari tempat duduknya mengikuti yang lainnya. Raja Dubai beserta inti dari kerajaan menyambut kedatangan Presiden Indonesia yaitu Jokowi Dodo yang baru saja sampai di Istana kepresidenan Dubai.
Pandangan Dafina tidak sengaja bertatapan dengan kedua mata Prince setelah Presiden Jokowi Dodo berjalan ke tempat duduk.
Sial.
Kenapa harus bertatapan dengannya?!
"Assalamualaikum," ucap seseorang yang berasal dari samping tempat duduknya.
Dafina menengok ke samping kanan. Dia melongo saat melihat sesosok pria yang sangat tampan dengan memakai sorban di kepala. Setelah kembali ke dunia nyata ia segera menjawab salam pria itu. "Waalaikumsalam."
"Is this true with Dafina representing the Indonesian state?" tanya pria itu memastikan.
(Apa benar ini dengan Dafina yang mewakili negara Indonesia?)
Dafina mengernyit sembari menganggukkan kepala.
"Introduce me is Hamdan Bin Mohammed Bin Rashid Al Maktoum. You were sent to the next room by my father."
(Perkenalkan saya adalah Hamdan Bin Mohammed Bin Rashid Al Maktoum. Kamu disuruh ke ruang sebelah oleh ayah saya.)
"Sorry, but who is your father?" tanya Dafina karena dirinya tidak kenal dengan pria itu.
(Maaf, tapi siapa ayahmu?)
"Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum."
Dafina mengetahui nama itu. Nama yang disebut pria itu merupakan Raja Dibaiu, berarti pria itu....
"Oke prince, sorry I didn't recognize you as the crown prince." Dafina merutuki kebodohan yang ia lakukan. Seharusnya sebelum datang ke sini dirinya sudah mengetahui anggota-anggota kerajaan.
(Baik pangeran, maaf sebelumnya saya tidak mengenali kalau anda merupakan pangeran mahkota.)
"No problem, let me take you to the next room."
(Tak masalah, mari saya antarkan ke ruangan sebelah.)
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Faza atau yang dikenal dengan nama Pangeran Hamdan Bin Mohammed Bin Rashid Al Maktoum, mengantarkan Dafina ke ruang yang dimaksudkan oleh ayahnya. Sesampai di ruangan tersebut, Dafina bisa melihat ketiga eonnie-nya berada di sana juga.
"Eonnie," panggil Dafina berjalan menghampiri mereka bertiga yang sedang duduk.
"Dafina? Iri waso iriro waso anjeuseyo." Sooya menepuk tempat duduk yang kosong di sampingnya. Dafina berjalan mendekat ke Sooya dan duduk di samping perempuan itu.
(Dafina? Ayo sini duduk dekat eonnie.)
"Akhti, daena nandamu huna," ucap seorang perempuan.
(Kak, ayo gabung ke sini).
Faza yang merasa namanya dipanggil segera menghampiri adik perempuannya itu. Pangeran mahkota tersebut bilang, "Later brother will join you after finding Arfan and Arsh."
(Nanti abang gabung sama kalian setelah menemukan Arfan dan Arsh.)
Faza berpamitan dengan mereka semua dan segera keluar setelah berpamitan.
"Eonnie, who is that girl?" bisik Dafina pada Sooya.
(Unnie, perempuan itu siapa?)
"One of the sons of the King of Dubai. As for unnie's name, I don't remember it," jawab Sooya dengan pelan.
(Salah satu anak dari Raja Dubai. Kalau untuk nama unnie tidak mengingatnya).
"Let's enjoy the dish, don't hesitate to enjoy the dishes we prepared," ujar perempuan itu.
(Mari nikmati hidangannya, jangan sungkan untuk menikmati hidangan yang kami siapkan).
"Thank you Your Majesty," balas mereka berempat hampir bersamaan. Perempuan itu terkekeh melihat tingkah laku empat gadis yang terlihat malu dan kaku terhadap dirinya.
"There's no need to be so rigid when it's just us. Think of it like a friend to you. How about the five of us get to know each other?"
(Tidak perlu terlalu kaku saat hanya ada kita. Anggap saja seperti seorang teman untuk kalian. Bagaimana kalau kita berlima saling berkenalan satu sama lain?)
"Introduce my name is Futtaim bint Mohammed Al Maktoum, you can call Sis Futtaim if it's only us." Perempuan itu memperkenalkan diri.
(Perkenalkan nama saya adalah Futtaim bint Mohammed Al Maktoum, kalian bisa panggil Kak Futtaim jika hanya ada kita saja.)
Rouse, Sooya, Zennie, Dafina mulai memperkenalkan diri mereka masing-masing secara bergantian. Pintu ruangan terbuka dengan munculnya kehadiran Pangeran Faza yang menuntun dua anak kecil di kedua tangannya.
(Ayo ucapkan salam kepada mereka semua.)
"Assalamualaikum eamatun," ucap Arfan dan Arsh.
(Assalamualaikum Tante).
"Waalaikumsalam," balas Dafina dan Putri Futtaim.
Arfan dan Arsh dengan mandirinya berjalan ke arah mereka berlima dan mengulurkan tangan mereka. Dafina yang mengerti segera mengulurkan telapak tangannya yang dilangsung dicium oleh anak-anak itu. Begitu pun Zennie, Rouse, dan Sooya yang mengikuti Dafina.
"What were you guys talking about?" tanya Faza ketika sudah duduk di sebelah adiknya, Futtaim.
(Kalian sedang bahas apa tadi?)
"We're just getting to know each other, Prince," jawab Dafina.
(Kita baru saling berkenalan saja, Pangeran).
Faza tersenyum kemudian ia segera memperkenalkan dirinya. "Introduce me is Hamdan Bin Mohammed Bin Rashid Al Maktoum. You can call me Prince Faza."
(Perkenalkan saya adalah Hamdan Bin Mohammed Bin Rashid Al Maktoum. Kalian bisa memanggil saya Pangeran Faza.)
"Oke Prince Faza."
"Brother, this one's name is Zennie while beside her is Rouse. Then the ones sitting there are Sooya and Dafina." Futtaim memperkenalkan mereka berempat kepada kakaknya.
(Kak, yang ini namanya Zennie sedangkan disampingnya adalah Rouse. Lalu yang duduk di sana ada Sooya dan Dafina.)
Faza mengangguk mengerti. Suasana hening sejenak, tidak ada topik yang dibicarakan sampai kedua anak Faza berantem memecahkan keheningan yang terjadi.
"Father... Brother Arfan is evil! He takes the cake Arsh," adu Arsh kepada ayahnya.
(Ayah... Kak Arfan jahat! Dia ngambil kuenya Arsh).
"No father. Arsh is lying! Arfan didn't take her cake," bantah Arfan.
(Tidak ayah. Arsh berbohong! Arfan tidak mengambil kue miliknya).
"You're the one lying! Arsh isn't lying dad, but Arfan is lying." Arsh mendorong Arfan hingga terjatuh. Walaupun dorongan Arsh tidak sekuat dorongan orang dewasa tapi mampu membuat anak kecil seukuran Arfan terjatuh.
(Kamu yang bohong! Arsh nda bohong ayah, tapi Arfan yang bohong.)
Dafina yang reflek langsung bangun dan menuju ke Arfan yang terjatuh, sedangkan Sooya menenangkan kekesalan Arsh.
"Is there something wrong dear?" tanya Dafina memeriksa Arfan.
(Apa ada yang sakit sayang?)
"No auntie."
Faza berlari menghampiri kedua anaknya. Dia berjongkok di depan putrinya. "Arsh can't be like that with Arfan! Arsh why push him?"
(Arsh tidak boleh begitu dengan Arfan! Arsh kenapa mendorongnya?)
"Because brother is mean to Arsh, Dad. He is lying! Arsh doesn't like it," jawab Arsh menangis.
(Karena abang jahat sama Arsh, Ayah. Dia berbohong! Arsh tidak menyukainya).
Faza memeluk putrinya dan mengecup keningnya. Tatapannya beralih kepada putranya yang sedang memeluk Dafina.
"Arfan is not lying Aunt. Really! I didn't take Arsh's cake," ucap lirih Arfan kepada Dafina.
(Arfan tidak berbohong Tante. Sungguh! Aku tidak mengambil kue milik Arsh).
Dafina mengangguk dan membalas pelukan Arfan. Ia mengelus rambut anak itu dan menenangkannya. "Yes, handsome, don't cry. It's going to get worse."
(Sudah ya tampan, jangan menangis terus. Nanti semakin jelek loh.)
Anak itu langsung diam dari nangisnya dan menatap Dafina dengan kedua mata yang sudah memerah.
"Is it bad to cry, auntie?" Dafina mengangguk.
(Kalau nangis jelek ya tante?)
"Then Arfan doesn't want to cry anymore." Arfan menghapus air matanya, "Arfan doesn't want to be ugly like Arsh!"
(Kalau gitu Arfan gak mau nangis lagi.)
(Arfan gak mau jelek kaya Arsh!)
"Arfan..."
"Arfan is right, father. This aunt said that if you cry, it will be ugly. Arfan doesn't want to be ugly, when father has an ugly son like Arsh wlee," ucap Arfan memeletkan lidah.
(Arfan benar ayah. Kata Tante ini kalau nangis nanti jelek. Arfan gak mau jelek, masa ayah punya anak yang jelek kaya Arsh wlee).
"Who said Arsh is ugly?" Arsh menatap garang ke arah saudara kembarnya itu.
(Kata siapa Arsh jelek?)
"You are ugly wlee. Tell anyone to cry, it will make it worse."
(Kau memang jelek wlee. Suruh siapa nangis jadinya tambah jelek.)
Arsh ingin menangis kembali tetapi Dafina langsung menghentikannya. "Arsh dear..., if you don't want to be ugly, then don't cry, beautiful. Let's wipe her tears and smile," ucap Dafina.
(Arsh sayang..., kalau kamu tidak mau jelek maka jangan nangis terus ya cantik. Ayo hapus air matanya lalu tersenyum).
Arsh menatap Dafina dengan tatapan polosnya. "Auntie really?"
"Of course dear."
"Then Arsh doesn't want to cry anymore like Arfan. Arsh wants to be beautiful, doesn't want to be ugly." Anak itu menghapus air matanya dan tersenyum memeluk ayahnya.
(Kalau begitu Arsh tidak mau nangis lagi kaya Arfan. Arsh mau cantik, tidak mau jelek.)
"Good girl." Faza mengusap rambut putrinya.
"Come on now it's time for lunch. Now we have to go to the dining room."
(Sudah ayo sekarang sudah waktunya makan siang. Sekarang kita harus ke ruang makan.)
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa tinggalkan like & komentar ya semuanya ✊❤️