
"Jakarta?!"
Dafina mengucapkan kata tersebut dengan nada terkejut. Tidak lama kemudian, Dafina menepuk jidatnya sendiri. Bagaimana ia bisa lupa kalau diriny sedang berada di Jakarta.
"Lu mabok?"
Dafina menggeleng. "Gue cuma lupa aja kalau kita lagi di Jakarta."
Mereka telah sampai di ibu kota Indonesia yaitu Jakarta, dari lima belas menit yang lalu. Dafina memilih untuk tidur selama perjalanan di mobil karena secara tiba-tiba ia merasa mabuk kendaraan.
"Apa kita udah sampai di rumah gue?" tanya Dafina setelah menyadari mobilnya berhenti di suatu tempat.
"Belum sampai rumah. Gua mau beli minum dulu, lu mau nitip minuman apa?"
"Cappucino," jawab Dafina singkat sembari mengecek handphonenya.
"Mau begadang nanti malam lu?" tebak Claura.
"Liat aja ntar, gue begadang apa kagak. Gue mah kalau udah ngantuk ya ngantuk aja walaupun udah minum kopi. Tidak mempan dengan istilah kalau minum kopi membuat seseorang tidak bisa tidur."
Claura yang mengerti hanya menganggukkan kepalanya. Setelah itu Claura segera masuk ke dalam Starbucks meninggalkan Dafina yang memilih menunggu di dalam mobil. Dafina mengecek handphonenya selagi menunggu Claura kembali.
Dafina membuka grup chat agensi, The Queen, semua idol, serta sosial media pribadinya. Dafina menutup handphonenya karena merasakan ingin buang air kecil. Dengan segera Dafina memakai topi dan masker berwarna putih, lalu turun dari mobil dan berlari menuju kamar mandi.
"Leganya," ucap Dafina setelah membuang bebannya. Ia keluar dari closet dan berjalan ke depan cermin, lalu membenarkan tampilannya.
"Gue boleh minta foto sama lo?"
Dafina sedikit tersentak kaget. Ia langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut, melihat lebih jelas siapa yang sedang berbicara kepadanya.
"H-hm boleh kok," jawab Dafina tersenyum.
Perempuan tersebut mengeluarkan handphone dan membuka kamera handphone. Lalu mengarahkan kamera ke arah cermin.
"Kita foto mirror selfie ya," ucapnya yang diangguki Dafina.
Cekrek📸
"Makasih udah mau foto sama gua."
Dafina mengangguk. "Sama-sama. Kalau gitu saya pamit duluan ya."
"Tunggu." Perempuan itu menghentikan langkah Dafina yang ingin keluar dari kamar mandi.
"Apa kabar?" tanyanya.
Dafina mengernyitkan keningnya, bingung. Kenapa orang di depannya ini menanyakan kabar tentangnya, seolah-olah kaya sudah mengenal lama.
"Baik, terimakasih. Gimana kabar kamu?" Dafina bertanya balik.
"Yakin? Tapi menurut gua, lo kaya lagi gak baik-baik aja. Mata panda lo keliatan tuh," ujar perempuan itu.
"Nih orang ngapain dah. Sokab aja dah nih cewek. Kagak tau apa gue mau tidur lagi di mobil," batin Dafina.
Dafina ketawa kecil sebelum membalasnya, "Ah ini cuma kurang tidur aja, biasa urusan pekerjaan."
"Oh begitu."
"Saya pamit dulu ya soalnya udah ditungguin sama manager di mobil," pamit Dafina yang masih berusaha tetap tenang.
"Oke. Hati-hati."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dafina memasuki mansionnya seorang diri dengan menenteng satu paper bag di tangannya. Ia menyuruh Claura untuk pulang ke rumahnya sendiri, dia mau memberikan kesempatan kepadanya untuk bertemu dengan keluarganya. Walaupun begitu, Claura tetap bekerja namun saat ada jadwal saja.
"MAMAAAA KAKAK PULANG YUHU. RED CARPETNYA MANA WOY?"
Suara nyaring menggelegar di penjuru mansion. Teriakan Dafina menggema di mansion bahkan menyebabkan satu pelayan yang sedang membersihkan furniture kepentok.
"Heh kamu ini teriak-teriak kaya kesesat di hutan belantara aja," omel Fani, mamanya, menjitak kening anaknya sementara yang dijitak hanya cengengesan tidak jelas.
"Maaf, Ma. Siapa tau mama gak kedengaran."
Fani menggelengkan kepala melihat sikap putri sulungnya ini.
"Ya sudah kamu masuk ke kamar, mama mau buatin makan dan minum untukmu, nanti mama bawain ke dalam kamar."
"Yang enak ya, Ma."
"Jadi selama ini masakan mama gak enak begitu?" tanya Fani dengan nada kesal.
Dafina meringis dan mengutuk mulutnya yang mengulurkan kalimat ambigu. "Aniya. Masakan mama itu enak banget, cuma maksudku masakannya harus lebih enak," ucap Dafina tersenyum lebar.
"Ada-ada aja kamu ini. Ya udah sana masuk lalu ganti pakaianmu itu jangan lupa bersihin badan nanti korona."
"Siap kapten."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi hari, Dafina terbangun setelah tidur tanpa melewati mimpi. Tidurnya sangat nyenyak dan nyaman sekali semalaman. Dafina meraih gelas yang berisi air lalu meneguknya sampai setengah untuk memenuhi cairan di dalam tubuhnya.
Dafina turun dari tempat tidur lalu mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke klinik kecantikan ternama di Jakarta. Setelah semuanya siap dan wangi parfumnya tercium di hidung, Dafina turun sembari bersenandung pelan.
"Cie yang keliatan seneng banget, mimpiin apaan tuh, Kak?"
Dafina mendelik, "Apaan sih, Nay. Gaje banget, alias gak jelas." Dafina menarik kursi lalu mulai sarapan.
"Oh ya, kamu hari ini ada jadwal?" tanya Fani.
"Ada sih ma, cuma mau perawatan di klinik kecantikan sama hangout sama teman SMP," jawab Dafina.
"Kalau gitu nanti pas pulang dari klinik kecantikan, kamu pergi sendiri naik taksi gak papa kan? Soalnya mobil adekmu lagi di bengkel, jadi dia berangkat kuliahnya makai mobil kamu dulu. Setelah kamu di drop di klinik, Nay langsung berangkat kuliah," ucap Fani.
"Yah...memangnya kenapa mobil Nay sampai masuk bengkel?"
"Gak sengaja nabrak pohon gue," jawab Nay santai.
Dafina mendengus pelan mendengar jawaban adiknya. "Ya udah, nanti pas berangkat kita barengan aja."
Setelah menghabiskan sarapan, Dafina dan Nay segera berpamitan kepada Fani. Perjalan menuju klinik kecantikan hanya membutuhkan waktu setengah jam. Setelah itu mereka berdua berpisah. Dafina masuk ke dalam klinik, sedangkan Nay menuju kampusnya.
"Kak Daf!"
Dafina melambaikan tangan ke arah sumber suara. Ia berlari menghampiri perempuan itu dan langsung memeluknya.
"Gimana kabarnya?" Dafina bertanya kepada Sofi.
"Gue baik, lo sendiri gimana?"
"Alhamdulillah sih gue baik, soalnya semalaman gue tidur nyenyak banget sumpah. Eh tapi kok lu tau kalau yang turun dari mobil itu gue? Padahal gue makai masker."
"Jelaslah gue tau, orang lu pendek wkwk."
"Dih. Enak aja, tinggi gue yang sekarang 160cm," ketus Dafina.
"I'm kidding."
"Udah yuk, kits perawatan di dalam. Gue mau bayarin lu perawatan yang ada disini," ajak Dafina.
Mereka berdua memasuki klinik kecantikan dan disambut oleh dua orang yang mengarahkan mereka ke ruangan VVIP. Dafina sengaja membooking ruangan khusus untuk dirinya dan Sofi. Ia tidak mau saat membuka maskernya semua orang yang ada disini menyadari kehadirannya dan berujung mereka meminta foto bareng dan tanda tangan.
Sofi berpikir sejenak, "Hmm, jadi kok. Katanya mereka semua langsung ke pantai, mungkin sekarang mereka sedang di perjalanan."
Dafina mengangguk mengerti.
Setelah selesai perawatan, Dafina langsung memesan taksi yang akan mengantar dirinya dan Sofi menuju salah satu pantai di Jakarta. Sudah sangat lama Dafina tidak mengunjungi pantai di Indonesia. Ah, ia tidak sabar untuk sampai disana.
Mereka tiba di pantai tepat pukul dua siang. Dafina berdecak kagum akan pemandangan di sekitarnya. Mereka janjian untuk pergi ke salah satu pantai di dekat Jakarta yang bernama Pantai Tanjung Lesung. Pantai Tanjung Lesung terletak di Banten yang lokasinya tak jauh dari Jakarta juga memiliki wisata bahari yang tak kalah menawan.
Selain Pantai Pulau Perak, Pantai Tanjung Lesung juga menjadi salah satu lokasi wisata alternatif untuk liburan selain Pantai Ancol.
Di tepi pantai, kamu bisa memandangi megahnya Gunung Krakatau. Belum lagi hamparan perairan Selat Sunda yang juga memanjakan mata.
Selain menyaksikan pemandangan alam yang indah, kamu juga bisa menjajal berbagai kegiatan yang menarik, seperti bersepeda mengelilingi pantai, bermain voli, berburu foto keren, dan snorkeling.
Ombaknya yang tidak terlalu besar membuat pengunjung bisa bebas bermain air di pantai ini. Jangan lupa untuk berburu sunset dan juga sunrise di pantai ini.
"Lu mau ikut masuk ke villa gak?" ajak Sofi. Dafina menggelengkan kepala, ia masih mau di pinggir pantai. Daripada masuk ke dalam villa mendingan duduk di atas pasir putih sambil menatap matahari yang tertutup oleh awan-awan.
"KAK DAP! AYO DUDUK DI SINI, KITA MAKAN DULU!" Teriak Rere.
Dafina menoleh ke belakang yang sudah tersedia karpet dan hidangan disana. Dafina segera menghampiri mereka dan mendudukkan bokongnya di atas karpet.
"Buat apa nih? Siapa yang masak hm?" Dafina menghirup aroma hidangan yang berada di depannya.
"Rere, Anggi, dan sepupunya Anggi," jawab Laras.
"Kalau lo?" Dafina menahan tawanya ketika bertanya seperti itu.
"Gak usah ngejek deh ye Kak. Lu kan tau dari SMP gue gak bisa masak," cibir Laras.
"Tadi lu bilang apa, Ras? Sepupunya Anggi?" tanya Sofi.
"Ah iya gue lupa kasih tau ke Kak Sof dan Kak Daf. Gue ngajak sepupu gue kak, cuma satu kok, gak papa kan?"
Dafina hanya menjawabnya dengan anggukan kepala, karena mulutnya saat ini sedang penuh dengan kepiting dan ikan bakar.
Seorang pria remaja menghampiri mereka dengan membawa nampan yang berisi minuman. Rere dan Anggi membantu pria itu untuk menaruh minumannya.
"Ayo dimakan, Gas," ucap Anggi kepada sepupunya.
Suasana makan dipenuhi dengan ketawa. Setelah selesai, Laras, Sofi, dan sepupunya Anggi yang bernama Argasaka mengambil semua piring dan gelas. Mereka mencucinya di dapur villa.
Mereka berenam menghabiskan waktu di sekitar pantai dan pantai. Mereka berlarian, foto-foto, loncat-loncat, tidur di atas pasir, main air di pantai, bahkan tiduran di atas air.
"Gas, boleh fotoin kita berlima gak? Fotoin dong, yang bagus ye."
Bara mendengus. "Mana hapenya?" Anggi menyerahkan handphone miliknya, namun ditahan oleh Dafina. "Make handphone gue aja, Gi. Nih handphone gue." Dafina menyerahkan handphonenya kepada Argasaka.
"Imbalannya beliin gue PS terbaru ye?"
"Iya iya, ya udah cepet, nanti pemandangannya ganti lagi."
"Sabar napa."
Argasaka mengambil foto mereka berlima berulang kali menggunakan kamera handphone Dafina.
"Thanks Gas, hasil jepretan lu bagus juga."
"Hm."
"Duduk di pondopo yuk, capek nih gue," ajak Rere.
"Ayo."
Setelah bermain di pantai selamat tiga jam, mereka memutuskan untuk mengistirahatkan diri karena sudah pukul lima sore. Ada yang mandi, ada juga yang duduk di pondopo sambil menunggu matahari tenggelam.
"Daf, Ras, mandi sana, habis ini kita pulang ke Jakarta. Udah mau malam," tutur Sofi.
"Oke. Ayo Ras, kita ke kamar."
"Kalian mandi berdua? Yakin?"
"Gak lah dodol. Gue duluan yang mandi sementara Laras nunggu di dalam kamar, setelah itu Laras mandi dan gue nunggu di dalam kamar."
"Oh."
Setelah mereka selesai berganti pakaian, mereka langsung menuju tempat parkiran.
"Re, pulang sama gue yuk," pinta Laras, yang dijawab boleh oleh Rere.
"Kak Daf sama Kak Sof pulang naik apa?"
"Gue sama Sofi palingan pesan taksi untuk ke mansion gue dulu setelah itu nanti gue suruh sopir untuk nganter Sofi balik," jawab Dafina.
"Jangan naik taksi takut kenapa-kenapa apalagi ini udah mau maghrib. Mendingan naik mobil bareng sama gue dan Anggi, biar kita nganter lo pada," ucap Argasaka.
"Gak ngerepotin?"
"Gak kok Kak Daf. Ayo nanti keburu malam."
Mereka sampai di mansion utama pukul 18.15. Mereka melihat sebuah mobil sedan berwarna hitam terparkir disana.
Siapa yang datang ke sini?
"Eh iya ayo masuk ke dalam, maaf kalau sempit." Dafina berjalan duluan di depan mereka sebagai pemilik mansion.
"Itu sombong, rendah hati untuk meroket, atau nyindir nih? Ini mah udah persis seperti mansion dan Istana modern. Gue kira setelah masuk dari gerbang pertama langsung rumah, tau-taunya masih jalan yang panjang. Ada kali lima belas menit lebih untuk sampai mansion utama," cibir Anggi kesal.
"Hahaha maapin atuh beb. Udah yuk bicaranya nanti lagi setelah sudah di dalam, kalian semua sholat dan makan dulu ya."
"Gak usah makan, Kak, kita masih kenyang anjir. Numpang sholat aja," tolak Anggi langsung.
"Ya udah."
Mereka telah memasuki mansion dengan bertepatan Fani dan Nay yang keluar dari pintu yang terlatak di antara kedua anak tangga. Mereka menghampiri orang tua Dafina lalu menyaliminya.
"Malam, Tante. Maaf Dafina pulangnya kemalaman, tadi kita semua habis dari pantai," ucap Anggi.
"Oh habis dari pantai? Berempat aja?"
"Tidak, tante. Sebenarnya ada enam orang tapi dia orang pulang pakai mobil sendiri," jawab Argasaka.
"Ma, mereka numpang sholat maghrib dulu setelah itu mereka pulang," ucap Dafina pada mamanya.
"Silahkan, biar pelayan yang mengantar kalian ke kamar tamu ya."
"Terimakasih banyak, Tante."
"Iya sama-sama."
Mereka bertiga mengikuti dua orang pelayan yang akan mengantarkan mereka ke kamar tamu yang telah disediakan.
"Ada yang lagi kencan nih? Cie, tapi kak cowok yang tadi cakep loh," sindir Nay lalu berlari sebelum digebuk oleh kakaknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...