
tok tok tok ...
Didi terbangun dengan mata bengkak dan merah karena habis menangis, dia turun dari kasurnya dan perlahan berjalan ke arah pintu. saat membuka pintu ada seorang bibi yang tersenyum padanya dengan nampan di tangannya.
Didi perlahan menjulurkan tangannya dan mengambil nampan itu dengan dua tangan, dia sedikit mengangguk pada bibi itu. seperti merasakan sesuatu bibi itu dengan prihatin bertanya padanya.
"nak, apakah ada yang mengganggumu?". dia bertanya pada Didi dengan khawatir, dia bisa merasakan kalau anak di depannya memiliki aura yang tertekan dan sedih seperti orang yang habis di ganggu. dia juga memiliki dua anak, dan orang di depannya seperti anak keduanya yang selalu di tindas di antara teman-teman nya.
Didi yang mendengarnya memandang bibi itu dengan kosong dengan mata yang merah dan bengkak sehabis menangis, dia tidak di ganggu. dia hanya sedang menunggu hukumannya berakhir. perlahan dia menggelengkan kepalanya dan menjawab dengan sedikit senyuman.
"tidak, bibi. aku baik-baik, terimakasih atas makan malamnya." meski bibi itu khawatir saat mendengar suaranya yang sengau dan serak dia hanya bisa mengangguk dengan enggan dan melihat Didi menutup pintunya perlahan.
setelahnya dia melenggang dari sana dan mengatakan hal ini pada teman-teman nya, tentu saja teman-teman nya juga memiliki pemikiran yang sama dengannya kecuali satu orang yang bersembunyi di sudut yang memperhatikan mereka dengan kebencian di matanya sebelum menyeringai dengan mata yang penuh obsesi akan seseorang (?) dan pergi dari sana.
......................
Huo Huo duduk di pinggir kasur dengan napas memburu, dia ingin pergi ke kamar adiknya yang tepat di sebelahnya tapi dia berusaha menahannya. sempat beberapa kali dia berjalan ke pintu tanpa sadar dan saat sadar dia menampar dirinya sendiri dengan keras untuk menyadarkannya. sekarang sudut mulutnya sendiri berdarah dan robek karena tamparannya dan beberapa lebam seperti orang yang baru saja berkelahi.
dia memandang tangannya sendiri dengan kesal dan tatapan datar, lalu mengepalkan tangannya sebelum dia sempat menonjok dirinya sendiri ketukan pintu terdengar diikuti suara seorang wanita tua.
tok tok tok
"nak, waktunya makan malam". suaranya terdengar lembut, Huo Huo berjalan ke arah pintu dan membukanya dengan keras. dia memandang bibi di depannya yang membawa nampan dan membawanya yang memiliki ekspresi kaget. dia sepertinya di kejutkan oleh bantingan pintu Huo Huo yang tiba-tiba.
Huo Huo menghela nafas berat sebelum membawa nampan itu ketangannya sendiri, dia memandang bibi di sisi berlawanan yang masih memandangnya. Huo Huo mengangkat sebelah alisnya bertanya, dan mengerutkan kening sebelum berkata.
"bibi, ada apa denganmu?. apakah ada keperluan lain?". seakan tersadar bibi itu menggelengkan kepalanya dan berkata pada Huo Huo dengan tersenyum khawatir.
bagaimana dia tidak khawatir, anak ini membawa aura berat yang sangat jelas seolah-olah seseorang berhutang padanya ribuan juta.
"tidak ada, hanya saja apakah kau memiliki masalah?". Huo Huo mengerutkan keningnya dan menjawab .
"tidak ada masalah". setelahnya dia diam kembali dan memandang bibi di depannya yang memiliki perawakan lembut.
setelah menerima jawaban Huo Huo wanita tua itu hanya bisa menghela nafas pasrah dan mengucapkan tidak apa-apa sebelum melenggang pergi dari sana, Huo Huo memandang bibi yang semakin jauh itu sebelum mengerutkan bibirnya lalu masuk ke kamarnya sendiri setelah menutup pintu.
......................
sedangkan di sisi lain yinlong sedang menutup matanya untuk berlatih di ruang jiwanya dengan membagi kesadarannya, dia merasakan kehadiran yang jelas-jelas tidak di tutup-tutupi dan dengan sengaja menonjolkan kehadirannya untuk membuat orang memperhatikan dirinya.
tok tok tok
sosok yang jelas-jelas wanita itu mengetuk pintu dengan nampan berisi makanan di satu tangannya. wanita berkata dengan suara tinggi dan genit.
"tuan~, waktunya makan malam~". tapi yinlong tidak menjawab dan hanya terus diam dan berlatih, tidak berapa lama suara pintu di buka terdengar .
"tuan~, aku masuk~." suara langkah kaki terdengar mendekat, yinlong membuka matanya dengan dingin. dia memandang orang yang buram karena ada penghalang kain di sisi ranjang ini, tapi yang jelas wanita itu memiliki body yang bagus dan tidak berusaha menutupinya ,wanita itu memakai baju yang dengan sengaja terbuka.
yinlong menatap wanita itu yang semakin dekat dan dekat dengan dingin, dan akhirnya wanita itu benar-benar berdiri di depannya dengan nampan di satu tangan dan tangan lainnya menyibakkan kain yang sedari tadi menghalangi menampakkan wanita muda yang memakai pakaian yang dengan sengaja menampakkan apa yangs seharusnya tidak di tampakkan, jelas wanita ini memiliki niat menggoda yang sangat jelas.
yinlong memandang wanita itu dengan dingin tanpa membuat pergerakan, tapi yang jelas dia akan pindah kamar besok pagi kamar ini sudah ternoda oleh kecoak kotor. tanpa menyipitkan matanya yinlong memandang wanita itu dengan dingin dengan wajahnya yang tampan, wanita itu juga memandangnya dengan obsesi yang terlihat jelas dengan cinta yang tak terselubung. itu tatapan yang tidak asing, yinlong mengingatnya itu di dunia sebelumnya tapi itu adalah seorang pria sekarang seorang wanita?.
yinlong memikirkannya sekilas dan menatap wanita itu yang duduk di tepi kasurnya yang menatapnya dengan maksud menggoda, yinlong hanya memandangnya dengan dingin dan datar dan perlahan dia berkata dengan dingin.
"keluar". tanpa fluktuasi emosi yang terdeteksi, tapi ucapannya selalu terdengar seperti perintah. wanita itu terdiam sejenak sebelum tersenyum dengan wajahnya yang cantik dan perlahan mengulurkan satu tangannya untuk menyentuh ujung baju yinlong, hanya saja bahkan sebelum dia sempat menyentuhnya tangannya terpental dengan sengatan mati rasa di ujung jarinya.
wanita itu seakan tidak merasakannya dan hanya menatap ujung jarinya yang indah dengan kuku bulat yang memiliki es tipis di atasnya yang terlihat seperti es krim sebelum menjilatinya dengan sensual, dan menatap yinlong dengan mata penuh cinta.
"keluar". yinlong hanya mengucapkan kembali kalimatnya dengan nada seperti tadi yang terdengar seperti robot yang mengulang-ulang ucapannya, wanita itu menatap yinlong dengan keras kepala dan mencoba beberapa kali untuk membuat dirinya sendiri dekat dengan yinlong. dan berakhir dirinya yang terpental beberapa kali dan beberapa tempat di tubuhnya mati rasa karena es, tapi dia tidak memperdulikannya hingga akhirnya dia menggunakan kekuatannya sendiri.
dia memundurkan sedikit waktu di penginapan ini diwaktu dimana dia masih memegang nampan dan akan membuka kain yang menghalangi di depan matanya, tetapi bahkan sebelum itu terjadi pintu yang seharusnya terkunci terbuka dengan keras dan datang dua orang yang datang bersama dengan kekasihnya sendiri yang membuatnya kesal karena menggagalkan rencana nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
author merasa author sedang membuat sebuah novel wanita, padahal tagnya itu pria banget. itu karena author tidak pandai membuat novel pria, jadi agak ngebosenin yah. semoga aja ada pria yang baca, angkat tangannya~.
jangan lupa like dan komen untuk meninggalkan jejak~.