WAY OF LIFE

WAY OF LIFE
CHAPTER 71



Dafina dan Claura sudah turun dari taksi yang mengantarkan mereka ke Museum Diriyah. Mereka berdua berjalan ke stan tiket untuk membeli tiket masuk ke dalam museum.


"Yang beli tiketnya siapa nih?"


"Lu aja, Clau. Nih make kartu kredit gue." Dafina memberika kartu kreditnya pada Claura.


"Oke lu tunggu sini." Claura berjalan memasuki antrean.


Dafina memandangi sekitar museum yang ia datangi. Sebenarnya, ia mengetahui museum ini dari internet. Kemarin ia sempat browsing gitu. Setelah sepuluh menit menunggu Claura yang mengantri membeli tiket masuk, akhirnya Claura kembali dengan membawa dua buah tiket.


"Nih kartu kredit lo." Claura memberikan kembali kartu kredit pada sang empunya. "Dan ini tiket masuk kita," unjuk Claura.


"Ya udah kita langsung masuk ke dalam museum aja." Claura mengangguk setuju.



Diriyah membentang di atas hamparan medan campuran, pemandangan, dan pemandangan yang dapat dinikmati oleh para pengembara yang penasaran, menelusuri, mendengarkan, dan mengintip, menghargai efek yang dibawanya.


Salah satu tujuan wisata terbuka yang paling penting di wilayah ini, lingkungan Al Bujairi dibedakan oleh gang-gangnya yang berkelok-kelok dan rumah-rumah lumpurnya yang rendah. Itu adalah tempat yang sama yang menampung rumah Syekh Muhammad bin Abdulwahab, ulama dan teolog terkenal dari Najd.


Museum di Diriyah, empat di antaranya berada di dalam At-Turaif Quarter, menawarkan pengalaman interaktif melalui waktu dan budaya, menampilkan beberapa objek paling menarik dari sejarah Saudi.


Museum Diriyah didedikasikan untuk warisan kaya Diriyah, museum di dalam Istana Salwa menampilkan sejarah negara Saudi pertama melalui koleksi bahan informasi, seperti silsilah keluarga kerajaan, model dan ilustrasi, di samping pameran dan potongan warisan.



Museum Kehidupan Sehari-hari Saudi


Museum ini memberikan sekilas kehidupan sehari-hari penduduk asli Diriyah dengan pameran yang menggemakan kenangan lokal dan fragmen cerita, adat istiadat, tradisi, dan nostalgia yang berkembang.



Museum Militer


Museum Militer berfokus pada sisi militer kerajaan, menyoroti alat perang, pertempuran dan banyak aspek perang pada waktu itu termasuk perbendaharaan dan pajangan tentang status pertahanan Diriyah pada masa itu.



Museum Kuda Arab


Dimaksudkan untuk mengeksplorasi sejarah penting kuda-kuda Arab, pengaruhnya dan hubungannya yang unik dengan para bangsawan sepanjang waktu. Museum ini juga menampilkan paspor kuda-kuda Arab yang ditunggangi keluarga kerajaan beserta pengaruh kuda pada banyak aspek kehidupan, mulai dari perang, transportasi, dan olahraga. Ada juga kandang kuda di luar tempat pengunjung dapat berinteraksi dan memelihara kuda. 


Setelah berkeliling ke semua musem yang ada disini, Dafina mengaku bahwa dirinya kagum pada Museum Diriyah, bekas istana yang terkenal dengan arsitektur bata lumpurnya, yang telah berdiri selama 250 tahun. Letaknya yang tersembunyi di lembah sempit Wadi Hanifah membuatnya bekas rumah Al Bujairi ini terhindari dari pengaruh luar yang berpotensi merusak keasliannya.


Mereka berdua ditemani oleh pemandu yang berada di museum untuk menjelaskan apapun yang berada di dalam Museum Diriyah, seperti sejarah, bangunan, masa-masa kerajaan, dll.


“Perhaps the harsh climate treats this oasis of mud-brick houses and fortifications a little more hospitable than other historic heritage sites in the desert? Or is it ancient mud brick building methods, which cause little or no harm to the environment and work in harmony with the natural capacities of the local ecology, tougher than modern architectural technology?" ujar Dafina kepada pemandu mereka.


(Mungkin iklim yang keras memperlakukan oasis rumah bata lumpur dan benteng ini sedikit lebih ramah daripada situs warisan bersejarah lainnya di padang pasir? Atau apakah metode bangunan bata lumpur kuno, yang menyebabkan sedikit atau tidak ada kerusakan pada lingkungan dan bekerja selaras dengan kapasitas alami ekologi lokal, lebih tangguh daripada teknologi arsitektur modern?)


"Menurut gue sih, tidak sering bisa menemukan contoh yang tersisa dari pemukiman perkotaan homogen lengkap yang makmur di lingkungan gurun. Dalam hal itu, Diriyah bisa dikategorikan sangat langka,” kata Claura.


"You don't often find remaining examples of complete homogeneous urban settlements that prospered in desert environments. In that sense, Diriyah was extremely rare. If you can find any remaining examples of that settlement then you're in luck," tutur pemandu menjawab.


(Kalian tidak sering bisa menemukan contoh tersisa dari pemukiman perkotaan homogen lengkap yang makmur di lingkungan gurun. Dalam hal itu, Diriyah sangat langka. Jika kalian bisa menemukan contoh yang tersisa dari permukiman itu maka kalian beruntung).


Diriyah, yang hampir seluruhnya terdiri dari bata lumpur ini ditinggalkan penduduknya pada 1818, ketika tentara Ottoman menyerang, dan memaksa para penduduk hijrah ke Riyadh dan meninggalkan sisa-sisa bekas ibu kota mereka. Penulis Inggris Robert Lacey menyamakan Diriyah dengan "Pompeii yang tertiup pasir," menggambarkannya sebagai "pengingat abadi dari batas kemungkinan."


Mereka berdua mengangguk mengerti tentang apa yang dijelaskan dari dua orang manusia tersebut. Museum seketika begitu ramai dengan penjagaan yang bertambah menjadi ketat. Banyak sekali pengunjung yang berlari ke suatu tempat yang entah untuk melihat apa.


"Excuse me sir, what is this? Why is the guard tighter and why are the other visitors running over there?" tanya Claura penasaran.


(Maaf tuan, ini ada apa ya? Kenapa penjagaan lebih ketat dan kenapa pengunjung lainnya berlari ke sebelah sana?)


"Members of the Arab Kingdom and Dubai are visiting here, so security is tighter to protect them."


(Anggota Kerajaan Arab dan Dubai berkunjung ke sini, jadi penjagaan lebih diketatkan untuk menjaga mereka.)


"Ah begitu." Claura mengangguk mengerti. "Then can I go there? I want to see the members of the Kingdom," pinta Claura.


(Lalu apa saya bisa pergi ke sana? Saya ingin melihat anggota Kerajaan).


"Of course you can go there if you want. But please keep your distance from them."


(Tentu saja kalian boleh ke sana jika kalian mau. Tapi tolong untuk jaga jarak kalian dengan mereka.)


Claura mengacungkan jempolnya. "Sip bos. Tenang saja."


Claura menarik lengan Dafina keluar dari Museum Kuda Arab. Dafina yang ditarik lengannya hanya bisa mengikuti saja.


"Pelan-pelan Clauraaa, awas aja pergelangan tangan gue merah," dumel Dafina menepuk-nepuk tangan Claura yang menarik lengannya.


"Hehehe sorry." Claura menyengir tak bersalah. Claura melepaskan tangannya dari pergelangan Dafina setelah sampai di tempat tujuannya.


"Lo ngapain ngajak gue ke sini? Ini juga ngapain ramai disini? Gue lagi ngambil foto tadi bege," ujar Dafina yang bingung melihat pengunjung museum yang berdiri disini.


"Ada anggota Kerajaan yang datang ke museum ini. Mereka mungkin mau melihat anggota Kerajaan yang datang ke sini," jawab Claura.


"Gue sama kaya mereka sayang. Mau ngeliat anggota keluarga kerajaan yang datang. Siapa tau ada yang cogan lalu single, sabi kali gue embat hahaha."


Dafina menggeleng heran dengan satu sahabatnya ini. Kemana kewarasannya saat ini?


"Ya udah serah lu dah. Lu disini aja gue mau balik ke tempat tadi," ucap Dafina.


"Etss mau ngapain kesana?"


"Gue mau ngambil foto lagi. Belum semua gue foto yang ada di museum ini. Sekalian buat kenangan-kenangan dan menambah wawasan gue tentang Diriyah. Udah dah bye bestie." Dafina melangkah pergi meninggalkan Claura sendirian. Gadis itu kembali ke Museum Kuda Arab untuk mengambil foto barang-barang yang tersisa dari pemukiman perkotaan homogen lengkap yang makmur di lingkungan gurun ini.


Setelah mengambil gambar yang diinginkan dari Museum Kuda Arab, Dafina keluar dari museum tersebut dan berjalan di sekitar museum sembari melihat gambar yang telah ia ambil selama tour di museum ini.


"Sorry miss, if you look ahead, don't look at the camera, you will fall," ucap seseorang memperingati Dafina. Dafina mengalihkan pandangan dan perhatian ke sumber suara.


(Maaf nona, kalau jalan lihat ke depan jangan melihat ke kamera nanti terjatuh).



Dafina menatap pria yang di hadapannya. Ia seperti mengenali mata pria itu tapi entah dimana. "Oh yeah, thanks for telling me."


"Dafina? You're right Dafina aren't you?" Pria itu bertanya padanya.


Dafina mengangguk. "That's right, I'm Dafina. Sorry, but who are you?" Dafina semakin waspada saat ada seseorang yang mengenalnya. Apa dia seorang wartawan? Atau mungkin Dispatch yang membututi dirinya?


(Iya benar saya Dafina. Maaf, tapi anda siapa ya?)


"It's me, Faza," ucap Pria itu. Faza menurunkan maskernya agar gadis itu mengingat dirinya.


(Ini saya, Faza).


"Faza? Which Faza is it?" Dafina berusaha mengingat nama Faza. Apakah ia pernah berkenalan dengan seseorang yang bernama Faza?


(Faza? Faza yang mana ya?)


"Prince Faza. We met and chatted in Dubai when you and your group performed representing Indonesia and South Korea," ucap Faza yang mengingatkan Dafina.


(Pangeran Faza. Kita pernah bertemu dan mengobrol di Dubai saat kamu dan grup kamu tampil mewakili Indonesia dan Korea Selatan).


"Faza Faza Pangeran Faza...," gumam Dafina berusaha mengingat nama itu. "AH IYA GUE INGAT!"


"Sorry, what are you talking about?"


(Maaf kamu bicara apa?)


Dafina mengibaskan tangannya, "No just forget it. Ah, it turns out that you are Prince Faza, whom I met a few days ago. Sorry prince, I forgot about you. Really, I guess you're one of the reporters, fans, or hatters," ujar Dafina meminta maaf karena tidak mengingatnya.


(Tidak, lupakan saja. Ah ternyata kamu Pangeran Faza yang beberapa hari lalu saya temui. Maaf pangeran, aku melupakan dirimu. Sungguh, aku kira kau salah satu wartaman, penggemar, atau hatters).


"It's okay, I've forgiven you. By the way, what are you doing here?"


(Tidak apa-apa, saya sudah memaafkan dirimu. Ngomong-ngomong kamu ngapain disini?)


"I'm going to visit one of the museums in Arabia before returning to Korea, Prince."


(Aku sedang ingin mengunjungi salah satu museum yang berada di Arab sebelum balik ke Korea, Pangeran.)


"Just alone?" Dafina menggeleng.


"No. I was with my manager, Claura. Earlier she went there he said he wanted to see the members of the Kingdom who came here," jawab Dafina.


(Tidak. Saya bersama manager saya, Claura. Tadi dia pergi ke sana katanya mau melihat anggota Kerajaan yang datang kemari).


"You don't want to see it too?"


"Not. Besides, if I have to go there I don't necessarily see it because it's already closed by people."


(Tidak. Lagian jika saya harus ke sana belum tentu saya melihatnya karena sudah ketutupan oleh orang-orang.)


"Do you have time today?" Pangeran Dubai tersebut bertanya kepada Dafina.


(Kamu ada waktu hari ini?)


"I have free time today. Why prince?"


(Saya mempunyai waktu luang hari ini. Memangnya kenapa pangeran?)


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Wah kira-kira Pangeran Dubai ganteng ini kenapa bertanya begitu ya😲


Ada yang mau jawab tidak readers di kolom komentar?


Jangan lupa like dan komentarnya ya....