
"Alat musik sudah siap?"
Seorang perempuan menghembuskan nafas lelah, kewalahan mengatur acara reunian kali ini. Ketua reuni kali ini diberikan padanya. Para alumni sudah berdatangan. Walaupun ada beberapa alumni yang membantunya, tetapi tanggung jawab terbesar jatuh kepadanya sebagai ketua acara.
"Sudah."
Setelah mengecek alat musik satu persatu. Perempuan itu berjalan ke tengah-tengah aula sembari memegang microphone.
"Test test. Gue minta perhatian waktu dan perhatian kalian semua," katanya. "Sebelumnya gue ucapin terimakasih banyak ke kalian semua karena sudah datang pada acara reuni kali ini. Gue sebagai ketua acara minta maaf jika selama acara berlangsung ada yang kurang."
"Ya, Buuuu."
"Bu bu emang gue ibu lu pada," protesnya.
"Lu kan dari dulu cerewet kek ibu-ibu Michelle hahahaha."
"**** you."
"Pukul 2 siang nanti, kalian semua berkumpul disini dan nyalakan flash dari handphone masing-masing. Bagi yang mau menampilkan sesuatu dipersilahkan pukul 2 nanti berdiri di depan aula," jelas Michelle lalu berjalan meninggalkan tengah-tengah aula menuju meja berbentuk lingkaran dimana teman-teman dekat SMK-nya berkumpul disana.
Ada puluhan makanan dan minuman yang terhidang disana. Mulai dari makanan & minuman Indonesia, International, hingga umum.
"Halo guys. Gue boleh gabung?" sapa Michelle kepada Bunga, Cleo, dan Dafina.
"Boleh Chelle, duduk aja sini sini."
"Thanks beb."
"Gila chelle, lu hebat banget saat ngomong sendiri di tengah-tengah aula tadi. Gak nyangka gue lu yang bar-bar binti cerewet bisa bicara di depan," ujar Bunga menabok lengan Michelle.
Michelle meringis dan mengusap lengan tangannya. "Dan lo masih suka nabok lengan orang."
Bunga menyengir.
"Halo Dafina, kenapa dari tadi diam? Lo udah lupa sama kita semua?"
Dafina yang ditanya begitu langsung menggelengkan kepala.
"Tidak. Cuma saya—maksudnya gue, merasa familiar sama lu. Kaya pernah ketemu tapi dimana ya?"
Michelle tersenyum, "Ingat lusa kemarin yang lo ketemu seorang perempuan di toilet lalu perempuan itu minta foto bareng?" tanya Michelle. Dafina mengingat-ingat kejadian dua hari yang lalu.
"Iya memang ada perempuan yang—tunggu gimana lu tau? Jangan bilang kalau itu lu?" Dafina menatap Michelle.
"Iya itu memang gue hehe. Sayang sekali lu gak ingat gue, tapi gak masalah karena kita semua udah gak ketemu lamanya."
"Ini beneran Michelle teman dekat gue saat SMK?" tanya Dafina melihat Michelle dari atas sampai bawah.
"Iya ini gue, kenapa Daf?"
"Gue masih gak percaya aja kalau perempuan yang gue temuin di toilet itu Michelle," jawab Dafina.
"Lu gak percaya kalau gue Michelle? Dengan gue berdiri di depan lu, lu masih gak percaya?"
"Hahaha sabar Chelle."
"Kasih bukti Chelle biar kita percaya," kata Bunga nyengir.
"Ck jahat lu pada gak percaya sama gue. Kit ati princess."
"Gue minta bukti yang hanya diketahui oleh kita berdua," ucap Dafina.
"Bukti yang hanya diketahui oleh kita berdua? Tapi bukti apa?" Michelle mengingat-ingat memori-memori saat SMK. Bukti apa yang hanya diketahui oleh dirinya dan Dafina? "AH GUE TAU. Sebentar gue nyari dulu, masih ada apa kagak." Michelle mengeluarkan handphone dan mencari sesuatu di folder lamanya. Ia menscroll ke bawah satu persatu untuk mencari foto tersebut.
"Udah dapat, Chelle?" tanya Cleo.
"Udeh. Pokoknya kebangetan dah kalau lu sampe gak ingat apalagi gak percaya," protes Michelle seraya memberikan handphone miliknya ke Dafina.
Dafina mengambil handphone tersebut dan melihat foto aib. Dafina menahan ketawanya, jelas ia ingat dengan foto ini karena foto ini hanya diketahui oleh dirinya dan Michelle.
"GILA INI BENERAN LO CHELLE?"
"BHAHAHA ANJIR PERUT GUE SAKIT KARNA KETAWA HAHAHA."
Cleo menyeka air mata yang keluar. "Cukup! Gak kuat gue ketawa terus hahaha."
"Kalau gue gak ingat?" tanya Dafina menaikkan alis ke atas.
"Parah banget sih lo, Daf, masa gak ingat foto ini anj. Padahal saat itu lo nelpon gue pagi² jam 4an mana disuruh kirim wajah bangun tidur tai," protes Michelle.
"I am just kidding honey. I clearly remember why this photo haha. That's your disgrace that I saved on the computer."
"Pokoknya kebangetan dah kalau gak ingat." Michelle memajukan bibirnya.
"Ngapain tuh bibir monyong-monyong? Mau gue cium lu?"
Yang bertanya seperti itu bukan Cleo, Dafina, maupun Bunga melainkan seorang pria berkulit putih yang baru saja datang menghampiri meja mereka berempat.
"Ogah banget gue dicium sama babunya pangeran kodok, masih mending gue dicium pangeran kodok daripada babunya," ketus Michelle.
"Kaya mau aja dia sama lo. Pangeran aja kagak mau sama lo apalagi babunya haha."
"Kok lo nyebelin sih tai?!"
"Bodo amat suka-suka gue," ucapnya lalu matanya beralih menatap Dafina yang sedari tadi memperhatikan pertengkarannya dengan Michelle.
"Hai Dafina, gimana kabar lo?"
"Eh? Gue baik kok. Lo sendiri gimana kabarnya?" Dafina tersenyum seramah mungkin.
"Tidak, sorry."
"Mampus lu. Rasain gak diketahui hahaha," ejek Michelle.
"Diem dah pantat gajah. Gue gak ngomong sama ketiaknya onta," balasnya ketus.
"Gak papa kalau lo gak kenal gue, lagian juga udah lama banget sih gak ketemu apalagi lo udah jadi bintang." Terdengar helaan nafas dari pria itu. "Kenalin gue Rayn Wijaya. Sekarang lo ingat kan?" tanya pria itu seraya mengulurkan telapak tangan.
Dafina membalas uluran tangan tersebut, menjabatnya. "Gue ingat kok kak. Senang bertemu dengan lu lagi setelah sekian lama."
"Lo lagi gak ada jadwal? Biasanya lo gak pernah datang ke reunian," tanya Rayn.
"Kebetulan gue ada pemotretan di Indonesia bersama Bazaar, lalu karena gue di Indonesia selama seminggu maka dari itu gue memutuskan untuk ikut reuni kali ini," jawab Dafina.
"Oh gitu. Btw, setelah sekian lama tidak bertemu akhirnya kita berdua ketemu lagi. Di Korea baik-baik aja kan kabar lo?"
Dafina mengangguk sekilas, "Iya kabar gue baik-baik aja selama disana begitupun karir gue."
"Ngomong-ngomong soal karir, gue sangat suka semua lagu yang diciptakan oleh group lo, The Queen," kata Rayn jujur. "Gue juga baca di artikel penggemar lo, katanya The Queen mau debut solo. Itu benar?" Rayn bertanya kepada Dafina.
"Gue mewakili member dan staff lainnya mengucapkan terimakasih karena sudah menyukai lagu-lagu kami serta mendukung kami," ujar Dafina tersenyum tulus. Dia tidak menyangka kalau kakak kelas yang ada di hadapannya ini menyukai lagu-lagu dari group-nya. "Rencananya sih kami akan debut solo setiap member. Tapi untuk waktu dan nama album belum dipublikasikan ke publik dan jika lo mau nanya tentang spoiler nama album, sorry gue gak bisa kasih tau. Lebih baik nantikan saja."
Rayn menghela nafas. Niatnya bertanya seperti itu agar dikasih spoiler sedikit tentang debut solo dari The Queen, tapi sayangnya itu hanya harapan yang tidak akan terwujud.
"Dafina."
Suara bariton terdengar dari arah belakang Bunga. Mereka semua menoleh ke arah belakang Bunga. Terdapat seorang pria yang memasukkan kedua tangan di kantong celana.
"Iya? You call me?" tanya Dafina memastikan.
Dafina menatap pria yang ada di hadapannya. Siapa pria itu? Apa sebelumnya ia pernah kenal dengannya? Kenapa pria itu menatap terus ke arahnya?
Sementara Michelle, Cleo, dan Bunga memainkan jari mereka masing-masing karena sudah mengetahui siapa pria itu. Sedangkan Rayn, pria itu diam tidak ikut campur dengan apa yang terjadi di depannya.
"Apa gue harus nyuruh manager pribadi Dafina untuk ke sini? Gue takut kalau akan ada apa-apa," tanya Michelle kecil.
"Panggil, Chelle. Sepertinya akan ada hal yang terjadi nanti."
Dengan segera Michelle berjalan meninggalkan meja tersebut dan mencari keberadaan manager pribadi Dafina yaitu Claura yang entah dimana.
Dafina yang ditatap terus menerus oleh pria itu hanya bisa menggaruk tengkuknya. Ia sudah mengabsen setiap hewan yang ada di kebun binata. "Maaf, apa kamu bisa berbahasa Indonesia?" tanya Dafina hati-hati.
"Lo kemana aja?" Pria itu akhirnya mengeluarkan sebuah kalimat dari mulutnya.
Dafina mengernyit bingung dengan pertanyaan pria itu. Apa maksudnya. Jelas-jelas ia sedari tadi duduk disini.
Apa dah nih orang, gak jelas banget.
"Saya sedari tadi duduk disini bersama teman-teman saya," jawab Dafina.
"Bukan itu maksud gue. Kemana aja lo dari kemarin-kemarin sampai baru datang di acara reunian kali ini?" Pria itu memperjelas kalimatnya.
Gitu kek, kalau ngomong yang jelas jangan setengah-setengah. Lo kira gue lagi makan telor setengah matang, dumel Dafina di batinnya.
"Ah iya, saya baru ada waktu untuk menghadiri acara reuni. Sebenarnya saya mau datang ke acara reuni kemarin-kemarin tapi jadwal saya padat," jawab Dafina dengan jujur dan bohong sekaligus.
"Padat atau tidak berani bertemu dengan gue dan Rayn?" tebak pria itu.
Dafina menjadi tambah bingung dengan pria di depannya. Pria itu sedang bertanya, menebak, atau itu sebuah pernyataan?
"Lo gak tau siapa gue?"
"Apa saya dan kamu pernah saling mengenal?" Dafina berbalik bertanya.
"Lebih dari itu."
Lebih dari itu? Jangan bilang kalau dia adalah Rif—
"Rifqi Pratama Bramasta. Itu nama gue, kalau lo lupa."
Seketika udara di sekeliling Dafina terasa berhenti saat mendengar nama yang menjadi alasan perempuan itu tidak menghadiri acara reuni. Nama yang selalu ia harapkan agar tidak pernah terdengar lagi di sisa hidupnya.
Langit, tolong turunkan hujan dan musnahkan manusia itu.
"Kenapa lo diam aja? Gak inget sama gue?"
"Gak, gak gitu, Rif. Gue inget kok sama lo."
"Ingetnya pakai berapa karet?"
"Hah? Apaan dah?"
"Jayus lu bego," cibir Rayn yang sedari tadi menonton.
Rifqi mendelik kesal. "Suka-suka gue. Kenapa situ yang sewot."
"Test test."
Suara microphone berbunyi. Semua mata langsung menatap seorang perempuan yang sedang mengetuk mic sebelum berbicara.
"Gue cuma bilang ke kalian semua bahwa acara yang awalnya untuk menampilkan bakat bernyanyi, seni, menari, dan apapun itu akan diundur pada pukul 4 sore karena acara sekarang adalah pertandingan basket," ucap Michelle. Michelle menatap semua orang yang ada di hadapannya sebelum melanjutkan perkataannya. "Akan ada 2 tim kali ini. Tim pertama akan di pimpin oleh Rayn Wijaya, sedangkan tim kedua akan dipimpin oleh mantan ketua basket kita yaitu Rifqi Pratama Bramasta. Saya beri waktu setengah jam untuk para pemain mempersiapkan diri. Tepat pukul setengah tiga, kalian semua harus berada di lapangan yang terdapat di belakang gedung ini." Setelah mengucapkan itu, Michelle menaruh kembali microphone dan berjalan keluar aula.
"Gue males banget ngelawan lo," cibir Rayn.
"Lo pikir gue semangat gitu saat tau kalau gue bakal ngelawan lo? Najis!" Rifqi beranjak pergi dari sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...