Transmigrated To Another World With My Family

Transmigrated To Another World With My Family
bab. 38 kota [7]



Huo Huo menghapus air mata yang mengalir di mata adiknya perlahan dengan satu tangan, dan perlahan berjalan ke arah raga Li Chen. dia berdiri dan memandang raga yang sudah tak berjiwa itu, perlahan Huo Huo mengangkat sebelah tangannya. api merah perlahan menyelimuti raga itu hingga benar-benar tidak terlihat lagi, setelahnya itu benar-benar menjadi abu.


yinlong menggunakan kekuatannya untuk membuat abu itu mengambang lalu membuat sebuah kendi dari auranya dan memasukan abu itu kedalamnya.


Huo Huo yang berada dekat dari kakaknya mengambil itu dari kakaknya dengan penuh pengertian, dan memeluknya dengan satu tangan. dia mengelus kepala adiknya yang sekarang sedang sesegukkan dengan lembut.


"tidak apa, kehidupan memang keras. dia tidak bisa menahannya, biarkan dia tenang". dengan perlahan Huo Huo menenangkan adiknya yang implusif, dia tidak bisa membiarkan adiknya membuat sebuah boneka dan menarik jiwa orang untuk mengisinya.


Didi perlahan tenang, dan bersenandung pelan. dia berbalik kesisi kakaknya yinlong dan memeluknya erat.


"aku merindukan kakak pertama". perlahan dia berkata dengan kepala nya yang hanya mencapai bagian bawah dada bidang kakaknya. yinlong memeluknya dengan satu tangan dan bersenandung ringan.


Huo Huo memandang keduanya yang berpelukan dan kakaknya yang tertunduk dengan wajah datar, dia tahu kakaknya juga senang tapi apalah daya dengan wajahnya yang selalu lumpuh itu. Huo Huo berdecak sebal dan berkata dengan penuh kekesalan.


"jadi adik kecilku ini tidak merindukan kakak keduamu yang tampan ini?". dia berkacak pinggang dengan satu tangan memegang kendi berisi abu, berdecak pada keduanya yang masih saling berpelukan.


perlahan Huo Huo mendekati keduanya dan berpelukan kembali, tetapi entah kapan pintu mulai di ketuk dari luar dengan pelan dan terdengar suara kepala pelayan tua yang terdengar penuh senyuman dan sopan.


"tuan, apakah anda membutuhkan sesuatu?". tanpa alasan, bukankah tidak ada yang memanggilnya?. Huo Huo melepaskan pelukannya dan mengerutkan kening pada pintu.


tidak pasti ada yang mendengarnya atau ada pemantau di ruangan ini, atau mungkin .Huo Huo melihat kendi berisi abu di tangannya dan perlahan menyipitkan matanya.


ketukan terdengar lagi dan sekarang Huo Huo menjawab dengan santai, seakan kejadian tadi tidak terjadi.


"masuklah". setelahnya kepala pelayan tua itu masuk dengan decitan pintu dengan sopan membungkuk kearah ruangan.


"tuan, apakah anda membutuhkan sesuatu?". arahnya membungkuk sangat akurat terarah pada kendi di tangan Huo Huo, seakan tidak menyadari bahwa ada orang ketiga baru di ruangan itu. dia membungkuk seperti biasa dia membungkuk pada tuannya.


Huo Huo memandang kepala pelayan tua itu dan perlahan menyipitkan matanya, pelayan tua itu tidak mengangkat kepalanya bahkan saat dia berkata untuk tidak membungkuk.


sepertinya dia hanya ingin mendengarkan suara tuannya itu, Huo Huo perlahan mengusap lehernya dan saat membuka mulutnya itu adalah suara yang berbeda, suara dari Li Chen yang terdengar arogan dan sembrono.


"bangunlah!, aku tidak membutuhkan apapun sekarang". seketika kepala pelayan tua itu berdiri tegak dan memandang kedepan dengan pandangan yang hanya tertuju pada kendi di tangan Huo Huo, seolah-olah dia memandang tuannya yang masih hidup.


Didi memandangnya dan kembali terisak saat ingat, dalam ingatan itu li Chen membuat sebuah boneka yaitu boneka ini dan membuatnya hidup hanya untuk dirinya sendiri. benar, kepala pelayan tua ini adalah sebuah boneka yang diciptakan oleh Li Chen. dia akan kemari setelah beberapa menit karena Li Chen memerintahkannya untuk begitu. sekarang beberapa menit itu sudah ada dan dia secara alami datang untuk melihat tuannya.


hanya saja sekarang mata itu kusam dan kosong, dan hanya memandang kendi itu dengan senyumannya yang selalu tertahan seolah dia tidak memiliki ekspresi lain di wajahnya selain tersenyum.


seakan dia tidak tahu kalau tuannya sudah tiada, tetapi tetap mengikuti raga dari tuannya meski menjadi abu sekalipun. ucapan yang sering di ulang-ulang seperti robot yang rusak, meskipun dia adalah boneka dengan jiwa buatan yang hanya mengabdi pada tuannya.


dengan pengertian diam-diam di antara mereka bertiga, Didi membuat sebuah boneka dengan auranya dan mengisi boneka itu dengan jiwa buatan miliknya yang hanya bisa mengabdi padanya. boneka itu sangat mirip dengan Li Chen, tentu saja untuk membuat boneka kepala pelayan tua menurutinya Didi juga memasukkan semua abu milik Li Chen ke dalam boneka itu walau dengan terpaksa.


sekarang boneka itu hidup dan memandang kearah Didi dengan penuh hormat, dengan ekspresi wajahnya yang selalu arogan tetapi dengan mata yang kosong kayaknya boneka. tidak akan ada yang menyadari hal itu bahkan jika di lihat secara sekilas, bagaimanapun apakah ada orang yang rela meneliti bangsawan Li yang arogan?.


boneka ini juga akan membawa setiap informasi pada Didi setiap Minggu nya, di pisahkan dari penting dan tidak penting tetapi tetap di bawa pada Didi menggunakan koneksi keduanya. jadi informasi yang di dapatkan oleh boneka itu akan ada langsung di kepala Didi.


......................


atensi boneka kepala pelayan tua itu selalu mengikuti abu tuannya yang berpindah-pindah tanpa gerakan dan senyuman selalu ada di bibirnya seperti biasa. tanpa ada perintah, dia hanya diam seperti itu dan memandang abu dari tuannya dengan hormat seperti biasa.


setelahnya boneka Li Chen yang sudah di buat dengan sempurna dengan pengertian berkata dengan nadanya yang arogan, dia terlihat begitu asli sehingga tidak bisa menemukan kelainannya.


"kau bisa pergi!, aku tidak membutuhkan apapun saat ini!". boneka itu juga mengangkat dagunya arogan seperti Li Chen yang asli. boneka kepala Kelayan itu membungkuk dan berkata dengan sopan dan perlahan mundur dari menghalangi pintu, menutup pintu dan perlahan menghilang dari pandangan.


Didi memerintahkannya untuk hidup seperti Li Chen yang biasa setelah kepala pelayan itu pergi, dan boneka itu membungkuk dengan cara bangsawan terhormat tetapi segala kehormatan nya hanya ada pada Didi, tuannya.


setelahnya Didi membuat tubuhnya kembali menjadi gumpalan hitam kecil tanpa sayap tentu saja, dia perlahan berjalan ke arah pintu mengikuti kedua kakaknya. tetapi sebelum dia keluar dari ruangan dia perlahan menoleh ke arah boneka itu yang sekarang masih menatapnya dengan tenang dan penuh hormat, tapi karena auranya yang arogan dia masih terlihat arogan bahkan jika dia tenang sekalipun.


boneka itu mengangguk ke arah tuannya dengan penuh pengertian, Didi berjalan keluar dari pintu dan menuju kedua kakaknya yang sedang menunggu nya tidak jauh dari pintu.


kedua orang itu melihat gumpalan hitam yang memiliki telinga kecil dan mata kuning redup nya yang bersinar di antara bulu hitamnya, Huo Huo maju dan mengangkat Didi dengan kedua tangannya lembut. lalu mulai memimpin jalan seperti biasa sambil mengusap-usap kepala adiknya yang lembut dengan kakaknya di belakangnya yang memandangnya dengan tatapan matanya yang tajam, tapi Huo Huo mengabaikannya secara alami. meski merasa sedikit kesal dan sebal karena kakaknya tidak pernah menatap orang lain dengan tajam saat orang lain itu menyentuhnya, hanya pada adiknya saja hum.


saat keduanya tidak lama berjalan suara langkah kaki yang tergesa-gesa datang dari belakang, itu dengan cepat berjalan dan berhenti di depan Huo Huo.


itu adalah boneka Li Chen, dia membungkuk pada Huo Huo tidak, lebih tepatnya Didi yang berada di pangkuan Huo Huo.


"tuan, izinkan aku mengantarmu". suaranya masih sangat sopan tetapi masih terdengar ke arogan nan, meski dia membungkuk yang agak kontras.


Didi membuka mulut kecilnya yang menampakkan deretan gigi putihnya dan dua taring kecil yang menonjol, yang terlihat imut.


"ya, pertahankan kepribadian". dia masih mengingatkan dengan malas, dia hanya ingin berbaring setelah kejadian tadi Yang sangat melelahkan nya apalagi dia habis menangis.


boneka Li Chen berkata dengan hormat. "ya tuan, terimakasih sudah mengingatkan". dibalas dengungan lembut didi yang mulai tertidur di pelukan kakaknya.


setelahnya 'bangsawan Li' membawa keduanya yang memiliki gumpalan hitam yang selalu orang-orang bicarakan, ke depan pintu dan mengirim keduanya pergi dengan penuh kearogan.


Hui huo tidak mempermasalahkannya lagipula dia hanya boneka, mereka berdua berjalan dengan lancar sampai pada penginapan. setelah Hui Huo menyapa balik beberapa pelayan yang menyapanya keduanya sampai pada kamar, dan Hui huo dengan cepat berbaring di kasur dan berbagi dengan Didi yang sudah berubah kembali kebentuk manusia setengah binatang nya.


Didi memeluk kakaknya dan tertidur dengan wajah terkubur di dasar bidang kakaknya, sedangkan yinlong memandang keduanya yang tertidur dan perlahan berjalan ke arah sana tanpa mengeluarkan suara.


dia mengecup kening keduanya dengan ringan dan duduk di kursi nya sendiri, setelahnya dia menutup matanya untuk memasuki ruang Jiwanya sendiri untuk berlatih kembali.


setelahnya ruangan itu kembali kosong dengan hanya dengkuran lembut dari Huo Huo dan didi yang sesekali terdengar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


ngga tahu, sebenarnya kekuatan apapun bisa di punya. hanya saja tidak setiap orang mempunyai bidang itu.


ngerti?