
"ANI! EONNIE!!"
Suara Dafina melengking di penjuru backstage mereka.
"Mwoya, yeobo?" tanya Sooya yang menghampiri Dafina.
(Ada apa sayang?)
"Eoni wol-e on geos gat-eunde. Hajiman bungdaeneun an gajyeo wass-eo," lirih Dafina.
(Sepertinya aku datang bulan eonnie. Tetapi aku tidak membawa pembalut)
"Wae geuleonji saeng-gag haebwa. Zennie eonnieege bungdaegaissneun geos gat-eunde mul-eoboseyo," saran Sooya.
(Astaga eonnie kira kenapa. Coba kamu minta sama Zennie eonnie sepertinya dia ada pembalut.)
"Ah gomawo eonnie."
Dafina langsung menghampiri Zennie dan menanyakan apakah unnie-nya itu memiliki pembalut lebih atau tidak. Dan benar yang dibilang Sooya bahwa Zennie membawa pembalut.
"Gomawo Unnie." Dafina memeluk Zennie sebelum pergi ke kamar mandi.
"Nee chagia."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sekitar pukul 03.00 sore waktu Los Angeles, para member The Queen berjalan keluar dari lobby dengan dikawal oleh penjagaan yang ketat.
"Aunty Dafina, Aunty!"
Panggilan tersebut memberhentikan langkahnya diikuti dengan member lainnya. Dafina meminta izin sebentar untuk menemui seseorang.
"Hello honey," sapa Dafina kepada anak perempuan yang ia temui kemarin di Santa Monica.
"The appearance of the Tante group was very good."
(Penampilan group Tante sangat bagus)
"Thank you." Dafina mencium kedua pipi anak itu.
"This is Ara bringing a gift for aunty." Arabella memberikan semoga paper bag yang menggemaskan kepada dirinya, dengan senang hati Dafina menerima hadiah itu.
(Ini Ara membawa hadiah untuk Tante)
"Thank you so much, Ara."
"Auntie, can I ask for your number?" Tanya Arabella dengan nada memohon.
(Tante, aku boleh meminta nomormu?)
Dafina diam sejenak, dia memikirkan risiko ke depannya. Tetapi lamunannya buyar dengan Arabella memanggil dirinya.
"Of course you can honey, where's your cellphone?"
(Tentu boleh sayang, mana handphone mu?)
Arabella memanggil pria yang Dafina temui kemarin di Santa Monica. Anak kecil itu meminta ponsel pria itu yang merupakan paman dari anak kecil ini.
"This is Aunt, Ara doesn't have a cellphone yet, so you can use your cellphone, uncle."
(Ini Tante, Ara belum punya handphone jadi Ara makai handphone paman ya)
Dafina merasa gemas dengan anak perempuan ini. Dengan segera ia memasukkan nomor miliknya ke dalam handphone tersebut.
"Yes, I have, dear." Dafina mengacak-acak rambut pirang anak itu.
"Thank you."
"Dafina, let's go home!" Teriak Rouse.
Dafina tersenyum ke arah Arabella dan pria itu, "Thank you for attending my group performance."
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Dafina berlari masuk ke dalam mobil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mereka berempat berjalan memasuki dorm dengan menyeret koper masing-masing.
"Hubungi saya atau manager lainnya jika terjadi apa-apa," kata Lee Seung Chul yang merupakan manager pribadi dari Zennie.
"Nee Oppa kamsahamnida." Kami menganggukkan kepala.
Mereka semua masuk ke kamar masing-masing dengan bergantian membersihkan diri mereka satu sama lain. Sampai sebuah notifikasi dari ponselnya menyita perhatian Dafina.
Siapa yang mengirimkan pesan kepadanya? Dafina tidak menyimpan nomor itu. Dengan penasaran, dirinya membuka isi pesan tersebut.
Note : Anggap saja menggunakan bahasa Inggris ya
+17148XXXX
Ini aku Arabella De Luca
Dafina bernafas lega saat mengetahui siapa pengirimnya. Dengan segara dia mensimpan nomor tersebut.
^^^Dafina^^^
^^^Helloo honey. Tante kira siapa yang mengirim pesan ternyata kamu hehe^^^
Arabella De Luca
Memangnya Tante sedang menunggu siapa?
^^^****Dafina****^^^
^^^Tante sedang tidak menunggu siapapun kok. Gimana kabar mu, Ara?^^^
Arabella De Luca
Aunty, aku baik-baik saja. Kalau Aunty sendiri bagaimana kabarnya?
^^^Dafina^^^
^^^Aku sangat lelah Ara karena pekerjaan ku 😪 tapi aku harus tetap semangat 💪🏻 Fighting!!^^^
Arabella De Luca
Tante masih di L.A?
^^^Dafina^^^
^^^Tidak sayang, maaf, Tante dan para member lainnya sudah kembali ke Korea.^^^
Sudah dipastikan bahwa anak perempuan itu merasa sedih saat mengetahui dirinya sudah kembali ke Korea lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tangan Dafina gemetar saat memegang sebuah surat yang telah ia ketahui isinya. Awalnya Dafina hanya sedang membereskan kamarnya yang berantakan dan tanpa sengaja ia menendang sebuah box yang dirinya lupa apa isinya. Akhirnya dirinya memeriksa isi dari box tersebut dan dirinya menemukan surat yang telah dia kubur selama 7 tahun lamanya.
Surat itu berasal dari Devano, mantan kekasihnya. Betapa hancurnya saat mengetahui isi surat yang dikasih pria itu kepadanya.
FLASHBACK ON
Sesampai di apartemen yang dia sewa untuk beberapa minggu, Dafina segera mengistirahatkan tubuhnya yang serasa remuk. Namun ia teringat sebuah paper bag yang dikasih oleh Devano di Bandara Soekarno-Hatta sebelum dirinya berangkat ke Korea.
Dengan rasa penasaran, Dafina mengambil paper bag tersebut dan membuka isinya. Terdapat beberapa hadiah dan sebuah surat. Dengan segera, Dafina membaca isinya.
Dafina semoga kamu bisa melupakan mantan kamu.
Begitu isi suratnya pada paragraf pertama yang dia baca. Mantan? Siapa yang dimaksud Devano?
Bingung gak kenapa aku bilang gitu wkwk?
Bingung kenapa aku nulis itu atau tentang mantan yang ku maksud?
Tanpa Dafina sadari, ia bergumam, "Keduanya, Kak."
Baiklah aku akan kasih tau dua-duanya secara singkat.
Mantan kamu cakep deh
Iya mantan kamu yang menulis surat ini
Dafina...kita putus ya! Terima kasih atas semuanya ♥️
FLASHBACK OFF
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi ini tidak seperti pagi biasanya. Dari ia sholat subuh sampai sekarang, hujan masih aja mengguyur bumi seakan tahu tentang perasaan yang sedang dialami Dafina. Dafina merasa perasaannya saat ini terwakilkan dengan turunnya hujan yang tak kunjung berhenti.
Gadis itu berjalan ke meja rias dan melihat dirinya dari pantulan kaca. Dafina menguncir rambutnya secara asal sebelum masuk ke kamar mandi. Saat ingin masuk ke kamar mandi, langkah Dafina tertahan dengan sebuah ketukan pintu.
Tok Tok Tok
Suara ketukan pintu sudah terdengar berulang kali yang tak lama munculah sosok perempuan memasuki kamar Dafina.
"Mau ikut tidak, kita mau ke makan di cafe yang dekat gedung SM Entertainment?" tanya Rouse yang kini sudah duduk menepi di atas ranjangnya.
Dafina menggelengkan kepalanya dengan malas. Sungguh dirinya sedang malas untuk kemana-mana, lebih baik rebahan saja di kasur.
"Kalau gitu hati-hati ya sayang, kalau ada apa-apa langsung kabarin. Mau nitip sesuatu gak?"
"Gak usah Unnie, gomawo."
Selepas Rouse keluar dari kamarnya, Dafina kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur, ia mengurungkan niatnya untuk mandi. Biarkan saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...