WAY OF LIFE

WAY OF LIFE
CHAPTER 64



Malam hampir menginjak pukul dua belas ketika perayaan yang diselenggarakan di istana kepresidenan Dubai baru usai. Satu persatu orang mulai meninggalkan istana tersebut. Namun, di dalam istana lebih tepatnya di ruang kamar istirahat Dafina & Rouse, mereka bertiga sedang beradu argument mengenai siapa yang membawa Dafina pulang dalam keadaan gadis itu teler berat.


Keadaan Dafina saat ini benar-benar mabuk berat. Pada acara foto bersama antara Raja Dubai dengan semua presiden, Dafina berjalan mengelilingi aula untuk mencari minuman dengan ditemani Sooya. Ia melihat ada sebuah gelas yang terisi air bening. Tanpa berpikir apapun Dafina langsung menenggak minuman tersebut sampai kandas.


Setelah itu mereka berdua kembali ke tempat awal. Beberapa saat kemudian Dafina merasa seperti tidak ada yang beres di dirinya, kepalanya terasa sangat berat, dan ia tidak bisa mengendalikan diri. Sooya yang berdiri di sampingnya melihat gelagat Dafina yang mulai aneh. Dengan segera ia membawa gadis itu menuju kamar, tapi sebelum itu dirinya mengirimkan pesan kepada Rouse dan Zennie agar menyusul ke kamar secepatnya.


Sesampai di dalam kamar, Dafina mulai kehilangan kesadaran dirinya. Sooya dan yang lainnya mencoba menyadarkan dirinya tapi tidak berhasil dikarenakan gadis itu sedang dikuasai oleh alkohol. Mereka menghela nafas panjang saat mengingat bahwa Dafina tidak pernah meminum alkohol. Bagi orang yang baru meminum alkohol maka efek mabuk mudah merasuki tubuhnya walaupun hanya meminum sedikit saja.


"Dafina! Wake up! We have to go back to the hotel."


(Dafina! Ayo bangun! Kita harus pulang ke hotel.)


Dafina yang sedang meracau tidak jelas hanya bergumam pelan ketika mereka mencoba menyadarkan dirinya.


"Go home? Where to?"


(Pulang? Kemana?)


"Hotel, Fin. Come on, let's go home because it's almost twelve o'clock at night."


"But how do we get Dafina out of the palace without getting caught by the media?"


(Tapi bagaimana kita membawa Dafina keluar dari istana tanpa ketahuan dari para media?)


"Yes, you are right too. There's no way we can take Dafina in this condition, let alone until the media finds out." Mereka bertiga berpikir keras bagaimana caranya mereka pergi dari istana tanpa diketahui media. Masalahnya mereka tidak mengetahui seluk-beluk istana ini.


(Iya kau benar juga. Tidak mungkin kita membawa Dafina dengan keadaan seperti ini apalagi sampai diketahui para media.)


Zennie mengangkat tangan tinggi-tinggi. "How about we just ask Princess Futtaim or Prince Faza for help? I'm sure they want to help us," usul Zennie.


(Bagaimana kalau kita minta tolong saja kepada Putri Futtaim atau Pangeran Faza? Aku yakin mereka mau membantu kita).


"Hmm it can also be as you suggest, then I will seek help."


(Hmm bisa juga seperti yang kamu sarankan, kalau begitu saya yang akan mencari bantuan.)


Sooya langsung keluar dari kamar dengan tujuan mencari Pangeran Faza atau Putri Futtaim. Tapi dimana ia harus mencari mereka berdua di istana besar ini? Sooya bertanya-tanya kepada para pelayan yang berlalu lalang di hadapannya mengenai keberadaan Pangeran Faza dan Putri Futtaim.


"I saw Prince Faza earlier in his study," jawab pelayan yang ditanya Sooya.


(Aku lihat Pangeran Faza tadi ada di ruang kerjanya).


"Where is Prince Faza's workspace?" tanya Sooya kepada pelayan itu.


(Dimana ruang kerja Pangeran Faza?)


"From here you can go to the right, after that just go straight. Then you turn left on the second left turn. Prince Faza's workspace is in the far corner."


(Dari sini kamu bisa ke arah kanan, setelah itu lurus saja. Nanti kamu belok kiri pada belokan kiri yang kedua. Ruang kerja Pangeran Faza ada di paling pojok.)


"Thank you very much for the information."


Sooya segera berlari menuju ruang kerja Pangeran Faza. Namun di tengah jalan dirinya tidak sengaja menabrak seseorang. Dengan cepat ia meminta maaf kepada orang itu.


"Prince?" gumam Sooya saat melihat siapa yang ia tabrak.


"Ck if you run, take a look."


(Ck kalau lari itu lihat-lihat.)


"Sorry Prince sorry. I accidentally bumped into you, really I was in a hurry," ujar Sooya merutuki kebodohannya.


(Maaf Prince maaf. Aku tidak sengaja menabrak kamu, sungguh aku sedang terburu-buru).


"Hm."


Saat hendak pergi tiba-tiba muncil ide dari kepalanya. Sooya mengejar pria itu kembali. Dia berdiri di hadapan pria itu, menghalangi jalannya.


"What else?" ketusnya


(Ada apa lagi?)


"I ask you for help. Please help us." Sooya memohon kepada pria di hadapannya saat ini.


(Aku minta bantuan kepadamu. Tolong bantu kami.)


Sooya yang menyadari tidak ada respon apapun dari Prince menghela nafasnya. "Dafina needs your help. Please help her,"


(Dafina butuh bantuanmu. Tolong bantu dia).


Prince tidak memberikan jawaban satu pun. Pria itu melanjutkan langkahnya meninggalkan Sooya. Sooya menggeram kesal melihat respon yang diberikan pria itu.


"HEY!" Geram Sooya. "YOU DON'T HAVE A HEART PRINCE CHARMING DE LUCA MACKENZIE! EVEN THOUGH YOUR RELATIONSHIP WITH MY SISTER IS ENDING, AT LEAST HELP HER NOW! I REGRET EVER BLESSING YOU WITH MY SISTER!" bentak Sooya.


(KAU MEMANG TIDAK PUNYA HATI PRINCE CHARMING DE LUCA MACKENZIE! WALAUPUN HUBUNGAN ANDA DENGAN ADIK KU SUDAH BERAKHIR, SETIDAKNYA BANTU DIA SAAT INI! SAYA MENYESAL PERNAH MERESTUI ANDA DENGAN ADIK KU!)


Sooya terkekeh ketika mengingat sesuatu. "Why do you care about Dafina, WHAT HUH?! THIS IS WHAT YOU WANT FROM THE FIRST, isn't it? You want Dafina's career to crumble and leave the entertainment world."


(Buat apa anda peduli dengan Dafina, BUAT APA HUH?! INI YANG ADA INGINKAN DARI DULU BUKAN? Anda ingin karir Dafina hancur dan meninggalkan dunia entertainment.)


Langkah kaki Prince berhenti, pria itu menoleh ke belakang menatap Sooya. Ia berjalan mendekati perempuan itu sambil berkata, "I do not know you and arbitrarily you cursed me. Who are you to have the right to curse me like that?" Prince menatap Sooya dengan tatapan dingin.


(Saya tidak mengenal kamu dan seenaknya anda memaki saya. Siapa anda sampai berhak memaki saya begitu?)


Sooya mengernyit heran. Pria itu tidak mengenal dirinya? Jelas-jelas dia pernah bertemu dengan semua member The Queen. Seriuskah dia tidak mengenalinya?


Di sisi lain, Faza baru selesai dari pekerjaannya. Ia keluar ruangan dan berjalan melewati koridor istana menuju kama anak-anaknya. Namun di tengah perjalanan, dirinya mendengar seperti ada suara orang bertengkar. Tapi siapa yang bertengkar? Dengan segera ia mendekati sumber suara tersebut.


"What are they doing here? Why haven't you gone home even though the guests have left the palace one by one?" gumamnya.


(Sedang apa mereka disini? Kenapa belum pulang padahal para tamu sudah satu persatu meninggalkan istana?)


Faza memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya dan menghampirinya sepasang manusia tersebut.


"What is this?" tanya Faza ketika sudah berdiri di depan mereka berdua.


(Ada apa ini?)


Sooya dan Prince menoleh ke samping, ke arah Faza. Faza bertanya kembali ada apa ini.


"There's nothing, prince," jawab Sooya cepat.


(Tidak ada apa-apa pangeran).


Prince menaikkan satu alisnya mendengar jawaban yang diberikan perempuan itu. Perempuan aneh padaha tadi dia meminta bantuan.


"This woman asked for my help, but she rudely cursed and spoke nonsense about me."


(Perempuan ini meminta bantuan saya, tapi dengan kurang ajarnya dia memaki dan berbicara yang tidak-tidak mengenai saya.)


What's? ****


"Is that true, miss?" tanya Faza kepada Sooya. Sooya menghela nafas lalu mengangguk.


(Apa benar begitu nona?)


"Actually we have a problem and need help," ucap lirih Sooya. "But you." Sooya menunjuk Prince menggunakan jarinya. "Don't want to help even though I have asked you nicely!"


(Sebenarnya kami mengalami masalah dan butuh bantuan).


(Tapi kau.)


(Tidak mau membantu padahal saya sudah meminta baik-baik padamu!)


"We? What does that mean? What problem do you mean?" tanya Faza tidak mengerti.


(Kami? Maksudnya? Masalah apa yang kamu maksud?)


Sooya menceritakan kronologi permasalahan dari awal kepada kedua pria tersebut. Tidak. Sebenarnya hanya kepada Pangeran Faza saja tapi karna ada Prince di sana jadi ya gitu.


"Take me there. I will help you," ucap Faza.


"Ok prince."


Sooya berjalan lebih dahulu dengan diikuti Faza dan Prince. Prince akhirnya memutuskan untuk membantu perempuan aneh itu. Entah kenapa kaki dan hatinya menyuruhnya untuk membantu perempuan itu, Prince tidak tahu itu.


"Huwwaaaa gue masih ingin minum, gue gak mau balik dulu." Dafina merengek seperti anak kecil.


"What are you talking about, Fin? We don't speak Indonesian," ucap Zennie bingung.


(Kamu bicara apa, Fin? Kita tidak bisa bahasa Indonesia).


"Sudah mabuk begini masih ingin minum?" tanya seseorang dengan suara baritone yang khas.


Zennie, Dafina, Rouse menoleh ke arah pintu, terlihat Sooya kembali ke kamar bersama Prince dan Pangeran Faza. Dafina mendongak ke atas, menatap pria bertubuh tinggi itu dengan mata sayunya.


"Prince...," ucap lirihnya. "I haven't seen you in a long time."


(Sudah lama aku tidak berjumpa denganmu.)


Prince dan Pangeran Faza menatap Dafina, mereka bingung siapa yang dimaksud olehnya. Prince? Pangeran? Prince Charming atau Pangeran Faza. Bukankah bahasa Indonesia dari Pangeran adalah Prince?


Dafina bangun dari tidurnya dan berjalan menuju arah pria itu dengan linglung. Berkali-kali ia hampir saja jatuh karna tidak bisa berdiri tegak di kondisinya seperti ini. Ketiga unnie-nya membantu ia menghampiri pria itu.


"Prince... I miss you," lirih Dafina memeluk erat tubuh Prince. "Why didn't you call me again? Why is it that every time I look into your eyes, you don't seem to know me? Did you forget about me so soon?"


(Kenapa kamu tidak mengabariku lagi? Kenapa setiap aku melihat matamu, kamu seperti tidak mengenal ku? Apa secepat ini kamu melupakan diriku?)


Prince merasa risih dengan kelakuan perempuan yang memeluknya. Rasanya ia ingin mendorong perempuan itu saat ini juga, tetapi tubuhnya tidak sejalan dengan pikirannya. Sial! Ada apa dengannya?


"How many glasses did she drink?" tanya Faza kepada Zennie, Rouse, dan Sooya.


(Dia minum berapa gelas?)


"Just a glass." Sooya menjawabnya.


(Hanya segelas saja.)


"Just a glass? Certain?" Prince bertanya. Mereka mengangguk.


(Hanya segelas? Yakin?)


"If she only drank a glass why did he get drunk, like drinking a lot of alcohol."


(Jika hanya meminum segelas kenapa dia sampai mabuk, seperti minum banyak alkohol saja.)


"Because she has never drank alcohol since childhood. Her religion taught her to stay away from unclean drinks and foods," ujar Rouse menjelaskan.


(Karna dia belum pernah minum alkohol dari kecil. Agamanya mengajarinya untuk menjauhi minuman dan makanan haram).


"Religion?" beo Faza.


Rouse mengangguk. "Dafina is Muslim. Islam teaches only to eat and drink what is lawful, and stay away from drinks and food that is unlawful."


(Dafina beragama Islam. Di Islam mengajari hanya memakan dan meminum yang halal saja, serta menjauhi minuman dan makanan haram.)


"Is she Muslim? Not Christian or Catholic?" Faza terkejut mengetahui faktanya.


(Dia Islam? Bukan Kristen atau Katolik?)


"Yes, she is Muslim."


"Please help us to get Dafina out of here without others knowing especially the media," pinta Sooya memohon.


(Tolong bantu kami untuk membawa Dafina keluar dari sini tanpa diketahui orang lain khususnya media).


"I'll be looking for an idea in a second."


(Sebentar saya mencari ide dulu.)


"Wow. Look at your face! Your face is very handsome. Are you sugar daddy?" Dafina berseru keras seraya menepuk-nepuk pipi Prince.


(Wow. Lihat wajahmu! Wajahmu sangat tampan. Apa kau Daddy gula?)


Prince hanya memperhatikan sampai tangan itu berhenti menepuk-nepuk wajahnya. Namun celotehnya tidak sampai situ saja. Dafina terus meracau dan mengatakan hal random. "But has anyone ever said that your face is scary? There is not any? Okay. Then I'm the first to say your face is scary."


(Tapi apa ada orang yang pernah mengatakan kalau wajahmu seram? Tidak ada? Baiklah. Kalau begitu berarti aku orang pertama yang mengatakan wajahmu seram.)


Faza melangkah mundur saat Dafina berjalan ke arahnya.


"What are you doing? Please stay away, we are not mahrams." Faza melangkah mundur lagi dan waspada ketika perempuan itu memajukan wajahnya. Wajahnya dengan wajah Dafina sangat dekat, jika maju sedikit saja maka bibir mereka bisa menyatu.


(Apa yang kau lakukan? Tolong menjauh lah, kita bukan mahram.)


"Why are you scared? I'm not bad." Dafina terkekeh melihat ekspresi yang dikeluarkan Faza.


(Kenapa kamu takut? Aku tidak jahat kok.)


"I am not afraid of you but we are not mahram so please don't sin like this." Faza memalingkan wajahnya ke arah lain, enggan melihat mata Dafina terlalu lama.


(Saya tidak takut kepadamu, namun kita bukan mahram jadi tolong jangan berbuat dosa seperti ini.)


"Ck you're boring Prince Faza." Dafina kembali menarik dirinya mundur, membuat Faza bernafas lega. "You are very fragrant and handsome. I like it."


(Ck kamu membosankan Pangeran Faza.)


(Kamu sangat wangi dan tampan. Aku menyukainya.)


Astaghfirullah ternyata tadi perempuan itu mengendus bau badan, ia kira mau berbuat—ya gitu lah. Maafkan hamba Tuhan sudah seudzon.


"Hey looks like I have a call for you two."


(Hei sepertinya aku memiliki panggilan untuk kalian berdua.)


"Mau tau tidak?"


"Oke aku akan beritahu nama panggilan untik kalian berdua."


Ia bertanya dan jawab sendiri.


"For you." Dafina menunjuk Prince. "Sugar Daddy."


(Untuk kamu.)


"While you..." Dafina menunjuk Faza. "My handsome prince." Dafina sangat antusias memberi nama panggilan untuk kedua pria itu.


(Sedangkan kau...).


(Pangeran tampanku.)


Kemudian tawanya pecah. Sebenarnya apa yang dikatakan Dafina tidak lucu sama sekali tetapi entah kenapa perempuan itu tertawa. Hanya saja mereka jarang sekali melihat Dafina tertawa selepas ini. Perempuan itu tidak berhenti tertawa hingga membuat tubuhnya oleng dan hampir jatuh ke lantai kalau saja Prince tidak sigap menangkapnya.


Prince berdecak, kemudian mendudukkan Dafina kembali ke kasur. Saat ini ia hanya berharap agar perempuan itu berhenti meracau lagi. "You're really drunk and like a lunatic right now."


(Kau sungguh mabuk dan seperti orang gila saat ini.)


"Gue?"


"Ya. Kau seperti orang gila. Apa yang kau pikirkan di dalam otak kecilmu itu sampai seperti orang gila?"


"Hah? Yang gue pikirkan? Apa ya?" tanya Dafina sambil menatap Prince. "Umm..., sepertinya aku memikirkan dirimu?" Perempuan itu terlihat seperti orang bingung.


"You guys wait here. I'll be back, I already have the idea of ​​getting Dafina out of here without anyone knowing," ujar Faza segera keluar dari kamar tersebut dan menuju suatu tempat.


(Kalian tunggu disini. Saya akan kembali, saya sudah memiliki ide untuk membawa Dafina keluar dari sini tanpa diketahui orang lain).


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sebenarnya saya sudah update tapi sempat ditolak oleh pihak Noveltoon dikarenakan kata lebih dari 2.5k kata. So, momsky bagi 2 part lagi untuk chapter ini...


See u next part