Transmigrated To Another World With My Family

Transmigrated To Another World With My Family
bab.38 kota [6] dan bangsawan Li [4 end]



Huo Huo menyeringai melihat bangsawan Li yang terpenjara dalam kurungan es transfaran milik kakaknya dan juga beberapa es tajam yang menembus tubuhnya, walau begitu itu tidak langsung menuju jantung ataupun kepalanya.


saat dia sedang melihat-lihat tubuh bangsawan Li yang tertancap es tajam dengan penuh minat, dia mendengar gerakan di sebelahnya. dia menoleh dan melihat ada orang tambahan disisinya dan kakaknya atau di tengah-tengah keduanya. orang itu lebih pendek dari mereka berdua, memiliki penutup kain yang sama dengan mereka berdua, tetapi ekor hitam panjang mencuat dari bawah pakaiannya yang berwarna hitam dan biru. ekor itu bergoyang-goyang kesana-kemari mengikuti suasana hati pemiliknya.


Huo Huo menatap bagian atas kepala orang itu yang hanya sebatas dadanya saja, lalu melihat kebawah pada ekor itu lagi. kali ini dia beralih dari melihat luka bangsawan Li dan melihat ekor itu bergoyang dengan cermat, saat dia akan meraihnya tiba-tiba terdengar suara patah tulang yang renyah.


dia mendongkak dan melihat bangsawan Li yang lengannya patah dengan tulang menonjol di sikunya, dan menatap tangan adiknya yang membentuk sebuah cubitan. dia mengerti adiknya mempunyai kekuatan seperti ini ,mengangumkan Huo Huo berpikir dengan mata berbinar menatap adiknya.


Huo Huo perlahan mendekat pada adiknya dan memeluk adiknya itu dengan erat, sampai-sampai Didi merasa dia tidak bisa bernafas alias sesak. Didi menepuk-nepuk tangan kakaknya yang kekar yang memeluk dirinya dengan pelan.


"kakak kedua, jangan memelukku seperti ini. aku tidak bisa bernafas". Didi berkata dengan suara yang sedikit tersendat. Huo Huo yang mendengar itupun melepaskan pelukannya yang 'hangat' dan cengengesan dengan satu tangan di belakang kepalanya.


"oh ayolah~, adik ketiga. aku sangat merindukanmu". dia berkata sembari meletakkan satu tangannya di bahu adiknya itu dan merangkulnya dengan sedikit membungkuk untuk menyamakan tinggi adiknya.


"ya, aku juga merindukan kakak kedua. dan kakak kedua bertambah tinggi hehe". Didi berkata sembari mengukur ketinggian kakaknya yang benar-benar bertambah.


"ya!, tentu saja!. dan adik ketiga masih pendek seperti dulu". Huo Huo masih berkata dengan menepuk kepala adiknya dengan nyaman tapi perkataannya sangat menohok hati menurut Didi. Didi menepuk tangan kakaknya yang merangkulnya dan menepuk kepalanya dengan keras dan mulai merajuk dan menghadap Kakak pertamanya yang sedari tadi menatapnya.


"kakak pertama~ lihatlah kakak kedua berkata aku pendek, hum!". dia berkata dengan merangkul satu tangan kakaknya dengan genit. yinlong tidak mempersalahkannya dan menepuk kepala Didi dengan lembut, dia perlahan berkata dengan suaranya yang datar dan dingin.


"ya, adik kedua lebih pendek dari ku". Huo Huo sedikit cengo mendengarnya karena ini adalah pertama kalinya dia mendengar kakaknya berkata panjang seperti itu, tetapi Didi biasa saja seakan sudah mendengarnya berkali-kali.


memang benar Didi sudah mendengarnya berkali-kali jadi ini bukan pertama kalinya. saat pertama kalinya dia mendengar kakanya berbicara panjang dengannya dia bahkan lebih terkejut dari kakaknya Huo Huo.


saat mereka melakukan acara keluarga, disisi lain bangsawan Li yang terkurung dan tertancap es di hampir seluruh tubuhnya juga patah tulang di sikunya benar-benar lumpuh, dia tidak bisa bergerak karena sakit dimana-mana.


dia hanya bisa memandang ketiganya dengan penuh kebencian, berharap dengan pandangannya ini ketiganya bisa menguap dari dunia dengan cara yang paling kejam.


di saat seperti ini mengapa dia sangat lemah?, apakah yang dikatakan orang-orang itu benar. dia hanya bisa mengandalkan orang lain untuk menjadi seorang bangsawan?, tidak. bukan hanya bangsawan, dia bahkan sekuat ini hanya karena dukungan dari orang lain. miris sekali, bangsawan Li yang bernama Li Chen tertawa dengan miris.


dia memang lemah, dia mengakui itu. tetapi di saat seperti ini sekalipun, dia tetap menyesal karena menjadi lemah. lagipula dia dulu hanya seorang gelandangan yang sama miskinnya dengan tiga orang di depannya, mengemis uang, makanan, dll pada orang-orang. terasa sangat tersiksa. hingga akhirnya aku bertemu orang itu, dia berjanji akan membuatnya menjadi seorang bangsawan hebat seperti yang lainnya yang berada di atas segalanya.


sekarang, sesudah dia merasa sudah berada di atas segalanya. semuanya hancur begitu saja, memang seharusnya dia menjadi kuat dengan caranya sendiri tidak dengan bantuan orang lain.


meski dia menyesal sekalipun, karena sekarang egonya tinggi dia tidak akan meminta maaf begitu tiba-tiba. dia hanya merasa sesak hanya dengan membayangkan dirinya bersujud pada orang lain, dia merasa dalam hidup ini orang lainlah yang harusnya bersujud padanya.


dengan egonya yang tinggi dia hanya bisa mempertahankan keadaan nya yang seperti ini, dia meringis sakit saat merasakan tulang-tulang dan daging-daging di tubuhnya yang terkoyak dan tertusuk. tidak ada di dunia ini yang bisa memahaminya, tidak ada yang memahami rasa sakit yang dia rasakan.


dia hanya ingin hidup dengan diperhatikan semua orang, tidak seperti dulu saat dia meminta-minta semua orang hanya mengabaikannya. hidup di sudut terpencil dan orang-orang tidak akan pernah memperdulikannya. dia merasa sakit akan semua ini.


perlahan mata yang tertunduk itu mengeluarkan air mata dan meluncur pada dagunya dan jatuh pada lantai kayu di bawahnya. seluruh wajahnya seolah telah kehilangan kesombongan yang selalu dia tampakkan pada orang-orang sekarang yang dia punya hanyalah perasaan sedih.


penampilannya yang kusut tidak bisa dibandingkan dengan angsa sombong dan sembrono tadi , Huo Huo mengerutkan kening nya dan menatap kebawah pada bangsawan Li itu yang sekarang terduduk dengan lesu dan bersandar pada dinding seolah tidak punya kekuatan. dari penampilan yang kuat itu, ketiganya bisa merasakan dengan jelas kesedihannya yang sangat mendalam. diam-diam Didi mengalirkan air mata di mata kanannya, dia berada di belakang keduanya yang sedang menghadap bangsawan Li dan menghadap kannya dengan punggung keduanya yang kokoh.


Huo Huo perlahan berjongkok dan berkata padanya dengan pelan.


"meskipun kau menyebalkan, kau sudah menjaga adikku selama ini. jadi, terimakasih." Huo Huo berkata dengan tulus. dan entah apa yang dipikirkan oleh bangsawan Li air mata yang turun dengan deras semakin turun dengan deras bahkan dia sedikit sesegukkan.


tetapi karena tubuhnya sakit dari berbagai arah, saat dia sesegukkan dia juga meringis kesakitan dengan pelan seolah ingin meredamnya. Huo Huo perlahan melembutkan matanya, dia mengusap air mata yang masih mengalir di mata bangsawan Li itu, dia tahu sekarang nama orang di depannya itu adakah Li Chen sungguh orang yang kuat.


"mengagumkan untuk menjadi kuat sejauh ini". Huo Huo perlahan berkata dengan suara yang lembut. sebagian memegang wajah Li Chen yang lembap dan kosong, mata itu menatap Huo Huo dengan kosong sebelum kembali meneteskan air mata. dia memandang Huo Huo dengan matanya yang terus mengeluarkan air mata.


Huo Huo menghiburnya dengan lembut dan menghapus air matanya untuknya, sampai akhirnya Li Chen dengan perlahan mengangkat sudut mulutnya dan ini adalah pertama kalinya saat dia menjadi seorang bangsawan dia tersenyum tulus pada seseorang.


perlahan dia membuka mulutnya dan berkata dengan suara serak.


"terimakasih, bunuh saja aku". dia menutup matanya dan mengangkat satu tangannya yang masih berfungsi untuk memegang tangan orang yang memegang wajahnya dengan lembut.


untuk pertama kalinya dia merasakan kelembutan dari seseorang dan ini mungkin juga akan menjadi akhirnya, dia tersenyum saat merasakan tangan orang ini terdiam dan perlahan mengusap kembali wajahnya sebelum melepaskannya perlahan.


dan perlahan dia bisa merasakannya orang ini menjauh, dia tidak membuka matanya dan tetapi seperti ini dengan tenang menunggu saat yang paling dia nantikan. kematian .


perlahan dia merasakan es yang sama menusuk dadanya dengan ringan, tidak ada rasa sakit sama sekali. es itu kini penuh dengan kehangatan yang selalu dia nantikan, dia tersenyum saat merasakannya meski air matanya tidak pernah berhenti.


perlahan kegelapan yang sesungguhnya mendatanginya, dan dia menyambutnya dengan senang hati hingga akhirnya dia benar-benar tenggelam dalam kegelapan itu.


hening


semuanya menjadi hening, Huo Huo memandang tubuh Li Chen yang sekarang hanya tinggal raganya saja. dia juga merasakan perasaan sedih itu, yang membuatnya sedih tanpa alasan. dia hanya ingin orang ini tiada dengan tenang.


perlahan dia menoleh pada kakanya yang sedang menghapus air mata yang mengalir di wajah adiknya, adiknya selalu cengeng Hui song tahu itu. dia perlahan menggelengkan kepalanya dan memeluk adiknya Didi secara langsung. yinlong memandang kedua adiknya yang sedang berpelukan karena suasana yang sedih ini, dia juga perlahan merentangkan kedua tangannya dan memeluk keduanya dengan tangannya yang panjang.


hiks....


hanya suara tangisan lirih Didi yang terdengar di dalam ruangan, yinlong dan Huo Huo dengan tenang menghibur keduanya dengan tindakan. yaitu menepuk dan mengelus.


...----------------...


guys, ini pertama kalinya author buat adegan sad. kerasa gak sih?. author bahkan Sampek mau nangis kalau ngga ada mamah di depan, malu.