TWINLING SHIN [BOOK 1]

TWINLING SHIN [BOOK 1]
Episode 38



“Ya begitulah tadi aku sempat singah ke suatu tempat saat aku berhenti mereka sudah pergi terlebih dahulu. ” Aswen menjelaskan, sedangkan author yang sedang menjadi sutradara sedang kebinggungan karena banyak pemain yang sangat banyak dalam satu episode yaudah ok lanjut.


“Woi berhenti bicara lihat kita masih punya masalah lain di depan sini!. ” Lan Ci kemudian menmotong pembicaraan mereka karena mereka sedang melawan siluman sedangkan yang lain hanya sibuk ngerumpi kanvret emang.


“Cepat buka portalnya dan seret para siluman- siluman ini ke sana!. ” salah satu senior dari gerbang utara membuat sebuah potal khusus untuk menhubungkan dunia siluman dan juga dunia manusia.


“Aku juga tidak akan diam HYAAAAAAA!!!. ” Yang kemudian menyerang Zai NI dengan bantuan guru Xao Ni di bagian wilayah lain dari gerbang timur.


“Sial!, aku tidak bisa mengontrol semuanya kalau seperti ini ck. ” Zai Ni yang tidak bisa berbuat apa- apa saat itu terus melawan dengan brutal dan mulai serius melawannya.


“Arkh, kekuatannya kenapa tiba- tiba sangat kuat sekali!. ” Yang terlempat karena tendangan Zai Ni tadi sangat kuat hingga tubuh Yang terpental dan kemudian terdiam sebentar karena tubuhnya yang sangat sakit.


“Hei apa kau baik- baik saja?. ” Wen kemudian berlari ke arah Yang temanya dan melihat ke adaan Yang, yang sedang lemas.


“Aku baik- baik saja tenanglah. ” Yang hanya berkata seperti itu padahal dia sama sekali tidak baik- baik saja sama sekali, dan dia tidak tau apa yang akan membahayakan nyawanya Yang saat dia tau ia sudah di jadikan sebagai target pengumpul kegegapan yang akan membuatnya menjadi iblis.


“AWAS KALIAN BERDUA!. ” Aswen dengan cepat mengeluarkan perisai peraknya itu adalah perisai perak level satu karena dia masi seorang pemula dan juga perisai perak adalah senjata rohnya Aswen.


“Jangan melihat ke arah lain lihat lawan mu!. ” guru Xao Ni berkata kepada Zai Ni yang sedang melamun sebentar.


“Itu!. ” Zai Ni kemudian melihat masa lalunya saat masih menjadi bagin dari murit di akademi milik kearganya gerbang timur dan dia di kenal sebagai pangeran ke dua.


“Ah, sakit hiks ,hiks ,hiks!. ” Zai Ni yang masih berumur lima tahun menangis karena tangannya terkena pukulan pedang kayu.


“Kau ini sudah kakak katakan bukan jangan melihat ke arah lain lihat lawan mu!. ” dan Xao Ni sang kakak menjelaskan kepada sang adik yang menangis itu.


“Tapi tetap saja ini sakit kak hiks!. ” Zai NI yang sangat kecil itu mempunyai umur yang berbeda dua tahun dari sang kakak Xao Ni.


“Jangan menangis sakit,sakit pergilah!. ” kemudian Xao Ni yang selalu mengucapkan mantra yang dapat membuat Zai Ni berhenti menanggis, dan akhirnya Zai Ni berhenti menangisdan kemudian tertawa kembali.


Itu adalah masa terindah mereka berdua sebelum Zai NI dan Xao NI di tugaskan untuk keluar dan berburu di hutan berdua, tapi setelah itu Zai Ni dan Xao Ni terpisah saat di hutan dan saat Xao Nii kembali ke kediaman mereka semua mengatakan Zai Ni sudah meninggal dan dia masuk ke dalam jurang dan sudah meninggal.


Tapi sayangnya saat Zai Ni masuk jurang dia belum meninggal dan hanya terluka sejak saat itu Zai Ni menyimpan dendam kepada semua penduduk gerbang timur begitupun dengan orang tua nya yang sengaja melakukan itu semua kepadanya.